Forget You, Remember Love

Forget You, Remember Love
Ep.26



_Apa artinya memiliki orang yang dikasihi, namun tidak menjadi tempat berbagi_


*


*


*


Erik menutup kembali laptopnya, meletakkannya dilantai lalu berpindah posisi duduk disamping Tiara. Tanpa berkedip ia terus memandangi wajah damai itu sepuas yang dia mau.


Belasan menit berlalu, Erik menyelipkan tangannya di leher dan kaki Tiara. Menggendong wanita mungil itu ala bridal style membawanya menuju kamar.


Perlahan Erik melakukannya membawanya juga dengan hati hati, sampai tiba dipinggir ranjang. Erik merebahkan tubuh itu pelan pelan, takut bangun pikirnya. Karena jika wanita itu membuka mata dan melihat posisi mereka, bisa dipastikan tangan Erik patah dalam sekejap.


Setelah merebahkan Tiara dan menyelimutinya, Erik duduk berlutut dipinggir ranjang. Berpangku tangan menikmati wajah manis itu, tak ada bosannya mata Erik memandanginya. Bahkan jika bisa Erik ingin menghentikan waktu, agar wajah manis itu selalu ada didepannya tak lagi menghilang atau pergi.


"Masih sama seperti dulu, wajahmu masih terlihat amat manis dikala tertidur" gumam Erik. Tangannya memperbaiki poni tipis wanita itu.


Erik terus memperhatikan sampai ekpresi Tiara tiba tiba berubah, wanita itu mengerutkan dahi. "Kamu bermimpi apa sampai ekspresimu berubah begitu?" tanya Erik pelan bahkan seperti berbisik.


Tiara semakin mengerutkan dahinya, keringat juga mulai membasahi dahinya. Kepalanya mulai menggeleng geleng tak karuan, Erik mulai panik juga dibuatnya.


"Ra ada apa, Ra bangun, Tiara" panggil Erik langsung meloncat duduk ditepi kasur. Menepuk nepuk pelan pipi wanita itu.


Seketika Tiara membuka matanya bangun dan langsung menghambur ke pelukan Erik. "Jangan pergi jangan tinggalkan aku, bukan aku yang melakukannya, bukan aku" isak Tiara dia menangis ketakutan.


"Ra ada apa, siapa yang meninggalkanmu?" tanya Erik bingung, pikirnya Tiara bermimpi buruk entah tentang apa sampai bisa membuatnya ketakutan begini.


"Jangan pergi, bukan aku, sungguh bukan" Tiara mengabaikan pertanyaan Erik, ia terus histeris.


"Ia aku nggak pergi, mana mungkin aku meninggalkanmu lagi, tenanglah aku disini bersamamu". Erik menepuk pelan pundak Tiara sampai wanita itu tenang tak lagi terisak.


Otak pintar Erik terus bekerja memikirkan apa yang diimpikan sang wanita sampai terbangun dari tidurnya dan histeris. Ia duduk bersandar dikepala ranjang sambil terus membelai puncak kepala Tiara, sebelah tangannya lagi menggenggam erat tangan wanita yang kembali tertidur itu.


Sejak terbangun tadi Tiara tak berkata apapun selain jangan pergi dan bukan salahnya. Ia juga ingin Erik terus menggenggam tangannya. Sikapnya saat ini bukan seperti Tiara sekali, dan apa dia sadar melakukannya. Atau hanya terbawa mimpinya saja.


Entahlah yang pasti Erik merasa sedikit bahagia, bilang saja dia egois tapi itu kenyataannya. Melihat Tiara hanya bisa mengandalkannya Erik semakin merasa tanggung jawabnya pada wanita manis itu bertambah besar.


Tapi tunggu dulu, Erik seketika mengernyit. Mengingat kata kata Tiara tadi, hampir sama saat insidennya dengan Rin beberapa tahun silam. Hanya ada kata yang sedikit berbeda.


Jangan pergi dan kamu percayakan. Hanya itu perbedaannya. Selebihnya sama.


"Apa Tiara mulai kembali mendapat ingatannya lewat mimpinya?" Erik bertanya pada dirinya sendiri.


Erik melirik pada Tiara memperhatikan wajah itu lalu tangan yang digenggamnya. Ada yang kurang, Erik melirik kesebelah tangan Tiara lagi. Ia mendesah.


"Apa perasaanmu tak bisa kembali padaku lagi, sekalipun kau tak mengingatku Ra".


Pria itu sedikit dilanda rasa kecewa mendapati cincin yang dipasangkannya dijari manis wanita itu tak lagi berada disana. Tapi Erik takkan putus asa, benda itu hanya lambang saja namun cintanya takkan pernah menghilang atau berpindah dari Tiara. Erik mengecup kening Tiara lama.


"Tidurlah kekasih hati, jangan mimpi buruk lagi".


*****


Tiara mengerjapkan mata beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kemanik matanya. Lalu ia beranjak duduk bersandar ke kepala ranjang sambil meregangkan kedua tangannya.


Menghirup udara dalam dalam, Tiara berpikir sepertinya tadi malam tidurnya nyenyak sekali sampai pagi ini tubuhnya terasa segar.


Tapi seketika matanya terbelalak saat mengingat dia tak berada di apartemennya, melainkan penthouse sipenyanyi bersuara berat. Tiara mengedar pandang.


