
*Berharap dipahami adalah sebaik baiknya cara mematahkan hati sendiri*.
*
*
*
*
Ridan langsung memeluk tubuh gemetar Sisil yang selesai menceritakan kejadian pahit masa kecilnya. Erik bahkan sudah berdiri meninju tembok sangking kesalnya, tak terima ternyata separah itu yang dilewati adik adiknya. Dan bodohnya dia malah menyalahkan Tiara, orang yang dicintainya.
"Jadi kamu menyaksikan juga, kepergian Erina?" tanya Mala.
Sisil mengangguk mengiyakan. "Bahkan tiap detiknya dalam empat hari itu aku masih ingat" jawabnya.
"Gimana" tanya Joker mendekati Erik yang berdiri dipagar balkon kamarnya. "Lo masih mau ngelepasin Tiara setelah tau semuanya?".
Erik tak menjawab hanya menatap semua mata yang tertuju padanya bergantian.
Flasback off.
*****
Tiara tak percaya menatap Erik masih dengan wajah sembab dan air mata yang tak hentinya mengalir. Namun entah mengapa dimata Erik wanita ini amat menggemaskan.
"Bohong" ucap Tiara disela isakannya.
Erik menghela napas panjang menangku wajah Tiara dengan kedua tangannya, mengarahkan tepat kewajahnya sendiri.
"Lihatlah apa aku berbohong, adakah masih keraguan dimataku ini?".
Dengan sesenggukan Tiara memicing menatap sorot netra abu itu, menelisik kedalamnya. Berusaha menemukan yang dicarinya tapi bukannya mendapatkannya dia malah tenggelam disana, sampai sebuah kecupan dikening membuatnya memaku.
"Aku sudah bilang pasti bukan kamu, aku percaya itu bukan kamu, tapi raguku ada padamu karena kamu meyakinkanku untuk seperti itu" ucap Erik kembali mengusap wajah sembab Tiara.
"Maaf".
"Hikss, maaf karena sudah egois dengan hanya mementingkan penderitaanku sendiri, tanpa mau tau perduli kamu bagaimana, maaf, maafkan aku, hiks hiks" tambah Tiara.
"Dengan kejadian itu bukan hanya kamu yang menderita Tiara, tapi kami semua yang sudah kehilangan Erina" ucap Erik.
"Jangan salahkan dirimu lagi, semua sudah berlalu, Erina juga sudah tenang disana, sekarang kita jalani saja hidup kita" tambah Erik lembut, Tiara mengangguk.
Untuk yang kesekian kalinya mereka berpelukan melampiaskan rasa rindu, emosi dan tentu saja masa lalu menyakitkan yang mereka alami. Kini terbebas sudah rasa bersalah mereka selama ini.
"Eits, tapi tunggu dulu". Tiara menatap Erik bingung. "Bukannya kamu harusnya menikah dengan Aditya hari ini, lalu kenapa malah disini?".
Ditanyai begitu bukannya menjawab Tiara malah kembali menangis dan kali ini sambil histeris. Memukul berkali kali dada pria dihadapannya.
"Gara gara kamu semua karena kamu, aku batal nikah, malah ngejar kamu kesini, katanya kamu mau pergi, aku nggak rela aku takut sendiri, hiks.....hiks...hikss" omelnya dan Erik malah tertawa.
"Hiks..., Kamu kan, surat itu, terus kata Mala".
"Iya aku memang nulis surat itu karena kita pasti pisah setelah kamu menikah, tapi aku nggak pergi kemana mana aku tetap disini".
"Tapi kenapa kamu dibandara?".
"Aku mengantar Roy, dia balik ke Jerman untuk mengurus sesuatu dan juga menjemput Jeje kemari lagi".
Tiara tercengang mendesah tak percaya dengan polosnya. Dan malah kembali memukuli Erik Wijaya.
"Aku balik aja lah, melanjutkan pernikahan dengan Aditya" amuknya mengancam menekankan kata pernikahan.
Mencoba melepaskan diri dari Erik yang malah pria itu dengan senang hati melepasnya. "Aku pergi nih" ancam Tiara hendak berbalik masih dengan tangisnya.
"Kalau itu memang pilihanmu, pergilah". ucapnya santai.
Tiara yang kesal dengan sikap Erik pun berbalik melangkah maju kedepan, berharap dikejar pria itu. Tapi tak sesuai harapannya, saat ia menoleh pria itu diam saja bahkan melambaikan tangannya.
"Ishhh, bodoh!!!" umpat Tiara.
Wanita itu berlari bukan pergi tapi menghampiri Erik dan memeluknya erat, dia tak sanggup melepas pria ini lagi. Pria yang ia cintai untuk pertama kali dan sampai saat ini.
"Karena aku percaya sebesar apapun masalah kita, aku adalah tempatmu kembali, dan kamu adalah tempatku kembali, karena dihati kita hanya tersimpan satu nama Erik dan Tiara".
"Menikahlah denganku Tiara".
*****
Bukan hari buruk tapi hari paling sempurna. Pernikahan yang terancam gagal tadinya malah berlangsung dengan wajah bahagia.
Tiara tersenyum begitu lebar saat para tamu undangan mengucapkan selamat padanya, bahkan sesekali tetes air mata membasahi pipinya. Air mata bahagia karena bisa berdiri berdampingan dengan pria yang dicintainya.
Ya, bukan dengan Aditya tapi dengan Erik Wijaya. Setelah dari bandara keduanya bertemu orang tua Tiara yang masih ada dilokasi akad nikah itu. Kebetulan juga sudah ada keluarga Wijaya disana.
Keduanya pun meminta ijin untuk menikah dan tentu saja disetujui tanpa basa basi. Keluarga Prakasa juga tak kecewa, karena mereka ingin melihat Aditya bahagia bukan terpaksa dalam obsesinya. Dan Tiara berjanji akan mencarikan calon istri untuk pria yang dianggapnya kakak itu.
Sekarang semua orang bahagia, mengambil sebuah gambar keluarga besar dengan sang pengantin berada ditengahnya. Senyum lebar menghiasi wajah setiap orang bahkan keluarga Prakasa ikut didalamnya.
Aku pernah bermimpi menjadikanmu istri, tapi tak sebahagia ini rasanya, memilikimu adalah anugerah terindah dalam hidupku, Erik Wijaya.
Pernah belajar melepaskan membuatku sadar kalau bertahanlah yang paling amat menyakitkan, tapi aku menyukainya karena bertahan mencintaimu adalah kebahagiaan untukku. Tiara Putri Hendriwan.
Tamat.
Terima kasih untuk semua pembaca setia Forget You Remember Love. Terima kasih juga sudah mendukung karya saya. Bisa menamatkan cerita walau masih banyak kurangnya.
Semoga pembaca semua terhibur walau sedikit saja.
Sampai jumpa lagi di cerita selanjutnya.