Forget You, Remember Love

Forget You, Remember Love
Ep.7



_Inilah caraku membuatmu bahagia, merelakanmu untuknya_.


*


*


*


Aditya yang tengah berjalan seorang diri sambil menikmati dinginnya udara malam, terkejut melihat Tiara duduk seorang diri dikursi pinggir tebing berpagar.


Pemuda yang kala itu berusaha mengobati rasa sakit dihatinya itupun mendekat, walau ia tahu perasaan itu bukannya sembuh malah bertambah. Karena pelaku penyakit hatinya itu adalah Tiara, gadis yang duduk termenung sendiri itu.


"Sedang apa disini?" tanya Aditya dengan senyumnya seperti biasa.


Pemuda itu tak pernah sekalipun menunjukkan kekecewaannya didepan Tiara, meskipun saat gadis itu menolak pernyataan cintanya dengan tegas kemarin malam.


Tapi alangkah terkejutnya Aditya begitu Tiara menengok dengan linangan air mata dipipi mulusnya. Pemuda itu langsung melompat berjongkok kedepannya.


"Hey, kau kenapa, kenapa menangis disini ada apa, apa aku ada salah hemmm, katakan jangan menangis seperti ini" ucapnya panik menggenggam lengan Tiara.


Bukannya menjawab atau menghentikkan tangisnya, Tiara semakin terisak saja. Aditya pun semakin gelapan dibuatnya, tak tahu harus berbuat apa karena tak tahan melihat orang yang dicintainya menangis. Aditya pun duduk kembali disamping Tiara, lalu menarik tubuh gadis itu dalam pelukannya.


"Sudah jangan menangis lagi, ada aku disini". Aditya membelai lembut kepala Tiara untuk menenangkan gadis yang sesenggukan di dadanya itu.


"Aku harus apa, Kak?" tanya Tiara pada akhirnya setelah beberapa menit terdiam.


Aditya bingung, harusnya ia yang bertanya seperti itu tapi kenapa malah Tiara yang mengucapkannya. Apa yang terjadi pada gadis ini sebenarnya. Ia yang sedari tadi masih memeluk Tiara kini melepaskannya.


"Memangnya kamu harus apa, apa yang terjadi ada yang menyakitimu lagi hemmm?".


Tiara menggelengkan kepalanya. "Aku, aku yang menyakitinya".


"Siapa, siapa yang kamu sakiti?".


Tiara mendongak. "Erik" jawabnya lemah membuat hati Aditya juga ikut lemah. Lagi lagi pemuda itu, pikirnya.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Tiara putus asa.


"Aku tak bisa menjawabmu, tapi apapun yang kamu lakukan aku akan mendukungmu dan membantu apapun itu" jawab Aditya.


Tiara pun terdiam menatap Aditya yang menatap kosong kedepan. "Kakak bisa membantuku" ucapnya yang membuat Aditya menoleh.


Dan keesokan malamnya bertepatan dengan malam akhir tahun, Tiara membawa Aditya ketempat dimana ia berjanji bertemu dengan Erik. Baru tiba ditempat itu Tiara sudah berkaca kaca, melihat begitu banyak lampu kecil berkelap kelip, bunga bertebaran membentuk sebuah jalan yang didepan sana lengkap dengan pernak pernik nan romantis.


Aditya yang melangkah dibelakangnya pun mengedar pandang. "Kamu benar benar mau melakukannya, sepertinya dia akan menyatakan cintanya padamu?".


Tiara mengangguk lemah. "Kamu yakin?" tanya Aditya lagi. "Bantu aku Kak" mohon Tiara memelas membuat Aditya mendesah pasrah.


"Baiklah, tapi kamu tetap tak ingin mengatakan alasannya padaku, kenapa kamu menolaknya?".


"Maaf Kak, aku belum siap".


Aditya melirik kebelakang Tiara, terlihat Erik muncul berlari dengan sebuket bunga ditangannya. "Kita mulai".


Aditya langsung menarik tubuh Tiara kedalam pelukannya, lama sampai Erik melihat mereka. Namun pelukan balasan dari Tiara membuat Aditya terbawa perasaan. Saat mereka melepas pelukan Aditya benar benar ingin mengecup bibir bergetar itu. Namun tak dilakukannya karena ia tahu semua itu bukan miliknya. Aditya hanya memperagakan adegan mesra tanpa menyentuh sedikitpun bibir Tiara.


Benar saja seperti apa yang direncanakan keduanya Erik mengamuk. Kesempatan itu digunakan Tiara mengeluarkan kalimat menyakitkannya untuk Erik.


Saat itu Aditya sadar betapa hancurnya hati Tiara melepaskan pemuda yang dicintainya begitu saja. Walaupun pasti ada alasan yang disembunyikan gadis itu.


Lihat saja, bahu yang dirangkulnya ini bergetar.


Setelah Erik pergi, Tiara yang sedari tadi berusaha kuat akhirnya terjatuh menangis sekuat yang ia bisa. Rintihan yang amat menyakitkan darinya membuat Aditya tak kuasa melihatnya.


Pemuda itu mendekat membantu Tiara untuk berdiri pergi dari tempat ini, tapi belum sepenuhnya berdiri Tiara pun tumbang dalam pelukannya. "Tiara!!".


