Forget You, Remember Love

Forget You, Remember Love
Ep.56



_Mungkin kalian mengira ada cinta didalam sebuah 'Mempertahankan'. Tapi ada juga cinta yang tak kalah besar dari sebuah 'Melepaskan'_.


*


*


*


"Selamat pagi Tuan Muda". Deretan pelayan dan penjaga rumah menyambut kedatangan Erik dan Roy dimansion besar keluarga Wijaya.


Erik langsung saja kemari setelah mengantar Tiara yang juga baru hari pertama bekerja setelah insiden kebakaran. Ditemani Roy sang manager sekaligus sepupu yang hari ini merangkap sebagai supir pribadinya.


Ia membalas sapaan semua orang hanya dengan anggukan dan senyuman tipis. Memang seorang Erik hanya bisa bersikap lembut dan manis jika didepan Tiara saja, selebihnya masa bodo dia.


Pak Budi kepala pelayan sekaligus pengurus rumah Wijaya ini pun mendekat dengan hormat pada sang Tuan Muda. "Dimana Sisil, Paman?" tanya Erik sopan pada pria seumuran sang Ayah itu.


"Nona muda masih dikamarnya, Tuan" jawab Pak Budi.


Setelah dijawab Erik berlalu, berjalan santai kelantai dua rumah ini tepatnya menuju kamar sang adik. Tak sedikitpun menanyakan sang Ayah atau Ibu sambungnya, membuat Pak Budi tak enak hati.


Seperti itulah Erik dirumah ini sejak dulu apalagi setelah sang Ibu meninggal dan sikap sang Ayah berubah padanya. Ketegangan disaat mereka bertatap muka dulu terbawa sampai detik ini. Yang sebenarnya bukannya Erik membenci Ayahnya hanya saja ia tak sedekat itu untuk bisa seperti Ayah dan anak lainnya. Begini pun sudah nyaman untuknya.


Roy menggeleng melihat kelakuan sang adik sepupu. "Uncle dan Aunty dimana, Pak" tanyanya pada Pak Budi.


"Ada diruang makan Tuan sedang sarapan" jawab Pak Budi.


"Emmm, kalau begitu aku kesana saja" ucap Roy memilih pergi menyapa sang Tuan rumah diikuti Pak Budi.


Begitu sampai dilantai dua Erik yang ingin berbelok kearah kanan terhenti kala ekor matanya melirik sudut bersebrangan. Dilihatnya pintu putih gading diujung kirinya dan tanpa sadar langkahnya berbalik kesana.


Erik terdiam sesaat ketika menyentuh daun pintu itu, menarik nafas panjang lalu membuangnya. Pelan pelan ia menurunkan daun pintu dan mendorongnya.


Erik tak membuka pintu itu lebar lebar hanya untuk dirinya bisa masuk kedalam kamar itu saja. Dan yang pertama ditangkap iris abunya adalah kegelapan.


Sebelum berjalan lebih jauh Erik menyalakan lampu yang saklarnya tepat disebelah pintu. Kamar itu langsung menunjukkan segala apa yang ada didalamnya, bertema pink dindingnya serta barang barangnya. Masih tetap sama seperti belasan tahun yang lalu, tak ada yang berubah. Mungkin sang Ayah tak pernah merombak kamar ini, malah dibersihkan setiap hari. Terbukti dari rapi dan tak adanya debu dikamar ini.


Hanya ada satu yang berbeda, wanginya. Wangi itu tak ada lagi disini, ia juga sepertinya ikut pergi dengan si pemilik kamar ini.


Erik duduk dikasur yang masih berwarna pink itu juga dengan beberapa boneka yang tersusun rapi dikepala ranjangnya. Ia mengambil salah satunya.


"Kakak jangan pegang teddyku!" sentak seorang gadis kecil yang membuat Erik seketika tercengang.


Gadis kecil berkepang dua itu tiba tiba muncul dari arah balkon kamar berjalan tegas kearahnya dengan ekpresi garang. Gadis itu lalu merebut boneka yang dipegang Erik.


"Mau ngapain kakak pegang pegang teddy?!" tanya gadis itu garang. Dia sudah memeluk boneka beruang bernama teddy itu dalam dekapannya.


