
_Kenyataan adalah mimpi buruk bagimu, jadi jangan pernah ingat karena kenyataan bisa melukaimu_.
*
*
*
Tiara tercekat, tubuhnya mematung ketat saat Aditya mendekat dan langsung mendekapnya erat.
Aditya membelai rambut panjangnya. "Syukurlah kamu terlihat baik baik saja, kakak khawatir" ucapnya. Tiara mengernyit Aditya khawatir padanya tapi untuk keadaan apa, saat ini kan dia merasa baik baik saja.
"Apa kamu benar baik baik saja Ra" tanya Aditya kembali memastikan. Kini keduanya sudah duduk di sofa panjang dalam ruangan pria itu.
Tiara mengangguk yakin. "Memangnya aku harus kenapa?".
"Tidak" Aditya menggeleng. "Kupikir dengan berita itu kamu....".
Tiara akhirnya menyadari kemana arah pembicaraan ini. Erik pasti sudah memberitahu semua kejadian malam itu, dengan mungkin memotong bagian hobinya. Karena jika Aditya tahu hal itu juga, pasti lebih banyak pertanyaan lagi terlontar untuknya dari pria itu. Atau lebih mungkin lagi Aditya akan menjauh darinya seperti yang sudah sudah.
Dan kekhawatiran Aditya kali ini pasti mengenai keadaannya, apakah ia depresi karena Rimba meninggal atau merasa bersalah dan mengutuk diri sendiri. Sebab dimana hari Rimba dinyatakan meninggal berdekat dengan kejadian yang terjadi padanya.
"Kematiannya tak ada hubungannya denganku, itu sudah jalan Tuhan untuknya kenapa harus aku yang merasa bersalah karenanya?" sela Tiara membuat Aditya menatapnya tak terbaca.
Tapi sedetik kemudian Aditya tersenyum nyaris terkikik mendapati sikap acuh Tiara. Pria itupun membelai kepalanya. "Kamu memang wanita yang berbeda" ucapnya kagum.
Tapi Tiara memicingkan mata. "Jadi kakak menganggapku wanita apa, langka?, Maaf tapi aku manusia bukan hewan, populasi mahluk sepertiku masih banyak".
Aditya tak bisa menahan tawanya karena elakkan bernada candaan dari Tiara. "Kau ini ada ada saja" ucapnya.
Tok, tok, tok.
"Masuk" ucap Aditya mempersilahkan orang yang mengetuk disebrang pintu ruangannya untuk masuk.
"Maaf Pak, diluar sudah menunggu pihak kepolisian" ucap sekertaris Aditya. Mendengar itu Tiara menatap Aditya.
Sedang Aditya terdiam sementara. "Ada urusan apa?" tanyanya.
"Sepertinya mengenai kematian Rimba Andreas Pak, karena sebelum dia meninggal perusahaan kita tengah menjalin kontrak dengan dia" jawab wanita ber rok span itu.
Aditya mengangguk. "Persilakan mereka masuk". Sang sekertaris pun menjalankan perintah sang atasan.
Sementara itu Aditya membelai puncak kepala Tiara. "Jangan khawatir kakak akan mengurus semuanya".
Tiara berdecak. "Siapa juga yang kawatir".
"Aku akan kembali bekerja, kalau ada pembicaraan yang menyangkut namaku ceritakan apa yang kakak tau dari Erik tak masalah" tambah Tiara.
"Tak usah kamu pikirkan, kembalilah kakak bisa mengatasinya" ucap Aditya dan Tiara mengangguk saja. Keluar dari ruangan itu dan berpapasan dengan dua polisi.
*****
Hampir dijam pulang karyawan.
Tiara yang tengah fokus dengan komputernya melirik pada sepasang kaki berbalut sepatu hitam yang berhenti tepat disamping mejanya. Ia pun mendongak menatap siapa pemiliknya.
Tiara langsung memutar bola matanya malas melihat pria tinggi dengan senyum tampan menghias wajahnya, menatapnya bahagia. Tiara melihat jam tangannya.
"Ini belum waktunya aku pulang, kenapa kamu sudah disini?" tanya Tiara pada pria di depannya.
Erik memicing dengan senyum jahil. "Oh, kamu mengira aku kesini untuk menjemputmu ya".
Tiara menatapnya heran, lalu?. Terbaca jelas pertanyaan itu dari sorot matanya. "Maaf, aku kesini tidak untuk menjemputmu, tapi bertemu dengan Ceo Tampanmu" tambah Erik.
Tiara langsung berdecak kesal karenanya. "Ya sudah pergi sana temui dia, kenapa malah kemari!!".
Erik terkikik gampang sekali membuat mood Tiara menjadi hancur begini, pikirnya. Dan satu hal itu dapat meyakinkannya jika Tiara sudah termakan ketulusan cintanya.
Erik mengelus dagunya bingung. "Iya ya, kenapa aku kemari?" tanyanya.
Tiara menatapnya garang, Erik tersenyum menang. Pria itu mendekatkan wajahnya, "Karena aku merindukan wajah jelekmu ini" ucapnya mencubit gemas pipi Tiara hingga wanita itu memekik kesal. Dan Erik sudah berlari kabur darinya sebelum mendapat ciuman pisau dilengannya.
'Jika pekerjaanmu selesai, tunggu aku kita pulang bersama. Kau cantik jika sedang marah💋'.
Tiara mendengus membaca pesan itu, dan apa apaan emot diakhir kalimatnya. "Cih, dasar pria gila!".
