Forget You, Remember Love

Forget You, Remember Love
Ep.40



_Aku adalah seorang yang gemar membalas budi. Dan jika budimu adalah membuat orang yang kusayangi tersakiti, aku akan membalasnya berlipat lipat kali bahkan sampai kau mati_.


*


*


*


Karena khawatir dan panik tanpa permisi Erik pun membuka pintu kamar mandi yang tak terkunci itu. Matanya terbuka lebar melihat Tiara berdiri didepan westafel menangis sambil mengusap kasar tangannya di air mengalir. Sigap saja pria itu berlari mendekat.


"Ada apa dengan tanganmu, kenapa kamu menangis, darah apa ini?" tanya Erik beruntun mengambil alih kerja tangan Tiara. Dia mengusap lembut tangan mungil itu membersihkannya.


Tiara yang tertegun tak percaya jika Erik ada didepannya malah semakin terisak. Tanpa menghiraukan tangannya yang masih basah dan tersisa sedikit darah, ia memeluk Erik. Membenamkan wajahnya kedada bidang pria yang tengah kebingungan dengan keadaannya itu.


"Hush..., tenanglah aku sudah kembali, jangan menangis hemmmm" ucap Erik menenangkan membelai sayang kepala Tiara.


"Ada denganmu hem?" tanya Erik penasaran. Tiara tak menjawab masih nyaman bersembunyi didada pria itu dengan sisa isakannya.


"Oke kamu bisa bercerita nanti, sekarang biar aku bersihkan tanganmu dulu" ucap Erik melerai pelukan mereka. Ia kembali membersihkan tangan Tiara. "Ini darahmu?" tanya Erik, Tiara menggelengkan kepala. Rasa lega sedikit dirasakannya saat tahu darah yang memenuhi tangan Tiara bukan darah wanita itu sendiri.


Setelah selesai membersihkan tangan Tiara juga melepaskan long coat dengan bercak darah yang dipakai wanita itu, Erik membawanya duduk dikasur. Dengan lembut ia membersihkan wajah Tiara menggunakan tisue basah yang diambilnya, lalu mengikat rambut Tiara yang sedikit berantakan.


Diperlakukan seperti itu Tiara hanya diam saja matanya terus memperhatikan gerak gerik pria tampan didepannya.


Erik duduk didepan Tiara menatap dalam mata kelamnya. "Sekarang sudah bisa bicara, ceritakanlah apa yang terjadi denganmu tanpa kecuali".


Tiara pelan tertunduk melihat kedua telapak tangannya. "Aku melakukannya lagi" gumamnya.


Erik melirik tangan Tiara, dengan apa yang dikatakan wanita itu ia tahu jika Tiara sudah melakukan hobinya. "Aku tak bisa menahannya, mereka terlalu sayang untuk kulewatkan".


Nada bicara Tiara seakan menyesal, bukan karena telah melukai seseorang tapi karena tak bisa menahan emosinya hingga sifat syconya keluar. Buktinya dengan kata kata barusan, 'terlalu sayang'.


Erik mendesah membelai sayang kepala Tiara. "Tapi kamu nggak papa kan, nggak ada yang terluka kan?" tanyanya lebih khawatir pada keadaan wanita itu.


Tiara menggelengkan kepala. "Kamu menyelesaikannya?" tanya Erik lagi. "Aku hanya memberi mereka sedikit luka saja" jawab Tiara.


"Siapa mereka dan apa yang mereka buat sampai kamu mengeluarkan pisaumu?".


Sungguh Erik tahu Tiara takkan menodai pisau kesayangannya jika tak ada yang mendesak atau mengganggunya. Tiara bukanlah syco liar seperti dalam sebuah film, yang mencari korban secara acak. Dia bisa mengontrol sifat syconya dan melampiaskan pada orang yang benar.


Tiara mendongak menatap Erik tak terbaca. "Kamu masih ingat Rimba Andreas, dia memancingku agar mau mengantarnya sampai dipenthousenya, dan saat tiba disana Managernya sudah menunggu, lalu......".


Tangan Erik terkepal kuat mendengar kejadian yang menimpa Tiara, dia menyesal sudah mengabaikan pria itu. Padahal Tiara sudah menceritakan ketidaknyamanannya atas sikap kedua pria itu.


