
_Rindu tidak muncul hanya karena jarak yang terpisah, tapi juga karena keinginan yang tidak terwujud_
*
*
*
"Ayolah Ra, disana membosankan aku juga sudah baikan, ini lihat" ucap Erik bergaya bak sedang senam dihadapan Tiara yang menyilangkan tangan didepan dadanya.
Mereka sekarang sudah berada di penthouse Erik dan itulah yang membuat Tiara kesal. Pria itu memaksa pulang padahal jadwalnya sudah ditentukan hanya tinggal menunggu sehari lagi saja. Tapi pria itu sepertinya tak punya sifat sabar lihat saja mereka sekarang ada dimana.
Tiara juga sudah menasehati bahkan memarahi tapi pria itu tetap pada pendiriannya. Sampai Tiara mendiamkannya seharian pun dia tetap pada kemauannya. Ia tak habis pikir apa yang dimakan pria itu sampai kepalanya sekeras batu.
Bukan apa, Tiara takut jika tiba tiba kepala Erik mendadak pusing karena pemeriksaan akhir belum dilakukan. Apakah dia tak ingat jika dia dioperasi dibagian kepala, bukan kaki atau tangan. Bagian tubuh itu bagian yang paling rawan bukan tapi Erik acuh seolah tak membuatnya takut sedikitpun.
Erik tersenyum mendekat dan menarik tangan Tiara untuk digenggamnya, mode membujuk diaktifkan. Pria itu menatap Tiara dengan puppy eyesnya. "Kau lihat kan aku sudah sehat, jangan marah lagi ya hem".
Tapi tak membuat seorang Tiara gentar. "Terserah!". ucapnya menghentak tangan Erik kemudian berbalik memilih melangkah menuju dapur.
Tiara terus berjalan diikuti Erik yang berjalan gontai dibelakangnya sambil terus memohon. Sudah seperti anak kecil yang minta dibelikan mainan dengan Mamanya saja.
Tiara memilih sibuk membuat makan malam, ia berniat memasak mie instan saja karena hanya itu satu satunya masakan yang ia bisa buat.
Sedang Erik masih setia dibelakangnya berkali kaki menghela napas panjang. Susah sekali membujuk wanita keras kepala ini, pikirnya.
Kalian sama saja tau!!!!!.
Tiara terus sibuk, mengambil panci mengisinya dengan air kemudian menaruhnya diatas kompor dan menyalakannya tanpa memperdulikan Erik yang masih merengek dibelakangnya. Tiba tiba, grep!!.
Tiara tertegun saat Erik melingkarkan tangan dipinggangnya, mengecup pundak kanannya. "Sayang, jangan marah lagi ya, aku janji bakal jaga kesehatan dan rajin kontrol" ucapnya manja menempelkan dagunya dipundak Tiara.
Posisi begini sedikit membuat punggung Erik terasa pegal, tapi dengan merengkuh tubuh Tiara dalam pelukannya sudah membuat rasa sakit itu tak terasa berganti rasa hangat yang ingin selalu dimilikinya.
Tiara menghela napas. "Lepas" ucapnya dingin agar terdengar seperti dia tak temakan bujuk godaan Erik. Padahal hatinya sudah berbunga bahkan jantungnya berdebar, mudahan Erik tak mendengar.
"Nggak!!" ucap Erik.
"Rik, lepas".
"Nggak mau!".
"Rik....."
"Nggak, nggak, nggak" tolak Erik manja sambil menghentakkan kedua kakinya bergantian.
Tiara mulai kesal melepas kasar pelukan Erik lalu berbalik menatap pria itu meninggalkan bungkusan bumbu mie yang belum selesai dibukanya. "Erik!!!!" bentaknya.
Tiara terdiam saat Erik berdiri tegap menatapnya dengan sorot tak terbaca, tak ada ekpresi diwajahnya untuk beberapa detik setelahnya, sampai.
Pria tinggi itu mengangkat kedua tangan menjewer kedua telinganya sendiri dengan wajah memelasnya. "Maaf" ucapnya melipat bibir bawahnya.
