
_Cinta tak menambah musim semi, musim semi adalah ujian yang berat untuk cinta, saingan yang hebat untuk itu_
*
*
*
Waktu kembali tak terasa, tiga bulan telah berlalu musim dingin telah pergi. Berganti dengan musim semi yang membawa wangi kehidupan. Kehangatan yang mulai meresapi bumi dan sinar mentari yang membuat tanaman indah mulai menunjukkan tunasnya.
Musim yang selalu disambut dengan keceriaan juga senyuman, mempercayakan setiap insan jika apapun bisa dimulai kembali dari awal. Awal baru untuk semangat dan cinta yang baru.
Setidaknya begitu untuk seorang pria tampan dengan mata monoloid bernetra abu yang tengah menikmati wanginya musim semi dibalkon kamarnya.
Dengan pergantian musim ini ia berdoa semoga cintanya akan bertahan sampai musim semi kesekian kalinya. Tak pernah terlepas apalagi pecah, ia berharap akan selalu sama bahkan harus bertambah.
"Aku sudah siap" ucap Tiara.
Erik berbalik kemudian tersenyum bangga melihat Tiara memang sudah siap dengan pakaian yang dipilihkannya. Wanita itu memakai celana jeans panjang berwarna navy di padupadankan dengan dalaman kaus berwarna putih yang dilapisi jaket hitam. Setelan mereka sama persis hanya celana saja yang membedakan diantara keduanya.
Tiara menelisik pakaian Erik lalu melirik ke dirinya sendiri. "Apa kita harus berpakaian seperti ini?" tanyanya ragu.
"Lalu, kamu mau kita pakai pakaian renang?".
Tiara berdecih. "Bodoh" umpatnya. "Maksudku kenapa kita harus memakai pakaian yang sama begini?" tambahnya.
"Simple, supaya semua orang tahu jika kau milikku, kita ini berpasangan" jawab Erik bangga.
Tiara berdecak. "Sekalian saja kau tulis namamu di dahiku!".
Erik tertawa lalu bersidekap dada. "Boleh juga idemu" ucapnya membuat Tiara mendelik kesal.
Erik tergelak mendekat, membelai kepala Tiara. "Bercanda sayang, yang ada akulah yang akan menulis namamu diwajahku" ucapnya.
"Ayo kita pergi sekarang" tambahnya. Tiara menganggukkan kepala lalu mereka meneruskan niat ingin pergi ketaman bermain. Untuk merayakan dua minggu jadian, itulah alasan Erik. Sungguh kekanak kanakan.
*****
Erik dan Tiara asik berjalan melihat lihat wahana yang bermacam macam jenisnya itu. Sejak tiba beberapa menit yang lalu keduanya hanya melihat lihat sambil terus bergenggaman tangan.
Tiba tiba Erik termenung saat Tiara melepaskan tangan lalu meninggalkannya ditengah keramaian manusia. Namun bukannya kesal Erik malah terkikik melihat Tiara melepaskannya hanya untuk sebuah gula kapas.
Lihatlah hanya dengan makanan itu saja wajah yang biasa dingin tak tersentuh Tiara kini menunjukkan ronanya.
Erik yang sudah tertinggal agak jauh pun mendekatinya, memperhatikan Tiara yang asik memakan gula kapasnya.
"Dia yang bayar, Pak" ucap Tiara seenaknya menunjuk Erik yang baru berdiri dibelakangnya. Sedang pria itu sendiri hanya bisa memutar bola matanya jengah.
Setelah proses bayar membayar mereka pun kembali mengelilingi taman bermain tersebut. Dengan Tiara yang berjalan didepan dan Erik yang setia mengikuti langkahnya dari belakang. Memperhatikan kuncir rambut yang dimasukkannya ke lubang belakang topi hitam itu meliuk kekanan dan kiri mengikuti gerakan kakinya.
Topi hitam itu adalah ide dari Tiara yang tak ingin acara jalan jalan mereka hancur lagi karena fans yang menyerbu Erik. Jadilah sebelum memasuki taman bermain, dia dan Erik memakai topi yang sama.
Mata Erik terbelalak saat ada sekumpulan pemuda yang tengah bergurau mendekat kearah mereka tepatnya pada Tiara. Langsung saja ia melebarkan langkah berdiri disamping Tiara lalu menarik tubuh wanita itu pindah kesisi sebelahnya.
Tiara yang tak tahu apa apa pun jadi menatapnya heran. "Kenapa?" tanyanya.