"Pegang aja nggak boleh pelit banget sih" ucap Erik.


Seketika Erik menoleh, ia melihat bayangan dirinya yang masih kecil ada disampingnya duduk persis seperti dirinya sekarang.


Erik kecil pun kembali mengambil boneka lainnya. "Ish, kakak jangan pegang Cici, Lili, sama Dede dong" cekal gadis kecil itu mengambil semua bonekanya dari Erik kecil.


"Ckckck, boneka aja dikasih nama" sindir Erik yang kesal tak dibolehkan memegang boneka barang sebiji saja.


"Biarin aja, suka suka aku lah, mereka semua kan punyaku" ucap gadis kecil itu. Dengan tangan mungilnya ia kembali menyusun boneka boneka itu dikepala ranjangnya.


"Oh punyamu" ucap Erik dengan senyum jahilnya. "Terus kalau kamu berarti punya kakak ya" ucapnya memainkan rambut gadis kecil itu.


Hingga membuat gadis itu memekik kesal. "Kakak aku bukan boneka!!!".


Alhasil Erik berlari mengelilingi kamar itu dikejar oleh gadis kecil tersebut, kemudian mereka perang bantal sambil tertawa tawa bahagia.


Erik tersenyum geli melihat bayangan itu, berada dikamar ini mengingatkannya kembali pada kenangan manis dengan sang adik. Adik yang paling ia sayangi.


"Apa kabarmu boneka kecilku?" gumam Erik menatap foto diatas nakas.


"Kakak disini?". Erik berbalik lalu tersenyum walau tak secerah senyumnya ketika melihat Tiara.


Sisil ikut masuk kekamar itu setelah tadi melihat pintunya sedikit terbuka dan mendapati Erik didalamnya. Melihat sang kakak menatap sendu pada foto diatas nakas ia pun mengerti.


Erik segera berdiri. "Iya nggak sadar tadi kesini, ayo kita keluar" ucapnya membawa Sisil keluar dari kamar itu.


Sisil mengikuti dibelakangnya sambil terus menatap pundak lebar sang kakak. "Apa aku harus menceritakan semuanya denganmu kak?" tanyanya dalam hati.


*****


"Jadi Erik terluka karena menyelamatkan Tiara?" tanya Tuan Wijaya.


Ia amat khawatir melihat berita kebakaran yang membuat Erik terluka tersebut bahkan sampai tak tidur semalaman. Hati Ayah mana yang tak gelisah jika mendengar anaknya terluka, walau sikapnya begitu keras dengan sang anak.


Wijaya sebenarnya amat menyayangi putranya itu satu satunya peninggalan dari sang istri pertama yang dicintainya.


Tapi walaupun sudah melihat berita, Wijaya enggan untuk menjenguk Erik dirumah sakit atau sekedar bertanya pada sang putri tentang keadaan anaknya itu. Bukan apa ia tahu sang putra memiliki sifat yang dingin padanya sejak hari itu.


Dan barulah sekarang ia tahu alasan kenapa Erik mau mengorbankan diri berhadapan dengan api. Ternyata untuk menyelamatkan Tiara anak dari sang sahabat yang sudah lama tak berjumpa.


"Uncle kenal Tiara?" tanya Roy heran.


Wijaya mengangguk. "Tiara itu putri sahabat Uncle, dulu dia dan Erik satu SMA" jawabnya.


Roy pun seketika mengingat. "Jadi Tiara itulah gadis yang membuat Erik melamun setiap malam" ucapnya dalam hati. Dulu saat di Jerman ia sempat bingung dengan kebiasan Erik yang selalu melamun dibalkon saat malam hari sambil memegang selembar foto. Sekarang dia tahu alasannya.


Sedang sang Uncle memikirkan hal berbeda. "Jadi anak nakal itu masih berhubungan dengan Tiara rupanya".


"Lalu bagaimana keadaan Erik apa dia sudah benar benar sehat?" tanya Sintia, ibu sambung Erik. Walaupun bukan anak kandungnya tapi Sintia menyayangi Erik seperti putranya sendiri hanya saja keduanya tak dekat. Erik lebih dekat dengan Sisil putrinya dibanding dirinya.


