
*Masa lalu tidak seharusnya membayangi masa depan, namun kesalahan pada saat itu sering membuatmu terjebak dimasa kini*
*
*
Aku mencintainya sangat, karena itulah aku melepaskannya. Aku tak ingin dia merasa bersalah karena sudah mencintaiku. Aku ingin dia bahagia walau aku harus menderita seumur hidup, kehilangan cinta dan memendam rasa bersalah. Tak apa, asal bukan dia tapi aku.
Aku akan memulainya hari ini, dia akan membenciku.
Dan akhirnya dia membenciku, bahkan sampai pergi menghilang. Aku berhasil, tapi kenapa aku menangis.
Sakit, aku tak kuat menahan rasa sakit ini. Tolong bantu aku melupakannya.
Kalau begini aku bisa gila.
*
*
*
*
*
Suara dari klakson kendaraan menjadi nyanyian memekakkan telinga bagi para pejalan kaki ditrotoar. Namun seakan tak perduli mereka berjalan dengan acuh, bahkan ada yang tertawa bersama temannya, ada juga yang sambil melihat lihat dagangan yang dijual didepan gedung berbaris. Menambah keramaian kota malam ini.
Beberapa menit lagi menuju Tahun Baru menjadi penyebab keramaian itu. Membuat semua orang mengadakan acara, entah bersama teman, kerabat, kekasih ataupun keluarga. Ada juga yang akan menikmati suasana tahun baru ditempat hiburan dimana sudah disiapkan segala pernak pernik Tahun baru.
Seperti biasanya penutupan Tahun selalu menjadi hal menggembirakan bagi semua orang. Terkecuali seorang wanita berambut panjang dengan poni tipisnya yang sekarang tengah berjalan seorang diri. Wajahnya datar tanpa ekpresi, melangkah diantara ramainya orang yang menutup tahun dengan suka cita.
Wanita itu sesekali menengadah menatap langit gelap penuh bintang, entah sedang memikirkan apa tapi pandangan itu nampak tengah menunggu. Menunggu apa dia pun tak tahu, hatinya hanya merasakan rindu yang berat untuk seseorang.
Sembari memasukkan tangan kedalam saku jaketnya, wanita itu melangkahkan kaki kemanapun anggota tubuhnya itu membawanya pergi. Ia tak sedikitpun ikut tersenyum ketika melihat tawa juga rasa gembira dari orang orang disekitarnya.
Seolah rasa gembira dan tawa lenyap dari kehidupannya, wanita itu setia dengan wajah datarnya.
Si wanita berwajah datar menghentikan langkah saat tiba diujung penyebrangan jalan, menunggu lampu berubah merah agar ia bisa menyebrang. Ia pun kembali melangkah menginjak garis garis putih tersusun rapi dihitamnya aspal jalanan yang ia pijak.
Entah sampai langkah yang keberapa ia tiba tiba berhenti bersamaan dengan pria yang tak jauh didepannya. Mata keduanya bertemu, tapi dengan sorot berbeda.
Sesaat kebisingan dan banyaknya orang yang menyebrang jalan menghilang. Menyisakan keduanya saling bertatapan dilengkapi dengan kristal salju yang perlahan turun dari langit.
Duar, duar, duar.
Suara letupan dan cantiknya warna kembang api diatas langit membuat tatapan wanita itu teralihkan keatas sana. Tahun baru sudah tiba, kembang api juga terompet saling bersahutan bunyinya. Tapi baginya hal itu tak menggembirakan, lihat saja setetes cairan bening terjatuh kepipinya. Ia menangis?.
Dengan jemari lentiknya ia mengusap air dipipinya, lalu menatapnya. "Kenapa?" gumamnya.
"Kenapa selalu dimalam ini aku menangis tanpa sebab" tambahnya lagi tak mengerti.
"Kamu juga nggak tau?" tanyanya entah pada siapa. "Kau saja tak tahu bagaimana bisa aku tahu" jawabnya sendiri.
