
_Bagian dari diriku merasa sakit saat mengingatnya, tapi sebagian lagi merasa sakit ketika melupakannya. Terlebih untuk tetap bersamanya hatiku tak tega. Katakan aku harus apa?_.
*
*
*
"Nggak bisa diundur lagi, harus sesuai jadwal?" tanya Erik frustasi mencubit pangkal hidung mancungnya sendiri.
Sejak tiga jam lalu Roy dan Jeje bergantian menelponnya mengabarkan beberapa hal mendesak juga dengan sedikit memaksa agar Erik kembali kekota.
"Nggak bisa Rik, kamu disana memang baru sehari, kami disini juga sudah mencoba mengakali, tapi mereka tak juga mengerti, kami memerlukanmu ayolah Rik kembali" ucap Roy memohon.
Erik sesaat terdiam mendesah pasrah ia lalu menjawab. "Baiklah aku pulang sebentar lagi" putusnya.
"Kenapa?" tanya Tiara yang baru keluar dari kamarnya. Erik yang tadi memijat pelipisnya pusing mendongak menatap Tiara penuh penyesalan.
"Ada masalah di Jakarta, aku harus kembali" jawabnya.
Tiara mendekat duduk disofa yang sama dengan Erik. "Peluncuran Albummu?" tebaknya.
Erik menghela napas berat mengangguk dua kali kemudian. "Tapi aku masih mau menemanimu disini" ucapnya merasa tak rela meninggalkan Tiara entah mengapa.
Tiara ikut menghela napas, ia menatap Erik yang juga menatapnya sendu. Tangan wanita itupun terangkat memperbaiki rambut ala badboy Erik.
"Pergilah, aku nggak papa disini ada Papa dan Mama, kalau pekerjaanmu sudah selesai disana kamu bisa kesini lagi" ucapnya.
Erik mendengar, mengambil tangan Tiara yang masih berada dikepalanya untuk digenggamnya erat. "Sebenarnya aku mau memberimu kejutan saat album ku luncur, tapi sudahlah tak apa".
Erik menarik Tiara untuk dipeluknya, terasa nyaman dan hangat seperti boneka. "Aku hanya sebentar, tunggu aku kembali hemm" tambahnya.
Tiara mengangguk dalam pelukan Erik. "Terima kasih selalu ada untukku" ucapnya tulus membalas pelukan sang kekasih.
Erik tersenyum membelai terus kepala Tiara sayang.
*****
"Ingat hati hati dijalan jangan ngebut, kalau sudah sampai hubungi aku" pesan Tiara sebelum turun dari mobil yang dikendarai Erik.
Mereka lebih dulu pergi kerumah sakit mengantar Tiara, dari sana Erik berniat langsung kembali ke Jakarta.
"Iya, bawel" Erik mencubit gemas pipi cubby Tiara.
"Sampaikan salamku untuk Papa dan Mama dari menantu tampannya" tambah Erik.
Tiara melengos. "Menantu apaan???" cibirnya.
Saat Tiara akan membuka pintu mobil ia terkejut, Erik menarik dan membalikkan tubuhnya. Tanpa aba aba langsung mengecup bibirnya dan ********** sebentar.
Karena sangking terkejutnya diberi serangan dadakan, saat Erik melepaskannya Tiara hanya bisa mengerjapkan mata menggemaskan. Erik terkikik, lalu kembali menarik tengkuk Tiara mengecup keningnya sedikit lebih lama.
"Hati hati disini, jaga dirimu terutama dari para mahluk bernama pria, ingat itu!".
Tiara mendengus sebal. "Memangnya kau bukan pria dan harusnya itu kata kataku kan!!" balasnya.
Erik tertawa geli kembali menarik Tiara untuk di peluknya. "Kapan kau berangkat kalau begini terus??" sindir Tiara.
Erik melepas pelukannya. "Iya, iya, udah sana keluar, kalau kamu masih disini bisa bisa aku bawa juga kamu ke Jakarta".
"Kamu ngusir??!".
Erik mendelik. "Tiara Putri Hendriwan". Tiara tertawa puas.
Tiara melambaikan tangannya saat mobil Erik meninggalkan dirinya didepan rumah sakit tempat sang Mama dirawat. Setelah tak melihat lagi bayangan mobilnya sekalipun, Tiara masuk kedalam gedung bertingkat dua itu.
*****
Karena merasa malas dirumah sendirian Tiara memilih bermalam dirumah sakit menjaga sang Mama karena Papanya yang juga seorang Dokter sibuk mengurus pasien lainnya. Dan pagi ini atas permintaan sang Mama, Tiara membawanya berjalan jalan di sekitar rumah sakit dengan kursi roda.
