
*Aku selalu percaya dengan seseorang sampai orang itu sendiri yang membuktikan kalau dirinya tak bisa dipercayai*
*
*
*
*
*
Walau tangan Erik dibalut begitu banyak perban setelah puas menghancurkan isi kamarnya semalam. Tapi samar samar pria itu masih bisa merasakan sentuhan lembut tangan seseorang, aura hangat yang dikeluarkannya membuat rindu dihati Erik membuncah.
Pria itupun perlahan membuka mata langsung melihat seseorang disampingnya. Bukannya tersenyum ia malah meneteskan air mata.
"Tiara" keluhnya bergetar.
Membuat wanita yang dipanggilnya Tiara itu cepat menghapus air mata dipipi. "Kamu sudah sadar" ucapnya dengan senyum lega.
Erik mencoba membangunkan tubuhnya, Tiara menahannya tapi pria itu keras kepala. Usai dibantu untuk bersandar dengan bantal, Erik terus menatap wajah bermata sembab milik Tiara.
"Kau menangis?" tanyanya membelai pipi wanita itu.
Tiara tertunduk. "Maafkan aku, karena aku kau jadi seperti ini" jawabnya.
Erik terdiam hanya terus membelai lembut pipi Tiara yang masih mengeluarkan air dari matanya, wanita itu menangis tersedu.
"Entah mengapa mendengarmu ingin menikah dengan Aditya bisa lebih menyakiti hatiku daripada mengetahui kau lah pembunuh adikku" pikiran Erik berdialog.
"Sekarang aku sadar yang menyakitiku bukan karena kau pelakunya, tapi karena aku yang tak bisa berhenti mencintaimu walau aku tau semua kenyataan itu, aku terlalu mencintaimu Tiara" tambahnya.
Dan melihat wanita itu tak bisa berucap apa apa terus menangis saja, hati Erik luluh. Dia menarik Tiara kedalam pelukannya.
"Maafkan aku juga yang sudah menyakitimu, tapi bisakah kau mendengar permintaanku, jangan menerima perjodohan itu aku tak bisa tanpamu Tiara" ucap Erik jujur.
"Aku akan mencoba melupakan masalalu asal kau bersamaku" tambahnya tak perduli lagi dengan masalah yang terjadi bahkan bila Erina memakinya disurga sana, Erik akan meminta maaf padanya.
Pria itu mengernyit saat Tiara mendorong tubuhnya melepas pelukan mereka. "Maaf Rik, aku nggak bisa".
"Tapi kenapa?".
"Aku sudah bilang akan melupakan masalalu, melupakan masalah kita agar kita bisa bersama".
"Maafkan aku Rik".
"Kenapa Tiara?".
Erik syok ketika melihat cincin dijari manis Tiara, terlihat sederhana namun mampu membuat hatinya teriris iris rasanya.
"Aku sudah menikah dengan Aditya".
Erik mendesah tak percaya mendengarnya, baru saja dia tak sadarkan diri dan mereka sudah mengikrar janji. Lalu untuk apa Tiara kemari menangisinya disini.
"Tidak.... Ini tidak mungkin...., Tidak!!!!!".
Begitu terbangun Erik langsung terduduk dengan peluh membasahi dahinya yang ditempeli perban itu. Detak jantung dan nafas yang tak beraturan seakan membuat dia sadar bahwa kejadian mengerikan tadi hanyalah sebuah mimpi.
Ternyata dia masih pada kenyataan ini, kenyataan pahit yang memaksa cintanya harus dikubur sedalam dalamnya.
Erik tertawa miris, melirik keadaannya sendiri yang luka sana sini. Perban ditangan kanan dan kiri, kaki bahkan didahi. Ia baru mengingat jika semalam dirinya menghancur leburkan isi kamar termasuk tubuhnya sendiri.
Dan sekarang ia pasti dirumah sakit terbukti dengan baju pasien, ranjang dan infus yang terpasang dipunggung tangannya. Pria itu mendesah berat karenanya.
*****
"Ya, kami akan segera bertunangan" jawab Aditya tanpa beban membuat Joker nyaris mengayunkan tangan yang sedari tadi terkepal jika tak ditahan Ridan.
Diajak bertemu sang Adik direstoran dekat kantor membuat Aditya mau tak mau menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan tiga sahabat Erik, yang ikut datang bersama Mala.
Dan salah satu pertanyaannya adalah kebenaran tentang perjodohannya dengan Tiara.