"Ckck, gimana nggak cepet sehat aunty kalau yang rawat tiap hari pacarnya sendiri" jawab Roy sebenarnya cemburu dan membuat Sintia juga Wijaya terkikik.


"Pagi Ayah, Pagi Ma" sapa Sisil ceria yang membuat sepasang pasutri paruh baya itu mengembangkan senyuman.


"Pagi sayang" jawab keduanya bersamaan.


Sedang Erik berjalan dibelakang Sisil setia dengan wajah datarnya. "Pagi" ucapnya dingin.


Wijaya berdecak kesal sikap Erik tak ada ubahnya sejak dulu, tapi melihat keadaan putranya memang sudah membaik ia cukup lega. Begitu pula Sintia tatapannya mencuri pada sang putra sambung.


"Kamu datang, ayolah kita sarapan bersama" ajak Sintia ramah dengan senyuman yang nampak manis di wajahnya yang mulai berumur tapi tetap cantik.


Tanpa menjawab Erik pun akhirnya duduk di samping Roy, kebetulan juga dia memang belum sarapan karena Tiara harus berangkat pagi pagi sekali. Jadi dia berkata akan sarapan disini agar Tiara tak repot membuatkan sarapan lagi.


Sisil dan Roy yang ada didalam suasana canggung itu tak ada yang berani untuk menyinggung keakraban antar putra dan Ayah tersebut. Karena mereka tahu Erik selalu membangun dinding pembatas yang sangat tinggi pada keakraban itu.


Tak ada kata kasar, sindiran ataupun pertengkaran kala keduanya bertemu atau berkumpul seperti sekarang. Hanya saja sikap dingin dan datar keduanya membuat semua orang yang ada didekat mereka tak berani bersuara untuk mencairkan suasana.


"Bagaimana perusahaanmu?" tanya Wijaya pada Erik.


"Lancar, ada Roy yang menjalankannya" jawab Erik sekenanya. Roy hanya bisa tersenyum canggung.


"Pekerjaanmu?" tanya sang Ayah lagi.


"Baik" jawab Erik cepat, tepat dan sangat pendek.


Ya hanya seperti itulah obrolan diantara anak dan Ayah tersebut. Selanjutnya hanya ada perbincangan dan candaan kecil dari Sisil juga Roy.


"Bisakah setelah sarapan kita pergi, aku ada jadwal bertemu dengan produser nanti" ucap Erik setelah lama terdiam.


Wijaya dan Sintia saling pandang. "Baiklah" jawab Wijaya.


*****


Iring iringan mobil mewah terlihat terhenti diparkiran. Setelah mobil terparkir pemiliknya pun turun dari sana, sedikit mengedarkan pandang untuk melihat keadaan. Sepi.


"Kamu bisa turun begitu saja tak ada orang lain disini" ucap Roy pada Erik yang masih ada dalam mobilnya.


Erik pun keluar dari mobil tanpa menggunakan masker dan topi seperti biasa saat dia ditempat umum lainnya. Wijaya, Sintia dan Sisil juga ikut keluar dari mobil satunya lagi. Dan dari mobil lainnya beberapa bodyguard keluar untuk memberi keamanan pada sang Tuan.


Selain Erik yang adalah seorang penyanyi terkenal sang Ayah pun adalah pengusaha terkenal. Jadi resiko keamanan mereka harus ditanggung jawabkan pada bodyguard bukan.


Dibalik kacamata hitamnya Erik memandang gapura yang sepuluh tahun ini tak dikunjunginya.


Pemakaman San George.


*****


Maafkan Hani yang updatenya kelamaan yah๐Ÿ™.


Dikarenakan beberapa hari ini saya kurang fit untuk berkhayal pun sulit. Jadi mohon maaf sekali, kedepannya saya akan mencoba update setiap hari.


Untuk itu mohon dukungannya dengan selalu memberikan jempol dan komen agar saya semangat melanjutkan cerita.


Dan untuk pembaca setia, terima kasih selalu menunggu cerita saya walau updatenya menahun.


Salam Hani๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