Forget You, Remember Love

Forget You, Remember Love
Ep.45



_Seseorang itu berubah karena dua hal. Pikirannya terbuka atau hatinya terluka_.


*


*


*


Sesampainya dilokasi Tiara dan Faris langsung mendatangi kru mereka. Keduanya sibuk mengatur set dan arah kamera dalam mengambil gambar Gabriela.


Beruntung kali ini Tiara tak sendiri karena ada Faris yang membantu. Bukan karena kemauannya sendiri atau perintah Tiara tapi junior yang berbeda setahun dengannya itu diperintah Aditya agar bekerja lapangan bersamanya.


Tak ingin kejadian Tiara tumbang sebab kelelahan Aditya meminta Gilang agar Tiara memiliki asisten dilapangan. Dan Faris bersamanya sekarang.


Gabriela yang melihat Tiara datang dan langsung menyibukkan diri itupun mendekat, sambil bersidekap ia berkata. "Apa begini cara kerja kalian, lambat, gimana program kalian bisa diminati kalau pekerjaan kalian berantakan seperti ini" sindirnya.


Tiara mengeram dalam hati dibuatnya. Bukankah ini semua karena kau yang meminta semuanya serba sempurna. Dan hanya menyangkut kegiatan kerjamu saja. Sedangkan Artis lain terlihat lebih santai saat melakukan syuting dengan mereka, malah saat sedang bersantai dirumah jadi pihak mereka tak harus ribet berkoordinasi dengan team lain yang juga melakukan proses syuting.


Programnya bukan hanya menampilkan sibuknya seorang Artis tapi juga keseharian dan apa yang dilakukan ketika santai. Jadi mereka bisa mengatur arah kamera sebaik mungkin tanpa harus menganggu pekerjaan yang lain. Kalau sudah begini, mereka harus pintar pintar mengambil posisi bukan.


Tiara berbalik menatap Gabriela dingin. "Tak usah repot mengomentari kami, uruslah dirimu sendiri, kami sudah cukup paham dibidang ini tak perlu supervisor lagi untuk mengarahkan kami".


Setelah mengucapkan kalimat panjang itu Tiara kembali fokus dengan kru nya. Iya menepuk tangan. "Oke semua siap, bekerja lebih semangat lagi ya" serunya yang diangguki mantap anggotanya.


"Silahkan kembali ke posisi anda, kami akan segera mengambil gambar" ucap Tiara beralih pada Gabriela. Membuat wanita itu mendengus tak suka.


Akhirnya proses syuting pun berjalan, bukan hanya kamera dari kru Tiara yang menyorot Gabriel saat ini tapi juga kamera dari kru film wanita itu. Tapi syuting yang harusnya berjalan lancar malah menjadi alot sebab Gabriela yang selalu menghentikan adegan seenaknya.


Dengan alasan dia kurang fokus lah, lupa scrip lah, arah kamera yang nggak bagus lah. Banyak sekali alasan yang dibuatnya membuat semua kru yang ada menjadi kesal tapi tak ada yang berani menegurnya.


Dikarenakan Gabriela memang saat ini artis yang tengah naik daun dan punya seorang Ayah bergelar pengacara. Salah sedikit saja mereka bisa masuk penjara akibat aduan sang anak manja kepada ayahnya.


Sikap seenaknya pun tak luput dari seorang Gabriela. Buktinya dengan sikap bossy nya ia terus saja menyuruh beberapa staf yang ada melakukan apa yang dia inginkan. Tak terkecuali Faris, semenjak hari pertama syuting dia terus saja memerintah junior Tiara itu seenaknya.


Dan hari ini Tiara yang sudah menahan kesabarannya pun mulai naik darah dibuatnya, tanduknya yang semula ia tahan untuk muncul keluar seketika. Bagaimana tak muncul jika diudara dingin begini Gabriela terus mengulang adegan, sedangkan semua kru terlihat sudah sangat pucat. Wanita itu enak saja memakai baju hangat dan meminum minuman hangat yang disiapkan sang Asisten.


Berlangkah tegas Tiara mendatangi Gabriela yang tengah nyaman beristirahat dibawah payungnya. Brak!!!!, Tiara menggebrak meja kasar, Gabriela sampai terkejut dibuatnya.


