
_Terkadang dunia ini tak adil. Aku yang dibuat jatuh hati, orang lain yang memiliki_
*
*
*
Erik, Ridan dan Joker yang tengah berkumpul diruang VIP klub pria bernama asli Joko itu terkejut saat Aril membuka pintu dengan keras. Membanting lebih tepatnya.
"Ni anak baru datang udah ngegas" ucap Ridan.
"Biasalah" tambah Joker.
Aril tak menghiraukan ucapan kedua temannya itu dia memilih membanting tubuh tepat disamping Erik duduk. Pria yang tengah kecewa itu menyandarkan tubuhnya kesandaran sofa.
"Kenapa ada masalah sama Mala?". Adalah Erik satu satunya orang yang mengerti sikap sahabatnya itu.
Aril kembali duduk tegak, mengambil segelas vodka dimeja lalu menenggaknya sekali tegukan. "Capek gue" jawab Aril yang membuat ketiga temannya seketika menoleh dengan wajah serius.
"Weh kemajuan nih". Joker sudah berpikir jelek saja.
"Capek apa dulu?" tanya Ridan tak ingin salah paham. Karena senakal nakalnya Aril dia takkan mau merenggut kesucian sang kekasih sebelum waktunya.
"Mala nunda pernikahan kita lagi" jawab Aril lemah.
"Lagi?" beo Ridan perhatian, Joker menautkan alisnya. "Apa lagi kali ini?".
"Dia nerima kontrak kerja selama dua tahun, dan selama kontrak dia nggak boleh nikah".
"Terus lo nerima aja gituh?" tanya Joker tak habis pikir. Mengetahui jalan cerita cinta sang sahabat terkadang membuatnya ikut perihatin juga. Bukan apa tunangan sudah lama, umur semakin tua, siperkutut yang dibawah pun sudah lelah menunggu betinanya.
Aril mendesah pasrah. "Maunya gue marah tapi gue sayang, ngeliat air matanya jatuh itu gue nggak tega, dan kontrak itu memang udah dia tunggu tunggu selama ini".
"Lo laki Ril, tegas dikit dong, kalian tuh udah lama banget masa mau gini gini aja" jengkel Joker.
"Terus batal dong semua yang udah lo siapin" tambah Ridan.
"Apalagi". Joker yang menjawab.
Aril menoleh pada Erik yang menepuk pundaknya pelan. "Kalau memang sudah yakin lanjutin aja rencanamu, kalau dia benar cinta dia pasti berani ngorbanin karir demi menjadi pasangan hidupmu, lo laki awal cerita ada di elo dan akhirnya biar Mala yang memutuskan. Diterima apa nggak nya lo harus terima, kalau jodoh nggak bakal kemana kok". ucap pria yang sedari tadi diam menyimak itu.
"Dih si onta, nasehatin orang aja pinter, cerita cinta sendiri masih ngambang" sindir Joker.
Erik mendengus. "Kalau gua mah udah pasti, tinggal mau dipoles dikit aja biar sempurna".
"Lo kira motor!" seru ketiga sahabatnya, Erik cuek saja.
*****
Inilah yang Tiara tak suka jika sehari saja harus libur kerja, bahkan untuk sakit sekalipun. Ia selalu menjaga kondisi tubuhnya agar tetap sehat karena jika sudah lama tak bekerja seperti ini, bukannya enak malah tambah capek waktu masuk kerja lagi.
Setumpuk pekerjaan sudah menanti Tiara yang baru mendekat kemeja kerjanya. Melihatnya saja Tiara sudah merasakan sakit dipundak, pinggang dan juga mata. "Bakalan lembur lagi" pikirnya sambil mengurut pangkal hidungnya.
"Eh, Mba udah masuk kerja?". Dion salah satu rekan yang baru keluar dari pantri sambil membawa segelas kopi ditangan menyapa Tiara.
"Mba Tiara udah masuk, wah senengnya, aku udah kangen banget". Ayu menghambur memeluk Tiara.
"Iya, males dirumah juga nggak ngapa ngapain, bang Gilang nggak mau ngirim email kerjaan soalnya" jawab Tiara.
Percakapan antar rekan kerja pun berlanjut setelahnya, hingga Gilang datang dan meminta maaf pada Tiara. Karena tak sekalipun menjenguk anak didiknya itu, kerjaannya jadi menumpuk jika Tiara tak ada.
Tiara mendongak melihat siapa yang menaruh sebotol jus dimejanya. Ia mengernyit, "Kamu ngapain disini?".
"Kerja" jawab Erik sekenanya bersandar disamping meja Tiara sambil bersidekap dada.
Tiara mendengus. "Ini kantor bukan panggung, balik sana".
"Nggak bisa dong".
"Kenapa?".
"Kemarin kan hari terakhir syuting acaramu itu, sekarang aku mau lihat hasil editing nya sesuai nggak sama ekspetasiku, siapa tau aja aku keliatan jelek dikamera" jawab Erik panjang lebar.
"Kamu ngatain aku jelek?" tanya Erik.
"Kau tidak tuli kan" balas Tiara. Erik memutar bola mata, dengan cepat memajukan wajah tepat dihadapan Tiara hanya berjarak sejengkal saja mungkin.
Dan untung saja ini jam makan siang, tak ada orang didalam ruangan tim produksi. Kalau tidak gosip semakin tak terkendali.
Tiara terpaku saat wajah mereka terasa sangat dekat bahkan hembusan nafas Erik terasa diwajahnya. Tiara mengerjap beberapa kali karena terpesona dengan pahatan rahang tegas itu, apalagi matanya yang mengerjap pelan. Manik abu gelapnya membuat Tiara tenggelam.
