
*Cinta yang berlebihan pasti akan membuatmu kecewa. Janganlah kamu membencinya karena dri sana kamu belajar untuk tidak mengecewakan orang lain*.
*
*
*
*
*
"Rooling, Action".
Kamera mulai menyorot pada wajah tampan Waren Royse alias Erik. Ini sudah kali ketiga take kamera setelah sang Artis memulai harinya, diikuti beberapa kru dari program team produksi Tiara.
Wanita berponi itu sendiri pun tak luput mengawasi proses jalannya syuting. Karena itulah sedari pagi tadi wajah Erik sudah berseri, bisa menjalani hari bersama sang pujaan hati kapan lagi begini. Pikirnya.
Jadwal Erik sekarang adalah menjadi model sebuah majalah terkenal di negara asalnya ini. Dengan setelan jas hitam metalic, postur tegap dan juga wajah tampan itu membuat semua orang terpana bahkan pria sekalipun. Kharisma pria matang yang dikeluarkannya amat memikat. Entah sebahagia apa Tuhan ketika menciptakannya.
"Ya, okey, stay cool Waren, oke, good job". Sang photograper amat puas dengan gaya yang diberikan Waren alias Erik. Tentu saja karena pekerjaan seperti ini sudah biasa di lakukannya.
"Oke kita istirahat dulu, kembali setelah makan siang."
Erik sedikit membungkukkan badan pada seluruh team yang bekerjasama dalam pemotretan tersebut. Lalu duduk dikursi yang telah disediakan sembari menghela napas panjang.
"Thanks, Je" ucap pria itu menerima minuman dari sang Asisten Jeje.
"Ya, itulah keseharianku, tak ada yang istimewa hanya menyanyi, rekaman, membuat lagu dan terkadang harus melakukan sesi foto seperti ini" ucap Erik setelah minum beberapa tegukan, pada kamera rolling yang masih mengeker wajah tampannya.
"Membosankan bukan" tambahnya membuat seluruh kru yang mendengar tertawa kecil, seolah hal yang dikatakannya itu lucu.
Dan, "Cut". Kali ini sutradara team Tiara yang menghentikan sejenak pekerjaan mereka. Sama seperti photografer tadi, ia meminta semua orang beristirahat.
Walaupun tema program mereka adalah keseharian tentang Waren, tapi mereka masih memberikan ruang untuk sang Artis terkenal itu menikmati time privatenya.
Berhubung tak ada makan bersama kali ini jadi masing masing mencari makanan keluar.
Erik pun berdiri melangkah menuju ruang ganti untuk melepas pakaian bertema mewah ditubuhnya. Saat berjalan matanya mengedar mencari kemana sosok wanita yang sedari di Penthouse selalu mengikutinya, dan sekarang menghilang.
"Kamu tau kemana perginya Tiara?" tanya Erik usai berganti pakaian pada Jeje yang tengah mengotak ngatik ponselnya, menjelajah aplikasi makanan delivery.
Jeje nampak mengernyit mengingat siapa wanita bernama Tiara yang dimaksud sang Artis. "Oh mba Ara,". Erik melirikkan mata pada sang Asisten dari pantulan cermin didepannya.
"Tadi habis terima telfon dia pergi, nggak tau kemana" tambah Jeje dengan bahasa indo tapi berlogat jerman.
"Ara?". Erik malah gagal fokus pada panggilan wanita pujaannya itu.
Jeje tersenyum getir. "Emmm, mba PA itukan?".
"Her name is Tiara why do you call her, Ara?".
"Because her allowed me to call him that" jawab Jeje. "Supaya lebih akrab katanya" tambahnya. Dan Erik malah diam saja berpikir entah apa.
Tok, tok, tok.
Jeje berdiri dari duduknya lalu membuka pintu ruang rias Erik. "Mba Ara" sapanya tersenyum pada wanita dibalik pintu yang memegang sebuah bungkusan ditangannya.
Mendengar nama panggilan Tiara, Erik langsung tegap berdiri mengabaikan MUA yang tengah membersihkan make up diwajahnya.
"Boleh aku masuk?". Tiara bertanya dengan wajah datarnya membuat Erik tertawa dalam hati. Gadisnya tak berubah sama sekali.
Jeje tertawa kecil, merasa aneh dengan pertanyaan dan ekpresi yang tak sinkron dari Tiara. Sebelum memperbolehkan Tiara masuk, ia lebih dulu melirik kearah Erik yang diam saja menatap Tiara tanpa berkedip, padahal biasanya pria itu tak suka jika ruangannya dimasuki orang lain. Mengganggu ujarnya. So, keanehan apalagi ini.
"Of course," jawab Jeje menjulurkan sebelah tangannya kesamping.
Tiara melangkah menghampiri Erik. "Kulihat kau cukup fasih dengan bahasa kami, jadi aku takkan berbicara dengan bahasamu yang membuat lidahku terbelit". Itu adalah kalimat pertama yang diucapkan Tiara setelah pertemuannya dengan Erik terakhir kali di kantornya. Karena di Penthouse pria itu, mereka tak sama sekali berbicara.
Tentu saja kalimatnya itu membuat Jeje, MUA Erik dan pria itu sendiripun takjub. Sebelumnya tak pernah ada orang yang seberani dan setenang itu bicara pada Erik.
Erik terkekeh mendengarnya, walaupun tak menyangkal ada rasa kecewa dihatinya. Tiara benar benar melupakannya.
Tiara pun menyodorkan bungkusan ditangannya pada Erik yang menaikkan sebelah alisnya. Tiara menghela napas. "Entah apa yang dipikirkan DU kami, dia menghabiskan pulsanya menelfonku hanya untuk menyuruhku membelikanmu ini, ckckck kurang kerjaan".