Tiara menatap Gabriela tajam. "Lo bisa nggak sih kerja itu profesional jangan ikutin ego lo!!" ucapnya geram, menghilangkan kalimat kesopanannya.


"Maksud lo apa!!!" balas Gabriela tak terima ikut berdiri dan menggebrak meja.


"Lo nggak liat semua staf udah pada capek dan kedinginan karena lo ulang adegan terus, sadar nggak sih ini udah hampir gelap!!!".


Gabriela mengedarkan pandang lalu bersidekap dada, berdecih tak suka. "Itu urusan mereka, yang gue mau hasil kerja gue keliatan maksimal didepan tv nanti".


Tiara mengepalkan tangan kesal, melengos sebal. "Ckck, mengulang berapa kali pun nggak akan ada gunanya, lo sadar nggak kalau akting lo standart" sindirnya.


Kali ini Gabriela benar benar berang, tangannya terangkat ingin menampar keras Tiara. Dan dengan santainya Tiara menahan pergelangan tangannya. "Lo salah orang kalau mau main kasar sama gue!" ucapnya sembari semakin mengeratkan genggamannya. Gabriela meringin menahan sakit dan kesal dihatinya.


"Sekarang jangan buat masalah lagi, sampai lo bikin semua orang begini lagi gue nggak segan nunjukin siapa gue sebenernya sama lo!!!" ancam Tiara melepas tangan Gabriela.


Wanita itu langsung mengusap usap pergelangannya sembari meniupnya. Ia terkejut saat dilihatnya pergelangannya sudah memar, hanya sebuah genggaman tapi bisa sampai seperti ini. Wanita apa sebenarnya Tiara ini, pikir Gabriela.


"Itu belum seberapa, aku bisa buat yang lebi parah lagi bahkan sampai kau memohon untuk mati saja" tambah Tiara dengan sorot gelapnya. Gabriela menatapnya kali ini ada sedikit tatapan takut dicampur kesal tentu saja.


Gabriela mengerang emosi setelah Tiara pergi meninggalkan ancaman yang sungguh berarti untuknya. Entah kenapa tatapan dan ancaman itu bisa membuatnya gentar dan ketakutan. Untung saja tak ada yang melihat karena semua orang tengah sibuk.


Semua kru saling bertepuk tangan setelah proses syuting akhirnya selesai di jam sembilan malam. Berkat ancaman Tiara, Gabriela bekerja tanpa protes dan tak cerewet lagi. Wanita itu sudah seperti kucing penurut saat Tiara hanya meliriknya dingin.


Saat semuanya sedang berkemas.


"Ra" panggil seseorang bersuara berat. Tapi bukannya yang dipanggil yang menoleh suara itu malah membuat perhatian semua orang tertuju padanya.


"Bu..., Bukankah itu Waren?" bisik seorang staf wanita dengan rekan kerjanya.


"Bukan, dia adalah dewa tampan" jawab rekannya dengan mata terus menatap sang idola.


Ya, pemilik suara berat itu adalah Waren Royse alias Erik Wijaya. Pria itu berniat menjemput Tiara dilokasi setelah meminta alamatnya pada Roy, sang sepupu yang merangkap menjadi manager juga CEO agensinya.


Awalnya dia ingin menunggu Tiara dipenthouse nya saja tapi saat sudah semakin gelap tapi wanita itu tak kunjung datang, Erik yang khawatir langsung mengambil kunci mobil dan menjemputnya.


Pria dengan setelan favoritnya yaitu celana jeans hitam dan long coat berwarna senada itu terus berjalan menghampiri Tiara yang sibuk dengan kegiatannya. Erik melingkarkan sebelah tangannya kepinggang Tiara yang membuat wanita itu reflek melirik tajam. Sedangkan yang lain malah memekik girang.


"Wah lihatlah lirikan maut ini membuatku semakin jatuh cinta saja" ucap Erik dengan senyum mengembang diwajahnya.


Alhasil dengan senyum alphaca itu membuat semua wanita yang ada disana memekik girang. Karena Waren Royse adalah salah satu penyanyi pria yang tak pernah sekalipun menunjukkan senyum sempurnanya, paling hanya senyum tipis. Pria itu dikenal dengan wajah dingin dan datar tapi suara bak malaikat.


Tapi lihatlah sekarang tatapan penuh cinta, nada lembut dan senyuman itu sukses menambah kadar sempurna untuk seorang Waren Royse.


