Forget You, Remember Love

Forget You, Remember Love
Ep.64



_Kenyataan ini terlalu pahit untuk aku terima, tapi kepahitan itu membuatku sadar bahwa dengan meninggalkanmu adalah jalan terbaik untuk kita berdua. Kau bisa bahagia dan aku bisa menanggung semua dosa_.


*


*


*


Tiara langsung memeluk erat sang Mama saat wanita paruh baya yang masih nampak cantik walau sedikit pucat itu sadar dari biusnya pagi ini. Setelah semalam Tiara tetap terjaga bersama Erik juga sang Papa yang sudah mau bercerita perkembangan penyakit Mamanya, sudah stadium tiga dan semakin parah saja. Belum ada pendonor yang pas untuknya, kemoterapi pun tak menunjukkan banyak peningkatan, hanya membuat rambutnya semakin menipis.


"Mama, hiks..." Tiara terisak dipelukan sang Mama yang selalu tersenyum dan menganggapnya putri kecil yang tak pernah sekalipun dewasa. Setidaknya seperti itulah putri satu satunya itu dihatinya.


"Jangan menangis Nak, Mama baik baik saja" ucap Nurmi.


Tiara melepas pelukan menatap Mamanya kesal. "Baik baik aja gimana!!" bentaknya.


"Mama kenapa sih nggak pernah bilang sama aku kalau mama sudah separah ini, kenapa Mama selalu kelihatan sehat sehat aja didepanku padahal Mama menahan rasa sakit?!" Omel Tiara.


Sebenarnya dia juga merasa amat bersalah sebagai anak kenapa dia tak bersifat keras untuk meminta penjelasan tentang penyakit Mama nya dulu. Kenapa dia harus pasrah saja saat Mama dan Papanya menyembunyikan itu semua.


Nurmi tersenyum ia menyentuh pipi sang putri mengusapnya jejak air mata yang ada disana dengan ibu jari. "Karena ini Mama tak ingin memberitahumu, Mama nggak mau ngeliat kamu menangis, Mama nggak mau melihat kamu sedih, Mama mau kamu selalu bahagia".


Tiara berdecak. "Terus dengan begini apa Mama pikir aku bahagia?!!" sentaknya.


Erik nyaris berdiri dari duduknya ingin menegur Tiara yang menurutnya kurang sopan dengan Mamanya. Tapi Hendri sigap menahan, ia menggelengkan kepala. Erik pun duduk kembali di kursinya.


"Maafkan Mama yang egois, maaf karena sudah menyakitimu tapi saat Mama tahu kondisi Mama, itu adalah jalan terbaik yang bisa Mama lakukan" terang Nurmi.


Tiara kesal ia membuang wajahnya tak ingin mendengar penjelasan, baginya keputusan sang Mama membuatnya tersakiti.


"Mama sudah pernah kehilanganmu dua kali Ra, dan saat kamu mulai mencoba untuk bangkit Mama nggak mau menambah bebanmu lagi. Mama ingin kamu terus bahagia jangan ada kesedihan lagi".


Tiara terdiam pelan pelan menatap wajah pucat sang Mama. "Tapi kebahagian Tiara adalah bisa berada disamping Mama dalam keadaan apapun, aku nggak bisa kalau nggak ada Mama, Mama adalah salah satu orang yang selalu menyemangatiku untuk bangun dikala aku jatuh, Mama segalanya buatku"


Air mata Tiara kembali jatuh dengan derasnya. "Tiara mau Mama sehat, Tiara nggak mau ditinggalin Mama, Tiara sayang Mama" isak Tiara kembali memeluk sang Mama yang ikut menangis dibuatnya.


*****


"Aaaaaa, sekali lagi Ma ini yang terakhir" bujuk Tiara sudah ingin menyuapkan sesendok bubur pada sang Mama.


"Tapi Mama sudah kenyang, Ra".