Tiara menatap Erik yang malah terdiam menatap bungkusan ditangannya. "Cepat ambil, tanganku lelah" sentaknya.
Erik mendongak. "Ini, dari Aditya?".
"Hmmmmm".
Perlahan Erik menerima bungkusan yang berisi makanan ditangan Tiara itu. "Oke tugasku selesai, aku pergi".
Tiara pun berlalu pergi tanpa mengatakan apapun lagi, meninggalkan ketiga orang didalam ruangan itu berdialog dengan pikiran masing masing atas sikapnya barusan. Tapi tak lama wanita itu kembali.
"Oh cuma mau bilang, jangan menghubungkan sikapku dengan program dan anggota teamku, mereka orang yang baik dan sopan, tidak denganku yang.., kalian sudah tau sendiri. Maaf aku bukan munafik tapi aku tak jahat, jika perlu bantuan kalian bisa memanggilku, baiklah terima kasih sudah mendengarkan" ucap Tiara panjang lebar. Melihat Jeje dan satu wanita yang berdiri disampingnya terbengong Tiara kembali berkata.
"Kau, terjemahkan apa yang tadi kukatakan pada mereka" ucapnya pada Erik yang reflek mengangguk pelan.
"Psssttt, hahahahaha" Erik tertawa keras sepeninggalan Tiara membuat sang Asisten dan MUA nya bingung sebingung bingungnya.
Erik kemudian duduk membuka bungkusan yang diterimanya dari Tiara sambil menelfon seseorang.
"Ini memang pelayanan dari kerjasama kita atau darimu pribadi?" tanya Erik pada orang disebrang sambungan.
"Tidak keduanya".
"Lalu?".
"Aku hanya tak ingin kau lecet diluar sana, aku dengar dari anak buahku kalau diluar gedung sudah banyak fans dan wartawan menunggumu........".
Erik tak mendengarkan jawaban panjang lebar dari Aditya, ia malah terbengong menatap isi bungkusan tadi. "Woy, Pea denger nggak lo!!" bentak Aditya kesal.
"Nggak!!" bentak Erik balik membuat Aditya berdecih ditempatnya.
"Aku mau tanya, apa kau juga yang menyuruh Tiara membelikan makanan ini?" tanya Erik penasaran.
"Makanan apa maksudmu, aku hanya menyuruhnya membelikanmu makan siang menunya aku tak bilang" jawab Aditya.
"Oke" Erik menutup panggilannya sepihak. Dan Aditya pun mencak mencak dikantornya kesal atas sikap rivalnya itu.
"Ada apa War?" tanya Jeje heran melihat sang Artis terpaku menatap makan siangnya. Erik mendongak. "Hmm, Nothing" jawabnya. Jeje pun pamit berlalu pergi meninggalkan Erik seorang diri dalam ruangan itu bersama MUA tadi.
"Apa dia mengingatku?" tanya Erik memandangi menu nasi uduk dengan paha ayam sebagai lauk didepannya itu. Sama persis seperti masa lalu.
*****
"Hey, kau". Erik memanggil Tiara saat semua orang sudah berpamitan pulang. Untuk hari ini syuting program Tiara hanya sampai sore hari saja, setelah Erik juga mengakhiri kegiatannya diruang rekaman.
Tiara awalnya cuek akan panggilan dari Erik, karena berpikir sang Artis bukan memanggilnya. Karena masih banyak orang disini selain mereka.
"Ternyata selain nggak sopan kamu budek juga ya" sindir Erik berjalan mendekati Tiara yang membelakanginya.
Tiara menaikkan sebelah alisnya mendengar ucapan Erik barusan, mendengus lalu berbalik kebelakang. Namun begitu ia memutar badan mata wanita itu terbelalak, Erik begitu dekat dengannya. Hanya selisih beberapa senti saja, dengan menyorotnya tajam dan ekpresi yang tak terbaca.
"Ekhm..., Ekhmm" Tiara berdehem sembari memundurkan langkah kakinya. "A..., Apa?!" tanyanya terbata, dengan menaikkan dagunya. Berusaha tak terintimidasi. Padahal dalam hati memaki diri sendiri kenapa bisa semudah itu ia takjub dengan seseorang. Apalagi pria ini, cih.
Erik terkekeh dalam hati. "Kena kau". Ia melemparkan tas yang sigap ditangkap Tiara. Wanita itu menatapnya dan benda yang sudah dipeluknya bergantian.
"Bawakan tas ku sampai kemobil" perintah Erik layaknya seorang bos besar. Lalu berjalan melewati Tiara dengan langkah santainya.
Tiara ternganga, lalu tertawa tak percaya. "Hei, aku bukan asistenmu, seenaknya saja menyuruhku" teriaknya tak terima.
Erik menghentikan langkah, berbalik sambil menautkan alisnya. "Ahhh Jeje, dia sudah pulang, adanya cuma kamu gimana dong, kan kamu sendiri yang bilang kalau aku perlu bantuan tinggal memanggilmu dan sekarang aku kabulkan".
Setelah mengatakan itu Erik pun kembali melangkah santai dengan tangan ia tautkan dibelakang badan. Dan hal itu sukses membuat seorang wanita intoverd seperti Tiara mengerang kesal dalam benaknya.
"Hei, hei kau, yaaaaaaa!!!". Tiara berteriak kesal pada pria yang mengacuhkannya, ini pertama kalinya wanita itu berteriak emosi dalam beberapa tahun ini.
Terpaksa dengan menghentakkan kaki Tiara pun mengikuti pria tampan namun kurang ajar didepannya itu.
"Dia sama saja seperti yang lainnya, bahkan lebih parah!".