
_Tak ada yang bisa memaksaku untuk melupakanmu apalagi berhenti mencintaimu, sekalipun itu dirimu. Karena rasa ini rasaku milikku dan hanya aku yang bisa mengaturnya_.
*
*
*
Sebuah Gapura besar bertuliskan Pemakaman San George menyambut kedatangan keluarga Wijaya. Pemakaman kelas elit ini sebenarnya bukan makam kristiani tapi untuk seluruh agama. Diberikan nama seperti itu karena tanah ini sebelumnya dimiliki San George seorang mualaf beberapa puluh tahun silam.
Melihat Gapura itu membuat Wijaya juga Erik sama sama menghela napas mereka, walau keduanya berjauhan. Bukankah ada pepatah mengatakan buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Seperti itulah Wijaya dan Erik, apalagi sifat kerasa kepala, dingin dan datarnya. Fotokopian sekali pokoknya.
Wijaya dan dua wanitanya lebih dulu masuk diikuti Erik dan Roy, sedang para bodyguard menunggu diluar. Melewati susunan rapi batu nisan bertuliskan nama nama pengisinya, mereka semua berjalan pelan dan hati hati.
Sampai tiba di salah satu makam bertuliskan Erina Wijaya, mereka semua berhenti dan menatap makam itu dengan tatapan penuh arti. Dan yang lebih dulu mendekat berjongkok sambil mengelus batu nisan adalah Erik.
Pria itu tersenyum lembut. "Apa kabar boneka kecilku, maaf kakak baru datang menemuimu" ucapnya pelan. Seolah penghuninya akan menjawab sapaannya.
Sisil yang sedari tadi sudah memegang sebuket bunga matahari ikut berjongkok disamping Erik, meletakkan bunga itu menyandar dibatu nisan Erina. "Selamat ulang tahun kak Erin" ucapnya.
"Kita berdoa dulu untuknya" ucap Wijaya berjongkok bersebrangan dengan kedua anaknya.
Atas perintahnya mereka semua membaca doa untuk sang penghuni didalam makam itu. Setelah selesai Sintia menebarkan bunga juga sebotol air diatas makam.
Tak ada percakapan setelahnya mereka larut dalam kenangan dan pikiran masing masing, sambil memandang rangkaian nama indah di batu nisan tersebut. Sampai Tuan Wijaya yang sedari tadi berkaca kaca itupun berdiri.
Berbalik badan kemudian menatap makam lain didepannya, disana bertuliskan sebuah nama Rika yang adalah sang istri tercinta ibu kandung sang putra. Sintia ikut berbalik mengikuti suaminya, ia juga tak lupa menyebar bunga dan air disana.
"Maaf baru bisa menjengukmu sayang" dialog Wijaya dalam hati.
"Apa kau bahagia disana sahabatku?, Aku merindukanmu" dialog Sintia di dalam hatinya.
Sedang Erik dan Sisil masih berada dimakam Erina, entah apa yang mereka kenang disana. "Kak, kalau suatu saat aku bisa mengingat hari itu, apa kakak akan membalaskan dendam Erina?" tanya Sisil tiba tiba.
Erik yang semula tengah termenung seketika menolehkan kepalanya. Ia terdiam sesaat menatap Sisil yang pandangannya tertuju pada nisan Erina. Pria itu lalu mengangkat tangan untuk membelai kepala sang adik sambung.
"Kakak nggak mau kamu mengingatnya, kakak nggak sanggup harus liat kamu kesakitan lagi, biarlah itu jadi masalalu kelam kita, soal apa yang ada dibaliknya kakak sudah ikhlas dan mungkin Erina juga sudah ikhlas disana".
Sisil menatap Erik tak terbaca, dari raut wajahnya ia tahu jika sang kakak sebenarnya masih menyimpan dendam hanya saja mungkin Erik mencoba menepis itu semua didepannya. Ia pun mencoba membalas tersenyum.
Dari makam sang adik Erik beralih ke makam Ibunda tercinta yang lebih dulu ditinggal pergi Ayahnya, karena mendapatkan panggilan dari Asistennya. Sintia dan Sisil pun ikut dengannya meninggalkan Erik seorang diri disana sedang Roy menunggu dimobilnya.
