
_Perasaan tidak mampu menghentikan diri ini, aku harus menyebutnya apa?. Aku tidak tahu jawabannya. Jadi satu satunya hal yang bisa kulakukan hanyalah menyebutnya dengan 'KAMU'_.
\*MYUL MANG💞TAK DONG KYUNG\*
*
*
*
Aril, Joker dan Ridan sudah duduk dua jam dalam ruangan VIP tempat Erik dirawat. Hampir dua jam lebih yang lalu operasi Erik selesai dengan hasil memuaskan, semua yang ditakutkan setiap orang tak jadi kenyataan. Dan sekarang pria itu dipindahkan keruang rawat untuk fase penyembuhannya.
Hanya mereka bertiga yang menunggui Erik karena Sisil sudah diantar pulang kerumah oleh Ridan setelah ia berpesan jangan dulu memberitahu orang tuanya jika sang kakak dirawat. Dengan terpaksa Sisil pun mengiyakan mengingat hubungan sang kakak dengan orang tuanya tak terlalu baik juga.
Sedangkan Mala dan Aditya masih menunggui Tiara yang diberi obat bius agar bisa beristirahat karena terus saja ingin melihat Erik padahal kondisinya juga kurang baik.
Ridan dan Joker yang sibuk dengan ponsel dan laptop mereka mendongak saat mendengar geraman. Keduanya langsung melihat kearah Erik mereka pikir pria itu sudah sadar tapi ternyata Aril yang tertidur tak jauh dari mereka. Langsung saja Joker menendang tulang kering sahabatnya itu, bisa bisanya disaat seperti ini dia tertidur. Kesal Joker.
"Sssshhhh ******, siapa yang nendang kaki gue?!!" tanya Aril terbangun kesal.
"Setan!!, bisa bisanya lo molor saat begini" kesal Joker.
Aril menguap. "Ngantuk banget gue berapa hari ini susah tidur" jawabnya.
"Terus, dirumah sakit begini lo malah pules tidur" sambar Ridan. Aril mengangguk tapi dahinya mengernyit.
"Ckckck, bagus lo tidur diruang mayat sana biar nggak bangun bangun lo sangking pulesnya" ledek Joker yang mendapat lemparan bantal dari Aril.
"Tiga hari lagi gue ijab kabul kampret!!!".
Joker ingin membalasnya tapi sebuah info dilaptopnya membuatnya fokus pada benda itu lebih dulu. "Berengsek!!!" umpatnya kesal membuat Ridan dan Aril terkejut.
"Kenapa?" tanya Ridan datar. Wajah ketiganya berubah serius.
"Gue bener kebakaran itu disengaja" geram Joker melihat rekaman cctv didekat tempat kejadian. Ridan dan Aril pun duduk mendekat pada Joker melihat kenyataan dibalik kebakaran itu.
"Siapa pria itu?" tanya Ridan heran saat melihat rekaman itu.
Dalam rekaman terlihat seorang pria bersetelan hitam dan topeng hitam membawa satu jirigen besar ditangannya masuk kedalam gudang. Selang beberapa menit kemudian Tiara masuk, tak lama pria itu keluar dan menutup pintu gudang menyangganya dengan kayu panjang agar terkunci dari luar. Kemudian pria itu pergi setelah menekan sebuah alat kontrol kecil dan tak lama asap mulai terlihat.
"Dia sengaja ingin membakar Tiara?!" ucap Aril mulai mengerti.
"Sial, berani sekali mereka main main dengan sahabat sahabat gue, cari mati rupanya" geram Joker.
"Secepatnya kita harus menemukan pria ini!" ucap Ridan ikut emosi
"Setelah ketemu kita bakar dia hidup hidup" tambah Aril mengepalkan tangannya.
Sorot mata tajam, seringai iblis dan wajah penuh emosi terhias jelas pada ketiganya saat ini. Sudah seperti ingin memakan orang hidup hidup saja. Bahkan jika ada yang berani menyenggol mereka sedikit saja akan mendapat bagiannya.
