Forget You, Remember Love

Forget You, Remember Love
Ep.15



Kami tak sehati apalagi satu frekuensi, tapi bersama kami bisa melebihi mesranya sepasang kekasih dan dekatnya hubungan persaudaraan.


*


*


*


"Kak Adit nggak ngasih tau Papa, Mamaku kan kalau aku dirawat" tanya Tiara harap harap cemas ketika mereka hanya tinggal berdua dalam ruang rawatnya.


Erik sudah pergi sejam yang lalu, karena sang manager terus menerus menghubunginya sedari tadi. Sedang Mala baru saja pergi karena punya jadwal membintangi sebuah iklan.


Aditya yang tengah mengupas kulit apel terdiam sesaat lalu menatap Tiara. "Oh iya, aku lupa" ucapnya.


Pria itu benar benar baru tersadar karena terlalu khawatir dengan keadaan Tiara semalam. Kembali kerumah pun dia tak sempat berpikiran kesana karena masih harus menyelesaikan sedikit pekerjaan, setelah mengganggu Gilang dari tidur untuk memaki Produser Tiara itu. Karenanya, Tiara jadi sakit begini pikir Aditya.


Dan tadi pagi pun saat dia memilih tak pergi kekantor untuk merawat Tiara, Mala yang langsung masuk kemobilnya membuatnya semakin lupa. Mala sampai tau Tiara sakit saja karena Aditya keceplosan saat sang Adik bertanya.


"Sebentar aku akan menelfon Papa ". Aditya buru buru meletakkan pisau dan buah diatas piring, lalu ingin mengambil ponsel disaku celananya.


Tapi Tiara mencekalnya. "Nggak, jangan kasih tau mereka nanti mereka khawatir" cegahnya.


"Tapi...".


"Kumohon, hmmmm" Tiara mengatupkan kedua telapak tangannya, menatap Aditya dengan puppy eyesnya. Menggemaskan sekali wajahnya, pikir Aditya.


Ya, selama sepuluh tahun terakhir ini seperti itulah kedekatan mereka. Seperti kakak dan adik tapi terlihat mesra, dibilang pasangan tidak juga. Karena tak ada status kekasih diantara keduanya. Aditya tak menuntut balasan perasaannya, ia cukup menikmati kedekatan mereka selama ini.


Baginya cinta tak harus memiliki, bisa melihat Tiara dan berada didekatnya saja Aditya sudah cukup puas. Walaupun untuk memberikan waniat itu kembali pada Erik, butuh waktu lama untuk ia merenungkannya. Karena baginya melihat Tiara yang terkadang kembali merakan sakit dalam dirinya yang wanita itu sendiri tidak tau karena apa membuat Aditya sedih.


Akhirnya dia pun melepaskan Tiara, agar wanitanya itu bahagia.


Aditya tertawa gemas, mencubit pipi Tiara sedikit keras. "Kalau kamu menggemaskan begini, gimana aku nggak nurutinnya coba".


Tiara memang bisa semanja itu, wanita kaku itu hanya bisa manja dengannya hanya dia. Dan Aditya menyukainya. Tapi jika Tiara sudah kembali mengingat Erik dan kembali pada pria itu, apakah Tiara masih bisa bersikap begini padanya?.


Aditya pernah ketakutan karenanya, tapi ia yakin Tiara takkan pernah berubah sekalipun Erik sudah bersamanya. Karena mereka punya ikatan kuat selain ikatan cinta tentu saja.


Ikatan cinta Aditya pada Tiara, ikatan cinta Erik pada Tiara dan ikatan cinta Tiara pada Erik. Rumit memang tapi mungkin itulah definisi sebenarnya dari kata CINTA SEGITIGA.


Tiara terkekeh. "Tapi ingat kamu harus jaga kesehatan jangan lupa makan dan harus menelfonku kalau ada apa apa, jangan seperti kemarin, mengerti".


"Siap bos" ucap Tiara mengangguk mantap.


"Ini makanlah" Aditya menyuapi sepotong buah Apel pada Tiara yang menerimanya dengan senang hati.


*****


"Sudah selesai?" tanya Aditya mengalihkan pandangan dari laptop dipangkuannya pada Erik yang baru tiba membawa boneka keroppi besar bersamanya.


"Dia tidur?" tanya Erik melirik Tiara yang tertidur diranjang dengan damainya.


"Hmmmm".


Erik mendekati Tiara, meletakkan boneka keroppi itu disamping wanitanya. Aditya memperhatikan. Erik mengecup kening Tiara penuh cinta yang membuat Aditya reflek membuang wajahnya, sakit.


Erik lalu berjalan menghampiri Aditya disofa dan duduk disebelahnya. Keduanya terdiam sesaat.


"Gimana dengan konsermu?" Aditya memecah kesunyian menutup laptop, lalu meletakkan benda yang dipegangnya sedari dua jam lalu itu keatas meja.


"Gue tunda sampai Tiara sembuh" jawab Erik sekenanya.


"Lo nggak dituntut agensi ngundur acara seenakmu begitu?".


Erik berdecak. "Agensi itu punya gue, ngapain gue nuntut diri sendiri".


Aditya berdecih. "Siapa tau lo gila, kelewat sombong soalnya". Erik tertawa kecil. "Sialan".


"Tiara tadi bertanya padaku tentangmu" Aditya kembali mengucapkan kalimat baku yang artinya pembicaraan mereka mulai serius. Erik menaikkan sebelah alisnya. "Apa?".


"Ara tau kalau kau pernah bersekolah di SMA BUNGA PUTIH, dan bersahabat dengan Ridan".


"Lalu?".


"Dia heran, kenapa tak pernah melihat atau mengenalmu saat itu, jadi dia bertanya padaku apa kau pindah sekolah, atau bagaimana".


"Kau jawab apa".


"Aku bilang kalau Tiara mengenalmu bahkan kalian sangat dekat".


"Bagaimana reaksinya".


"Sama seperti sebelumnya, dia kebingungan dan kembali bertanya kenapa dia tak ingat".


Erik tak bertanya dia terdiam dengan banyak kata kata yang berputar dikepalanya.


"Aku bilang, kalau suatu saat kau pasti ingat karena dia adalah salah satu malaikatmu, kau cari tau sendiri atau kau bisa bertanya langsung padanya" tambah Aditya.


"Bagaimana jika dia kembali koma karena mencoba mengingatku?" tanya Erik lemah.


"Tak ada cara lain Rik, terlebih lagi saat dia kembali mencintaimu semua pasti akan kembali pada asalnya" jawab Aditya.


"Jika semua kembali, tapi dia tetap memilih melepaskanku?".


"Kali ini kau harus bertahan karena jika kau pergi lagi, aku tidak yakin tak akan merebutnya darimu, sepuluh tahun sudah cukup bagiku" ancam Aditya.


Erik menoleh bertatapan dengan Aditya yang juga menatapnya. Keduanya saling beradu sorot disela dentingan detik jam malam itu.