Pria tampan yang selalu berekspresi dingin itu mengembangkan senyuman dihadapan nisan Ibunda nya. "Maaf Putra nakalmu ini baru menjengukmu bu, apa ibu rindu denganku?".
Setelah menyapa sang Ibu, Erik bercerita panjang lebar tentang kehidupannya mulai dari karir, masalah dan lainnya. Bahkan sampai pada kisah percintaannya.
"Oia, ibu masih ingat Tiara gadis yang kuceritakan dulu, gadis yang amat kucintai dan pernah kutinggal pergi, sekarang aku mendapatkannya kembali bu, walau masih belum seutuhnya, lain kali akan kubawa dia kemari melihatmu, saat itu ibu pasti akan memujiku karena bisa mendapatkan calon istri yang cantik, baik dan mirip sepertimu" ucapnya berbinar menceritakan wanita pengisi hatinya.
"Sudah?" tanya Roy pada Erik yang berjalan mendekatinya. Erik menganggukkan kepala.
Keduanya pun memasuki mobil. "Kita pulang?" tanya Roy hati hati.
Erik yang mendengar pertanyaan itu terdiam dengan alis bertaut. "Apa jadwalku hari ini?" tanyanya langsung.
Ia mengerti dengan maksud dari pertanyaan Roy yang terdengar ragu itu. Sebagai publik figur yang mempunyai jadwal cukup padat, setelah dirinya dirawat tentu saja banyak tugas dan pekerjaan yang tertunda. Apalagi sampai dirumah pun Tiara yang selalu mengawasinya tak membiarkannya bekerja. Alhasil Roy dibuat pusing kepala karenanya.
Roy tersenyum, membuka tablet dan membacakan kegiataan apa saja yang dilakukan Erik. Bukan hari ini saja tapi beberapa hari sebelumnya yang sempat tertunda dan menerornya.
Erik yang mendengar banyak sekali tugasnya itupun hanya bisa menghela napas panjang sebelum mengangguk patuh.
"Kita ke studio dulu, Jeje sudah ada disana menunggu kita" ucap Roy.
"Hmm, baiklah" ucap Erik.
Ia mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya mencari sebuah nama yang selalu ada dihatinya, Keongku. Langsung saja diketikkannya sebuah kalimat.
Tuan pemaksa; Nyonya Erik sedang apa?
Keongku; Bekerja, apa lagi memangnya.
Erik terkikik dengan jawaban Tiara. Wanitanya memang tak bisa romantis, apalagi menjawab chat dengan manis. Tapi hal itu yang ia suka, setidaknya Tiara sudah mau membalas dan mengakui jika dia benar Nyonya Erik Wijaya.
Keongku; Iya aku tau aku bukan anak kecil yang harus diingatkan makan.
Tuan pemaksa; Tapi bagiku kamu tetap ratu kecil dihatiku๐๐.
Keongku; ๐คฎ๐คฎ๐คฎ๐คฎ.
Tuan pemaksa; ๐๐๐, Oia Sayang maaf sepertinya hari ini aku akan pulang terlambat.
Keongku; ๐คจKenapa, kamu mau bekerja, apa kamu lupa kepalamu itu habis terkena pisau bedah.
Tuan pemaksa; Apa boleh buat suamimu ini orang sibuk, sehari libur pekerjaan sudah menumpuk.
Keongku; Suami? Ckckck mimpi!!!!, Kalau begitu terserah lah, tapi jangan lupa minum obatmu.
Tuan pemaksa; Siap Nyonya Erik. Oia jangan pulang sendiri nanti, aku khawatir.
Keongku; Aku pulang dengan kak Adit.
Tuan pemaksa; Larangan keras!!!!!!, apalagi dengan cecunguk satu itu. Akan kusuruh Roy menjemputmu, tunggu dan jangan pergi sampai dia datang mengerti!.
Keongku; Terserah kau saja.