*****
Tiara perlahan membuka mata mengembalikan semua nyawanya yang berpencar sesaat. Setelah benar benar sadar ia mengingat sesuatu, ia melirik ke jam dinding yang menunjukkan pukul enam pagi.
Wanita itu langsung bangkit dan melepas jarum infus yang masih melekat dipunggung tangan kanannya. Tiara turun dari ranjang dan berlari keluar kamarnya meninggalkan Aditya dan Mala yang masih terlelap disofa.
Tiara berlarian di koridor rumah sakit berniat ke ruang operasi tempat semalam Erik ditangani. Tapi sesampainya disana ruangan itu kosong, ia lantas berlari keresepsionis. Lantas menanyakan dimana kamar pria itu dirawat.
Setelah diberitahukan Tiara bergegas menuju kamar yang dimaksud. Berbeda hampir tiga lorong dengan ruangannya ternyata tapi masih dilantai yang sama.
Begitu dapat kamarnya tanpa mengetuk atau melihat dulu Tiara langsung memasuki ruangan itu. Dilihatnya Ridan, Joker dan Aril tertunduk lesu disamping ranjang Erik.
Melihat ekpresi ketiganya langkah Tiara mendekat jadi melambat bahkan hampir limbung. Terlebih lagi dilihatnya orang yang berbaring diatas ranjang sudah tertutupi selimut sampai kekepala.
Tiara kelihatan amat syok sekali, ia tertawa kecil tapi matanya sudah berkaca penuh. "Nggak ini nggak mungkin" gumamnya.
Berjalan terus mendekati ranjang Erik, Aril berdiri membawa wanita itu untuk semakin dekat. "Sabarlah Ra" ucap pria itu gemetar. Tiara melirik Aril tak terbaca lalu menatap tubuh berbalut selimut didepannya.
Tiara meremas selimut Erik. "Apa maksud ucapan Aril tadi, kamu kenapa kamu nggak papa kan Rik, kamu baik baik aja kan?" ucapnya menahan tangis.
Aril, Joker dan Ridan yang melihat Tiara sepertinya akan meledakkan tangis mulai menyingkir walau tak jauh.
Tiara tiba tiba memukul mukul dada Erik. "Hey pria gila bangun jangan coba membohongiku, kamu tak ingat janjimu mau membuatku mengingat semuanya, menghapus semua kesedihanku dan terus bersamaku hah!!" bentaknya.
"Kau bahagia meninggalkanku sendiri seperti orang bodoh begini hah!!!, Kalau tau akan seperti ini harusnya kau tak usah muncul, tak usah mendatangiku, dan tak usah menyelamatku, dasar bodoh!!!!". Masih dengan memukuli dada Erik walau ritmenya memelan.
"Hiks, hiks, kenapa kau bodoh sekali, bodoh" isak Tiara akhirnya tak tertahankan. Tubuhnya lemas dan terduduk dikursi tempat Aril duduk tadi.
"Aku belum sempat mengatakan apapun padamu, kau belum mendengar jawabanku kenapa kau sudah pergi hah, berani sekali kau!!!" bentaknya.
Jika ada orang lain yang melihatnya mungkin mereka mengira Tiara sukses gila. Lihat saja wanita itu sebentar marah, sebentar menangis dan sebentar menyesal.
"Cepat bangun kalau kau ingin mendengar jawabanku, bangunlah Rik" ucap Tiara mengguncang tubuh Erik.
"Kubilang bangun kau tak dengar, bangun!!!!!!" tambahnya.
Setelah itu Tiara menangis histeris didepan tubuh Erik, perasaan menyesal terpancar jelas dari nada tangisnya juga tatatapannya pada Erik. Wanita itu menyalahkan dirinya dalam hati karena dia Erik pergi, semua karenanya.
Tiara tertunduk menangis disisi ranjang Erik. Meratapi kepergian sang pemilik hati dan mengutuk dirinya sendiri sebagai alasan pria itu pergi.
