
_Forget you, Remember Love_,
*
*
*
Tiara terkejut saat bangun dari tidurnya mendapati ada boneka berbentuk kodok disampingnya. Lalu beranjak duduk bersandar dibrankarnya.
Dia mengambil boneka itu, memperhatikan dengan seksama. "Apaan nih?" gumamnya heran.
Dalam kebingungan itu tatapannya beralih pada seorang pria yang tertidur lelap disofa tak jauh didepan brankarnya. Ia lalu melirik boneka ditangannya. "Dari dia nih pasti, sama anehnya" gumam Tiara.
Tiara meletakkan kembali bonekanya kini dia malah memperhatikan Erik dari jauh. Pria ini sudah berhari hari menemaninya disini alfa pun hanya sebentar saja, pasti dia kelelahan. Terselip rasa iba juga perhatian dalam hati Tiara saat memperhatikan wajah lelah itu.
Tapi secepat mungkin Tiara menghapus semua rasa itu. Dan juga apa pria itu tak punya pekerjaan lain, lalu bagaimana persiapan konsernya yang dilangsungkan besok.
Banyak pertanyaan diotak cantik Tiara, tapi hanya terpendam disana tanpa bisa terucap lewat bibir tipisnya.
Tiara memperhatikan pria berselimut tipis itu, merasa tak puas ia pun turun dari ranjangnya sambil mendorong tongkat infusnya mendekat kearah Erik. Dia duduk dimeja yang bersebelahan dengan sofa.
Rahang tegas, bulu matanya panjang, hidung bangir, dilengkapi dengan alis tebal yang tajam.
Saat memperhatikan itu semua Tiara seperti tak asing dengan wajah ini, bukan karena dia seorang Artis tapi Tiara seperti pernah terus menerus melihat wajah ini tapi dimana, pikirnya bertanya.
Tiara mendekatkan wajahnya, ada perasaan yang tidak bisa dikatakan saat ia terus melihat wajah itu. Dan tiba tiba sekilas bayangan seorang pemuda berseragam SMA melintas dipikirannya.
Ngingggggggg. Suara melengking menyertainya.
"Sshhhh". Tiara meringis dengan tangan mencengkram rambutnya, kepalanya mulai sakit.
Erik membuka mata perlahan karena mendengar suara seseorang dan langsung meloncat duduk mendapati Tiara menahan sakit didepannya.
"Kamu kenapa, apa yang sakit?" tanyanya panik memegang kedua lengan Tiara. Tapi Tiara tak menjawabnya.
"Ra...., Tiara" panggil Erik sekali lagi.
Tiara sedikit membuka matanya. Ia kebingungan melihat Erik malah berseragam SMA sama seperti pemuda dalam bayangannya tadi.
Woy, Keong cepetan dikit dong kita mau jogging bukan jalan santai.
Aku menyukaimu, ah tidak aku mencintamu Keongku.
"Tiara!!!". Kali ini Erik memanggil Tiara dengan nada tingginya.
Dan hal itu sukses membuat Tiara tersadar, dan kebingungan sendiri. "Kodok?" ucap Tiara tanpa sadar membuat keduanya terpaku ditempat masing masing.
Apa itu tadi, Tiara membatin.
"Apa kamu bilang tadi, Kodok?" tanya Erik memastikan jika ia tak salah dengar. Benarkah Tiara kembali mengingatnya?.
Tiara melepaskan tangan Erik dari lengannya, matanya melirik kemanapun. " Iya, kodok kenapa kamu ngasih boneka kodok itu sama aku, aku nggak suka begituan". Ia memberi alasan menyalahkan boneka Keroppi yang ada dibrankar bersamanya tadi.
Erik yang sudah antusias sampai melupakan bahwa wanitanya tadi kesakitan pun mendadak lemas. "Memangnya kenapa, kamu suka atau nggak aku nggak perduli, yang penting sudah aku beri ya harus kamu terima" jawabnya bersidekap dada.
Tiara berdecak, ikut bersidekap. "Dasar Tuan pemaksa" tukasnya. Erik hanya menaikkan bahunya tak perduli.
*****
Tiara yang tengah sibuk memainkan ponsel diatas ranjangnya, melirik kearah pintu yang knopnya bergerak tanda ada orang akan masuk.
"Kenapa kalian kesini?" tanya Tiara meletakkan ponsel disamping bantalnya.
"Kita kangen..." rengek Ayu dengan manjanya yang langsung memeluk Tiara.
Ayu datang bersama semua anggota team produksi terkecuali sang PD.
"Mba Ara gimana keadaannya udah baikkan?" tanya Faris salah satu dari kelima orang yang menjenguknya.
Tiara mengangguk dengan menyunggingkan sedikit senyuman. "Alhamdulilah" jawabnya.
Ia melirik pada Jo yang masih berdiri diambang pintu dengan dua keranjang buah dimasing masing tangannya. "Ngapain kamu berdiri disitu, masuk".
Jo mendongak sesaat, dan tak bergerak lagi setelahnya. Wajah anak magang dibawah arahan Tiara setahun lalu itu nampak amat bersalah.