Sedang orang orang dalam ruangan itu yang tak lain adalah rekan kerja Tiara hanya melongo tak menyangka. Sejak kapan keduanya menjadi dekat seperti pasangan kekasih begitu. Wah, wanita ini benar benar bisa menyembunyikan semuanya. Mereka tak tahu saja jika 'menyembunyikan' adalah keahlian Tiara.
Erik membuka pintu ruangan Aditya seenaknya tanpa mengetuk apalagi menyapa. Dengan malas pria itu berjalan dan langsung mendaratkan tubuh kesofa empuk dalam ruangan itu.
"Lo nggak tau gue banyak kerjaan, pake manggil manggil gue kesini ada paan sih?" tanya Erik.
Aditya yang tadinya tengah berkonsentrasi dengan beberapa berkas diatas mejanya berdecak. "Gue juga males manggil lo kesini, eneg gue liat muka pengamen kaya lo" balasnya.
Dan lemparan bantal sofa pun mendarat kearahnya, untung ia segera menepisnya. Hingga bantal tanpa dosa itu jatuh kelantai.
"Tadi pihak kepolisian kemari, mereka mencari informasi tentang meninggalnya Rimba" ucap Aditya serius. Erik menatapnya tak terbaca. "Tapi gue heran kenapa mereka nggak sama sekali mengaitkan Tiara padahal sebelum Rimba meninggal yang terakhir bertemu dengannya Tiara bukan?" tambahnya lagi masih kebingungan.
Ya, acara tanya jawabnya dengan dua polisi pagi tadi sama sekali tak melibatkan nama Tiara didalamnya atau menyelipkannya sedikitpun. Padahal polisi itu berujar jika Rimba terlihat terakhir kali dilokasi syuting bersama dengan kru programnya.
Berhubung kematian Rimba sangat mendadak juga terdapat luka bekas sayatan ditangannya, membuat polisi jadi harus terpaksa harus turun tangan. Mengusut tuntas kematiannya karena seluruh keluarga sepertinya tak terima dengan kepergian mendadak itu.
"Mereka takkan bisa menyeret Tiara, karena gue udah menghapus semua rekaman cctv, mobil dan video apa saja yang memperlihatkan mereka berdua bersama, gue juga udah menyuap orang orang yang melihat mereka bersama" jawab Erik tenang. Dia memang sudah menyangka jika kematian Rimba akan melibatkan pihak kepolisian.
Aditya tercengang, bagaimana bisa Erik memikirkan itu semua dan langsung menyelesaikannya dalam waktu sekejap mata.
"Apa?!" sergap Erik memandang jijik Aditya. Karena pria itu menatapnya takjub.
Aditya tersadar ia langsung berdehem. "Sepertinya polisi malah curiga dengan Haikal, karena pria itu tiba tiba menghilang tanpa jejak".
Erik mengernyit sedikit berpikir, memang pria itu belum ditemukannya sampai saat ini.
"Tapi Rik, gue mau tanya satu hal" ucap Aditya, Erik menatapnya.
"Apa lo yang menghabisi Rimba?".
Ditanya begitu Erik malah terkikik, berdiri dna melangkat mendekati meja Aditya. Dia tersenyum miring, sorot matanya berbeda dari sebelumnya. "Sebelumnya nggak ada yang pernah merasakan nikmatnya bernapas setelah menyentuh milikku, sekarang apa aku harus mengampuni pria itu" jawabnya.
Aditya tak terkejut dia hanya menatap Erik dengan wajah datarnya. "Kalau begitu jaga Tiara, jangan sampai dia terseret masalah ini!".
Erik tertawa. "Lo sudah tau sepak terjang gue". Pria itu berbalik mengangkat tangan sebagai tanda ia akan pergi dari ruangan menyesakkan itu.
Erik ingin kembali ke ruangan Tiara untuk mengajak wanita itu pulang bersama. Tapi begitu melihat sosok wanita itu sudah berdiri didepan pintu, Erik tak jadi berbelok langkahnya kembali lurus kedepan.
Ia langsung menggenggam tangan Tiara sampai wanita itu menolehkan kepala. "Kau tidak membaca pesanku?" tanya Erik.
Tiara memutar bola mata malas. "Baca" jawabnya sekenanya.
"Lalu kenapa kamu mau pulang duluan?".
"Siapa yang pulang duluan, aku dari tadi menunggumu disini" jawab Tiara kesal. Tapi dengan jawaban itu sukses membuat Erik tersenyum sendiri, dipikirnya Tiara akan pulang meninggalkannya. Karena jika kalian mengenal sifat Tiara wanita itu bukan tipe penurut tentu saja.
"Benarkah?".
Tiara mendengus sebal. "Lagian ngapain sih disana, lama banget".
"Hanya bicara" jawab Erik berpindah berdiri disamping Tiara menghadap pada lift menunggu pintu itu terbuka.
Saat pintu sudah terbuka keduanya pun masuk kedalamnya, Erik menekan tombol loby utama. Tapi Tiara memicing dilihatnya Aditya menuju kearahnya, tangannya dengan cepat menahan pintu lift yang akan tertutup.
"Kak Adit ayo cepat" pekiknya membuat Erik menatapnya, sedang Aditya sempat terpaku dibuatnya.
Karena tak ingin mengecewakan Tiara akhirnya Aditya pun ikut masuk kedalam lift itu. Kini ketiganya berada didalamnya dengan posisi Tiara berada ditengah Erik dan Aditya.
Tiara bersikap biasa saja cenderung tenang tapi tidak dengan kedua pria disampingnya yang tanpa sengaja bertemu mata saat ingin melirik kearah Tiara.
Aliran sengatan listrik pun tak terelakkan lagi dari sorot mata keduanya.
Moment biasa tapi dengan rasa menyesakkan dada.