Good Romance With My Bad Mafia

Good Romance With My Bad Mafia
CHAPTER 52



Arlan membuka mata nya yang berat, ia melirik pintu yang sedari tadi di ketuk dari luar, terdengar juga suara Lan dari balik sana, entah dapat laporan apa dia kali ini, semoga berita baik. Setidaknya hari ini Arlan ingin kesedihan nya tidak bertambah lagi, cukup sudah ia merasa tersiksa dengan semuanya.


"Masuk!"


Lan masuk dengan sekotak makanan di tangan nya, pria itu meletakkan nya di atas nakas "ini pie, buatan Nona"


Arlan seketika bangun. Ia duduk dengan tegap bersender di kepala ranjang nya. Ia menatap kotak itu, lantas ia membuka nya."dia membuatkan ku pie?" tanya Arlan memastikan.


"Tidak tuan, nenek tua itu yang memberikan" lapor Lan dengan tak enak hati melihat raut sendu majikan nya.


"Bukan Yaya yang memberikan ini" Arlan bergumam pelan, ia mendorong lagi kotak itu, enggan menatap isisnya yang menggugah selera.


"Tuan, semua perintah anda sudah saya lakukan"


"Apa dia menerima bunga ku?"


Arlan mendengus kesal saat Lan menjawab tidak, lagi-lagi gadisnya menolak "kurasa aku tidak bisa menunggu lebih lama"


"Jangan tuan!" sontak Lan sadar akan nada bicaranya, ia menunduk memohon ampun "maafkan saya tuan, tapi... Bersabarlah, jika anda memaksakan kehendak, bisa saja nona semakin marah. Wanita tak suka kekerasan, dan tak suka di paksa"


Arlan berdecak "lalu bagaimana!? Aku muak berlama-lama seperti ini, bodoh!"


Lan menunduk dalam "maafkan saya tuan. tapi tadi saat saya memberi tahu keadaan anda... Nona tampak sedikit terkejut"


Arlan menggelengkan kepala "dia tidak akan perduli" ujarnya pelan.


"jika ia berekspresi seperti itu, tandanya ia masih memperdulikan anda, tuan. Saya tahu, dulu kekasih saya juga begitu"


Arlan berdecih "sok mengajari ku?"


Lan menggelengkan kepalanya"tidak tuan bos, bukan bermaksud menggurui, tapi begitulah nyatanya, dia sedih tapi... Ego nya menguasai diri, nona khawatir pada anda tuan"


Arlan terdiam sejenak, dari kebanyakan ucapan Lan memang 90% benar, asisten nya itu sudah berpengalaman soal cinta, Arlan rasa kali ini ia bisa mempercayai asisten nya itu.


Arlan berdehem "lakukan sesuatu, kau harus bisa membuat nya datang kemari, bagaimana pun caranya!"


Lan mengangguk "baik tuan, saya usahakan!"


****


Lan mondar mandir di halaman rumah yang ditempati oleh yaya, ia bingung, harus bagaimana caranya agar Nona nya itu masuk dalam perangkap nya?


Ah, Lan jadi bersyukur, ada gunanya juga ia menemani kekasihnya maraton drachin! Ia jadi memiliki taktik cinta ala-ala remaja masa kini, dirinya jadi yakin kalau rencana nya akan berhasil.


Lan mengetik kan sesuatu di handphone nya, sebuah pesan yang tertuju pada tuan bos nya itu, setelah nya Lan pun bergegas mencari Nona nya.


Tok! Tok! Tok!


"Nona!, Nona! Nona!" Lan bagai orang ketakutan menggedori pintu rumah itu.


Ceklek...


Pintu terbuka, menampilkan seluruh penghuni nya telah berdiri di depan pria itu, Lan menelan Saliva susah payah, ia jadi gugup saat ditatap semua mata itu. Kenapa jadi semuanya yang muncul?! Lan hanya ingin berbicara dengan Ayashya! Bukan kalian.


"Kenapa, nak" Tanya si nenek tua merasa sedikit terkejut menatap kedatangan Lan, yang sudah cukup ia kenali, kemarin mereka sudah banyak bercerita mulai dari hubungan yaya dan sang bos hingga kehidupan sehari-hari nya pun ia bicarakan bersama nenek itu.


"Maaf mengganggu waktu kalian" ia berupaya menetralkan degupan jantung yang membuatnya sedikit Tremor "Nona... Tuan butuh anda" Ucapnya menatap serius wajah Ayashya


Yaya mendelik tak suka "hentikan omong kosong mu itu, aku tak ada hubungan lagi dengan nya. Camkan itu"


Dalam hati Lan sudah mengumpat, susah sekali membujuk gadis ini "t-tapi nona... Apakah anda tidak ada niat menjumpai tuan bos? Menjenguknya sekali saja?" Tanya nya gugup


Ella mengerti sekarang, ini urusan pribadi yaya, ia menarik lembut lengan kakek dan neneknya menjauhi kedua orang tersebut "Kakek dan nenek, apa kalian mau dibuatkan jahe hangat?"


Kembali pada Lan juga Yaya, keduanya masih berbincang tentang kondisi Arlan. Memang pria itu sakit, tapi agaknya Lan terlalu berlebihan bercerita pada Nona nya.


"Benar, nona. Tuan semalam di suntik infus, dia benar-benar lemas. Dan... Apa nona tahu? Besok adalah..."


Yaya memiringkan kepalanya "apa? aku tak tahu besok itu kenapa"


Lan mengangguk "begitu ya..." ia menggaruk dagu nya pelan "besok adalah hari suram tuan, bos" ucap Lan sedikit berbisik.


Yaya mengernyit bingung "Hari suram?" ia berdecak "sejak kapan hari Arlan tidak suram? Setiap hari dia selalu suram" gumam yaya menohok, Lan nyaris tertawa ngakak, tapi sebisa mungkin ia tahan.


"B-bukan begitu, nona. Besok itu tepat memperingati hari kematian Nyonya besar, ibu kandung tuan Bos"


Yaya seketika terdiam, besok?! "Benarkah?" tanya nya yang langsung dijawab anggukan mantap oleh Lan "Biasanya, menurut laporan yang saya tahu dari pembantu lama di rumah, tuan akan mengamuk, bahkan menyiksa diri di dalam kamar nya, nona. Apa anda tega jika itu terjadi lagi?"


Yaya diam, sisi manusiawi nya mulai muncul, hati mungil nya seketika tersenggol ingin berada di dekat Arlan, menemani pria itu sampai ia baik-baik saja. Tapi... Rasa sakit di hati yaya juga masih terasa, sulit sekali melupakan semua itu.


"Nona? Bisakah nona mampir? Barang sebentar saja? Tuan bos butuh anda" tanya Lan dengan sopan, dalam hati dirinya sudah melapalkan doa agar kali ini ia tak gagal lagi membawa nona nya pulang.