"Kenapa kakak mau??" tanya Mala tak percaya, bukan dia tak ingin sang kakak bahagia tapi ada hal yang harus diutamakan dari pada perasaanya saat ini. "Kak Adit bukan nggak tau perasaan Tiara dan Erik, malah kakak justru dulu mendukung mereka kan" tambah sang Adik.
"Apa tidak bolehkah aku bahagia?" tanya Aditya tertawa miris. Mala malah jadi menangis, bingung dengan keadaan ini. Bukan ini yang mereka rencanakan sebelumnya.
"Erik sudah banyak menyakiti Tiara, jika dia benar cinta kenapa tak coba memafkannya saja, toh mau bagaimanapun juga Erina takkan hidup lagi" tambah Aditya sarkas.
Dan kali ini Joker tak segan segan berdiri langsung menarik kerah kemeja Aditya. "Sialan kau" geramnya kesal.
Sudah akan memukul tapi Ridan dan Aril sigap menahan, sedari tadi mereka sudah menjadi tontonan. "Tahan emosi mu" ucap Aril, terpaksa Joker melepaskan cengkramannya dengan kasar.
"Jadi lo tetap akan menikahinya?" tanya Aril pada Aditya.
Aditya mendongak. "Ya, karena ini juga permintaan Tiara aku tak bisa mengecewakannya".
"Jangan memohon dengan penghianat ini lagi, gue muak dengar kata katanya, kita pergi dari sini".
Joker sudah pergi lebih dulu setelah mengucapkan kalimat itu. Memang awalnya mereka kemari ingin membujuk Aditya menolak perjodohannya tapi nyatanya pria yang katanya dulu mendukung hubungan Erik dan Tiara itu malah membelot saat ada kesempatan. Karena itu dari dulu Joker tak pernah suka pada Aditya, yakin suatu saat pria itu akan jadi penghianat juga. Terbukti sekarang.
Mala tak ingin pergi dia masih ingin mencoba membujuk sang kakak, namun kode dari Aril membuatnya terpaksa menyerah saat itu.
Akhirnya mereka semua pergi meninggalkan Aditya sendiri. Tak tahu jika dalam hati pria itu keegoisan dan kesetiaan tengah bertengkar hebat. Memilih antara melepaskan dan mendapatkan tak dia sangka akan semenderita ini.
*****
Dua minggu kemudian.
Balroom salah satu hotel ternama kini sudah disulap menjadi aula sebuah acara resmi, yaitu sebuah pertunangan putra pertama pengusaha dibidang televisi.
Andi Prakasa terus tersenyum bahagia saat menyambut tamu tamunya begitu juga Dr. Hendriwan, teman teman seprofesinya turut datang meramaikan. Senyum juga selalu terpatri diwajah para istri masing masing.
Tapi senyum kebahagiaan itu nyatanya tak terpatri di wajah cantik ber make up flawlesh milik Tiara. Wanita yang sudah mengenakan gaun little black dress selutut itu nyatanya hanya memandang diri didepan cermin saja.
"Kamu yakin?". Tiara seolah melihat pantulan dirinya dicermin tengah bertanya kepadanya. Itu nyata, Anita sedang mengajaknya bicara.
"Ini keputusan besar Tiara, kau bisa menjalaninya?" tanya sang alter ego tersebut.
"Apa pilihan lainku jika tak memilihnya?" tanya balik Tiara dengan wajah datarnya seolah pasrah dengan apapun yang ditakdirkan Tuhan untuknya, tak ada lagi pengelakan darinya.
"Kau ingat, aku adalah bagian dari dirimu, aku tau semua tentangmu, aku pun tau kau terpaksa menjalani ini semua karena mau lari dari Erik" ucap Anita panjang lebar tak seperti dia biasanya yang hanya berucap beberapa patah kata saja. "Dengan keputusanmu ini kau tak sadar, bukan hanya kau yang terluka tapi Erik dan juga Aditya" tambahnya. Tiara diam saja.
"Kau sudah mengorbankan Aditya sepuluh tahun yang lalu, dan sekarang kau ingin melakukan hal yang sama?".
"Belajarlah menerima keadaan Ra, jujurlah pada Erik, benar kata Aditya bukan kamu penyebab semua itu terjadi".
Brak!!!!.
"Diam kau!!!".
Tiara menggebrak meja emosi semakin pusing ketika Anita menceramahi. Pikirannya tengah kalut saat ini. Perkataan Anita bukannya salah dia juga memikirkan hal yang sama, bilang saja dia egois. Tapi harus bagaimana lagi, keputusan dengan jalan yang benar bisa membuatnya tersesat. Juga keputusan dengan jalan yang salah bisa membuatnya memilih yang tepat.
Katakan dia harus apa?.