Sambil berjalan jalan menikmati pemandangan yang menyejukkan mata, Nurmi bercerita bagaimana baiknya penduduk desa pada keluarganya. Juga menceritakan hal lainnya termasuk mengenang masa kecil Tiara.
"Oh iya Ra, kalau kamu pulang nanti bisa minta tolong ambilkan Mama album foto keluarga dirumah nggak?" tanya Nurmi.
Tiara mengangguk dua kali. "Boleh, tapi buat apa Ma?" tanyanya.
"Itu temen Mama yang pasien juga disini mau liat fotomu waktu kecil" jawab Nurmi.
"Oh, nanti Tiara ambilin deh".
Setelah makan siang bersama dengan Papa Mamanya, Tiara ijin pulang untuk membersihkan diri sekaligus mengambilkan pesanan Mamanya tadi pagi.
Dan disini lah sekarang Tiara mengeringkan rambut didepan meja rias sang Mama, karena dikamarnya tak ada kaca untuk bercermin. Saat melakukan kegiatannya, tiba tiba ponsel yang diletakkannya diatas kasur berdering.
Video call dari Tuan Pemaksa.
Tiara duduk bersandar dikepala ranjang lalu menjawab panggilan itu, ia langsung mengernyit melihat si pemaksa yang awalnya tersenyum berubah muram. "Kamu kenapa?" dia langsung bertanya.
Dilihatnya Erik diam saja menatap kearahnya melalui sambungan video call itu. "Kenapa kamu cantik banget sih, jadi kangen...." rengeknya yang nyaris membuat Tiara meledakkan tawanya.
Tiara berdehem menahan tawanya. "Baru juga pisah kemarin, lembek banget" sindirnya.
"Emang kamu nggak kangen sama aku".
Tiara memutar bola matanya. "Nggak tuh" jawabnya santai.
Disana Erik tercengang lalu bersidekap dada sambil mendengus membuang muka. "Jahat" gumamnya yang masih bisa didengar Tiara.
Bukannya marah atau melanjutkan acara ngambeknya, Erik tersenyum bahagia melihat Tiara masih bisa tertawa lepas. Dia memang sengaja bersikap demikian untuk menghibur sang kekasih.
"Aku seneng liat kamu masih bisa tertawa, oia gimana kabar semua orang disana?" tanya Erik.
"Baik, Mama juga mulai kembali lanjutin kemoterapinya" jawab Tiara.
Erik mengangguk. "Aku sudah menelpon dokter kenalanku di Jerman, dia juga berusaha mencari pendonor disana dan siap ke indonesia untuk melakukan operasi Mama" terangnya.
Saat tau apa penyakit Mama Tiara dari Hendri, Erik memang memberi tahu jika dia punya kenalan Dokter waktu ia menjaga Sisil di negara itu. Dan akan mencoba bertanya tentang ketersediaan sang kawan membantu menyembuhkan Mama Tiara, berhubung kawannya itu memang Dokter spesialis bedah.
"Iya semoga Mama bisa mendapatkan pendonor yang cocok".
"Oia gimana persiapan peluncurannya, besok kan ya" tambah Tiara bertanya.
"Mmm lancar, doain semoga besok acaranya sukses, kamu jangan lupa nonton juga yah".
"Iya".
"Yaudah aku cari nafkah dulu, kamu jaga diri dan hati disana, tunggu aku pulang bawain kamu sebongkah berlian" rayu Erik.
Tiara tertawa mengejek. "Ckckck, kata katamu udah kaya lirik lagu aja".
"Aku kan memang penyanyi sekaligus pencipta lagu" sombong Erik.
"I see" ucap Tiara dengan nada menyindirnya. "Udah sana kerja, ho ku lobet" usirnya.
"Sun online dulu" pinta Erik manja.
Tiara melengos. "Ogah" tolaknya mentah.
"Gitu ya, liat aja kalau ketemu nanti aku lahap bibirmu sampai aku puas" ancam Erik.
"Kalau bisa coba aja, wleeee" olok Tiara langsung mematikan panggilannya sepihak, meninggalkan gerutuan Erik ditempatnya.
"Dasar mesum!!" gumam Tiara kesal namun tertawa juga.
Karena sudah memegang ponselnya Tiara tak beranjak dari kasur nyaman itu, posisinya sudah menenangkan. Akhirnya dia memilih berlayar di dunia sosmed melihat berita yang sedang viral, sampai tak sadar dia tertidur disana.
*****
Tiara terkejut saat bangun ternyata hari sudah malam, bergegas dia menelpon sang Papa memberitahu mungkin dia akan kembali besok pagi mengingat sekarang sudah pukul sembilan malam.