*


*


*


*


*


*


Erik sengaja memblokir semua akses dari masalalunya selama ini sampai ia seterkenal ini. Dan sekarang ia kembali. Tapi sebuah kejutan didapatkannya, membuat banyak sekali pertanyaan berkeliling dikepalanya.


Aditya baru saja menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dimalam itu, walau perjanjiannya dengan Tiara melarangnya. Karena ia tak tahan melihat keadaan Tiara yang menyedihkan menurutnya, walau setiap harinya wanita itu terlihat bahagia.


"Sejak malam itu Tiara menjadi pendiam, dingin dan penyendiri, apalagi saat dia tau kau pergi menghilang. Kami sudah menghiburnya tapi Tiara tetap terus menangis dan menangis".


Erik terdiam mendengarkan semua cerita dari Aditya tanpa menyela, kini semua jadi masuk akal baginya.


"Aku sempat juga meninggalkannya karena harus melanjutkan study ku, saat aku kembali sikap Tiara sudah berubah dan dia juga melupakanmu semua tentangmu" tambah Aditya.


"Tapi kenapa?". Hanya pertanyaan itu yang bisa keluar dari bibir Erik, padahal banyak sekali pertanyaan yang ingin ia tanyakan.


"Aku juga tak mengerti pasti kalau kau ingin tau, temui Mala dia mungkin tau alasannya".


"Kenapa kau menceritakan semua itu padaku, bukannya kau juga mencintainya?".


Aditya meringis. "Sangat, karena itu aku ingin dia bahagia, dan aku tau kebahagiannya bukan bersamaku, tapi dengan pria bodoh sepertimu".


Erik mendengus. "Kau yang bodoh".


"Tak apa, asal wanitaku bahagia" jawab Aditya dalam hatinya.


*****


Erik kini duduk dibalkon kamar Apartemennya, memikirkan semua yang ceritakan Aditya tadi. Dia tak tahu jika selama ini bukan hanya dirinya yang tersakiti tapi juga Tiara. Apalagi malam itu, dari cerita Aditya dia bisa merasakan bagaimana hancurnya Tiara melepaskannya.


Sampai Tiara melupakannya. Wanita itu pasti amat terluka. Pantas saja di malam tahun baru itu saat mereka pertama kalinya bertemu setelah berpisah, Tiara menatapnya kosong.


"Kenapa, kenapa kau rela menderita demi melepasku pergi Ra, kenapa?".


Erik mengambil ponsel disampingnya, menghubungi Jeje. "Apa jadwalku besok?" tanyanya tanpa basi basi setelah Jeje menjawab panggilannya.


"Besok pagi kita ada syuting lagu terbarumu, sorenya rekaman, malamnya...".


"Batalkan jadwal malamku, aku ada urusan pribadi".


"Tapi, Waren...".


Erik memutus panggilannya, tak perduli jika Jeje tengah mengomel disana. Baginya Tiara adalah prioritas pertama, dan ia takkan lagi melepaskannya. Kali ini ia akan berjuang sekalipun wanita itu menghempas hatinya keantartika sekalipun.


"Aku akan kembali membuatmu mencintaiku, karena Keong hanya milik Kodok seorang" klaim Erik yakin.


*****


"Superstar kaya lo emang nggak sibuk, malam malam gini malah ngajak cewek orang ketemuan".


Erik melengos mulutnya berdecih, melihat Aril sudah duduk disampingnya. "Espresso satu" ucapnya pada pelayan yang menghampiri.


"Yang gue ajak ketemu juga cewek orang kenapa lo yang sewot".


"Orang itu gue, goblok!!".


Alhasil Erik tertawa terbahak. "Pantes, dateng dateng tu muka udah pait aja kek kopi yang lo pesen".


"Sialan!" umpat Aril kesal. "Ngapain lo ngajak Mala ketemuan?" tanyanya.


"Mau nikung pacarnya, tapi ketahuan duluan" jawab Erik sekenanya yang langsung disorot tajam mata Aril.


"Segitu sayangnya lo sama dia?".


"Banget".


"Ckck, sayang doang tapi nggak ngajak nikah, pacaran lama banget kek kredit villa puncak lo" sindir Erik. "Ingat Ril pepatah mengatakan, yang setia bakal kalah sama yang ngelamar langsung kerumah".


"Lo ndiri apa kabar, kangen ditahan mpe sepuluh taon, giliran ketemu cuman bilang hay senang kerja sama kamu, paan. Superstar doang tapi ngomong gelapan".


"Ganteng doang tapi nggak peka, dibuang kelaut bagus kali ya" kali ini Mala yang berucap berdiri disamping meja sambil bersidekap dada. Membuat kedua pria itu meringis merasa tersindir.


"Duduk yang" ucap Aril menarik kursi disampingnya untuk sang kekasih yang sudah masam wajahnya itu. Erik berdecih. Tipe tipe Susis ternyata temen gue.


"Jadi Kak Adit udah cerita semua sama kamu?" tanya Mala setelah meminum jus jambunya.


Erik mengangguk. "Katanya kamu yang tau kenapa Tiara melupakanku".


Mala menghela napas panjang sebelum bercerita. "Hari itu......