
* Kejujuran akan menyakitkan, namun kebohongan akan lebih menghancurkan *.
*
*
*
*
*
Wijaya memijat pelipisnya pusing melihat kelakuan sang putra yang semakin jadi saja. Khayalan yang sebelumnya mengharapkan anaknya itu tinggal dirumah agar mereka bisa selalu makan bersama dan bercengkrama pupus sudah. Memang Erik tinggal dirumahnya tapi tak begini juga, setiap malam pulang dengan tubuh bau alkohol yang menyengat lalu pergi pagi pagi sekali tanpa bertemu yang lain. Mansion besarnya ini sudah seperti hotel saja dibuatnya.
"Eh Papa, kok masih duduk disini sih, ini sudah tengah malam loh". Erik menyapa dengan senyum dan tubuh yang limbung. Dia baru saja masuk ke mansion Wijaya dan bertemu sang Papa di ruang tamunya.
"Nunggu kamu pulang" jawab sang Papa tenang kemudian berdiri menghampiri.
Untung saja dia bukan Wijaya yang dulu lagi. Yang cepat emosi jika Erik berulah apalagi melawannya, cukup sekali dan terakhir beberapa tahun lalu tangannya berbicara. Jika tidak habis sudah sang Putra.
Sekarang Wijaya berusaha untuk menjadi Papa yang bijaksana dan patut dicontoh Erik saat dia punya anak kelak.
"Kamu darimana, kenapa baru pulang?" Wijaya bertanya seperti seorang Ibu yang khawatir anaknya terlambat pulang, tak salah juga bukan dia Papa kandungnya.
Erik menautkan kening. "Aku..., Kerja deh kayanya" jawab pria itu tertawa. "Lupa" tambahnya semakin tergelak saja.
Wijaya mendesah pasrah lalu menarik tangan Erik untuk ia papah, takut sang putra jatuh saat akan menaiki tangga menuju kamarnya.
"Oh, Papa bantu kekamar ya" ucapnya dan Erik tersenyum saja dengan kepala terus mengangguk.
Sesampainya dikamar Wijaya mendudukkan Erik diatas kasurnya, dan putranya itu malah langsung berbaring meringkuk tak lama pundaknya bergetar. "Rik" Wijaya menepuk pundak gemetar putra satu satunya itu.
Erik tak menjawab berpaling pun tidak tapi Wijaya tau, putranya itu tengah menangis tanpa suara atau bahkan air mata yang sudah lama kering.
Dia tahu sang Putra amat terluka dengan kenyataan yang ada, Wijaya juga sudah tahu sebabnya yaitu tentang pengakuan Tiara yang telah membunuh Erina dari cerita Sisil. Gadis itu sendiri tau dari Ridan.
Tapi untuk marah apalagi menuntut gadis itu Wijaya berpikir ribuan kali, anak gadis sahabatnya itu tak mungkin melakukan hal itu. Sekalipun Tiara adalah seorang syco. Mungkin tentang hal ini dia harus bertemu langsung dengan Hendri untuk membicarakannya.
Dan untuk sekarang dia akan lebih fokus pada Erik dulu, menyemangati agar pria itu tak merasa sangat tersakiti. Kenyataannya belum pasti.
"Terkadang sebuah pengakuan belum tentu berdasarkan kejujuran, karena mungkin ada alasan tepat dibaliknya" ucap Wijaya. "Kalau hatimu tak terima dan berkata Tiara bukan pelakunya, cobalah buktikan karena bisa jadi hatimu itu benar" lanjutnya sembari membelai kepala sang putra lalu meninggalkannya sendiri setelah berpesan untuk tidur.
Dan hebatnya Erik benar benar tertidur entah karena pesan Papanya, lelah menangis atau terlalu mabuk.
*****
"Ngapain kita kerumah kak Adit?" tanya Tiara bingung saat Aditya menghentikan mobil dihalaman luas mansion Prakasa.
Pagi tadi Tiara yang sudah rapi dengan celana bahan panjang juga kemeja kerja diberitahu jika Aditya mengizinkannya untuk tidak bekerja dan akan membawanya kesuatu tempat. Tapi tempat apa Tiara tak tahu, Aditya pun tak memberitahu. Hanya menyuruhnya bersiap saja, tapi Tiara tak mengganti pakaiannya langsung jalan saja jawabnya.
"Ada kejutan untukmu, kamu pasti suka" jawab Aditya mengembangkan senyum.
"Kejutan?" beo Tiara bingung. Aditya hanya tersenyum lalu membuka sefbelt Tiara setelah itu miliknya dan keluar dari mobil bersama dengan wanita itu.
"Apaan sih Kak?" tanya Tiara penasaran tapi wajahnya tak sesuai sebab sedari tadi wanita itu bicara ekpresinya datar saja.
Sudah bagus ingin bicara dan menjawab omongan Aditya dari pada dengan yang lain wanita itu hanya mengeluarkan suara jika penting saja. Hanya dengan Aditya dia bersiap berbeda. Mungkin merasa pria itu berjasa untuknya.
"Udah ayo masuk aja" jawab Aditya membawa Tiara masuk kedalam rumahnya.
"Tiara".