Tapi untuk seorang Tiara yang tengah digoda itu malah melengos saja. "Untuk apa kamu kemari?" tanyanya. Dia tak peduli dengan tatapan semua orang padanya sekarang ini.


Erik berpindah tempat duduk di kursi depan Tiara sedang berkemas. "Menjemput kekasihku" jawabnya.


"Siapa, Gabriela?" Tiara mencibir.


"Kamu sayang" rayu Erik terkikik, ternyata Tiara masih kesal dengan kejadian sarapan.


Semua orang masih terus memperhatikan interaksi keduanya bahkan sampai rela menghentikan aktivitas mereka. Namun masih tak ada yang sadar untuk seger mengangkat ponsel mengambil gambar keduanya, karena tercengang dengan sikap manis Erik pada sang wanita.


Saat sedang sesi tanya jawab itu Faris menghampiri keduanya. "Mba, semuanya sudah selesai kita bisa pulang" ucapnya pada Tiara.


Faris melirik dan sedikit terkejut ternyata ada Erik disana. Dalam hatinya bertanya kenapa ada pria ini disini, tapi mengingat kejadian tempo lalu dikantor antara dia dan Tiara, Faris pun jadi peka.


"Oh, Tuan Waren sedang menunggu Mba Ara?" sapanya pada Erik. Yang disapa hanya melirik sambil berdehem.


"Kamu pulang aja duluan, Mba nanti sama dia aja" sambar Tiara karena merasa Faris mulai canggung dengan keadaan.


"Oh iya, kalau gitu aku duluan Mba".


"Kenapa hari ini kalian syuting sampai malam, biasanya juga sampai sore aja, waktu denganku juga hanya sekali sampai malamnya" tanya Erik.


Ditanya begitu Tiara jadi mengingat kekesalannya. "Ya karena Artis kali ini terlalu perfectionis, sangking sempurnanya sampai nggak perduli dengan staf dan kru".


Erik mengernyit berpikir. "Siapa?, Gabriela?" tanyanya. Tiara menggeram menjawabnya.


Sedang yang dibicarakan saat baru keluar dari ruang ganti pakaian dan melihat Erik, matanya langsung berbinar dan tanpa berpikir langsung menghampiri pria itu. Karena terlalu terhipnotis dengan ketampanan Erik, dia sampai mengabaikan dan membutakan mata pada Tiara.


Gabriela langsung berdiri didekat Erik dan mencari perhatian. "Kak Erik ngapain kesini, mau melihatku bekerja ya, tapi kan kakak jadwalnya padat nanti kakak cape" ucap wanita itu manja. Tangannya ingin menyentuh pundak Erik tapi pria itu sigap berdiri sedang Tiara tertikik dalam hati. Gabriela kesal dibuatnya.


Erik menjauh dari Gabriela dan memilih berdiri disamping Tiara, mengambil tas yang akan dipakai wanita itu dipunggungnya. Gabriela pun tercengan dibuatnya.


"Aku kemari untuk menjemput calon istriku, permisi" ucap Erik pamit merangkul pundak Tiara membawa wanita itu pergi tanpa sepatah kata lagi.


Gabriela kesal bukan main, diabaikan dan dibuat panas oleh Tiara membuatnya mengutuk wanita itu dalam hati. Ia tak terima dikalahkan dan dipermalukan begini, bagaimana pun caranya dia harus membalas Tiara dan membuat Erik beralih padanya.


Ia semakin cemburu saat melihat Erik berhenti hanya untuk melepas longcoatnya dan dipakaikan pada Tiara. Gigi Gabriela menggertak, harusnya itu posisinya, harusnya sikap Erik yang manis itu hanya untuknya bukan untuk wanita lain apalagi Tiara.


"Lihat saja aku akan merebutmu dari wanita serigala itu" Gabriela membatin.


Sedangkan Erik dan Tiara sudah memasuki mobil dengan diikuti tatapan penasaran, iri, kagum, juga baper orang orang disana. Mereka baru tersadar saat mobil lamborghini abu metalic itu melaju pergi, dan suara lantang Roy mengakhiri.


"Siapa saja yang sudah mengambil gambar, silahkan hapus dan jangan di share ini ancaman bukan peringatan!!".