
Happy Reading!
Arlan menatap pria di hadapan nya, berbaju serba hitam dengan topi juga kacamata senada. Pria itu irit bicara sama seperti Arlan "Terimakasih sudah menemukan gadisku" ucap Arlan tulus, ia menjulurkan tangan dan langsung di jabat oleh Miran.
"Sama-sama"
Arlan melepas jabatan itu ia menatap sekelilingnya, tempat ini sangat luas dan rindang. Kini mereka berada di taman bunga di desa ini, sangat sedikit orang yang tinggal di sini, karena konon katanya tempat ini angker dan banyak orang yang menjauhi desa indah ini.
Arlan pernah membaca lokasi ini dalam sebuah buku geografi yang ditulis oleh seorang pendaki gunung ternama yang gemar sekali berkeliling dunia, memang di buku itu ditulis di desa ini hanya ada ratusan keluarga saja yang mau tinggal di desa ini, karena tempat yang lumayan jauh dari kota, dan sangat sedikit toko yang buka di tempat itu, sangat merepotkan bila ingin berbelanja.
"Apa kau berniat tinggal di sini, bung?" tanya Miran tiba-tiba
Arlan menggeleng "tidak tahu, jika gadisku ingin, kurasa aku harus mau di tempat ini"
Miran mengangguk "dia gadis yang baik, saat mencarinya aku melihat dia sedang membantu nenek-nenek membawa kayu bakar"
Arlan mengernyit tak suka "Kenapa kau tak membantu nya?!"
Miran mengandik bahu "jika aku memunculkan diri, kurasa dia akan kabur lagi ke negara lain. Dia tidak bodoh, dia pasti bisa menebak kalau kau sedang mencarinya"
Arlan terdiam, benar juga "Sekarang beritahu padaku, dimana rumah nya"
Miran memberikan secarik kertas, berisi alamat rumah yang ditempati yaya saat ini "Itu dia, kulihat dia tinggal bersama dua wanita dan satu pria"
"Satu pria?" gumam Arlan marah, siapa pria itu?!
"Ya, seorang pria tua dengan jenggot lebat, orang sini memanggil nya uncle Sam, itu yang ku tahu"
Arlan mengangguk "terimakasih, Miran. Apa yang kau mau sebagai imbalan"
Miran menggeleng "aku ikhlas membantu Lan" tolaknya santai
Arlan mengangguk, ia mengeluarkan kartu nama nya "kau bisa menghubungi ku jika perlu sesuatu"
Miran mengangguk "kau trilyuner" ujarnya "perusahaan ini, aku sering menyelidiki nya"
Arlan mengernyit "untuk apa kau mematai perusahaan ku" tanya nya datar
"pekerjaan ku dulu adalah mata-mata bayaran, aku di gaji besar-besaran untuk menyelidiki seseorang, dan saat itu aku masih smp, mereka menyuruh ku mematai seorang wanita... Saat itu ada seorang penjahat bekerja di tempat mu, kau tak tahu itu?"
Arlan mendelik "penjahat? Yang benar saja"
Miran terkekeh "kau tidak akan percaya, dia bahkan telah membunuh banyak orang disana, dan terakhir... Polisi berhasil menangkap nya dalam keadaan tewas"
Arlan tersentak mengetahui fakta itu, dulu memang pernah ada desas desus sampai ke telinga nya kalau di salah satu cabang perusahaan keluarganya ada yang ditangkap polisi dalam keadaan tewas tertembak, namun ia tak tahu siapa itu, dulu baginya berita itu hanya hoax, tapi sekarang ia baru tahu kebenaran nya.
"Apa kau tertarik bekerja padaku?"
Miran menggeleng "aku sudah bekerja di suatu tempat, namaku memang tak terkuak namun aku bekerja keras di sini. Gaji ku juga besar, bila kau ingin tahu" ujar Miran penuh percaya diri.
"Ah, baiklah, kalau begitu. Aku harus menemui gadisku dulu, sekali lagi terimakasih Miran"
Miran mengangguk, "sampaikan salamku pada Lan"
Aku mengangguk saja, tadi Lan memang sempat ikut, namun aku menyuruh nya kembali ke hotel tempat kami tinggal sebab Lan beberapa hari ini ternyata sedang panas dalam. Pria itu sering memejamkan mata guna mengusir rasa pening di kepalanya, daripada nanti bertambah buruk, lebih baik Arlan membiarkan Lan beristirahat tuk beberapa waktu.
Arlan berjalan menuju rumah tempat tinggal gadisnya, rumah model klasikal itu sangat besar menjulang namun tidak bertingkat, halaman nya juga lebar, ditubuhi berbagai macam pepohonan rindang yang menambah kesejukan area sekitarnya.
Arlan diam di tempat nya, jujur saja ia bingung bagaimana cara nya agar bisa berbicara baik dengan yaya, ia tak pernah mengalami hal seperti ini sebelum nya, biasanya Arlan akan menjentikkan jari dan segala yang ia mau akan didapat.
