Good Romance With My Bad Mafia

Good Romance With My Bad Mafia
CHAPTER 44



"Sudah?"


Yaya mengangguk, ia melirik kantong belanjaan Arlan yang di letak, di lantai. Gadis itu tersenyum lebar menatap banyak sekali cemilan juga susu kotak di dalam sana "Ini untuk ku?" tanya yaya dengan tatapan berbinar.


Arlan menganggukkan kepalanya "Untuk siapa lagi?" decak nya malas.


Yaya melompat ke atas kasur memeluk erat tubuh kekar kesayangan nya itu "Terimakasih, sayang"


Arlan terkekeh "hanya terimakasih?" tanya nya dengan raut jumawa.


Yaya mengangguk bingung "mau mu bagaimana?" tanya nya memperjelas


Arlan tersenyum "Kiss me"


Yaya memutar bola mata malas "kau selalu mencium ku setiap hari, Arlan... Setiap hari! Apa itu tak cukup?"


"Tidak" jawabnya santai.


"Baiklah, tapi nanti saja, okay? Aku ingin memakan cemilan ini dulu" yaya menunjuk plastik berisi cemilan yang dibelikan Arlan untuknya


Pria itu berdecak "Sekarang saja" pinta nya


Yaya beranjak mengambil cemilan yang ia inginkan, lalu kembali duduk namun tidak di kasur, melainkan di sofa, hal itu tentu saja membuat Arlan kesal setengah mati.


"Yaya"


Yaya menyengir menatap mata Arlan yang sudah menghunus tajam "Please, hubby... Aku hanya ingin memakan cemilan" bujuk yaya memelas.


Jantung nya berdegup kencang saat Arlan berjalan mendekati nya "Okay, tapi nanti kamu harus memanjakan aku!, paham?" titah nya mutlak, pria itu bersender, ia memeluk erat pinggang gadis nya dari samping.


Yaya tersenyum, ia mulai menyedot susu strawberry kesukaan nya "Sayang, apa tidak pegal?" tanya yaya, mata gadis itu menatap tubuh Arlan yang sedikit meliuk demi memeluknya, bagi yaya itu posisi yang sangat tidak nyaman.


Arlan menggeleng saja, pria itu mulai menjilati leher jenjang gadis nya "Arlan... Jangan begitu, aku sedang makan!" tegur yaya namun tak kunjung di hiraukan Arlan, pria itu justru semakin liar menjilati leher gadisnya hingga basah.


Yaya berdecak, ia meletakkan susu kotak nya sembarangan hingga beberapa tetes tumpah dari sedotan itu "Roverald..." Ucapnya penuh penekanan.


Arlan seketika berhenti, ia langsung menegang saat mendengar yaya memanggil nama depan pria itu. Alarm berbahaya, yaya hanya akan menyebut nama itu saat ia benar-benar marah.


Arlan menyerukkan wajah nya bersembunyi di heler sang gadis "Maaf" cicit nya serak. Ia tak mau yaya marah lagi.


Beberapa minggu yang lalu Arlan pernah di jauhi yaya, bahkan tak dianggap ada oleh gadis itu, hanya karena ia melupakan permintaan gadis nya yang pada saat itu ingin dibelikan jajanan kaki lima. Arlan sangat tidak suka saat gadisnya memanggil nama depan itu.


"Lepaskan"


Arlan memper erat pelukan nya. ia menggeleng ribut "No, tidak akan! jangan marah, iya aku tidak akan mengganggu lagi"


Yaya mendengus berusaha sabar "Arlan.. Jangan pancing emosi ku, tolong mengertilah, aku sedang fase bulanan, dan kau sedari kemarin selalu bertingkah konyol"


Arlan dengan berat hati melepas pelukan nya, ia duduk menyender dengan kepala menunduk dalam. Tangan kekar nya meraih jari lentik gadis itu, lalu memainkan nya "Jangan marah. Maafkan aku, please jangan marah"


Arlan merinding seketika ia mengingat saat dimana gadis itu marah, dan mengabaikan nya selama lima hari penuh! Selama itu pula Arlan uring-uringan hanya karena diabaikan oleh pujaan hati nya.


