
_Aku tak mengumbar kehidupan pribadiku, jadi jangan berfikir kau mengenalku. Kamu hanya tau apa yang aku ijinkan untuk kamu ketahui_
*
*
*
Dor!!!!!.
Arah peluru itu nyaris mengenai kepala Erik jika tangan Ketua geng Kobra itu tak ditendang oleh Joker. Pria kalap itu langsung menerjang Ketua geng Kobra tersebut, menghajarnya membabi buta tanpa ampun karena sudah berani berniat menghilangkan nyawa sang sahabat.
Sedang yang jadi target tembakan tak bergeming dari tempatnya, masih menatap wajah Haikal dengan mata menyalangnya hanya saja ekpresinya terlihat datar hingga membuatnya terlihat amat menyeramkan.
Erik melirik kedua kaki Haikal tanpa pikir panjang ia menembaknya membuat pria itu mengerang kesakitan. Lagi, Erik menembak kedua lengan Haikal. Erangan semakin menjadi dari pria itu.
"Bunuh saja aku, cepat bunuh aku" teriaknya frustasi. Ia rela mati dari pada harus disiksa bertubi tubi begini.
Erik memiringkan kepalanya. "Apa kau bilang, maaf aku tak mengerti" ucapnya kemudian tersenyum smirk.
Tanpa merasa kasihan Erik terus menyarangkan peluru ke tubuh Haikal dengan melewatkan bagian fital untuk menyiksanya lebih lama. Sampai pria itu terbujur tak berdaya menangis tanpa suara.
Erik berlutut disampingnya melihatnya dengan jijik sama persis seperti saat Tiara menyiksanya. Terbesit dalam. benaknya. "Prianya dan wanitanya sama saja sama sama iblis".
"Aku tau, aku memang iblis, iblis yang akan menghabisi manusia sampah sepertimu" ucap Erik seperti menjawab suara batinnya. Dan terakhir ia berdiri mengarahkan pistolnya tepat diatas dada Haikal. Pria itupun pasrah.
Dor!!!!!.
Ridan dan Aril yang sedari tadi hanya memperhatikan prosesi balas dendam Erik, hanya berdiri santai diantara tumpukan orang orang yang terluka bahkan nyaris kehilangan nyawa.
"Erik semakin menyeramkan saja" ucap Ridan.
"Sudah sepuluh tahun tapi Lucifer ternyata masih bersemayam dalam dirinya" ucap Aril.
"Gue nggak ngerti kemana dia sembunyikan jati dirinya itu selama menjadi pengamen dinegri orang" tambah Ridan. Aril mengedikkan bahunya.
Keduanya sibuk mengelap tangan mereka yang suci dari bercak darah orang orang yang mereka habisi.
Setelah Erik melihat Haikal sudah kehilangan nyawa dengan bersimbah darah dimana mana. Merah dimatanya mulai memudar, hatinya mulai mendingin. Ia pun mendongak menutup mata sesaat menenangkan Lucifer dalam. diri yang sudah mendapatkan keinginannya sambil menghembuskan nafas panjang.
Ia terhenyak saat sebuah tangan menepuk pundaknya. Ia menoleh menatap Joker dan kedua sahabat lainnya tersenyum kearahnya.
"Sudah puas?" Joker bertanya. Erik tertawa kecil.
"Ayo kita tinggallin tempat ini, aku muak bau mereka sudah seperti tikus busuk" ajak Ridan bergidik yang memang tak suka tempat kotor apalagi manusia kotor.
Joker, Aril dan Erik saling pandang lalu tertawa. Kebiasan Ridan tak pernah hilang setelah sekian lama. Mereka pun keluar bersama dengan tawa malah saling bercanda.
Hell, bisa bisanya kalian tertawa diatas kematian ratusan orang itu.
Sampai diluar. "Bereskan" ucap Joker datar pada sang kaki tangan. Setelah mereka semua menaiki mobil, kepergian mereka dibarengi meledaknya bangunan tersebut.
*****
Tiara bangun terkejut dan langsung terduduk sampai merasa kepalanya terasa sakit karena refleknya. "Ada apa kak?" tanya Sisil yang terkejut dibuatnya.
Mala yang sempat tertidur pun bangun kembali karena pekikan Sisil. "Kamu sudah bangun Ra, kamu nggak papa kan?" tanyanya khawatir.
"Erggmmmmmmm" Tiara mengeram sambil terus memegang kepalanya.
"Aku kenapa, lalu......." Tiara mengedarkan pandang melihat ruangan sepi hanya ada mereka bertiga apalagi sang empunya kamar tak ada ia merasa bingung. Mana dia ada diatas ranjang pula, apa yang terjadi sebenarnya. Karena seingatnya tadi mereka tengah mengobrol kan tapi tentang apa ia sepertinya lupa juga, yang paling diingatnya hanya Erik yang diperbolehkan pulang tak lama lagi.
Mala dan Sisil saling pandang melempar tatapan siapa yang akan menjawab pertanyaan Tiara barusan. "Kamu tadi tiba tiba pingsan Ra" jawab Mala pelan.