"Lama banget aku tidur" gumam Tiara melihat jam dinding dikamar itu.
Merasa perutnya lapar Tiara pergi kedapur memasak sedikit bahan makanan yang dibelinya diperjalanan pulang tadi untuk mengisi perutnya.
Saat makan itu tiba tiba Tiara mengingat pesan sang Mama yang minta dibawakan album foto keluarga mereka. Setelah selesai makan Tiara pun mencari benda itu dikamar Mamanya.
"Dimana Mama nyimpannya ya?". Tiara bergumam karena tak kunjung mendapatkan apa yang dicarinya didalam kamar sang Mama.
"Kalau Mama nggak simpan dikamar ini, mungkin......". Tiara keluar dari kamar Mamanya beralih kekamarnya.
Karena dirumah ini tak ada ruangan untuk di jadikan gudang atau tempat menyimpan barang, mungkin Mamanya menyimpan album itu dikamarnya. Karena diruang tengah, tamu apalagi dapur sudah tidak mungkin. Jadilah dia mencari dikamarnya.
Tiara membuka satu lemari yang ada dalam kamarnya yang berisi barang barang, disana dia mencoba mencari album foto itu, dan ketemu. Tapi.....,
Keningnya bertaut saat melihat satu kotak kayu yang cukup besar disimpan dalam lemari itu. "Kotak apa?" tanyanya dalam hati berharap Anita menjawab pertanyaannya tapi sepertinya jati diri lain darinya itu tengah terlelap jauh dibawah alam sadarnya.
Karena penasaran setelah memindahkan album foto ke atas nakas, Tiara mengambil kotak itu mengeluarkannya dari dalam lemari. Sambil duduk di atas kasur Tiara memperhatikan kotak kayu itu.
Ia menaikkan sebelah alis melihat namanya terukir jelas di sisi atas kotak kayu tersebut. "Punyaku?, tapi aku nggak ngerasa punya kotak begini" gumamnya.
Perlahan tapi pasti Tiara membuka kotak kayu itu, dia semakin penasaran saat mengetahui isi kotak itu adalah beberapa diary berwarna sama, hitam.
Tiara mengambil salah satu diary dalam kotak itu, ketika dia membuka lembaran pertama lagi lagi namanya tertera disana dan tulisan itu tulisan tangannya ia sangat mengenalinya. Terlebih lagi saat dia melihat lembaran kedua ketiga dan seterusnya, ini benar tulisannya tapi ia tak pernah merasa sudah menulis diary seperti ini.
Tak ingin larut dalam rasa penasaran Tiara pun akhirnya membaca isi diary itu. Beberapa lembar dibacanya, dengan awal yang biasa biasa saja sampai pada yang membuat matanya terbuka lebar.
"I...., Ini......" gumam Tiara tak percaya.
Semakin jauh dia membaca dari lembar ke lembar, dari diary satu ke satunya lagi. Dari ia tertawa, kesal dan hingga menangis tersedu, sepertinya ia mulai bisa menyimpulkan sesuatu. Dan saat tiba dimana pada lembaran isi diary itu warna tintanya berwarna merah, kepala Tiara mendadak pusing.
Dengan tangan gemetar Tiara mengambil foto foto dibawah tumpukan diary itu, melihatnya satu persatu.
Semua kenangan mulai terlintas tak hanya seperti puzzle yang harus disatukan, tapi kenangan itu terputar sesuai urutan pada isi diary itu. Kisah kasih masa SMA itu, semua masalah yang dilalui mereka saat itu bahkan kenangan buruk itu kembali bagai sebuah dongeng tidur.
"Itu aku, Erik, Aditya dan........, dia....".
Tiba tiba dada Tiara terasa sesak, nafasnya terengah dengan mata memerah. Ia menangis sejadi jadinya, ternyata mengingat semuanya bukannya membuat rasa ingin taunya terpenuhi malah membuatnya sakit hati.
Bisakah dia memilih tak mengingatnya lagi dan hidup seperti ini saja tanpa tau kebenarannya. Karena mengingat semuanya mengembalikan rasa itu, rasa keterpaksaannya yang harus melepaskan Erik dari dalam hidupnya.
Dan menyesalnya dia kenapa dia harus kembali jatuh kedalam cinta pria itu. Sekalipun dia tak mengingatnya kenapa harus padanya hatinya tertuju.
"Apakah ini pertanda kau dan aku takkan pernah bersatu?".
Ingin terus ada disampingmu😘😘
Mengingat semuanya membuatku kembali ingin melupakanmu.