Setelah sebentar lagi menatap warna cantik kembang api dilangit, wanita itupun kembali meneruskan langkahnya. Melewati pria yang sedari tadi menatapnya tanpa berkedip.
Pria berkacamata itu sampai berbalik melihat wanita yang semakin menjauh darinya itu. "Kak, kenapa ayo jalan" tegur gadis yang sedari tadi berdiri disampingnya sambil memeluk lengannya erat.
"Ah iya, ayo" ucap pria itu.
Tapi sampai tiba diujung penyebrangan langkah pria itu kembali terhenti, ia penasaran. Dan dari sela mobil yang berlalu lalang, lagi dia menatap wanita yang tengah memperbaiki tali sepatunya disebrang sana.
"Kak, " panggil si gadis yang pegangannya tadi terlepas dan telah berjalan lebih dulu karena tertarik melihat sesuatu.
"Kak Erik!!!!" teriaknya lagi kesal karena pria yang dipanggil panggilnya tak mendengarkan.
"Iya" jawab Erik melirik sesaat padanya lalu kembali pada wanita tadi yang sudah hilang entah kemana.
Erik menghela napas berat karenanya. "Tiara" gumamnya menyebutkan nama wanita itu.
*****
"Baiklah, karena program baru 'sepuluh hari bersama' kita mendapatkan rating cukup bagus dan diterima oleh penonton, saya mau minggu depan kalian sudah melakukan proses syuting kembali".
"Gilang, untuk persiapannya bagaimana" tanya sang Direktur utama pada pria itu.
"Sejauh ini baik Pak Aditya," jawab Gilang mantap selaku Produser.
Direktur utama yang disebut Aditya itupun mengangguk. "Kalau begitu kau jalankan dengan anggotamu yang lain".
"Baik, Pak".
"Oh iya, dan untuk artisnya kali ini boleh saya yang mengusulkannya?" tanya Aditya.
Ditanya seperti itu Gilang malah jadi bingung, baru kali ini sang Direktur ingin mencampuri siapa artis pengisi acaranya. Biasanya pria itu hanya terima beres saja. Sampai beberapa orang yang ada disana nampak tak percaya.
"Bo, boleh Pak silahkan, siapa artis yang akan anda usulkan?" ucap Gilang tergagap.
"Waren" jawab Aditya cepat.
Gilang menautkan alis, mengingat nama siapa yang disebutkan sang bos itu. "Waren, artis luar negri itu?" tanyanya tak percaya.
Karena programnya termasuk baru dan hanya bisa mengundang artis lokal saja. Jika harus artis luar yang akan mereka ajak bekerja sama, akan memakan lebih banyak biaya. Persiapannya pun harus diatur ulang kembali nantinya.
Walaupun sudah pasti jika mereka bekerjasama dengan artis itu, rating acara akan lebih tinggi. Mengingat seorang penyanyi bernama belakang Royse itu mempunyai banyak fans diseluruh dunia. Dan satu hal lagi, apa artis terkenal seperti dia mau mengikuti program yang beberapa kali tayang ditv itu.
Aditya mengangguk mantap. "Tiga hari lalu dia memutuskan untuk tinggal dinegara kita, aku mau kalian mengulik kesehariannya dan mencari alasan kenapa dia memilih negara kita untuk menetap".
Setelah beberapa percakapan membahas beberapa program lagi, rapat pun mereka sudahi.
Gilang kembali dan duduk dikursi kerjanya, dengan helaan nafas yang membuat semua orang disekitarnya bingung, harus khawatir atau lega.
"Gimana bang, program kita dilanjutin nggak?" tanya salah satu anggota team program hiburan yang dikepalainya.
"Lanjut" jawab Gilang yang membuat anggotanya berseru senang. "Tapi ada satu masalah" tambahnya. Semua anggota menatapnya dengan masing masing tautan alis mereka.
"Pak Aditya mau artis yang bekerjasama dengan kita nanti itu, Waren".