"Coba katakan sekali lagi kalau aku ini jelek".
Tiara berdehem. "Kau Waren Royse alias Erik, kamu itu jelek sangat jelek" ucapnya tegas.
Cup.
Tiara membelalakkan mata saat dengan cepat Erik mengecup bibirnya, walau hanya sekilas tapi berbekas.
"Kau benar benar mau mati hah!!!!" bentak Tiara mengeluarkan pisau lipat andalannya dari saku celana dan langsung mengacungkannya kewajah Erik yang malah terkikik.
"Kalau matinya ditanganmu aku rela".
Karena kesal dan amarahnya memuncak Tiara tanpa sadar mengayunkan tangannya ingin menusuk dada Erik. Tapi benar seperti ucapannya Erik tak bergerak menghindar bahkan memejamkan mata takut pun tidak.
Tinggal satu senti lagi pisau tajam Tiara tepat menusuk dada Erik, tapi Tiara berhenti. Ia menatap iris abu gelap itu. "Kau kenapa tak menghindar?" tanya Tiara lemah.
Erik tersenyum, menggenggam tangan Tiara yang memegang pisau hingga benda itu terjatuh dari tangannya. "Aku sudah pernah dilukai pisaumu ini dan untuk merasakannya lagi aku tak keberatan, aku sudah bilang aku rela mati jika itu ditanganmu".
"Kau!!!". Tiara menggigit bibirnya, entah mengapa ekpresi dan perkataan Erik kali ini bisa menggoyahkan hati batunya. Matanya mulai berkaca. "Dasar gila" serunya beralih memukul mukul dada Erik sambil terisak.
Erik panik. "Tiara, kenapa kau menangis, apa aku terlalu kuat memegang tanganmu, maaf maafkan aku, apapun itu kesalahanku maafkan aku" ucapnya.
"A..., Aku nggak tau kenapa aku nangis, ha..., hatiku sakit aku nggak tau kenapa".
Mendengar perkataan Tiara, Erik sadar jauh dalam hati wanita mungil ini namanya masih terukir apik. Ia pun menarik tubuh Tiara yang terisak kedalam pelukannya, menepuk punggung wanita itu menenangkannya.
Dan sepasang mata yang melihat mereka sedari tadi terlihat amat cemburu namun ada sedikit kelegaan disana. Aditya sempat mengepalkan tangan saat Erik mendapatkan bibir Tiara, sekuat tenaga ia menahan kesal demi melihat tanggapan Tiara atas sikap pria itu. Berharap wanita itu marah dan mengadu padanya, tapi malah berada dalam pelukan Erik, Aditya sadar.
"Hatimu memang hanya untuknya". Aditya pun pergi meninggalkan keduanya dengan hati tak kalah sakit.
*****
Erik dan Tiara kini duduk saling berhadapan keduanya sama sama bersidekap dada, direstoran lantai pertama gedung ADC CORP keduanya saling melempar tatapan.
Karena seorang Erik memang sangat terkenal apalagi setelah konser mininya berjalan sukses dengan sebuah kejutan diakhirnya, tentu saja keduanya jadi perhatian publik saat ini.
Banyak orang yang berlalu lalang disekitar mereka berbisik sampai terkikik, tapi tak ada yang berani mengambil gambar keduanya atas larangan Roy. Yang selalu ada untuk Erik walau hanya dari kejauhan.
"Ckck dasar bego!!" Tiara tersenyum miring.
Erik mendesal kesal. "Apa maksudmu?" tanyanya tak terima.
Tiara menunjuk wajah Erik dan menatap pria didepannya tajam. "Bego, pengecut, tukang kabur".
Erik mengepalkan tangan. "Ya semua salahku, tapi itu karena keputusan Tiara sendiri aku bisa apa" belanya. "Kamu tau sendiri bagaimana kerasnya Tiara itu".
Ah, ternyata Erik kali ini bukan bicara dengan Tiara tapi Anita sisi lain dari sang wanita. Setelah adegan tangis menangis tadi, Erik terkejut saat dengan kasar Tiara mendorong tubuhnya lalu mengusap kasar bekas air mata diwajah manisnya.
"Tapi dia lemah terhadapmu, kau pasti tau kalau Tiara itu lebih kasar dariku tapi denganmu dia bisa jadi begitu rapuh sampai menangis seperti tadi, aku heran kenapa dia bisa sangat mencintaimu".
Erik terpana atas kalimat Anita. "Kau bilang Tiara mencintaiku, Keongku?".
Anita memutar bola matanya jengah. "Karena itu aku mengataimu, kau itu laki laki bukan sih".
"Kalau dia memang mencintaiku, kenapa dia melepaskanku dengan cara murahan begitu, banyak orang yang mengatakan hal sebenarnya padaku tapi aku kurang percaya, tapi jika kau sendiri yang mengatakannya aku tak habis pikir apa alasan Tiara saat itu".
"Ada dan sungguh berat, aku nggak bisa kasih tau, kau cari tau sendiri tapi kalau kenyataan sudah terbuka jangan sampai kau melukainya baik fisik ataupun mental, karena aku akan membunuhmu!!" ancam Anita yang membuat Erik mengernyit heran, kenapa dia harus begitu.
Erik ingin bertanya tapi Anita lebih dulu lenyap, Tiara memegang kepalanya dan tiba tiba pingsan seketika. Penasaran dihati Erik pun berganti panik.
"Cepat panggil ambulan!!!".