Forget You, Remember Love

Forget You, Remember Love
Ep.18



Sepuluh tahun tak ada artinya bagiku, tapi setelah bertemu dan kembali tak melihatmu walau seharipun jujur aku merindu.


*


*


*


Erik berjalan bolak balik didalam kamarnya, merasa resah, gundah, gelisah telah menyerangnya. Sejak kembali dari aula untuk konser mininya tadi Erik sudah uring uringan seperti itu.


"Haish" desah Erik menghempas tubuhnya keatas kasur frustasi.


Erik kembali mengambil ponsel disamping kepalanya, membuka paswordnya. Ia menatap layar yang hampir berukuran tujuh inci itu, gambar seorang wanita yang dieditnya, dikanan terlihat lebih muda dan dikiri terlihat lebih dewasa. Siapa lagi kalau bukan Tiara.


"Bagaimana keadaannya?" Erik bertanya entah pada siapa.


Dan bodohnya dia baru sadar kalau diponselnya sudah ada nomor Tiara. Kenapa tak dia hubungi saja wanitanya itu. Ia pun bergegas mendial nomornya.


"Halo". Erik mengernyit saat yang menjawab panggilannya bukan Tiara tapi suara seorang pria yang dikenalinya, Aditya.


Ia menatap kembali layar ponselnya, tapi benar ini nomer Tiara lalu kenapa Aditya yang menjawab dijam larut begini pula.


"Kenapa lo yang jawab?!" tanya Erik jutek.


"Ya karna lo nelpon makanya gue jawab" balas Aditya.


Erik memutar bola matanya jengah. "Ni nomer cewek gue pe'a napa lo yang angkat".


"Idih, ngaku ngaku, udah resmi belom".


Erik terdiam merasa kesal atas sindiran Aditya. "Mana Tiara, ngapain juga lo dirumahnya, balik sono" tukasnya.


"Tiara lagi cuci muka, bukan gue yang dirumahnya tapi dia yang dirumah gue".


Erik terbangun dari baringnya, terduduk tegap setelah mendengarkan pengakuan Aditya. "Lo bawa dia kerumah lo, gila lo!!!, terus apa lo bilang tadi dia cuci muka, kalian satu kamar, musuh dalam selimut emang lo ya!!!".


Tak gentar dengan amukan Erik, Aditya malah terkekeh geli ditempatnya. "Gimana gue tega biarin dia sendirian dirumahnya, kalau dia pingsan lagi gimana?".


"Ya tapi nggak kerumah lo juga, mana beduaan aja!". Erik memang sudah tau jika Aditya tinggal disalah satu apartemen mewah sendirian.


"Terus mau gue bawa kemana, rumah lo, lo lebih nggak bisa dipercaya".


"Kau!!!!".


"Siapa kak?". Erik tercengang, itu benar benar suara Tiara jadi mereka sekarang benar benar bersama. Tangan Erik terkepal kesal.


"Tau nih udah salah sambung pake marah marah lagi". Erik semakin kesal saat Aditya malah mengatakan dirinya salah sambung lalu mematikan sambungan telfonnya.


"Arghhhhh, sialan dasar keparat, awas saja kau nanti!!!" pekik Erik kesal membanting ponselnya kekasur.


Dirumah besar milik Keluarga Prakasa.


Tiara masih menyeka wajahnya dengan handuk didepan sebuah cermin full body yang lebih tinggi darinya itu. Selepas pertanyaannya dengan siapa Aditya berbicara ditelponnya. Diapun acuh saja saat pria itu menjawab jika panggilannya salah sambung.


"Maaf Ra, kamar tamu masih direnov jadi kamu tidur disini dulu yah" ucap Aditya sambil mengambil pakaian ganti, karena memang itu niatnya kemari.


Tiara mengangguk. "Iya nggak papa, tapi kakak tidur dimana kalo aku disini?".


Aditya terkekeh. "Kakak mah gampang, dimana aja bisa".


"Ini gara gara Mala nih, yang ribet banget minta semua kamar direnov gegara camernya mau datang, terus dia tidur dikamar Papa Mama". Aditya menyalahkan sang adik.


Tiara tersenyum. "Dia mah dari dulu juga udah ribet, kalau nggak ribet bukan dia pokoknya".


Mereka berdua tertawa bersama. "Ya udah kamu istirahat, tidur jangan begadang lagi, masalah kerjaan udah kusuruh Gilang handle dulu, nggak usah khawatir" ucap Aditya berjalan kearah pintu kamarnya. Tiara menganggukkan kepala. "Mmmm, makasih kak". Aditya pun keluar dari kamarnya.


Tiara yang sedari tadi sudah berpiyama pun merebahkan tubuhnya diranjang berbau maskulin itu. Walaupun Aditya sudah hampir sebulan tak tidur dikamar ini namun tetap saja wangi maskulin pria itu menempel disini.


Drrtt, drrt, drrt.