Dia yang seperti ini terlihat seperti anak kecil bertubuh besar dibandingkan seorang pria yang nyatanya adalah idola hampir semua wanita. Iya, hampir karena Tiara salah satu wanita yang sama sekali tak mengidolakannya.
Tiara akhirnya tak tahan, ia terkikik geli melihat kelakuan sang kekasih. Erik bersorak dalam hatinya, pria itu tersenyum melihat Tiara sudah tertawa tak ada lagi ekspresi marah dan dingin diwajahnya.
Erik menarik tubuh Tiara mengunci wanita itu dipinggangnya. "Kau memaafkanku?".
Awalnya Tiara memicing pada Erik tapi tak lama menghela napas panjangnya. "Tapi ingat kalau ada rasa sakit sedikit saja cepat beritahu aku dan jangan melewatkan jadwal kontrolmu mengerti!".
Erik tersenyum menganggukkan kepala. "Siap" ucapnya yakin.
Keduanya pun tertawa menikmati kebersamaan mereka sebagai pasangan kekasih setelah menunggu sekian lamanya. Menikmati malam ini dengan memakan mie instan buatan Tiara.
*****
Sisil duduk menyilangkan kaki diatas ranjangnya, tangannya membuka satu albhum foto bersampul putih gading itu. Bibirnya tersenyum melihat beberapa foto keluarga mereka dari waktu kewaktu walau hanya sedikit kebersamaannya. Karena nyatanya sebuah foto keluarga lengkap hanya ada satu disana. Sedang sisanya hanya foto diedit atau foto masing masing mereka.
Tiba disalah satu foto lawas, memperlihatkan seorang gadis manis berambut panjang tengah bermain dipadang bunga matahari. Dari mata yang berbinar dan senyumnya yang merekah menandakan ia amat bahagia berada disana.
Melihat foto itu seketika membuat Sisil mengingat kenangan lama sampai tak sadar meneteskan air mata. Tapi tiba tiba tangan Sisil terkepal raut wajahnya berubah penuh dendam.
Tok, tok, tok.
Ia turun dari ranjang menuju pintu kamar yang ia kunci lalu membukanya. "Kenapa, Ma?" tanyanya saat mengetahui sang Mama lah yang mengetuk pintu kamarnya.
"Sil, besok bisa kamu panggil kakakmu untuk pulang?" tanya sang Mama.
"Kak Erik?" beo Sisil.
Sang Mama mengangguk. "Besok ulang tahun Erina, kamu nggak lupakan" jelasnya.
"Iya aku ingat" jawab Sisil menjanjikan.
Sang Mama tersenyum kemudian mengangguk membelai rambut panjang Sisil. "Panggil kakakmu untuk kerumah besok kalau dia tidak sibuk".
"Sibuk pun akan Sisil paksa dia kesini" ucap Sisil dengan tawanya yang menular pada sang Mama.
"Iya, iya kalau kamu yang pinta kakakmu pasti takkan menolaknya" ucap sang Mama. "Ya sudah, sekarang sudah malam tidurlah, besok kamu masih ada kuliah kan?".
Sisil menganggukkan kepala. "Oke, Mama pergi dulu".
Sisil kembali masuk kedalam kamarmya, duduk diatas ranjang dan mengeluarkan albhum fotonya. Ia kembali memandang foto gadis berambut panjang ditaman bunga. Ia menutup mata.
"Sisil, pergi lari dari sini cepat!!".
Sisil kecil menggeleng kuat dengan tangis yang tak kunjung reda. "Nggak aku nggak bakal ninggalin kakak" ucapnya terisak.
"Kita nggak bisa pergi sama sama, kamu duluan keluar lalu cari bantuan dan selamatkan kakak".
"Ta...., Tapi" Sisil tak yakin bisa melakukannya karena saat ini saja tubuhnya lemah tak berdaya berhadapan dengan moment menakutkan ini.
