Forget You, Remember Love

Forget You, Remember Love
Ep.52



_Kenapa tisue bermanfaat karena cinta tak pernah kemarau_.


*


*


*


"Kenapa kakak minta pulang, kakak kan belum sembuh benar kenapa nggak disini aja dulu" ucap Sisil.


Ya dalam ruangan itu tak hanya ada Erik dan Tiara saja. Tapi ketiga pria tampan sahabat Erik, Mala dan Sisil ada disana tengah menjenguk pria itu. Hanya Aditya saja yang absen karena tengah mengurus pekerjaan penting. Sedangkan Jeje sang Asisten dan Roy, baru saja kembali sejam yang lalu.


"Kamu tau sendiri kakakmu itu nggak suka sama rumah sakit, mana mau dia disini lama lama" Ridan yang menjawabnya.


"Atau takut duitnya abis bayar ni kamar, gila aja semalem ngabisin belasan juta" tambah Joker. "Rumah sakit apa hotel, coba?".


Erik tertawa kecil. "Bosen gue disini, kangen rumah, kalau makin lama disini juga kasian pak satpam dibawah harus jagain wartawan dan fans gue yang maksa masuk".


Alasan yang di ucapkan Erik bukanlah alasan semata. Karena benar setelah tersebar video dirinya menyelamatkan seorang wanita dari amukan sang jago merah, para wartawan juga fansnya terus mencari kabar tentangnya. Apalagi terdengar berita jika pria itu dirawat dirumah sakit akibat insiden itu. Kabarnya bahkan sudah sampai keluar negeri dimana pria itu mulai terkenal.


Terang saja hanya dalam hitungan jam setelah berita tersebut, teras rumah sakit besar itu dipenuhi fans juga wartawan. Sampai pihak rumah sakit harus menambah team keamanan mereka.


Sampai detik ini mereka masih setia disana. Padahal Roy selaku manager Erik sudah mengadakan jumpa fans, mengatakan jika keadaan sang penyanyi baik baik saja.


Karena nyatanya bukan hanya keadaan Erik saja yang membuat mereka menggila, tapi siapa wanita yang ditolong sang idola. Sampai sampai pria itu berani mengorbankan nyawanya sendiri, pacar, istri, simpanan bahkan adik Waren Royse sudah mendominasi tagar lovegram saat ini.


Ya begitulah resikonya menjadi public figur, tak luput dari hausnya para pencari berita juga keponya para fans apalagi netijen yang maha benar.


Mendengar alasan Erik itu membuat semua orang berfikir dan akhirnya mengiyakan alasan tersebut. Terkecuali Tiara yang sedari tadi diam saja tak sedikitpun membuka mulutnya. Hingga Erik menoleh padanya.


Melihat sang kekasih tertunduk dengan wajah tak semangat, Erik menyentuh dagu itu untuk menghadapnya. "Kamu kenapa hem?" tanyanya lembut.


Sesaat Tiara terdiam tapi tak lama matanya berkaca, kemudian tertunduk kembali lebih dalam. "Maaf, semuanya gara gara aku" ucapnya lirih.


Erik menghela napas panjang dibuatnya, lagi lagi Tiara menyalahkan dirinya. Ia pun memegang kedua bahu Tiara. "Hey, lihat aku" ucapnya tapi Tiara tak juga mendongak.


"Ra" panggil Erik dengan sedikit penekanan. Akhirnya Tiara pun mendongak. "Aku kan sudah sering bilang, ini semua bukan salahmu, kamu juga korban disini jadi jangan pernah menyalahkan dirimu lagi" ucapnya.


"Iya Ra, jangan lemah begini, kamu kan kuat pokoknya jangan nyalahin diri kamu sendiri" tambah Mala. Tiara mengangguk berkali kali menahan isak tangis.


"Anggap aja itu adalah perjuangan Erik dapetin hatimu, sekarang yang penting kalian udah baik baik aja" ucap Ridan.