Yaya mulai melahap cemilan nya tanpa perduli wajah sendu sang tunangan, ia memilih abai dan menyantap semua Snack lezat yang ia miliki.


...****************...


Yaya memasukkan semua sampah jajanan nya ke dalam plastik, ia mengumpulkan nya jadi satu lalu membuang nya dalam tong sampah mini di pojok kamar itu.


Yaya tertegun, saat ia berbalik menuju sofa, ia akhirnya sadar, dapat ia melihat tubuh kekar Arlan yang sedikit loyo, pria itu menunduk dalam dengan jari mengepal erat. Yaya bergegas menghapriri tunangan nya itu.


"Arlan?.." yaya berucap lembut seraya mengelus pundak pria itu


Arlan mendongak menatap wajah sang gadis, alis nya terangkat sebelah seolah bertanya 'apa?'


Yaya tersenyum tipis, gadis itu menyingkirkan tangan Arlan yang mengepal di paha, ia merangkak naik ke pangkuan pria itu "kenapa lemas begini, hm?" yaya menyisir rambut Arlan menggunakan jemari lentiknya


Arlan memejamkan mata nya, menikmati setiap usapan yang gadis itu berikan di kepala nya "Jangan marah" ucap Arlan pelan.


Yaya tersenyum, ah ternyata singa jantan ini takut ia marah ternyata "siapa yang marah? Hm?" yaya mengecup pipi Arlan sekilas hingga pria itu membuka matanya


"Kata Lan, jika wanita sedang menstruasi, mereka akan sensitif sekali, dua hari belakangan ini aku sudah banyak bertingkah, aku takut kamu marah padaku" ujar Arlan panjang lebar.


Yaya terkekeh, ini rekor sekali Arlan mau berbicara sepanjang itu dalam satu tarikan nafas "aku tidak marah padamu, meskipun kemarin kau sangat menyebalkan..." yaya menjeda ucapan nya dengan sengaja, ia ingin melihat ekspresi pria itu.


Bahu kekar Arlan merosot tipis, ia menatap gadis nya dengan mata sayu "Tapi aku tidak akan marah, karena kau sangat baik hari ini... Sudah mau membelikan ku pembalut, dan membelikan ku banyak cemilan"


Arlan seketika tersenyum cerah "i love you!" ia kemudian memeluk erat gadis nya.


"Hm"


Arlan mendelik kesal "i said I LOVE YOU" ucapnya sekali lagi dengan penuh penekanan.


Yaya terkikik geli melihat wajah memerah pria itu "yeah, i know.." sahut yaya semakin jadi menggoda pria itu.


Arlan menghela napas kesal "I.LOVE.YOU. I LOVE YOU YAYA, I LOVE YOU, I SAID I LOVE YOU"


Tawa yaya seketika pecah, gadis itu mengelus tengkuk tunangan nya lembut "okay... I love you too, hubby" ucap yaya, lalu di kecup nya bibir tebal Arlan


Arlan menegang, ia tersenyum lebar menatap gadis nya yang sangat pandai memporak porandakan mood nya! Ia memeluk erat gadis itu, membawa nya menuju kasur.


"Arlan, apa tadi kau bisa memilih pembalut itu? Apa kau dibantu orang lain?" tanya yaya tiba-tiba, entah mengapa gadis itu merasa penasaran.


"Lan membantu ku"


Yaya mengernyit "sungguh?" tanya gadis itu lagi, dan Arlan mengangguk "Dia membantu ku memilihkan pempers wanita itu"


Yaya terkekeh geli mendengar nya "aku baru tahu kalau Lan pandai tentang soal wanita"


Arlan tertawa "Dia sangat pandai, kurasa sebelum bekerja denganku, ia memiliki sugar mommy"