"Pergi Sil, cepat!!!" teriaknya kencang.
Sisil tersadar dari ingatan menakutkan itu, ingatan yang selalu saja membuat depresi nya kumat lagi. Tubuhnya mulai bergetar, bibirnya bergerak gerak tak karuan. Dengan cepat ia beranjak dan mengambil obat dalam laci nakas samping ranjangnya. Menenggaknya dibantu air putih.
Setelahnya ia mulai mengatur napas yang sesaat sempat putus putus. Menenangkan diri sambil memejamkan mata, begitu tenang ia berucap.
"Bersabarlah kak, tak lama lagi aku akan membalaskan dendammu" ucapnya penuh arri dengan sorot dendam membara.
*****
Jika biasanya yang duduk didepan cermin adalah Tiara sedang Erik berdiri dibelakangnya, kali ini berbeda. Posisi keduanya bertukar namun masih dengan kegiatan yang sama, mengeringkan rambut.
Mata Erik terpejam dengan bibir yang setia tersenyum, kala sisiran dari jemari lentik Tiara menyibak helai helai rambutnya. Pria itu amat menikmati sentuhan sentuhan lembut Tiara dikepalanya.
Drrrtt, drrttt.
Erik membuka mata mendengar getaran ponsel, Tiara juga melirik keatas meja rias. "Ponselmu" ucapnya pada Erik.
Erik berdehem kemudian mengambil ponsel didepannya. "Halo" jawabnya.
Tiara menghentikan sejenak kegiatannya mengeringkan rambut Erik saat pria itu menerima panggilan.
"Ia kakak ingat, bersama Ayah dan Mamamu, hmmmmm nanti kakak kabari, hmmmmm" ucap Erik kemudian mematikan ponselnya.
Tiara kembali merapikan rambut Erik dengan jarinya tak berniat bertanya pada pria itu tadi tengah menelpon siapa dan membicarakan apa. Dia tak ingin terlalu ikut campur dengan urusan sang kekasih, karena setiap orang punya privasi masing masing menurutnya.
Sedang Erik usai menerima telfon barusan senyumnya menghilang, wajah pria itu tiba tiba muram bercampur sedih. Ia hanya bisa tertunduk beberapa saat sampai matanya melirik kearah Tiara. Memperhatikan wanita yang selama ini diperjuangkannya dan akhirnya ia dapatkan walau belum seutuhnya.
Tapi jika lagi lagi ia kehilangan seorang wanita yang disayanginya entah pergi atau menghilang untuk selamanya. Mungkin kali ini ia takkan bisa waras lagi. Memikirkan jika suatu saat Tiara bisa menjauh saja membuat dada yang tadi mulai sesak semakin sesak saja.
Erik cepat membalikkan badan hingga Tiara terkejut dengan gerakannya. Erik duduk menghadap Tiara dan menatap sang wanita dengan sorot tak terbaca.
"Ada apa?" tanya Tiara tak mengerti.
Dan bukannya menjawab Erik malah menarik dan memeluknya. Membenamkan wajahnya diperut rata Tiara, walaupun berkali kali ditanya mengapa Erik tak kunjung menjawabnya. Tiara hanya bisa pasrah dan membelai lembut kepala Erik.
"Ra, aku mencintaimu, sangat mencintaimu, jadi kumohon jangan pernah meninggalkanku di keadaan seperti apapun". ucap Erik masih dengan posisi yang sama.
Tiara tertegun mendengarnya, pasal cinta dia sudah yakin akan hal itu. Tapi soal meninggalkan ia pun tak bisa memastikan karena selama ini dia memang merasakan cintanya ada untuk Erik, tapi entah mengapa semakin rasa itu berkembang semakin kuat pula rasa takut menderanya. Dan sekarang ia tengah mencari tahu, jika suatu saat ia menemukan jawabannya akankah dia dapat bertahan jika kenyataan itu menyakitkan.
"Hmmmmmm" hanya itu jawaban yang bisa keluar dari Tiara untuk saat ini.