Lagi lagi Tiara mengangguk kali ini dengan sedikit senyum karena Mala terus menyenggol nyenggol mengoloknya. "Andai aja waktu itu aku nggak inisiatif mengambil charger ponsel Gabriela, ini semua nggak akan terjadi" ucapnya seketika teringat kenapa ia bisa sampai masuk kedalam gudang itu. Beberapa hari ini ia bahkan sempat lupa, karena fokus merawat Erik.


Mendengar ucapan Tiara seketika membuat keempat pria yang ada disana saling pandang dengan sorot sulit diartikan. Mereka juga sampai lupa menanyakan kenapa Tiara masuk kegudang itu sendirian.


"Maksudmu gimana Ra?" tanya Aril meminta penjelasan lebih.


Tiara pun menjelaskan kenapa sampai ia bisa masuk kedalam gudang itu yang berawal dari perintah Gabreila pada krunya. Setelah masuk kesana kebakaran pun terjadi.


"Gabriela" gumam Erik emosi mengepalkan tangannya bahkan sampai meninju keras kasurnya.


Tiara mengernyit melihat keadaan yang tiba tiba sudah seperti didalam es diselimuti api biru ini. "Memangnya kenapa?" tanyanya tak mengerti.


Ridan menghela napas berat. "Kebakaran itu disengaja, ada yang membakar gudang itu dan kami curiga kamu dijebak untuk masuk kedalamnya".


Mala, Sisil, juga Tiara sendiri terkejut mendengar penuturan Ridan sampai ia terpejam sesaat. Tapi beberapa detik kemudian tatapan Tiara yang sebelumnya sendu penuh sesal berubah tajam dan membunuh.


"Kalian tau siapa orangnya?" tanyanya dengan gemertak gigi terdengar jelas darinya. Erik dan yang lain sampai menatap terkejut kearah Tiara.


"Siapa orangnya katakan padaku!!!" bentak Tiara yang membuat Mala dan Sisil nyaris terperanjat sangking kagetnya.


"Ra, kamu.....".


"Tidak, dia Anita" ucap Erik sadar dengan perubahan pada sikap dan tatapan sang kekasih. Menyela kalimat tanya yang akan diutarakan Mala.


"Keparat!!!". Anita mengepalkan kuat tangannya, sorot tajam dan ekpresi marahnya sampai membuat Mala memundurkan langkahnya, sang suami sampai harus menopang tubuhnya yang nyaris ambruk.


Walaupun ia sudah tau Tiara punya alter ego tapi ini baru pertama kalinya ia melihat dengan mata kepalanya sendiri dan sangat bertolak belakang sekali. Tak seperti ceritanya jika Anita sosok ceria, peka dan penyayang yang dilihatnya malah kejam dan beraura pembunuh. Menyaingi dingin dan datarnya Tiara, sampai ia merasa tak mengenali wanita bertubuh sang sahabat itu.


Dan seorang Erik malah khawatir dengan keadaan Tiara yang tiba tiba menghilang. "Ada apa dengan Tiara?" tanyanya pada Anita.


"Dia syok, kau tau sendiri bagaimana dia, biarkanlah dia beristirahat sebentar" Anita mencoba menjawab dengan nada biasa walau ekpresinya masih menahan amarah. Erik frustasi mendengarnya, memang ini bukan hal mudah untuk Tiara. Beberapa hari ini Tiara sering terdiam sendiri entah apa yang dipikirkannya yang jelas wanita itu sebenarnya kalut, tapi harus bisa kuat didepannya.


"Sampai sekarang kalian belum mengetahui siapa dalangnya?" tanya Anita lagi.


Ridan, Aril dan Joker hanya saling pandang tanpa berani menjawab. Bagi mereka menghadapi Tiara saja sudah seperti uji nyali, apalagi Anita dihadapan mereka saat ini yang menyeramkannya berlipat lipat kali.


"Belum" jawab Erik sekenanya.


"Sepertinya Gabriela, dari cerita Tiara dia mungkin pelakunya" Ridan mencoba mengeluarkan isi pikirannya sejak tadi.


"Bukan" ucap Anita yakin. "Aku yakin bukan dia, niatnya menyuruh Tiara hanya untuk mengerjainya saja, tapi hal itu dimanfaatkan orang lain" tambahnya.