Tiara mengambil ponselnya yang diletakkan Aditya diatas nakas samping ranjang tadi. Nomor tak dikenal memanggil. Siapa, pikir Tiara mengernyit. Mungkin salah sambung lagi seperti kata Aditya tadi. Tiara pun mengabaikan panggilannya, lebih memilih untuk menutup mata. Tapi saat ponselnya terus bergetar tanpa henti Tiara jadi kesal sendiri.


"Siapa sih?" jawabnya kesal.


Tiara mengernyit memdengar suara berat pria yang amat dikenalinya itu. Pria yang beberapa hari lalu amat dibencinya, tapi sekarang entah kenapa selalu diingatnya. Terlebih lagi selalu ada kilas bayangan saat mereka tengah berdua. Seperti Tiara pernah dekat dengannya, tapi kapan dan dimana. Tiara penasaran dengan hal itu, dan Anita pun tak tahu saat ditanyainya.


"Ra..., Tiara" panggil Erik disebrang sana.


Tiara terhenyak, berdehem sebentar. "Apa?".


"Ada apa, kamu melamun, dari tadi kupanggil nggak jawab".


"Nggak, kamu ngapain nelpon malam malam gini, kurang kerjaan?".


"I miss you".


Tiara terdiam, merasakan ada yang aneh dengan dirinya. Sejak kapan hanya dengan sebuah ucapan rindu bernada datar dari seorang pria membuat hatinya menghangat. Padahal Aditya pernah mengucapkannya tapi Tiara hanya menanggapi dengan tawa.


Tiara tertawa sumbang. "Kau bercanda, kau cari mati yah".


"Kalau matinya ditanganmu aku tak masalah".


"Crazy man".


"I'm crazy because of you".


Tiara berdecih dengan tawa gelinya. "Kenapa kamu jadi menjijikan begini, padahal kemarin kau seperti pelaku pembully dan aku korbannya".


"Because, I Love You".


Tiara kembali terdiam. "Bagaimana persiapan konsermu?". Ia mengalihkan pembicaraan, bingung dengan hati yang mulai berdebar.


Dan disebrang sana Erik menghela napas berat. "Lancar, kamu bisa datang kan lusa juga syuting terakhir program kita?". Erik meladeni.


"Hmmmm, maybe".


"Datanglah" mohon Erik karena jika Tiara tak hadir dalam konser itu, rencana yang sudah rapi disusunnya akan berantakan.


"Aku nggak janji".


"Oke baiklah, tidurlah sudah malam, jangan lupa minum obatmu, dan jangan lupa mimpikan aku, good night". Erik memutus panggilannya tanpa menunggu jawaban dari Tiara, dipagar balkon kamarnya ia bersandar dengan senyum yang terbit diwajahnya. Ia sudah lega hanya mendengar suara merdu wanitanya.


Sedangkan Tiara memejamkan matanya dengan tangan meremas rambutnya. Kata terakhir dari kalimat Erik tadi membuat Tiara kembali melihat sekilas bayangan yang ia tak tahu itu apa. Yang pasti diketahuinya semuanya seperti dejavu.


Tiara menatap layar ponselnya masih dengan sedikit ringisan diwajahnya. "Sebenarnya siapa kau?".


*****


Hari Konser Mini Waren Royse.


"Kamu yakin mau pergi, udah sehat benar memangnya?" tanya Mala khawatir pada sang sahabat yang sudah memakai tasnya.


Tiara menganggukkan kepalanya. "Tapi disana nanti bakal banyak orang Ra, pasti pengap".


"Aku kesana bukan buat jadi penonton, aku team produksi sebuah acara ada tempat khusus buatku".


Ucapan Tiara itu memang tak sepenuhnya sebuah alasan, karena memang tugasnya sebagai PA lapangan. Tapi sebenarnya bisa digantikan karena kesehatannya yang menurun kemarin, namun karena sebuah permintaan memelas dari seseorang Tiara terpaksa pergi juga.


"Kalau kamu khawatir kenapa nggak ikut sama aku aja, kamu juga nggak ada pemotretan kan" tambah Tiara.


Mala melengos. "Ogah aku nonton begituan, mending nonton konser BTS" tolaknya tegas.


Tiara mengernyit. "Apa bedanya, sama sama konser juga".


"Ya jelas beda lah!!!".


"Terserahmu aja dah aku pergi yah, Kak Adit udah nungguin dimobil, kalau Mama pulang bilang aja aku kerja". Pesan Tiara karena Rianti pergi kesalon beberapa jam yang lalu.


"Hati hati kak" seru Mala melambai pada sang kakak yang duduk dikursi kemudi mobilnya. Tiara sudah masuk kedalam kendaraan itu sedari tadi.


"Iya, sana masuk jangan makan terus ingat profesi".


"Ishh, iya iya".


Aditya pun menjalankan mobilnya meninggalkan pelataran rumah besar milik sang Papa.