"Masuk sendiri atau aku yang menarikmu!" ancam Tiara yang sukses membuat Jo masuk dengan langkah pelan, kemudian meletakkan keranjang buah keatas meja sofa.
Tiara melirik pria bernama lengkap Johanes itu. "Jo" panggil Tiara lembut.
Jo mendekat, dan plak!!!.
Tiara memukul kepala Jo sedikit keras, bukan marah tapi untuk menyadarkan anak itu. Jo langsung mendongak dengan mata berkaca, sedang yang lainnya terkejut dengan sikap Tiara.
"Sudah sadar?" tanya Tiara datar.
"I...iya Mba maaf gara gara aku Mba sampai masuk kerumah sakit, aku yang salah aku nggak ngebantuin Mba sedikitpun" sesal Jo.
"Bukan itu yang Mba maksud" tukas Tiara. Semua orang menatapnya.
"Dalam setiap pekerjaan sebaik apapun kita melakukannya suatu saat pasti ada kesalahan, tapi jangan menjadikan kesalahan itu sebagai beban dan ketakutanmu menjalankan sesuatu. Jadikan semua itu pembelajaran untuk kemudian hari, jadikan motifasi agar kerjamu lebih semangat dan teliti lagi hingga kau sukses suatu saat nanti" terang Tiara panjang lebar.
"Dan Mba sakit bukan karena kamu, ingat itu" tambahnya menatap galak Jo.
Jo cepat menganggukkan kepala, menarik tangan Tiara untuk digenggamnya. "Aku janji bakal jadi lebih baik lagi, aku nggak bakal ngecewain Mba" ucapnya penuh keyakinan.
Tapi, plak.
Seseorang memukul tangan Jo hingga pegangannya pada tangan sang senior terlepas.
"Tak perlu pegang pegang segala, cukup buktikan omonganmu itu" ucap Erik dingin menatap Jo tajam. Hingga pria itu menelan salivanya berat sedang yang lain sudah terkejut mendapati sang Penyanyi bersuara berat itu keluar dari toilet dan langsung menghampiri mereka.
Tiara terkikik karenanya. "Waktunya minum obat" ucap Erik padanya.
Setelah sedikit mendorong tubuh Jo yang masih terpana, Erik pun sigap mengeluarkan tablet obat dari bungkusnya, memberikannya pada Tiara dan seterusnya. Kelima junior Tiara pun menatap keduanya heran.
Waren Royse disini, tapi kenapa?, pakai baju santai pula dan terdengar kabar kalau konsernya diundur karena suatu hal. Jangan jangan......,
Bahkan Ayu pun sampai menutup mulut dengan kedua tangannya karena tak bisa berkata. Bukan karena keberadaan pria itu tapi karena berpakaian santai dan dengan rambut sedikit acak acakkan pun sang idola masih tampan saja.
"Kalian kenapa?" Tiara bertanya, sedang Erik tak perduli dengan keterkejutan semua orang.
"Apa kalian.....?".
"Tidak, Ya" Tiara menatap tajam Erik, sedang pria itu memperlihatkan senyum jahilnya.
*****
Erik kesal sekesal kesalnya saat ini, dikarenakan tak bisa menemani Tiara yang sudah sembuh keluar dari rumah sakit. Karena seseorang yang sering melihatnya di rumah sakit mengambil gambarnya, menyebarkannya disosial media hingga semua wartawan dan fansnya berkumpul didepan gedung rumah sakit.
Dan dimulai dari gambar itu banyak gambar gambar Erik dengan seorang wanita yang tak terlihat wajahnya muncul disosmed.
Karena itu dengan sembunyi sembunyi juga paksaan Roy, dihari terakhir Tiara dirawat diam diam Erik pulang bersama sang manager lewat pintu lain gedung rumah sakit itu.
"Argghhhhh sial!".
"Kenapa harus memperdulikan mereka sih, biarkan saja aku juga sudah biasa menjadi sorotan" protes Erik kesal.
Roy mendengus, lalu memperlihatkan sebuah ulasan akun gosip di tabnya pada Erik. Tertulis disana.
Waren Royse dirumah sakit, siapa yang sakit?.
Waren Royse kembali kenegara sendiri karena seorang wanita.
Waren Royse sudah menikah?.
Apa konser Waren diundur karena wanitanya sakit?.
Dan banyak judul lainnya lagi. Erik memutar bola matanya jengah.
"Tinggal katakan saja semua itu benar, dan soal menikah minta doanya saja sekalian".
Plak!!!.
"Haishhhhh" Erik menatap sang manager yang lebih tua tiga tahun darinya itu kesal.
"Dan kau mau Tiara yang baru membaik itu kembali sakit karena dikejar wartawan dan fansmu, kau punya otak tidak?!!!" sarkas Roy.
"Apalagi kau muncul bersamanya didepan semua orang, kau pikir Tiara bisa hidup tenang?" tambahnya membuat Erik terdiam, benar juga pikirnya.
"Jadi, kita harus gimana?".
"Biar aku yang urus".