Ia berdiri dengan wajah penuh emosi, mondar mandir menahan lucifer dalam dirinya agar tak keluar. "Berani beraninya mereka menyentuhmu, mereka memancing maut datang lebih cepat rupanya".


Erik meninju udara sangking emosinya. "Arrghhhhh sial!!!!".


Erik duduk kembali didepan Tiara memegang kedua bahu wanita itu. "Kamu jangan lagi bekerja dengan mereka, aku akan bicara dengan Aditya". Tiara mengangguk saja tanpa melayangkan protesnya.


Melihat wajah penurut nan menggemaskan dari Tiara membuat Erik membuang semua emosi didadanya, tersenyum tampan karena tak tahan melihat wajah yang amat dirindukannya itu. Erik menarik Tiara dalam pelukannya.


"Maaf karena tak ada disaat seperti itu, maaf karena sudah terlalu lama meninggalkanmu" ucap Erik sesal. Dia tahu dia salah karena membiarkan Tiara sendiri. "Tapi aku penasaran kenapa tadi kamu menangis, aku tau kamu bukan tipe penyesal setelah melakukan hobimu".


Seketika itu juga Tiara mendorong tubuh Erik, wanita itu tertunduk gugup salah tingkah. Erik tersenyum seakan mulai mengerti, ia menunduk mengintip wajah Tiara yang memerah.


"Hayo, kenapa kamu menangis, apa karena merindukanku?" tanyanya jahil.


Tiara meliriknya kemudian tertawa keras. "Idih amit amit" ucapnya pura pura jijik. "Aku menangis karena darah pria bajingan itu tak mau hilang dari tanganku" elaknya.


"Aaaaa" Erik mengangguk. "Lalu kenapa kamu memelukku?".


Skakmat. Tiara menelan kasar salivanya tak tahu harus menjawab apa, untuk menjawab sejujurnya gengsi lah dia dan nanti Erik bisa besar kepala karenanya.


Ya, Tiara memang sedikit merindukan pria itu, sedikit catat itu baik baik. Karena merasa pria itu selalu ada untuknya Tiara jadi tak bisa tanpa Erik, tidur pun tak lagi menyenyakkan seperti biasanya.


"A.., aku..., aku" ucap Tiara terbata.


Erik gemas dengannya, ia mulai menoel noel pinggang Tiara. "Kamu rindu denganku kan?" tanyanya menggoda.


Erik pun mengejarnya, alhasil malam itu mereka berdua berlarian karena Tiara tak tahan dengan gelitikan dan godaan dari Erik. Sedang pria itu tak menyerah sampai Tiara mengatakan yang sebenarnya.


"Dapat!" seru Erik memeluk Tiara dari belakang. Wanita itu tak bisa lagi berontak karena lelah berlari.


"Benar kamu tidak merindukanku?" tanya lagi Erik. Tiara menggelengkan kepalanya. "Tak apa biarkanlah, cukup aku yang merindukanmu saja" tambahnya mengecup puncak kepala Tiara.


Erik mengeratkan pelukannya, memeluk dari belakang begini ia merasa seperti memeluk boneka beruang yang mungil menggemaskan. Dengan cepat Erik menggendong Tiara ala bridal style yang membuat wanita itu terkejut, memukul dadanya main main.


Erik merebahkan Tiara keatas kasur lalu menyelimutinya. "Sekarang tidurlah kamu pasti lelah, untuk besok tak usah bekerja aku akan menghubungi kantormu" ucap pria itu sambil membelai kepala Tiara. Wanita itu sendiri pun langsung memejamkan mata karena memang ia sangat lelah.


Melihat Tiara yang amat penurut sekali hari ini membuat Erik tak tahan jika tak memberi kecupan dikening wanita itu.


Cup.


Sadar jika Tiara sudah tertidur, Erik segera beranjak. Mengambil ponselnya lalu berjalan kearah balkon kamarnya.


Erik mendial nomer seseorang. "Hapus rekaman cctv digedung xxx, dan cari dimana Rimba Andreas juga managernya, begitu dapat informasi segera hubungi aku!".


Erik mencengkram kuat ponselnya sambil memandang lurus kedepan. "Tak akan kulepaskan kalian karena sudah berani menyentuh wanitaku!!".