Erik menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa kau bisa yakin?".


"Wanita manja itu takkan melakukan hal yang mencelakai Tiara dia takkan berani, sebenci bencinya dia dengan Tiara" jawab Anita.


Disaat semua orang tengah serius, dering dari ponsel Joker mengalihkan semuanya. Pria itupun melihat siapa pemanggil dari sebrang sambungannya. "Gerald" ucapnya pada Erik.


"Katakan" ucap Joker. Dia sudah tak mau berbasa basi lagi pada anak buahnya itu, karena dia sudah terlalu lama menunggu hanya untuk sebuah informasi kecil. Dia bahkan sudah sering menghubungi Gerald dan memakinya karena tak kunjung mendapatkan yang dia cari beberapa hari terakhir.


"Sialan, beraninya dia, siapkan anggotamu dimarkas lalu selanjutnya tunggu perintahku!" ucap Joker tiba tiba emosi mengakhiri panggilannya sepihak.


"Berengsek!!!!!, Dasar tikus keparat!!!!" Joker meninju dinding dibelakangnya keras melampiaskan emosinya.


"Siapa?" tanya Erik sudah beraura hitam. Dia tahu Joker sudah mendapatkan semua informasi mungkin sedetail detail nya sampai pria itu langsung menyiapkan anggotanya tanpa bertanya dulu padanya.


"Haikal, ternyata dia anggota Kobra" jawab Joker menyebutkan nama manager Rimba dan geng mafia dalam dunia hitam. Ternyata pria itu dendam dengan Tiara karena sudah menghilangkan nyawa sahabatnya juga memotong habis bibirnya.


Seketika itu juga Erik melepas kasar infusnya, lalu turun dari ranjangnya. "Aku ikut" ucap Anita yang membuat Mala dan Sisil membelalakkan mata.


Setelah memakai jaketnya Erik berbalik. "Tidak, aku takkan bisa melihat tubuh Tiara terluka lagi nantinya, aku berjanji akan menghabisi Haikal untukmu juga Tiara".


Anita sesaat terdiam berpikir jika perkataan Erik ada benarnya. "Sakiti dia sebelum kau membunuhnya, ingat itu". Erik mengangguk mengerti.


"Aku akan pergi kalau begitu, karena sepertinya mereka takut denganku" ucap Anita melirik kedua wanita yang ada dalam ruangan itu tak lain Mala dan Sisil. "Tiara akan tertidur untuk sementara waktu jadi jangan terkejut" tambahnya kemudian menutup mata.


Tubuh mungil Tiara pun langsung lemas dan terjatuh dalam pelukan Erik yang sigap menangkapnya. "Dasar Anita langsung pergi aja, nggak dibaringin dulu badannya dikasur terus ilang" protes Erik dalam hati.


Setelah Erik merebahkan tubuh lemah Tiara, pria itu berpesan pada sang adik untuk sebentar menemani sang kekasih bersama Mala. Kemudian Erik, Ridan dan Joker pun pergi meninggalkan keduanya.


Tak ada yang berani menghalangi para pria yang sudah nampak emosi itu pergi, seolah kedua wanita itu tahu emosi mereka takkan hilang jika belum menemukan Haikal.


Mala mengusap wajahnya melihat Tiara kini tertidur dengan damainya diranjang Erik. "Aku kekamar mandi sebentar ya, Sil" ucapnya pada Sisil yang duduk disamping ranjang itu.


"Iya kak" jawabnya.


Sepeninggalan Mala, ia terus memperhatikan wajah Tiara sedalam dalamnya. Sebuah kenangan masa lalu pun terputar kembali diingatan Sisil saat melihat wajah Tiara dan dengan sikap wanita itu beberapa menit yang lalu.


Kenangan buruk yang membuatnya harus dilarikan menjauh dari negara ini.


"Ternyata itu kamu kak" ucapnya tersenyum miris.


***


Mohon maaf yah kemarin ada updatenya berulang soalnya saya up tiga kali mungkin masalah jaringan.