Tiara melemaskan tubuhnya lalu memicing menatap Mamanya. Alhasil dengan sedikit terpaksa Nurmi menerima suapan terakhir bubur itu dari tangan putri kecilnya.


"Kalian pulang saja dulu, sejak tadi malam kalian belum ada istirahatkan" ucap Nurmi bicara pada Tiara dan Erik.


Setelah adegan haru antara ibu dan anak yang hanya sekali setahun bertemu itu, Nurmi langsung mengobrol dengan Erik. Sama seperti saat Erik bertemu Hendri, mereka mengobrol hal yang sama.


"Nggak papa Tiara mau disini aja jagain Mama" tolak Tiara.


"Tapi Erik pasti capek kan, apalagi perjalanan jauh semalam, udah kalian pulang aja".


"Iya, kalian pulang aja Papa ada disini kok jagain Mama" Hendri ikut membujuk.


Tiara dan Erik saling pandang sesaat. "Yaudah deh kalau gitu Tiara pulang dulu, kalau ada apa apa cepet telpon Tiara yah".


*****


Erik mengedar pandang melihat rumah bercat tembok biru langit didepannya, nampak asri dan nyaman untuk ditinggali. Tak terlalu besar seperti rumah Tiara saat SMA dikota tapi cukup untuk dihuni kedua orang tuanya. Malahan rumah ini rumah yang cukup bagus setelah mereka melewati beberapa rumah warga yang berbahan kayu.


"Ayo masuk".


Erik mengikuti Tiara yang masuk kedalam rumah setelah membuka pintu, wanita itu langsung menuju kamarnya. Kamar yang dulu hanya beberapa bulan ditempatinya karena ditinggal bekerja.


Tak lama didalam kamarnya Tiara keluar dan masuk kekamar orang tuanya yang hanya bersebelahan saja. Beberapa menit dia keluar lagi membawa satu stel pakaian juga handuk ditangannya.


Erik yang tengah duduk disofa mendongak saat Tiara mengulurkan apa yang dia bawa didepannya. "Bersih bersih dulu, ganti baju pake ini aja mungkin cocok untukmu, ini punya Papaku" ucapnya.


Erik menerima celana bahan dan kemeja itu. "Kau dulu atau aku dulu?" tanya Tiara yang kembali membuat Erik mendongak sambil mengernyit.


"Apanya?".


Tiara melengos. "Mandi, disini kamar mandi cuman satu" terangnya.


Erik mengangguk anggukkan kepalanya dengan mulut membentuk huruf O, lalu menatap Tiara dengan jahil. "Kalau sama sama aja gimana?" tanyanya sembari menaik turunkan alisnya.


"Ckck, mati aja sana, dasar mesum!!!" sentaknya berbalik memutuskan dia lah yang bersih bersih lebih dulu. Meninggalkan Erik yang tertawa geli.


Erik pun berjalan menuju dapur mencari apa ada yang bisa dimakan, walau merasa dia tak sopan tapi untuk kebutuhan perut dan ia mengenal tuan rumah jadi berani sedikit nggak papa lah ya.


Tapi sudah membuka lemari dapur dan lemari pendingin, Erik tak mendapatkan apa yang dicarinya. Sepertinya orang tua Tiara belum sempat membeli bahan makanan.


Karena tak ada yang bisa dimasak, Erik pun memilih pergi keluar.


Beberapa menit kemudian Tiara yang sudah segar setelah membersihkan diri keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap. Ia mengernyit saat mencari Erik yang tak ada dimanapun di dalam rumah, pakaian yang diberinya tadi pun masih ada di atas meja.


"Kemana dia?" gumam Tiara.


"Kamu dari mana?" tanya Tiara saat akan keluar rumah mendapati Erik berjalan kearahnya dengan bungkusan ditangan.


Erik mengangkat bungkusan ditangannya. "Cari makan."


