
_Aku ingin kamu selalu mengingatku, mengingat bahwa akulah yang selalu ada disampingmu, menjagamu dengan seluruh jiwa ragaku_
*
*
*
Erik terus menggenggam tangan Tiara sejak turun dari panggung tadi, tak menerima pertanyaan dari wartawan yang penasaran akan hubungan keduanya. Setelah konsernya ia tutup dengan persembahan romantis tadi Erik langsung membawa Tiara pergi dari aula besar tersebut.
"Ini apa?" tanya Tiara heran saat Erik memakaikan jaket tebal dan besar padanya, hingga menutupi setengah tubuhnya. Juga syal dilehernya.
"Pakai aja nggak usah protes" jawab Erik sekenanya membuat Tiara mendengus kesal.
Padahal tadi pria ini amat romantis dan lembut kenapa sekarang berubah dingin dan pemaksa. Apa tadi hanya pencitraannya saja. Kalau benar sial sekali dirinya yang menjadi objeknya.
Tiara semakin tak mengerti saat Erik membawanya kedekat salah satu motor besar yang terparkir apik. Sudah tersedia dua helm diatas joknya, seketika Tiara tersadar dan menghentikkan langkahnya.
"Jangan bilang kamu mau bawa aku pergi pake motor itu?" tebak Tiara dengan alis bertaut.
Erik melirik bergantian kearah Tiara dan motor hitam disebelahnya. "Pinter" jawabnya mengacak puncak kepala Tiara yang membelalakkan mata.
"Kamu gila yah, udara dingin gini kamu mau bawa aku naik motor, kalau turun salju kamu mau kita beku!!!". Mana sudah menjelang malam pula sinting emang ni orang, tapi seenggaknya jangan ajak ajak dong.
Erik melengos. "Makanya aku pakein kamu jaket tebel itu, dan ramalan cuaca bilang salju gak bakal turun hari ini tenang aja".
Namun Tiara tetap menolak dengan mengatakan panjang lebar tentang keadaannya yang baru saja sembuh dari sakit. Dan Erik tetap pada sifat pemaksanya. Pria itu memakaikan helm dikepala Tiara yang pasrah dengan sikapnya.
Erik menoleh saat Tiara hanya diam memandanginya juga motornya, dia tersadar.
"Awwwww" Tiara menatap Erik kesal karena pria itu mencubit gemas hidungnya. "Kamu ini apa apaan!!!".
"Aku tau kamu nggak bisa naik motor setinggi ini kan, bingung cara naiknya kan?" Erik malah balik bertanya dan menebak yang ada dipikirannya.
"Kok kamu tau".
"Dari dulu juga begitu".
Erik pun memeluk pinggang Tiara yang terkejut namun tak berontak, menaikkan tubuh mungil itu ke jok belakang motornya. "Begini caramu naik motorku" ucap Erik mengingatkan, tapi Tiara hanya terdiam.
Erik tak membawa motornya dengan kecepatan tinggi karena takut Tiara benar benar akan kembali sakit karena udara yang dingin. Dia menjalankannya dengan kecepatan sedang membelah jalan raya kota.
"Pelan pelan aja Rik, dingin" ucap Tiara yang memang merasakan udara semakin dingin. Ia memeluk dirinya sendiri.
Erik melirik kearah Tiara lewat kaca spionnya. "Padahal dulu kamu bilang gini, motormu rusak ya jalannya udah kaya siput aja" ucapnya dengan gaya bicara ketus Tiara dulu.
Tiara menaikkan sebelah alisnya. "Aku?, ngomong begitu?".
"Iya kamu" jawab Erik meyakinkan.
"Kalau gitu berarti dulu kita pernah dekat, tapi aku nggak pernah ingat, jangankan momennya, foto foto tadi bahkan sosokmu ada sekalipun aku nggak ingat" ucap Tiara yang tak lama memekik kencang, meremas pundak Erik kuat. "Erik hati hati, kau mau kita mati!!!".
Erik melajukan motornya selama sepersekian menit lalu berhenti tepat didepan pagar sebuah gedung, ia lalu turun sebentar dari motor. Membuka pagar tinggi berwarna putih itu, kemudian kembali menaiki motornya masuk kedalam parkiran gedung.
"Kalau teriakanmu tadi masih tetap sama dulu dan sekarang nggak ada bedanya," ucap Erik terkikik dan mendapat satu tabokan dipunggung dari Tiara. "Ini juga sama, kdrt mulu". Tiara menatap kesal sedang Erik tertawa lepas.
Erik turun dari motornya kemudian menurunkan Tiara yang menaikkan sebelah alisnya heran. Mau apa pria ini membawanya ke gedung SMA nya dulu. "Ngapain kita kesini?".