*****


Gema dari suara sepatu seseorang menyeruak dilorong berwarna putih itu. Langkah tegasnya menandakan jika dia adalah seorang pria bertubuh tegap juga tinggi. Tiba disebuah kamar bertuliskan VIP 1,


"Dia disini?" tanyanya dingin. Satu orang pria kekar yang berdiri didepan pintu itupun mengangguk. "Lakukan tugasmu". pria yang menjawab tadi langsung berdiri ditengah tengah pintu setelah Tuannya masuk kedalam kamar tersebut.


Pria berstelan serba hitam seperti malaikat pencabut nyawa itu menatap pasien yang tengah terbaring lemah diranjangnya. Terlilit perban di kedua tangannya dan beberapa lebam diwajahnya.


Pria itu tersenyum miring, ia menarik kursi kedepan ranjang pasien. Duduk bersidekap dada disana memperhatikan pasien yang tak kunjung membuka matanya.


Bruak!.


Pria itu menendang ranjang hingga pasien itu terkejut dan bangun. "Akhirnya" ucap pria itu.


Pasien pria yang terjaga dari tidurnya itu terkejut melihat ada orang berpakaian serba hitam duduk didepannya. "Si..., siapa kau?" tanyanya panik.


Baru berurusan dengan wanita iblis saja sudah membuatnya trauma dan sekarang harus melihat manusia bersetelan malaikat pencabut nyawa. Oh Tuhan terlalu besar kah dosanya selama ini, pake nanya lagi. Dialah Rimba Andreas.


"Lucifer" jawab pria bersetelan hitam itu dingin.


Lantas saja jawaban itu membuat Rimba panas dingin, tubuhnya gemetar ketakutan. "Ma..., mau apa kau disini?".


Lucifer tersenyum smirk. "Bukannya sudah jelas untuk mengantarmu keneraka".


Mata Rimba terbelalak. "Sebenarnya siapa kau, punya masalah apa aku denganmu hah!".


Lucifer itu pun bangkit dari posisi nyamannya berjalan kearah Rimba yang juga bangkit dari tidurnya. Dengan gerakan cepat Lucifer mencekik leher Rimba hingga pria itu terpojok ke kepala ranjangnya.


"Argh, argh, le.., lepas" pinta Rimba tercekat mencoba melepaskan tangan Lucifer tapi tak bisa.


"Ini adalah balasan karena kau sudah berani mengganggu wanitaku" ucap Lucifer alias Erik itu tajam dengan mata yang merah menyalang. Giginya terdengar gemeretak sangking kuatnya ia menahan rasa ingin menghabisi bajingan itu.


Cekikan dileher Rimba semakin kuat dirasanya, urat urat didahinya sampai menonjol merasakan sakitnya. Ia mencoba memukul mukul tangan Erik agar pria itu melepaskannya, tapi malah semakin dan semakin kuat sampai ia mulai kehabisan napas.


Erik tersenyum iblis, ia melepaskan cekikannya. "Hahhhhh, hahhhhhh" Rimba rakus menghirup oksigen ketika Erik melepaskannya.


Ketika ia membuka mulut Erik dengan sengaja memasukkan sebutir obat kedalamnya, karena terkejut ia pun langsung menelannya. "Apa yang kau....".


Erik berdiri santai memasukkan tangannya kesaku celana. "Caraku menghabisimu, reaksinya tak terlalu menyakitkan, tapi setelah meminum itu kau akan merasa sakit dibagian dada, kesulitan bernapas perlahan mati rasa dan dalam dua jam kemudian kau akan tiada".


Rimba terbelalak ia ingin memuntahkan obat itu tapi terlambat sudah.


"Sebenarnya aku ingin segera melenyapkanmu tapi jika tak melihatmu menderita sebelum lanjut keneraka aku kurang puas" ucap Erik sambil tertawa geli seakan ucapannya itu candaan.


Ia menepuk pundak Rimba. "Tapi jika dokter datang dan berhasil menyelamatkanmu aku akan datang lagi menjemputmu jadi cepat atau lambat kau tetap akan menginjakkan kaki dineraka".


"Kalau begitu aku pergi dulu, nantikan ajalmu" ucap Erik santai kemudian pergi meninggalkan Rimba yang berteriak seperti pasien rumah sakit jiwa.