
_Hati ini merindukan Tuannya, tapi sang Tuan mencintai orang lain, menyakitkan?_
*
*
*
Buket bunga ditangan Erik seketika terjatuh dari tangannya. Mata pemuda itu menyalang menatap kegiatan romantis didepannya. Tiara tengah berpelukan mesra dengan Aditya.
Pupus sudah rencananya yang ingin mengatakan cinta dan meresmikan hubungan sepasang kekasih bersama Tiara. Setiap kata yang sudah disusunnya semanis mungkin, juga hadiah berupa sebuket bunga dan liontin sederhana seperti tak ada artinya lagi.
Hati Erik yang teramat bahagia dalam perjalanan kemari, hancur berkeping keping melihat kenyataan didepannya. Tiara sepertinya telah bersama Aditya. Gadis itu tak sembarangan memeluk orang jika bukan mewakili perasaannya.
Tangan Erik terkepal kuat saat melihat Aditya yang posisinya menghadapnya dan Tiara yang membelakanginya mulai melepas pelukan. Dengan kepala sedikit miring Aditya mulai mendekatkan wajahnya, lalu mengecup bibir Tiara. Setidaknya begitulah adegan romantis mereka dimata Erik yang hatinya tengah memanas.
Tak bisa lagi menahan amarah dan cemburu dihatinya Erik mendekat dan langsung memberi bogeman mentah kewajah Aditya. "Berengsek!" pekiknya.
Aditya tersungkur bersamaan dengan memekiknya Tiara. Tapi kali ini bukan nama Erik yang disebutkannya seperti terakhir kali melihat kedua pemuda itu berkelahi, tapi Aditya.
"Kak Adit!!".
"Kamu apa apaan sih Rik?!!" bentak Tiara marah pada Erik yang tertegun.
Tiara langsung mendekati Aditya dan menangkup wajah pemuda itu, membuat mata Erik semakin menyorot tajam. Dengan kasar ia menarik tangan Tiara hingga berdiri menghadapnya.
"Ngapain lo sama dia!!" bentak Erik emosi.
Tapi Tiara tak takut sedikitpun gadis itu, menepis kasar tangan Erik. "Bukan urusan lo" jawabnya yang membuat Erik semakin meradang.
Tiara kembali berjongkok dan membantu Aditya untuk berdiri. "Kakak, nggak papa kan" ucap gadis itu khawatir sambil menyentuh sudut bibir Aditya yang berdarah sangking kerasnya pukulan Erik.
Aditya menggeleng dengan senyumnya yang biasa, lalu bangkit dibantu Tiara. "Apa maksud kalian?" tanya Erik semakin kesal saja mendapati perhatian Tiara pada Aditya.
"Apa lagi, kami berpacaran" jawab Aditya mantap sambil merangkul bahu Tiara.
Erik lagi lagi mengepalkan tangan karenanya. Namun segera ia tepis sekuat mungkin rasa cemburu dihati, lanjut menatap Tiara dengan sendu. "Ra," panggilnya berusaha menggapai tangan Tiara. Tapi gadis itu buru buru menyembunyikan tangan dibalik tubuhnya.
"Selama ini aku kira aku mencintaimu, tapi ternyata aku hanya terbiasa denganmu, maaf Rik yang aku cintai Aditya bukan kamu" ucap Tiara tanpa menjeda atau tercekat sedikitpun membuat hati Erik pecah seribu.
Mata pemuda itu bahkan berkaca mendengar penuturan mantap dari Tiara. Tapi tak lama ia berdecih, menatap remeh pada gadis itu. "Terbiasa katamu, jadi perhatian dan kasih sayangku padamu kau anggap apa, angin lalu?".
"Aku, aku yang mencintaimu lebih dari siapapun Ra, kamu pun tau itu, aku yang selalu ada untukmu, kamu pun melakukan hal yang sama padaku kan, dan kamu anggap itu terbiasa" tambah Erik menekan kata diakhir kalimatnya.
Tiara mengangguk. "Maaf, Rik" ucapnya yang sukses membuat tetes air mata Erik jatuh kepipinya.
Erik melengos tak terima, lalu menatap Aditya dan Tiara bergantian. "Oke, baiklah tapi aku takkan memberi selamat pada kalian" ucapnya pasrah.
Namun sebelum melangkah pergi. Erik dengan cepat menarik tangan Tiara, merebut paksa gadis itu dari sang kekasih barunya, lalu memeluk Tiara yang sangat ia sayangi itu untuk terakhir kalinya. Tiara sendiri terkejut dengan apa yang dilakukan Erik. Aditya maju untuk melerai tapi tatapan tajam Erik membuat pergerakannya berhenti.
"Sebentar saja, biarkan begini" ucapnya pada Tiara yang akhirnya berhenti berontak.
Setelah beberapa detik berlalu, Erik pun melepas pelukannya. "Aku pergi" ucapnya dengan senyum paksa, meninggalkan Tiara dan Aditya.
Erik pun melangkah menjauh meninggalkan Tiara yang pasti mengetahui bagaimana hancurnya perasaan pemuda yang selama ini selalu berada disampingnya. Dibarengi dengan indahnya langit malam berhias gemerlapnya cahaya kembang api.
Dan saat itu tak ada yang tahu jika langkah itu pergi tak sebentar tapi selama puluh tahun lamanya. Meski itu Tiara, Aditya, atau Erik sendiri.
*
*
*
*
*
Ia menoleh mengambil ponsel diatas nakas, memeriksa jam berapa sekarang.
"Jam tiga" gumamnya kembali meletakkan ponselnya.
Erik menghela napas, kemudian beranjak dari kasur nyamannya. Melangkah tak jauh ke lemarinya, lalu mengambil sebuah kotak yang ia simpan dan bawa selama sepuluh tahun lamanya.