Sampai mendapat pelukan hangat dari orang yang amat dirindukannya itupun, wanita itu tetap diam. Tapi saat mendengar isakan kecil dari orang itu, Tiara sukses balas memeluk ikut menangis. "Mama" isaknya. Aditya tersenyum melihatnya begitu juga Prakasa dan istri juga Papa Tiara, Hendri.
Ya, setelah selesai melakukan berbagai macam bentuk terapi dan pengobatan dari Dokter spesialis kanker rekomendasi dari Erik, Mama Tiara menunjukkan perubahan yang baik. Bahkan sekarang bisa hanya rawat jalan saja dan berkesempatan menjenguk Tiara, putri yang dirindukannya.
Tiara melerai pelukan menyeka air mata dipipi sang Mama begitu juga Nurmi, menyeka air mata dipipi sang putri. "Mama apa kabar, pengobatan Mama lancar kan?" tanya Tiara ini ekpresi pertama yang ditunjukkannya. Sedih haru.
Nurmi membelai pipi putrinya. "Alhamdulillah semua berjalan baik, berkat bantuan Dokter teman Erik" jawabnya lembut.
Tapi bukannya ikut tersenyum bahagia Tiara malah terdiam. Nama seseorang yang disebut sang Mama membuatnya kembali teringat akan pria itu juga kesalahannya yang mungkin benar bukan karena dia sepenuhnya seperti kata Aditya.
Nurmi mengernyit mendapati ekpresi sang putri tapi Aditya cepat memahami. "Wah benarkah, berarti Adit sudah bisa ajak tante jalan jalan dong yah" sanggah pria itu ceria merangkul tubuh Mama Tiara dan membawanya duduk kembali kesofa. Agak sedikit lancang tapi demi kebaikan ibu dari orang yang dicintainya itu.
Ternyata tak hanya Aditya yang paham akan situasi tapi Prakasa dan sang istri sama pekanya, mereka langsung mengalihkan Nurmi dari kekhawatirannya. Begitu juga dengan Hendri yang memeluk sang putri.
"Maafkan Papa karena tak ada disampingmu saat kau terluka, bertahanlah semoga kamu kuat putriku tercinta" ucapnya membelai kepala Tiara sayang sedang wanita itu sudah menangis tersedu didada sang Papa.
"Dari tadi kita ngobrol terus nih, gimana kalai kita makan dulu" saran Prakasa Papa Aditya.
"Iya, kita makan diluar aja cari suasana lain" tambah Aditya. Mamanya pun menyetujui berhubung memang belum memasak apa apa karena Mala dan suaminya juga tak ada. Tiara dan keluarga mengikuti saja.
Setibanya direstoran sebuah hotel bintang lima rekomendasi dari Aditya. "Pesan satu meja keluarga" ucapnya pada salah satu pelayan menghampiri mereka.
Pelayan itu pun langsung mempersilahkan Aditya dan yang lain menuju salah satu meja panjang di sudut kanan restoran.
Rianti dan Nurmi tersenyum senang tiba tiba, bukan karena suami masing masing menarikkan kursi untuk mereka duduk tapi karena Aditya memperlakukan Tiara dengan hal yang sama. Terlebih saat Tiara tersenyum berterima kasih walau hanya sedikit pada Aditya. Sudah seperti pasangan serasi saja pikir kedua wanita yang masih cantik diusianya itu.
Begitupun saat memesan makanan Aditya akan menawarkan beberapa hidangan yang ada dibuku menu dan Tiara akan menggeleng jika tidak suka dan menganggukkan kepala saat ia suka.
"Ekhmmmmm" dehem Rianti mengkode. Semua orang paham akan kodenya tapi tak dengan Aditya juga Tiara yang polos polos saja.
"Mama kenapa keselek, minum dong" ucap Aditya santai membuat Rianti memutar bola mata malas. Prakasa dan Hendri tertawa karenanya.
Setelahnya mereka pun menikmati makanan yang sudah dihidangkan pelayan dengan sesekali mengomentari, biasa naluri ibu ibu. Dan para pria membahas masalah bisnis.
Hingga usai makan. "Sepertinya ini waktu yang bagus untuk membicarakan rencana kita Ndri" celetuk Andi Prakasa.
Hendri lebih dulu mengelap mulutnya sebelum menjawab. "Iya benar kita bicarakan disini saja" jawabnya.
Aditya sudah melirik berpikir ada yang penting dari pembicaraan keduanya sampai sang Papa menyebut namanya dan Tiara. "Adit, Tiara".
Yang disebut namanya sempat saling tatap, lalu menjawab. "Ya".
"Papa berpikir...." Andi sejenak menoleh pada Hendri yang mengangguk meyakinkan.
"Papa dan Om Hendri berencana ingin menjodohkan kalian, dan bulan depan acara pertunangan kalian akan dilaksanakan, kalian bersedia".
Deg.
Deg.
Deg.
Kalimat mendadak yang dilontarkan Andri Prakasa tak hanya mengejutkan Aditya dan Tiara tapi seseorang yang mendengar percakapan dua keluarga itu.
Detak jantungnya lebih bergemuruh dari pada Aditya dan Tiara, dialah Erik Wijaya.