Arlan berjalan mendekati pintu rumah itu, ia mengetuk nya beberapa kali sampai akhirnya pintu pun di buka kan oleh seorang wanita tua berkacamata "mencari siapa?" Tanya nya
Arlan tersenyum, sebisa mungkin ia akan bersikap ramah di tempat ini "apa ada yaya? Aku ingin berjumpa dengan nya"
Wanita itu diam sejenak, ia memperhatikan penampilan Arlan ada di ujung kaki sampai ujung kepala "kau siapa"
Wanita itu mengangguk "masuklah nak" ia mengelus pundak tegap Arlan dengan tangan keriput nya
Arlan bersorak dalam hatinya, ia senang sekali! Langkah pertama nya berjalan dengan baik, ia masuk dalam rumah itu mengikuti langkah sang nenek, ia melihat nenek itu menunjuk arah timur, disana tampak yaya sedang asyik memasak bersama dengan Ella. Sekarang Arlan tahu siapa dalang dari persembunyian ini.
"Aku ke kamarku dulu" pamit nenek itu
"Apa perlu ku antarkan, nek?" tanya Arlan dengan sopan, si nenek tersenyum "tidak perlu" lalu ia pun pergi.
Arlan berjalan mendekati dapur, ia tersenyum menatap gadisnya yang begitu fokus memasak sampai tak sadar akan kehadiran nya di sini. Ia langsung memeluk yaya dengan erat dari belakang, membuat kedua gadis itu tersentak kaget bukan main.
Yaya ingin berteriak kencang, namun Arlan langsung membalikkan badan nya hingga kini mereka berhadapan, pria itu membungkam mulut gadisnya dengan ciuman lembut, sangat lembut. Air mata Arlan menetes di sela ciuman keduanya.
Ia melepaskan ciuman itu saat yaya menepuk pundak tegap nya, gadisnya kehabisan oksigen. "Hhh.. Hah.. K-kenapa kau kemari!" tanya yaya dengan suara bergetar, ia kaget sekaligus takut menatap pria itu.
Bukan nya menjawab, Arlan justru melirik Ella "bisa tinggalkan kami?"
Ella menatap yaya meminta persetujuan, saat merasa yaya mengangguk, ia pun menurut, pergi dari tempat itu.
Arlan menatap kembali wajah gadisnya, ia mengelus sayang pipi gembil gadis itu "kenapa meninggalkan aku?" tanya Arlan dengan lembut, air matanya masih saja menetes, katakanlah ia cengeng kali ini. Namun memang begitu kenyataan nya!
Yaya menatap garang wajah pilu Arlan "perlu ku jawab?" tanya nya balik, membuat Arlan menunduk dalam.
"Sudahlah Arlan, aku tak mau berjumpa dengan mu! Hubungan kita... Kita akhiri saja, aku bukan tunangan mu lagi, ing—"
"Tidak! Tidak!" Arlan menggeleng ribut, pria itu memeluk gadisnya ketakutan "kau tak bisa meninggal kan aku, tidak mau!" dapat yaya rasakan bahu pria itu bergetar memeluknya.
"Kenapa? Kenapa kau memaksa ku bertahan saat kau sudah menghancurkan segalanya?"
Arlan melepas pelukan itu "ayo kita pulang, kita bicarakan semuanya baik-baik, sayang"
Yaya menepis tangan Arlan "ini tempat ku! Kemana lagi aku harus pulang?" ucapnya sinis
Arlan menunduk lesu, ia takut hilang kendali dan memaksa gadisnya pulang dengan cara tak manusiawi "Kita butuh ruang, ayo ke hotel tempat—"
"Disini saja" ucap yaya menolak tegas.
Arlan menatap gadisnya dengan tatapan sayu, yaya bisa melihat itu, sebongkah harapan terpancar di matanya, kesedihan mendalam menguasai hati Arlan, tapi yaya tak perduli. Dia hanyalah pria brengsek di matanya sekarang.
Arlan menatap gadisnya lagi "Akan aku jelaskan semuanya, tolong dengar aku. Ya, sayang?" Pintanya dengan lembut. yaya sempat terkejut, kenapa Arlan jadi semanis ini?
"Katakan, waktu ku tak banyak untuk mendengar mu bercerita"
. bahu Arlan sampai merosot, sedih sekali mendengar nya "Aku di jebak oleh gadis itu! Dia meminta tolong padaku dimalam saat perusahaan nya dibakar habis-habisan oleh musuhnya"
Yaya berdecih "kau polisi? Kenapa dia mengadu padamu?"
Arlan menggeleng, ia sebenarnya merasa jijik saat membicarakan hal ini, ia sudah menjamah wanita sialan itu. Ia kotor! Bagaimana jika yaya tahu yang sebenarnya?
"Tidak bisa jawab?" yaya menatap Arlan nyalang, ia lipat kedua tangan nya di depan dada "pergi, aku muak melihatmu!"
Arlan menggeleng ribut seperti anak kecil, kebiasaan nya saat bersama yaya akan berubah total, ia akan menjelma jadi apa adanya dan sedikit manja bila bersama gadisnya itu.
"No, kau tega mengusir ku? Aku bahkan langsung terbang kemari saat tahu keberadaan mu"
"Bukan urusanku, tak ada yang memaksa mu kesini. Lebih baik kau pulang, urus saja wanita mu itu, kurasa dia sedang menangis minta di peluk sekarang!"
Arlan diam, semarah ini ternyata gadis itu padanya. Sangat jutek, Arlan sampai tak mengenali sifat ini, yaya yang dia kenal tidak begitu.
"Aku tidak akan pergi, kita akan pulang bersama"
"Pergi! Kau tak dengar? PERGI! ARLAN!"