Ia membawa kotak itu menuju balkon kamar, setelah duduk Erik membuka kotak berisikan beberapa benda yang salah satunya adalah liontin hadiah untuk Tiara malam itu.
Setelah terbangun tadi karena mimpi yang kembali mengingatkannya ke kejadian sepuluh tahun lamanya itu, membuat Erik merindukan sosok gadis bernama Tiara yang pernah mengisi penuh ruang dihatinya. Dan mungkin sampai sekarang sepertinya.
Erik mengambil dan menatap liontin itu. Masih teringat jelas dipikirannya betapa hancur hatinya saat melihat Tiara dan Aditya bersama malam itu. Apalagi penolakan Tiara terhadap dirinya, yang sampai sekarang Erik masih penasaran dengan alasan sebenarnya Tiara mengatakan itu semua. Erik masih tak percaya jika Tiara mencampakkannya hanya karena Aditya. Pasti ada alasan lain dibaliknya.
Bertepatan dengan malam itu, Wijaya sang Ayah yang selalu beradu argumen dengannya menyuruhnya pergi. Dan kesempatan itu tak disia siakan Erik untuk pergi menjauh sekaligus melupakan Tiara. Tapi nyatanya selama sepuluh tahun ini Erik tak bisa sedikitpun melupakan gadis itu.
Setelah puas menatap liontin ditangannya, Erik beralih pada beberapa lembar foto Tiara yang ada dirinya juga disana. Ia mengambil salah satunya, gambar Tiara dan dirinya yang saat itu tengah menghadiri acara kelulusan angkatannya.
"Kamu banyak berubah Ra" gumamnya tersenyum menatap foto masa SMA gadis itu.
Mengingat ia sempat melihat Tiara dimalam yang sama gadis itu mencampakkannya dulu, malam akhir tahun.
Rambutnya yang dulu hanya sebatas bahu, kini memanjang dengan poni tipis menutupi dahi dan alisnya. Tubuhnya yang dulu mungil kini nampak sedikit lebih tinggi. Wajahnya yang semakin cantik mengeluarkan aura dewasa pada wanita itu. Hanya satu yang tak berubah, ekspresinya yang datar dan dingin juga mungkin sisi lain dalam dirinya.
Tes.
Erik tertegun mendapati setetes air jatuh diatas foto yang dipegangnya. Ia menangis tanpa sadar.
Ia tertawa miris, lalu menatap sendu pada foto itu. "Sudah selama ini tapi aku masih mencintaimu dan sekarang aku benar benar merindukanmu, keongku".
*****
Tiara masih sibuk didepan komputernya ketika semua orang sudah selesai dengan pekerjaannya dan bersiap pulang. "Kak, pulang bareng yok" ajak anak baru yang satu team dengannya.
Tiara menoleh. "Kamu duluan aja, kakak masih ada kerjaan" tolaknya.
Gadis bernama Ayu itu menghela napas. "Ya udah deh, kakak jangan sampe kecapean aku pulang" ucapnya pada Tiara yang tersenyum mengiyakan.
"Emm Ra gimana, kamu sudah menghubungi pihak Waren?" tanya Gilang yang juga belum pulang, masih banyak yang harus diselesaikannya selaku produser.
Tiara mengangguk. "Lusa aku akan bertemu dengan pihak Waren, aku akan mencoba meyakinkan mereka".
Gilang tersenyum. "Ini yang kusuka dari kamu Ra, kamu sigap dan mengambil keputusan yang tepat, semoga rencanamu sukses besok" ucap pria itu bangga.
"Thanks, Bang" jawab Tiara dengan sedikit senyumnya.
Aditya yang baru keluar dari ruangannya, menghentikan langkah saat melewati ruangan team produksi. Salah satu mejanya masih ada lampu yang menyala, menandakan ada orang disana.
"Tiara?" gumamnya melihat wanita itu masih serius bekerja dengan kacamata bertengger dihidungnya.
Aditya melirik jam dipergelangan tangan kirinya. "Jam 11". Ia membulatkan mata, karena sangking sibuknya tadi ia juga sampai lupa dengan waktu dan tak sadar jika sudah selarut ini.
Aditya pun menghampiri Tiara, dilihatnya wanita itu meregangkan otot lehernya. Ia tersenyum.
"Kok belum pulang?" tanya Aditya membelai puncak kepala Tiara.
Tiara menengadah menatap pria yang tersenyum tampan padanya itu. Setelah melepas kacamatanya Tiara pun tersenyum, bukan sedikit tapi merekah seperti tengah melihat pelangi dilangit biru. "Masih ada kerjaan yang harus aku selesein" jawabnya.
Aditya memejamkan mata sesaat lalu melirik pada komputer didepan Tiara, kemudian mengetik dikeyboardnya. Mensave berkasnya kemudian mematikannya. Tiara hanya memperhatikannya.
Aditya lalu mengambil tas Tiara, dan menarik wanita itu berdiri dari kursinya. "Lanjutin besok, ini udah larut aku anter kamu pulang" ucapnya merangkul bahu Tiara yang mengangguk pasrah. Karena ia juga merasa sudah amat lelah.
Mereka berdua pun keluar kantor bersama dengan sedikit candaan dari Aditya yang membuat keduanya tertawa.
Ya, Aditya Prakasa. Sosok pria yang sejak SMA selalu menjadi malaikat bagi Tiara. Pria berwajah maskulin yang selama ini menjaganya, melindunginya dan selalu disampingnya. Membuat harinya yang suram menjadi lebih banyak tawa walau masih tersimpan luka.
👩💻 Lanjut nggak?.