Tuan pemaksa; Gadis pintar, sampai rumah langsung istirahat jangan menungguku. Aku sudah sampai studio sekarang maaf tak bisa membalas pesanmu lagi karena mungkin aku benar benar sibuk setelah ini. Jangan terlalu lelah dan kalau ada apa apa cepat hubungi aku๐๐๐.
Keongku; Hmm.
*****
"Aku mengantarmu sampai sini saja ya, nggak apa apa kan" ucap Roy yang masih ada didalam mobilnya sedang Tiara berada diluar.
Mereka sudah sampai dihalaman gedung tinggi dimana penthouse Erik berada. Setelah beberapa menit yang lalu Roy menjemput Tiara di kantor ADC tanpa wanita itu menunggu lama. Benar seperti ucapan Erik sebelumnya.
Tiara menganggukkan kepala pertanda dia tak keberatan hanya diantar sampai depan gedung. Memangnya mau sampai mana lagi, masa sampai depan pintu sih, berlebihan.
"Oia kata Erik ingat pesannya, jangan menunggunya pulang kau langsung saja istirahat" tambah Roy.
"Hmmmm". Lagi lagi Tiara menganggukkan kepalanya.
Setelah Roy pergi Tiara pun berbalik masuk kedalam loby gedung dan mengisi lift yang tak seberapa orangnya itu.
Sampai dirumah, Tiara langsung membersihkan diri. Pekerjaan yang menyita mata, lengan dan punggungnya itu membuatnya ingin berendam sambil menikmati aroma lavender dikamar mandi.
Hari ini benar benar melelahkan untuknya, sebenarnya ia lebih suka bekerja lapangan dari pada harus berada di depan komputer seharian.
Jika bukan karena perintah Aditya yang melarangnya untuk bekerja diluar, dia takkan duduk dikursi itu sampai punggungnya terasa pegal.
Tiara menutup mata menikmati wanginya lavender dari lilin aroma terapi yang dibeli Erik untuknya. Sambil merendam tubuhnya dibathub ia juga menyalakan musik dari ponselnya.
Hampir dua jam lebih Tiara berada disana, jika perutnya tak terasa lapar mungkin ia sudah tertidur dalam bathup itu sangking nyamannya. Dan beberapa jam kemudian Erik yang datang akan mengomelinya karena tubuhnya mengeriput karena lama terendam.
Usai merasa segar kini Tiara sedikit merasa lapar, ia pun pergi ke dapur untuk melihat apa yang bisa ia olah untuk dimakan. Melihat ada bahan sup ayam didalam lemari pendingin, Tiara memutuskan untuk membuat menu berkuah itu saja. Cocok juga dengan cuaca yang memang sedang dingin dinginnya.
Dengan mengikuti tutorial dari salah satu aplikasi masak memasak, sup ala Tiara pun selesai. Duduk dimeja makan ia menikmati masakannya yang rasanya lumayan enak menurutnya.
Mata Tiara memicing saat mengambil minum ia melihat obat Erik yang masih berada ditempatnya seperti tadi pagi. Ia membuka kantung obat itu, menghitung isinya. Seketika ia baru sadar ternyata Erik hanya membawa obat untuk satu kali minum saja.
Tiara melihat jam dinding, sudah jam sembilan malam Erik belum pulang dan pasti kehabisan obatnya. Yang dibawanya itu pasti sudah diminumnya siang tadi, kan.
Tiara berlari kekamar mengambil ponsel, sembari berjalan menuju dapur ia terus menghubungi Erik tapi pria itu tak kunjung mengangkatnya.
"Haishhh, kenapa nggak di angkat sih" kesalnya.
Beberapa kali ia menelpon tapi tak juga dijawab oleh Erik. Tiara akhirnya memilih mengirim pesan singkat.
Keongku; Kamu hanya membawa obat untuk sekali minum dan sekarang sudah malam. Cepat pulang.
Tiara mendesah berat saat tanda baca tak kunjung berubah warna, aktifitas terakhir pria itupun ada dijam ia terakhir chat siang tadi.
"Sesibuk itukah dia?" pikir Tiara dengan sedikit rasa kecewa dicampur khawatir.