Erik menunduk menatap wajah bertanya Tiara lalu tersenyum. "Nothing" jawabnya. Ia melirik pada sekumpulan pemuda yang sudah melewatinya. Aman pikirnya, karena jika ia tak bertindak bisa bisa tubuh mungil Tiara ditabrak oleh mereka.
Sampai beberapa menit keduanya nampak hanya melihat lihat tanpa berniat menaiki satu wahana pun. Keduanya asing saling mengejek juga bercanda, tak ada sedikitpun terlihat romantisnya. Karena bagi keduanya romantis mereka adalah dikala perdebatan semakin sengit. Ya aneh memang tapi seperti itulah kenyataannya, bukankah mereka pasangan teraneh sedunia.
Bagusnya lagi belum ada yang menyadari jika penyanyi kelas dunia Waren Royse tengah berada diantara mereka. Membuat pria itu leluasa berjalan jalan dengan sang kekasih.
Tiba disalah satu wahana dengan beberapa kuda yang terus berputar putar tanpa henti langkah keduanya terhenti. Bukan karena ingin menaiki wahana tersebut tapi karena pelukan mungil dikaki Erik.
Erik dan Tiara melirik pada mahluk mungil berwajah sembab yang memeluk kaki panjang pria itu. Sejak kapan anak itu mengikuti mereka dan kenapa bisa tak ada orang tua disampingnya. Apa dia tersesat, pikir mereka.
Mereka semakin tercengang lagi kala bocah itu bicara. "Daddy" isak bocah lelaki tersebut.
Dan karena satu kata yang keluar dari bibir tipis bocah itu seketika Tiara dan Erik saling pandang. Lama keduanya terdiam. "Kau...., Aku tak menyangka kau sudah...." ucap Tiara dengan ekpresi menyedihkannya.
Erik memutar bola matanya jengah. "Ini bukan saatnya untuk bercanda, sayang" tangannya mencubit gemas hidung Tiara, bisa bisanya disaat begini wanita itu menggodanya. Sedang Tiara hanya terkikik karenanya.
Erik pun berjongkok menyamakan tinggi badannya dengan bocah kecil berumur sekitar empat tahunan itu. Erik menyeka wajah bocah itu lalu membelai kepalanya lembut.
"Siapa namamu?" tanya Erik lagi.
"Acha" jawab Anak itu membuat Erik mengernyit. "Aca" beonya. Tapi anak itu menggeleng.
"Ata" kata Erik lagi dan anak itu menggeleng lagi.
Tiara yang sedari tadi hanya memperhatikan interaksi kedua pria berbeda generasi itupun akhirnya ikut berjongkok. Ia membelai pipi tembam bocah lelaki itu. "Arsya?".
Bocah lelaki bernama Arsya itupun langsung mengangguk dengan wajahnya yang berbinar dan seketika memeluk Tiara.
Arysa mendongak menatap wajah Tiara dengan wajah menggemaskannya. "Aunty, aku sudah cari Daddy dan Mommy tapi nggak ketemu, aku takut" adunya.
Tiara menghapus jejak air mata diwajah Arsya menjawab. "Jangan takut sayang, kita akan mencari mereka hmmm". Arsya menganggukkan kepala.
Melihat interaksi Tiara dan Arsya membuat sudut bibir Erik tertarik keatas. Pikirnya jika mereka sudah menikah akankah mereka memiliki anak menggemaskan seperti Arsya. Lihatlah pipi keduanya yang mirip, tembem menggemaskan.
Dan saat ini Erik melihat Tiara sudah seperti sosok ibu bersayap malaikat saja. Tak ada sedikitpun wajah dingin dan nada ketus darinya, hanya ada aura keibuan saja. Tak disangkanya jika wanita yang terkesan acuh dan dingin seperti Tiara bisa begitu hangat dengan seorang anak kecil.
Erik pun mengambil alih Arsya untuk digendong dalam pelukannya. "Kita cari ortunya dulu" ucapnya pada Tiara.
Akhirnya mereka kembali mengelilingi taman bermain itu. Tapi dari ujung ke ujung tak juga mereka menemukan orang tua Arsya. Raut wajah Arsya yang tadinya mulai tenang itupun berubah kembali merah padam.
Tiara menatap Arsya dengan wajah bertanya dan sedikit ragu. "Arsya udah liat Daddy dan mommy?". Arsya menggeleng dengan matanya yang berkaca membuat siapa saja akan merasa iba.
Tiara beralih menatap Erik yang menghela napas. "Kita kebagian informasi dulu, siapa tau disana orang tuanya sudah menunggu" usulnya. Tiara pun menyetujuinya.