Tiara mengambil dua piring dan alat makan yang diperlukan, lalu duduk berdampingan dengan Erik dimeja makan. Karena Hendri memang mengatur kursinya bersampingan, dan kebetulan kursinya juga hanya ada dua.


"Apa yang kamu beli?" Tiara sempat sempatnya bertanya.


Erik tak menjawab hanya mengeluarkan nasi bungkus yang dibelinya dari kresek. Meletakkannya keatas piring mereka masing masing, kemudian membukanya.


Tiara menatap makanan itu, lalu melirik Erik sesaat. "Ku kira kamu nggak bisa makan makanan beginian?" ucapnya.


"Maksudmu makanan beginian?" Erik balik bertanya menaikkan sebelah alisnya.


"Ku kira kamu cuman bisa makan spagetti, pizza atau makanan western lainnya" terang Tiara.


Erik tertawa. "Mentang mentang aku dari luar negri selera makanku harus begitu yah, padahal sih ini tuh makanan favoritku, yang kamu sebutin tadi malah aku eneg makannya".


Tiara tercengang menatap sebungkus nasi berlauk paha ayam goreng juga orek tempe dan sayur lainnya didepannya. "Nasi uduk, makanan favoritmu?" tanyanya tak percaya.


Erik yang sudah melahap satu suapan besar menganggukkan kepala. "Iya".


Tiara mendesah tak percaya. "Dasar bule aneh" gumamnya.


Erik melirik Tiara yang tak sama sekali menyentuh makanannya dia hanya menatap makanan itu diam. Dia pun langsung mengambil sendok dan garpu Tiara, mencuil sedikit daging paha ayam itu lalu menyendok nasi juga orek tempe lalu menaruh potongan ayam diatasnya.


"Aaaaa" ucapnya membuat Tiara hanya menatapnya.


"Aaaaaa" ucapnya lagi menganga. Tiara akhirnya membuka mulutnya menerima suapan dari Erik.


"Pinter" ucap pria itu tersenyum, membelai kepala Tiara.


Wajah Tiara berbinar jadinya bukan karena belaian kekasihnya tapi karena rasa dari makanan yang disuapkan pria itu. Enak, entah karena rasanya memang seenak inikah atau karena yang menyuapi seorang pria setampan Erik. Mengingat Tiara memang belum pernah sama sekali memakan makanan seperti ini membuatnya bingung sendiri.


"Enak?" tanya Erik.


Tiara menganggukan kepala dengan polosnya lalu melahap satu suapan tadi saat ia rasa dimulutnya makanan itu hampir habis. "Aku baru kali ini makan nasi uduk, sebelumnya cuman pernah liat aja belum pernah makannya, ternyata memang enak ya pantes banyak yang suka".


Erik tertawa pelan tapi kemudian terdiam, ada yang terlupakan menurutnya. "Bukannya kamu pernah beliin aku makanan ini waktu kita syuting dulu?".


Tiara terdiam mengingat apa yang diucapkan Erik. "Itu aku nyuruh orang beli, aku juga nggak tau isinya apa, abis dibeliin langsung kukasih kamu aja" jawab Tiara sekenanya karena memang sesuai kenyataannya.


Erik mendesah tak percaya karena sempat berpikir saat itu Tiara mengingatnya, ternyata Tiara memanglah seorang Tiara. Tak berubah cueknya meski amnesia yang diinginkannya sendiri.


"Dasar!!". Erik mencubit hidung Tiara gemas sedang korban pencubitan hanya meliriknya tajam sesaat lalu kembali fokus pada makanan didepannya.


Namun saat rasa lezat dari makanan itu mendominasi lidahnya membuat satu momen bayangan terlintas dipikirannya.


Makanan yang sama, orang yang sama, cara yang sama, hanya waktu dan sepertinya pakaian yang berbeda. Seragam?, Kenangan aneh itu lagi pikir Tiara.


#####



ERIK WIJAYA ALIAS WAREN ROYSE



TIARA PUTRI HENDRIWAN



ADITYA PRAKASA