Tiara mengingat sesaat sepertinya tadi malam ia masih menonton, tapi pagi ini dia sudah ada dikamar diatas kasur empuk milik Erik. Pasti pria itu yang membawanya kemari, lalu dia sendiri tertidur disofa. Dan alasannya apa, bukankah dipenthouse ini banyak kamarnya. Kenapa dia harus tidur disofa kecil itu.


Pelan pelan seperti mengendap Tiara turun dari ranjang, ia berpikir punya kesempatan untuk pergi dari tempat ini. Tapi saat melewati pria itu, Tiara terkejut hampir berteriak.


"Mau kemana?".


Erik mendudukkan diri tak melepaskan tangannya dari Tiara, menatap wajah manis itu dengan mata yang setengah terbuka.


"Pulang lah, kemana lagi emang!!" jawab Tiara ketus.


"Pulang?" beo Erik. "Ngapain?" tanya pria itu polos.


Tiara memutar bola matanya malas, menepis tangan Erik keras. "Sudah jelaskan, ini bukan rumahku, kita juga tak ada hubungan. Untuk apa aku disini terus, lebih baik aku pergi".


Erik melebarkan mata menatap Tiara tak terbaca, lalu memperlihatkan senyum smirk yang membuat Tiara si beautiful syco bergidik. "Pergi?, setelah kamu memelukku erat semalam sampai tak ingin aku pergi jauh?" tanya Erik dingin.


Tiara mengangguk cepat, lalu secepat kilat membulatkan mata lebar. Tertawa remeh, "Aku, memelukmu?, Seriously?, jangan ngarang!".


"Kamu lupa atau pura pura".


"Nggak dua duanya, aku yakin aku nggak ngelakuin hal itu". Karena memang menurutnya tidurnya nyenyak sekali, walaupun ada sekilas mimpi yang membuatnya takut setengah mati.


Erik mengangguk, berdiri berjalan mengambil ponsel diatas nakas. Mengotak atiknya sebentar lalu memberikannya pada Tiara. "Cctv dirumah ini terhubung dengan ponselku" ucapnya.


Langsung saja baru beberapa menit rekaman cctv kamar Erik terputar tanpa editan diponselnya, Tiara tercengang. "Ta.., tapi apa hubungannya kejadian ini dengan aku yang ingin pergi?" tanya Tiara gugup. Berusaha menepis rasa malu dan dalam hati merutuki dirinya yang terlalu agresif, oh tuhan ada apa dengannya.


"Jelas ada lah, aku nggak mau kalau kamu memeluk pria lain jadi mulai saat ini aku akan menjagamu, kamu harus tinggal disini bersamaku" ucap Erik tegas.


"What!!!".


*****


Disebuah rumah besar yang beberapa ruangannya baru selesai direnovasi, disatu kamar bernuansa peach pink dengan banyak bingkai foto terpajang didinding ataupun meja. Seorang wanita terus menangis, matanya yang sembab dan juga bengkak menandakan dirinya sudah menangis semalaman.


"Hiks, hiks, hiks". Mala terisak tangannya tak berhenti mengambil tisue dikotak yang terus dipegangnya. Mengusapkan benda tipis lembut itu kehidungnya yang memerah, lalu membuangnya kesembarang arah.


"Dek, turun makan dulu kamu nggak lapar, sudahlah jangan bersedih terus" bujuk Rianti sang Mama pada putrinya yang sudah tiga hari mengurung diri dikamar. Tanpa melakukan apapun, pekerjaannya juga jadi terbengkalai hingga sang asisten kerepotan dibuatnya.


Kenyataan bahwa pernikahan kembali tertunda karena pilihan yang diambilnya tanpa berunding dengan Aril, membuat Mala merasa amat bersalah. Apalagi setelah malam itu Aril tak pernah sekalipun menghubunginya apalagi datang menjenguknya. Seolah pria itu benar benar kecewa atas keputusannya.


"Nggak mau, Mala nggak mau makan, Mala mau hukum diri Mala sendiri, Mala yang salah Ma, Mala" teriak Mala dari dalam kamarnya membuat sang Mama mendesah pasrah didepan pintu kamarnya.


"Jangan begitu dek, semua bisa dibicarakan baik baik pasti ada jalan keluarnya kok".


"Percuma, Aril udah marah banget sama aku Ma, aku yakin dia udah nggak mau mempertahankan hubungan kita lagi". Mala pasrah akan segala keputusan Aril dan dengan dirinya yang selalu menunda pernikahan, pria itu pasti tak bisa lagi menunggunya.


Rianti tak bisa lagi membujuk sang putri, suami yang setia berdiri dibelakangnya pun hanya menggelengkan kepala saat ia menoleh meminta bantuan.


Sedangkan Mala dari dalam kamarnya terus berusaha menghubungi Aril, masih dengan terisak. Dan semakin histeris saat pria itu tak mengangkat panggilannya yang mungkin sudah beratus kali.


"Apa kau sebegitu marahnya padaku?".


#####


Mohon maaf karena up episode kali ini lama banget😢😢, mungkin sampai lebaran nanti up per episodenya juga ngaret. Semoga kalian nggak bosen nunggu Erik, Tiara dan Aditya yah.