Ketiganya pun menuju pusat informasi tapi sepertinya tak ada siapapun disana kecuali petugas. Saat masuk Erik langsung bertanya apa ada orang tua yang tengah mencari anaknya, tapi petugas menjawab tak ada. Erik dan Tiara semakin kebingungan apalagi kini Arsya tengah menahan tangis dipelukan Erik. Pria kecil berwajah kebulean itu menyembunyikan wajahnya di dada bidang Erik.
"Emmm begini saja ini nomor ponsel saya, jika ada orang tua yang mencari anak lelakinya hubungi saya segera" putus Erik bicara pada petugas.
Diluar ruang pusat informasi pandangan Tiara dan Erik tertuju pada Arsya yang masih menyembunyikan wajahnya di dada Erik. Tangan juga terus meremas jaket Erik, mungkin pria kecil ini tengah menahan tangis dan perasaan takutnya.
Tiara yang melihat jadi merasa kasihan tapi tak bisa juga menyalahkan orang tua Arsya yang lalai menjaganya. Dia tahu pasti orang tua pria kecil ini tengah mencarinya kesana kemari hanya perlu waktu saja untuk mereka segera bertemu.
Tiara membelai kepala Arsya untuk menenangkannya. "Arsya sayang tidak apa apa jangan takut, Daddy dan Mommy Arsya sekarang pasti juga nyari Arsya, mungkin sebentar lagi kita ketemu mereka" ucapnya menenangkan.
Mendengar ada sebuah harapan dari ucapan menenangkan aunty cantik itu, perlahan Arsya berbalik mengeluarkan wajah dari persembunyiannya yang amat nyaman. "Bener aunty?" tanyanya memastikan.
Tiara mengangguk sambil tersenyum dengan cerahnya menularkannya pada Arsya juga Erik tentunya yang paling terpesona. "Emmmm, kalau begitu sambil menunggu orang tuamu, kita bermain mau?" ajaknya.
Seketika itu juga wajah sendu Arsya berubah girang dengan mata berbinarnya. "Mau, mau" ucapnya setuju.
"Oke kalau gitu, lets go" ucap Tiara yang terus menggengam tangan Arsya sedang Erik yang masih menggendong pria kecil itu hanya bisa mengikuti keduanya.
Mencoba beberapa wahana permainan yang ada membuat seorang Arsya melupakan kesedihannya karena sudah terpisah dari kedua orang tuanya. Karena hanya bersama sepasang manusia yang sebenarnya tak dikenalinya ini tak membuatnya kehilangan kegembiraan dan kesenangan. Begitu pula untuk Erik dan Tiara, didatangi seorang anak kecil dan harus menjaga bukan sebuah beban. Tapi malah membuat suasana menjadi lengkap.
Jika dilihat ketiganya sudah seperti sebuah keluarga kecil, Erik yang menggendong Arsya dipundaknya sedang Tiara terus menggenggam tangan pria kecil itu sambil terus bersenda gurau. Betapa bahagianya keluarga ini.
Saat tengah memilih wahana apa lagi yang akan mereka nikmati, Tiara memergoki Arsya menatap kearah wahana kesukaan anak anak.
Tiara menahan tangan Erik untuk tak melanjutkan langkahnya. "Arsya mau masuk kesana?" tanya Tiara menunjuk ke wahana mandi bola.
Arsya sesaat terdiam, sebenarnya dia memang ingin sekali bermain disana tapi mengingat kejadian tak mengenakkan beberapa bulan lalu membuatnya sedikit takut.
"Mau, tapi Arsya takut" ucap Arsya pelan.
Tiara mengernyit. "Takut, kenapa?".
"Dulu Arsya pernah tenggelam ditumpukan bola itu, terus nggak bisa gerak lagi karena ada yang nahan kepala Arsya" terang Arsya.
Mendengar penjelasan Arsya, Tiara dan Erik saling pandang keduanya seperti memikirkan hal yang sama bahwa anak lelaki tampan ini mempunyai trauma kecil.
"Tapi Arsya pengen banget yah main disitu?" tanya Tiara lagi. Arsya menganggukan kepalanya lemah.
"Uncle temenin gimana, nanti uncle bakal jagain Arsya supaya nggak tenggelem lagi mau" ucap Erik meyakinkan.
Arsya sejenak berpikir tapi melihat tubuh sang uncle yang tinggi besar ini, pasti bisa menjaganya seperti Supermen kan. Hero kesukaannya.
Tanpa ragu lagi Arsya menjawab. "Mau".