
Sudah tiga minggu lamanya yaya berada di rumah ini, selama itu pula ia yakin kalau sebenarnya ia tidak begitu membenci Arlan. Pria itu ternyata sangat baik dan begitu menghormati nya, meskipun Arlan itu pemaksa, ia masih melakukan nya dalam konteks yang wajar.
Tidak memaksa untuk yang tidak-tidak. Seperti saat ini, Arlan memaksa yaya untuk memilih salah satu kalung termahal berbulir berlian yang ada di dalam toko perhiasan ternama dunia.
Hari ini, lebih tepat nya tadi sore, Arlan memaksa yaya ikut dengan nya, padahal gadis itu sudah menolak dengan berbagai cara, namun rlan tidak mau menerima tolakan dari yaya.
"Yang itu"
Jadilah berakhir begini, yaya harus mau memilih satu kalung berliontin berlian asli yang sangat mahal di toko mewah tersebut.
Arlan mengangguk, "siapkan itu!" perintah nya pada pekerja disana.
Sepeninggal pekerja di toko itu, yaya mencubit lengan Arlan "kau menyebalkan!" desis nya marah. Hari ini adalah weekend! Dan yaya adalah anak rumahan lahir batin, ia tak begitu menyukai keramaian seperti saat dimana ia digeret paksa oleh pria itu di pusat perbelanjaan kota.
Belum lagi banyak mata jelilitan wanita yang terang-terangan menatap sinis wajah yaya, mereka bahkan dengan berani menyindir gadis itu
"Dia sangat kampungan!"
Yaya berdecak, ia benci saat orang lain mulai menghina "apa mereka tak bisa membeli tatakhrama dengan uang melimpah mereka itu!? Dasar wanita genit!"
Arlan menatap gadis nya, ia sempat mendengar dumelan gadis itu meski tak begitu jelas "Kenapa?" tanya Arlan seraya mengusap lembut pucuk kepala gadis itu.
Yaya menggeleng, ia bukan tipe wanita yang gemar mengadu tentang masalah sepele seperti ini, ia cenderung menyimpan nya diam-diam tanpa mau memberi tahu orang lain.
Lagi pula yaya sudah terlalu jengkel dengan Arlan, pria itu memang baik, terkadang juga manis namun ia bukan tipe pria yang peka!
"Ada yang mengusik mu?" tanya Arlan tepat di depan telinga gadis itu.
Arlan menggeleng kepala "kita belum melakukan apa pun, ayo akan ku bawa kau ke res–" Ucapan Arlan terhenti saat yaya menatap tajam wajah nya.
"Aku tak berminat!"
Arlan terkekeh "tidak ada pen—" lagi, ucapan Arlan terhenti karena gadis itu melengos pergi begitu saja.
"Yaya!" Arlan mengejar gadis itu, ia meraih tangan yaya tuk ia genggam "ada apa dengan mu?" tanya Arlan berusaha sabar.
Yaya mendelik "aku mau pulang" tekan yaya "jika kau masih ingin berada di tempat ini, silahkan. Aku bisa pulang sendiri"
Arlan berdecak "kau bahkan tak tahu alamat rumah ku!" benar, memang yaya tak menghapal alamat rumah nya, sebab ini kali pertama yaya keluar dari rumah megah itu.
Yaya tersenyum "kau pikir aku gelandangan?! Aku bisa pulang ke kost ku!" Ujarnya tenang.
"yaya..." geraman rendah pria itu terdengar, pertanda ia sudah mulai tersulut emosi.
"Apa? Kau mau marah? Silahkan! Aku sudah muak menghadapi pria egois seperti kau!" yaya pergi dengan langkah lebar nya berlari sekencang mungkin sebelum Arlan kembali menangkap nya.
Yaya tersenyum melihat sebuah taxi lewat, saat ia hendak memanggil taxi tersebut, tiba-tiba saja tubuh nya melayang, pandangan nya gelap tertutupi kain hitam. Ia berteriak histeris meminta pertolongan namun naas, tak ada satupun orang yang berani menolong nya.
Yaya merasakan setengah bagian wajah nya di bekap oleh tangan besar, perlahan pasokan oksigen nya mulai menipis, hingga akhirnya yaya pingsan tak sadarkan diri.
***