Tiara mengernyit. "Pingsan?" beonya. Kenapa bisa, apa Anita yang mengambil alih tubuhnya tapi jika begitu dia pasti sadarkan. Tapi ini ia tak mengingat apapun, tadi pun ia sudah merasa seperti tertidur sangat lama.
"Ia Ra, sekitar......." Mala melirik jam di dinding. "Tiga jam yang lalu" tambahnya.
Tiara membulatkan mata. "Tiga jam?".
"Kata Dokter kamu kelelahan dan kurang gizi makanya daya tahan tubuhmu melemah" ucap Mala menjelaskan dengan berbohong karena jika ia jujut Tiara pasti banyak bertanya dan akan mengetahui kenyataannya. Sedang pesan Anita, Tiara tak boleh tau apapun tentang pembicaraan mereka beberapa jam lalu.
"Dan Kak Erik keluar sebentar mengurus masalah dengan wartawan ditemani Ridan dan yang lain" Sisil menambahkan kebohongan Mala keduanya saling tatap dan mengangguk.
Tiara akhirnya percaya ia menghela napas panjang. "Mereka keluar dari tadi?" tanyanya lagi.
"Iya" jawab Mala dan Sisil bersamaan.
"Kenapa lama banget, Erik kan baru melepas perbannya kalau tiba tiba pusing lagi berhadapan dengan wartawan itu gimana" ucap Tiara khawatir.
Mala dan Sisil jadi bingung harus apa dengan kekhawatiran Tiara, memanggil Erik pun mereka harus kemana. Atau tepatnya mereka berani atau tidak, mereka juga khawatir apa yang terjadi apa para pria itu baik baik saja. Kalau sampai ada yang terluka bukan hanya sedih mereka bingung harus berkata apa jika Tiara bertanya kenapa para pria itu bisa terluka padahal hanya berhadapan dengan para wartawan saja.
Tiba tiba Tiara menyibakkan selimut dari tubuhnya, bergegas turun dari ranjang, Mala dan Sisil gelapan dibuatnya. "Kakak mau kemana, kamu mau kemana Ra?". tanya mereka berdua.
"Aku mau kelobi, mereka pasti disana kan, aku mau melihat Erik" jawab Tiara.
"Tapi Ra" Mala menahan tangan Tiara.
"Nggak apa apa aku bisa" ucap Tiara melangkah pergi setelah melepaskan tangan Mala. Tanpa tau apa apa wanita itu melangkah dan membuka pintu.
Ia terdiam saat pintu terbuka Erik muncul tepat didepannya. Sedang Mala dan Sisil mengelus napas lega.
"Rik, kamu dari mana aku........" pertanyaan Tiara terputus karena Erik tiba tiba menariknya kedalam pelukan hangat pria itu. Tiara sadar sepertinya Erik tengah meluapkan perasannya tapi bukan kasih sayang seperti biasanya melainkan seperti kelegaan. Terbukti dengan Erik yang menghela napas panjang saat memeluknya.
"Wow, wow, wow......, Romansa dipintu kamar rawat, ayolah ini bukan novel tapi kenyataan" sindir Joker. Dengan santainya pria itu berjalan masuk hampir menyenggol pasangan kekasih itu jika Erik tak sigap mengubah posisi mereka.
Joker masuk dalam ruangan itu diikuti Ridan juga Aril. Mata Joker langsung saja terputar, terguling, tersalto sangking muaknya karena lagi lagi pelukan hangat pasangan kekasih bahkan sudah ada yang menikah lagi lagi terjadi didepannya sekarang.
Oh Tuhan, dia harus bagaimana melihat kemesraan para sahabatnya ini, apa yang harus dipeluknya juga saat ini untuk mengobati rasa cemburu dihati.
"Haish terserah kalian lah" ucapnya frustasi sedang yang lain tertawa geli melihat kegalauannya.
"Kalian dari mana saja, kenapa pergi saat aku pingsan?" tanya Tiara saat mereka semua sudah duduk santai ditempat masing masing.
Semua orang saling menatap berisyarat harus menjawab apa dan mengompakkan jawaban yang mungkin pertanyaan itu sudah dilontarkan Tiara pada kedua wanita yang menjaganya. Jika dalam sebuah komik wajah mereka pasti sudah dihiasi butiran butiran air.
"Waktu kamu pingsan, Roy menelpon Erik untuk melakukan jumpa pers diloby Ra" Mala yang menjawab.
"Benar?" tanya Tiara pada Erik yang langsung tersenyum manis dengan anggukan bak anjing penurutnya.
"Kamu tau sendirikan aku ini penyanyi yang banyak fans nya jadi ya banyak yang kepo dengan keadaanku dan Roy tak bisa mengatasi itu" jawab Erik. Diliriknya Mala dan Sisil yang mengangkat jempol mereka.
"Ohhhh, terus gimana udah selesai?".
"Sudah, kamu tenang aja".
Setelahnya mereka pun mengobrol tentang banyak hal, pekerjaan, kisah awal pernikahan Mala dan Aril dan banyak lagi. Tiara juga sudah mulai dekat dengan Sisil yang jika tak ada halangan akan menjadi adik iparnya itu.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, ketiga pria dan dua wanita itu pun berpamitan pada Erik dan Tiara yang mereka tinggalkan hanya berdua.