Lima anggotanya dibuat takjub, sekaligus heran. "Waren Royse?" beo mereka yang diangguki sang produser.
"Gimana bisa kita manggil dia untuk gabung acara kita, dia itu artis mancanegara" ucap salah satu dari mereka mengingatkan. Dan hal itu juga menjadi salah satu beban pikiran Gilang, pria yang sudah sepuluh tahun berkecimpung didunia pertelevisian. Seingatnya jarang sekali ada artis terkenal yang mau bekerja sama dalam acara baru, apalagi yang diminta Aditya itu. Artis mancanegara. Lagi pula jadwal penyanyi tampan itu pasti padat sepadat jalanan ibukota.
Siapa tak kenal Waren Royse. Seorang penyanyi muda berbakat yang terkenal di salah satu negara tetangga. Suaranya yang berciri khas berat, juga wajahnya yang tampan bak pahatan termahal dari pengrajin bernama Tuhan itu dalam sekejap dapat menghipnotis penikmat musik terutama wanita, jadi mengidolakannya.
Padahal pria itu memulai debutnya dari agensi kecil, juga saluran Tv yang jarang ditonton orang. Tapi karena bakatnya yang memang patut diacungi jempol, pria berdarah jerman indo itu terkenal bahkan mencapai seluruh dunia. Terbukti dengan banyaknya yang memutar lagunya diradio dan youtube.
"Dan dia tinggal dinegara belahan bumi lainnya". Salah satu dari mereka menambahkan.
Putus sudah semangat mereka, apalagi yang meminta adalah sang Direktur utama. Yang mau tak mau, bisa tak bisa harus dituruti.
"Kata Pak Aditya, dia sudah ada disini dan akan menetap untuk sementara waktu" jawab Gilang yang membuat semua mengerjap.
Gilang melirik salah satu anggota divisinya yang sedari tadi diam saja, menatap layar komputer didepannya. Ia mendekatinya. "Ra, tugasmu kali ini sepertinya akan lebih sulit" ucapnya, membuat wanita berponi tipis itu menoleh.
Gilang yakin walaupun Tiara tak merespon sedikit pun dari pembicaraan mereka. Wanita berumur dua puluh delapan tahun itu pasti mendengar dengan seksama dan tengah menyusun rencana. Lihat saja dilayar komputernya saja sekarang sudah terpampang wajah tampan Waren dengan beberapa info mengenainya.
"Tak masalah." jawabnya singkat.
Beberapa anggotanya pun ikut mendekat menyemangati Tiara selaku PA. "Semangat kak" ucap mereka yang hanya mendapat lirikan datar dari Tiara lalu kembali fokus pada layar komputernya, tanpa senyum dan balasan.
Tapi mereka yang mengenal Tiara kurang lebih tiga tahun itu sudah biasa dengan sikapnya. Wanita yang digosipkan sebagai kekasih Direktur utama itu, memang memiliki sikap datar dan dingin. Tapi sebenarnya lembut dan penyayang. Hanya saja yang mereka bingungkan adalah bagaimana cara Tiara membujuk pihak Waren untuk mau mengikuti program mereka.
Karena sesuai dengan sikapnya, Tiara bukanlah tipe wanita yang mengenal semua artis walaupun ia bekerja dibidang pertelevisian. Wanita itu hanya akan mencari tahu jika artis tersebut akan bekerja sama dengan acaranya.
"Ya sudah, kembali lah bekerja" ucap Gilang mengkomandoi anak buahnya.
"Oia kamu bisa menghubungi pihak mereka lewat sini" ucap Gilang memberikan selembar kertas berisikan nomor nomor pemberian Aditya diruang metting tadi pada Tiara.
Sebelum kembali kekursinya, Gilang kembali berbalik dan berkata. "Waktunya hanya sampai minggu depan, jadi lakukan persiapan baru dengan teliti".
"Hah!".
👩💻 Lanjut atau nggak nih????.