"Hiks, hiks, hiks, Erik" isaknya.
"Memangnya apa jawabanmu?".
"Aku mau jadi istrimu, aku mau hidup bersamamu, aku......" Tiara terdiam reflek mendongak.
Didepannya mata Erik terbuka dan tersenyum jahil kepadanya. "Ka..., Kamu".
"Lanjutkan kalimatmu" ucap Erik dengan senyum tampannya.
Dan otak cerdas Tiara pun bekerja sekarang, ia sadar Erik dan teman temannya telah mempermainkannya. Ia menatap Erik tajam. "Kamu jahat!!!" gertaknya.
Erik pun langsung terduduk saat Tiara menggertak dibarengi kristal bening yang deras mengalir. Pria itu menarik Tiara kedalam pelukannya membelai rambut panjang itu sayang.
"Maaf, maafkan aku".
"Kamu jahat, aku khawatir sekali denganmu, aku kira kamu pergi meninggalkanku" isak Tiara.
"Tidak aku takkan mengingkari janjiku, sekarang tenanglah hmmmm, cup cup cup" ucap Erik menenangkan.
Melihat dua insan di mabuk cinta itu reflek membuat Ridan dan Aril sama sama berkata. "Aku merindukan wanitaku".
Joker melirik jengkel. "Lah gimana gue, siapa yang bisa gue rinduin coba" protesnya.
"Kanya tobat jangan gonta ganti teman ranjang mulu, kena penyakit tau rasa lo" ledek Ridan.
"Malu sama umur, udah tua cepat cari pendamping takutnya lo mati nggak ada yang ngelayatin kan kasian" tambah Aril.
"Ya lo pada lah" bela Joker.
"Idih ogah" jawab Ridan dan Aril berbarengan membuat Joker kesal setengah mati.
Tapi dalam hati ia mengingat seseorang, seseorang yang selama ini terus berkeliling dipikirannya. Seseorang yang tak pernah diharapkannya sebelumnya. "Apakah sudah waktunya aku serius".
Tiara kini duduk bersidekap dada dengan tatapan tajamnya menuju pada empat pria didepannya. "Ide siapa?" tanya wanita itu dingin.
Dia masih tak terima dipermainkan seperti tadi sampai membuat image keras, dingin dan datarnya hancur berkeping keping. Dan dilihat ketiga pria menyebalkan itu, menjengkelkan sekali.
Ridan, Joker, Aril dan Erik yang masih berbaring saling pandang. "Keadaan?" jawab Joker pelan.
Pada kenyataannya memang keadaan lah yang membuat ide itu bekerja. Saat Ridan yang tak sengaja dari kantin melihat Tiara yang panik mencari ruangan Erik, saat ia masuk keruangan Erik dia memberitahukannya pada ketiga sahabatnya. Jadilah ide itu tercetus karena Tiara yang memang sudah dekat, reflek Joker menutup seluruh tubuh Erik dengan selimut.
Oh, ayolah ini bukan waktunya untuk bermain.
Tiara menaikkan sebelah alisnya, melirik kearah Erik. Pria itu langsung melambaikan kedua tangannya, "A..., Aku ikutin alur aja kok bener sumpah" ucapnya.
Tiara mendesah pasrah, tapi kembali memicing pada keempatnya. "Kali ini aku maafkan dan ini yang terakhir, kalau terulang lagi benar benar akan kubuat jantung kalian berhenti berdetak" ancamnya. Ketiga pria itupun mengangguk cepat bersamaan sedangkan Erik terkikik geli.
Semua orang teralihkan saat pintu ruangan Erik terbuka dengan keras, sosok Mala muncul dibaliknya bersama Aditya. Wanita itu langsung saja menuju Tiara dan menjewer telinganya hingga Tiara meringis kesakitan.
"Kau memang pandai membuat orang khawatir ya, siapa yang ijinkan kamu pergi dan membuka jarum infusmu sendiri hah!!!" omel Mala.