
Terhitung sudah setengah tahun yaya tinggal di rumah Arlan, selama itu pula ia menjadi semakin dekat dan semakin mencintai pria itu. Yaya berlari menuruni tangga, hari ini ia kesiangan lagi karena meladeni Arlan yang semalam mengamuk hanya karena yaya tak mau dipeluk olehnya.
Sudah dua hari yaya menstruasi, badan pegal, moodyan, yaya selalu emosian saat siklus ini tiba. Dirinya sedikit menjauhi Arlan kemarin dan berujung pria itu merajuk seharian mogok makan juga mogok tidur.
"Selamat pagi, Nona" sapa para koki di dapur menatap sang calon istri tuan bos mereka.
"Selamat pagi, apa kalian sudah mulai memasak?" tanya yaya
Ketiga koki itu mengangguk "tinggal menunggu sayur matang, nona. Ada yang perlu kami buatkan?"
Bahu yaya merosot "ah, tak apa-apa. Aku minta tolong buatkan jus mangga, aku ingin itu saja"
Ketiga nya mengangguk "baik nona"
Yaya tersenyum, ia kemudian berjalan kembali menuju kamar nya yang didalam tempat itu terdapat Arlan yang sedang terlelap.
Ceklek...
"Astaga!" yaya menutup mulutnya yang menganga lebar. Sungguh dirinya terkejut sekali mendapati Arlan yang seingatnya baru tertidur dua jam kini sudah duduk diatas lantai dengan wajah menyebalkan khas merajuk pria itu.
"Kenapa meninggalkan ku?!" Pekik Arlan marah, padahal beberapa jam lalu yaya baru saja membujuknya agar mau tidur dan berjanji akan menemani nya selalu, tapi nyatanya gadis itu menghilangkan diri saat ia terlelap.
Yaya menggeleng pelan, gadis itu mendekati calon suami nya yang saat ini seperti anak gembel berserakan di lantai "ayo, berdiri sayang" Yaya berupaya menggapai lengan berotot itu namun sang empu langsung menepis nya
Arlan berdiri sendiri, ia kembali duduk di kasur. Sangat lucu sebenarnya bila dilihat, badan kekar itu tanpa baju, wajah memasam, juga rambutnya yang berantakan, satu lagi... Wajah bantal pria itu kini terpampang dengan jelas di depan mata yaya.
"Hei, sini" yaya merentangkan tangan nya, saat ia ikut bergabung diatas kasur pria itu bergerak menjauhi nya.
"Arlan... Sini, sayang"
Arlan berdecak saat yaya menarik paksa dirinya masuk kedalam pelukan gadis itu "Sudah, jangan marah, ini masih pagi. Apa kamu tidak lelah seperti ini terus?"
Arlan menggeram rendah, ia kesal sekali. Dirinya jadi aneh begini juga 'kan karena yaya. Pria itu menarik tengkuk sang gadis, ia mencium bibir ranum yaya dengan bringas, penuh emosi dan sangat menuntut.
Yaya memejamkan mata nya erat, ingin marah tapi dirinya lelah. Di fase menstruasi seperti ini rasanya ia malas ingin melakukan apapun, ingin nya hanya bersantai saja. Namun semuanya tak bisa ia rakasan sebab singa jantan nya ini sedang marah tidak jelas padanya.
Yaya menarik napas rakus saat ciuman keduanya terlepas, Arlan menyatukan kening keduanya dengan tatapan tajam, ia menatapi wajah yaya yang memerah akibat kekurangan oksigen. Sebelah tangan nya naik merapihkan rambut gadisnya, dan setelah itu ia mengelus bibir yaya yang basah karena ulah nya.
"Aku ingin cuddle !" pinta Arlan seenak hati.
Yaya mengangguk saja, namun setelah itu wajah cantiknya berubah drastis "Aku ke toilet sebentar!" yaya langsung berlari menuju toilet, Arlan yang melihat gelagat aneh gadis itu lantas mengernyit bingung, ia ikut menyusul gadis nya.
Tok! Tok!
"Kamu baik-baik saja?" tanya Arlan dari balik pintu.
Tak lama setelah itu pintu toilet terbuka, menampilkan kepala.gadisnya yang nyelonong keluar, hanya kepalanya saja.
"Arlan..." cicit yaya dengan mata memerah, sungguh ia ingin menangis saja sekarang.
"Bisa belikan aku pembalut?" cicit gadis itu.
Arlan terkejut mendengarnya ia melotot tak percaya menatap yaya "P-pembalut? Pempers wanita maksud mu?" tanya nya memperjelas
Yaya mengangguk lemah, "Punyaku sudah habis, aku lupa membeli nya" ucap yaya dengan mata yang semakin memerah.
Arlan mengangguk tak yakin "Akan ku belikan"
cup!
Arlan langsung berlari memakai kaos oblong putih nya, meninggalkan kamar itu. Yaya mendengus kesal saat pria itu telah lenyap dari pandangan nya "Ukuran ku.." gumam nya pelan.
***
Arlan cekikikan menatap wajah memerah asisten nya, Lan. Ya, tadi ia pergi bersama dengan Lan ke minimarket terdekat dari rumah nya.
Setiba nya di toko itu Arlan dengan seenak jidat menyuruh Arlan membeli pembalut untuk gadis nya. "Ukuran pacarnya berapa Mas?" tanya salah satu pekerja disana yang di panggil Lan untuk membantu nya memilih benda itu.
Lan menggaruk belakang telinga nya, ia menatap ke belakang, dimana Arlan sedang berdiri bersedekap dada dengan sebuah troli yang sudah berisikan banyak cemilan.
"Jangan tatap aku!" desis Arlan
Lan mendesah frustasi, jadi dia harus apa?! Mana dia tahu berapa size Nona muda nya itu!!!
"Begini, Mbak. Cewek nya itu langsing, tinggi nya sekitar 160 cm, berat badan nya juga ideal, apa anda bisa menebak ukuran nya?" ucap Lan
Wanita berseragam khas minimarket itu terkikik geli, ia menggeleng "Saya mana tau, Mas"
Arlan berdecak "Lama sekali!" dengan cepat ia menarik banyak bungkusan softex berbagai jenis dan ukuran masuk kedalam troli, lalu pergi meninggalkan Lan yang melongo kesal menatap nya.
***
"Ukuran mu, yang mana sayang?" tanya Arlan mengangkat dua bungkus softex di genggaman nya.
Yaya menganga lebar "kau beli banyak sekali!?"
Arlan mengangguk "Di sana masih ada, aku tak tahu kalau benda ini ada size nya juga"
Yaya mendelik ngeri "tentu ada"
Arlan mengangguk saja "jadi, yang mana?"
"Size L"
Arlan melirik dua bungkus pembalut di tangan nya, tidak ada ukuran tersebut. Ia beranjak menuju kantong plastik besar yang ia letakkan di pojok kamar, mencari ukuran yang sesuai lalu memberikan nya pada yaya.
"Terimakasih" ucap yaya mengambil benda itu.
"Hanya terimakasih?"ucap Arlan sedikit memekik sebab pintu tersebut sudah ditutup rapat oleh gadis nya.
Merasa gadisnya tak menyahut Arlan melengos pergi berbaring ke kasur, menunggu gadis nya.