Sambil melepaskan helm dikepala Tiara, Erik menjawab. "Mengenang masa lalu".
"Ayo" tambahnya menggenggam tangan Tiara, namun Erik mengernyit. "Kamu benar benar kedinginan?" tanyanya polos.
"Kau pikir aku bercanda?!" Tiara menatapnya garang. "Maaf" ucap Erik menjewer kedua telinganya sendiri, lalu kembali menggenggam tangan Tiara tapi kali ini dimasukkan kesaku long coatnya.
Tiara mengedarkan pandang. "Nggak papa emang kita kesini, malem malem?" tanyanya lagi saat Erik membawanya masuk kedalam. Bukannya apa kegedung sekolah malam malam begini, sudah seperti uji nyali. Untung aja lampunya menyala kalau nggak horor banget suasananya.
"Aku sudah ijin sama yang punya sekolah, sama pak Mamat juga makanya aku punya kunci pagarnya".
"Tapi gimana bisa, kamu tau pak Mamat juga?".
Erik tertawa. "Ya iyalah, aku kan dulu sekolah disini, aku itu kakak kelas yang paling ganteng dan kamu jadi satu satunya gadis yang paling beruntung karena bisa dapetin aku".
Mendengar kalimat percaya diri dari Erik, Tiara tertawa remeh. "Anda terlalu percaya diri Tuan, dan gimana aku mau percaya kalau dalam ingatanku saja kamu nggak pernah ada". Wanita itu melepaskan tangan Erik, berjalan lebih dulu menuju lapangan sekolah.
Sedang Erik terdiam menatap punggung Tiara. "Tunggu, aku akan membuatmu mengingat semua tentangku sampai alasan kenapa kau melepasku" ucapnya dalam hati.
Di tengah luasnya lapangan sekolah, Tiara kembali mengedar pandang merasa banyak yang berubah dari gedung SMA nya dulu ini. Fokusnya teralihkan saat mendengar suara pantulan bola, ia berbali dan melihat Erik dengan santainya mendribel bola basket kearahnya.
Tiara hanya memperhatikan sambil bersidekap dada, saat Erik melewatinya mulai berlari dan melemparkan bola basket kering diujung kanannya.
"Nggak makasih" tolak tegas Tiara yang langsung berbalik badan.
Erik tertawa. "Nggak mau atau nggak bisa?" sindirnya.
Tangan Tiara terkepal mendengar sindiran dari Erik, ia meradang. Ia pun mendekat kearah Erik dan merebut bola dari tangan pria itu.
Setelah beberapa kali mendrible bola, Tiara berniat melemparnya masuk kedalam ring. Tapi seperti saat masih SMA dulu, satu kali lemparan darinya bola tak masuk kedalam ring, bahkan sampai pun tidak. Berkali kali mencoba hasilnya tetap sama saja, Tiara kesal jadinya apalagi saat Erik hanya memperhatikannya sambil menahan tawa.
"Tanganku licin, jadi bolanya nggak masuk, ambilkan bolanya aku mau nyoba sekali lagi" ucap Tiara ketus.
Erik menurutinya mengambil bola, lalu memberikannya padanya. Tiara bersiap memegang bola ditangannya, sambil menatap ring didepannya.
Sambil terkikik Erik mendekat. "Posisi tanganmu salah" ucapnya berdiri dibelakang Tiara, memegang kedua tangan wanita itu sambil membenarkan posisinya.
"Pakai pergelangan tanganmu". Erik sempat salah fokus saat wangi dari rambut Tiara menyeruak menggelitik indra penciumannya. Ia pun mundur dua langkah kebelakang saat posisi tangan Tiara sudah benar. "Lempar".
Dengan arahan Erik, Tiara pun melemparkan bola dan, "Yes, masuk". Wanita itu berseru senang sambil berlari kecil dan tanpa sadar memeluk tubuh tegap Erik. "Liat bolanya masuk aku hebatkan" seru Tiara sambil memperagakan bolanya masuk kering. Erik tersenyum dan balas memeluk wanitanya itu.
Namun sedetik kemudian, Tiara membelalakkan mata sadar dengan sedikit kekuatan mendorong tubuh Erik. "Kau...."
"Aku nggak nyangka wanita singa sepertimu bisa curi kesempatan dalam kesempitan juga" sambar Erik cepat.
Tiara ternganga, harusnya itu dialognya kan. Tak habis pikir lagi terbuat dari apa pria didepannya ini, karena kesal dan salah tingkah Tiara memilih pergi meninggalkan Erik sendiri.
Tiara berjalan santai melalui koridor panjang, melewati beberapa pintu kelas yang ada. Sambil kembali mengenang masa masanya dulu pernah bersekolah, ada rasa suka dan juga duka yang tak terlupakan. Dia mengingat semuanya hanya saja ada satu orang yang sama sekali terhapus dari masa itu, iya Erik.
Tiara terus mencoba mencari kedalam pikirannya tentang pria yang setia mengikuti langkahnya dari belakang itu. Sampai tanpa sadar dia menuju rofftop sekolah, tempat favoritnya bersama Mala selain kantin pastinya.
"Kenapa kesini?".
Tiara mengedar pandang, terlihat kelap kelip lampu dan gedung gedung tinggi menjulang dihadapannya. "Nggak tau, kakiku yang bawa" jawabnya sekenanya.
Mereka berdua berdiri dipinggir tembok rofftop. Tiara memandang lurus kedepan sedang Erik disampingnya bersandar pada tembok menghadapnya.
Angin terasa mulai menari membuat Tiara mengusap kedua tangannya, lalu menoleh pada Erik yang terus menatapnya. Tiara melengos, "Pinjamin aku sarung tangan, atau apa kek gitu dingin nih".
Erik mengangguk memegang longcoatnya, tapi yang membuat Tiara heran kenapa pria itu malah beranjak dari tempatnya dan berdiri dibelakangnya.
Grep.
Tiara membelalakkan mata terpaku. Erik melebarkan long coatnya untuk mengurung tubuh mungilnya. Pria itu memeluknya erat.
"Maaf aku nggak punya sarung tangan, begini aja lebih hangat kan".
Tiara mendengus, mulai berontak tapi Erik mengeratkan pelukannya. "Kau cari mati, lepasin!!!" bentak Tiara.
"Sebentar, biarkan begini sebentar aja" ucap Erik dengan nada lemah dan sukses membuat Tiara berhenti berontak.
"Kamu bakal nyesel, Rik?".
Erik tertawa. "Aku sudah pernah merasakan namanya penyesalan, dan kali ini aku tak mau merasakannya lagi".
"Kalau gitu maaf kamu akan merasakannya lagi, kamu nggak tau siapa aku sebenarnya Rik, saat kamu tau kamu bakal menjauh dariku sejauh yang kamu bisa" ucap Tiara lemah. Mengatakan hal itu kenapa ia merasa hatinya terisis, sakit.
"Kamu yang sebenarnya?". Tiara menganggukkan kepala.
"Kamu salah karena akulah orang pertama yang tau tentang kamu sepenuhnya, bahkan orang tuamu sekalipun" lanjut Erik.
Tiara berdecih. "Jangan sok tau".
"Tiara Putri Hendriwan, wanita berumur dua puluh delapan tahun, berwajah semanis gula namun sorot matanya sedingin es dan nada bicaranya sedatar bangun persegi," Tiara tak bisa menyembunyikan kegeliannya saat Erik menjabarkan dirinya sedemikian rupa, ia terkikik. "Putri semata wayang dari Dokter Hendri dan Nurmi seorang Ibu yang baik hati, Tiara sendiri adalah sosok yang misterius. Memiliki sisi lain bernama Anita yang berbalikan sifat dengannya yang sebenarnya adalah seorang psikopat". Erik melanjutkan.
Mendengar kalimat terakhir Erik secepat kilat Tiara berbalik menatapnya tak terbaca, tapi masih dalam pelukan pria itu juga. "Bagaimana kamu tau itu semua?" tanyanya dingin.
Erik mengedikkan bahunya, menunjuk Tiara dengan dagunya. "Kamu".
Tiara mengernyit. "Tapi bagaimana bisa?" tanyanya pelan. Dia bingung seterbuka itukah dirinya dengan orang lain. Karena seingatnya dulu dia orang yang sangat tertutup, kecuali pada Mala, Aditya dan ketiga pria aneh. Itupun mereka tahu karena insiden Rin.
"Siapa sebenarnya kamu ini?" tanya Tiara mendongak menatap Erik.
Erik melepaskan pelukannya, lalu menyelipkan tangan kesaku dalam long coatnya. "Aku bisa menjelaskan semua tentangmu, kedekatan kita, dan momen momen bahagia kita, tapi aku tak bisa mengatakan siapa diriku padamu, karena aku sendiri tak tau bagimu aku ini apa dan siapa," terangnya mengeluarkan satu kotak beludru.
Erik membuka kotak yang berisikan cincin bertahtakan berlian mungil dari sana, kemudian menarik tangan kiri Tiara. Sambil memasangkan cincin itu kejari manisnya, Erik kembali bicara.
"Aku akan menunggu sampai kau ingat apa arti diriku untukmu, dan dalam proses itu ijinkan aku selalu berada disampingmu" tambahnya. Lalu mengecup lama tangan Tiara yang terdiam terpaku ditempatnya.