
*Aku menyerah bukan karena tak lagi cinta, ada hal yang tak bisa kupaksakan. Ada beberapa hal yang jika dipaksa akan menimbulkan luka bagi kita*.
*
*
*
*
*
Bukan ke Apartemennya Erik dibawa pulang oleh Roy sang manager dari rumah sakit, melainkan ke mansion besar keluarga Wijaya. Padahal Erik sendiri sudah menolak keras tapi Roy juga bersikeras, keduanya sama sama punya kepala batu.
"Disini ada Sisil yang akan menjagamu dan merawatmu" bujuk Roy. "Juga ada Ayahmu yang akan melarangmu keluar rumah" tambahnya berbisik di dekat Erik yang memutar bola matanya jengah. "Awas kau!!!" ancamnya pada Roy yang hanya tertawa dengan puasnya.
"Oke Sil, Abang pergi dulu yah, masih banyak kerjaan di kantor, Abang titip si bandel ini ya" pesan Roy sembari mengacak puncak kepala pria disampingnya. Erik menepisnya sebal, Roy tertawa.
Saat ini dimansion memang hanya ada Sisil karena Wijaya dan sang istri berada diluar kota menghadiri undangan rekan bisnis sang Ayah tersebut. Perihal sang putra yang masuk rumah sakit mereka sudah tahu dan berucap akan segera nanti malam.
"Iya Bang, ati ati" jawab Sisil kemudian Roy pun pergi dari kamar Erik tersebut.
"Kak Erik minum obat dulu yah, abis itu boleh tidur" Sisil bicara sembari memilih obat yang akan diminum sang kakak. Untungnya pria itu sudah makan akibat paksaan Roy beberapa menit lalu.
"Kakak nggak sakit kenapa harus minum obat, kamu sama Roy sama saja, berlebihan" tolak Erik memperbaiki posisi bantal kemudian menidurinya.
Sisil menatap sebal pada sang kakak sambungnya itu. "Nggak sakit gimana, lambung udah hampir pecah gitu bilang nggak sakit, mau aku sobek dulu tu perut baru tau rasa!!!" omel Sisil membuat Erik yang awalnya terdiam jadi tergelak.
"Udah nggak usah cerewet, ketimbang minum obat aja susah amat!" tambah Sisil. Lalu memberikan obat yang sudah ia siapkan juga segelas air putih pada Erik.
Sisil memperhatikan sang kakak meminum obatnya, lalu menjawab Erik yang menanyakan soal hubungannya dan Ridan. Keduanya akan bertunangan bulan depan.
"Kak" panggil Sisil ragu saat Erik sekejap menutup matanya.
"Hmmmm" jawab pria itu berdehem, masih ada sisa rasa mual diperutnya.
"Itu, anu......" terasa berat Sisil untuk berucap, sampai matanya ia arahkan kemana mana. "Itu..., Kak Erik kenapa bisa minum banyak banget, padahal waktu di Jerman kakak selalu ingat batasan kakak kan?" tambahnya.
Sebenarnya bukan karena tak tahu alasan sang kakak melakukan itu, tapi lebih ingin memastikan saja apa yang diduganya.
Erik tak menjawab hanya terdiam beberapa menit, lalu mendengus. "Kalian bukannya nggak tau, apalagi kamu, semua orang sudah tau alasanku begitu karena Tiara, kenapa masih bertanya" jawabnya.
Sisil panik menggelengkan kepala. "Bukan gitu kak, iya aku tau karena kak Tiara, tapi alasan tepatnya apa, karena sepuluh tahun berpisah masih bisa membuat kakak bertahan, tapi kenapa baru beberapa hari ini kakak sudah demikian?".
Erik memang belum menceritakan detailnya kepada yang lainnya terkecuali saat bersama Ridan dan Joker, itupun keduanya yang mengingatkannya. Karena jika ia sadar tak mungkin Erik membeberkan kenyataan menyakitkan itu pada orang lain.
Pria itu menatap sang adik yang juga menatapnya dengan mata menggemaskan menunggu jawaban, tapi untuk menjawab ia tak ingin. Tentu hal itu akan menyakitkan untuk Sisil, sebab dikejadian itu juga ada gadis ini yang ditemukan pingsan di sebrang ruangan mayat Erina ditemukan. Mengingat itu Erik terbangun cepat, "Sil".
"Iya kak, kenapa?" jawab Sisil antusias.
Erik baru akan membuka mulutnya tapi selanjutnya malah menggelengkan kepala. Sisil sampai bingung jadinya. "Nggak, nggak papa, kamu keluar dulu deh, kakak mau istrahat sebentar" ucapnya pada akhirnya.
"Nanti kakak jawab, hmmm" ucap Erik dan akhinya Sisil menghalah gadis itupun keluar dari kamar Erik dengan rasa penasarannya. Sedangkan Erik yang memang hanya membuat alasan saja mengambil laptop, mengetikkan sesuatu disana.
"Aku harus cari tau kebenarannya" gumamnya.
*****
Tempat ini berbeda suasananya pun tak lagi sama, tapi Tiara tetap sama terbelenggu dalam dosa. Apakah ini yang dikatakan karma setelah apa yang dilakukannya, menyakiti orang lain tanpa belas kasih dan sekarang Tuhan membalasnya dengan membiarkannya tak bahagia bagaimana pun caranya. Sekalipun yang dilakukannya dulu pada orang yang tepat, bukan random.
Kini Tiara tengah berdiri di pembatas rooftop gedung yang sama belasan tahun lalu itu. Dengan tatapan kosong gadis itu memandang indahnya kota dari sana, atau bahkan kata indah pun tak dapat ia pikirkan karena pikirannya selalu tertuju pada Erina dan Erik.
Tiara terhenyak menunduk lalu perlahan berbalik melihat pemilik langkah kaki yang didengarnya, setelah melihatnya gadis itu kembali keposisinya semula.
"Kenapa memanggilku kesini?" tanyanya dingin.
Erik kini berdiri disamping Tiara melihat pemandangan yang sama namun dengan pikiran berbeda tentu saja. Pria itu memberikan sebuah amplop pada Tiara. Tanpa ragu Tiara menerima dan langsung membukanya.
Gadis itu tersenyum miring melihat isi amplop besar tersebut. "Sudah kubilang aku pelakunya, kau tak perlu menyelidikinya" ucapnya.
" Semua cctv saat itu menunjukkan kamu hampir setiap hari ada disana, tempat dimana Erina ditemukan dalam keadaan mengenaskan" Erik bicara tanpa menatap Tiara, gadis itupun melakukan hal yang sama.
Sudah seminggu dirinya menyelidiki apapun yang dapat ia temukan pada kejadian belasan tahun lalu, termasuk rekaman cctv beberapa gedung disana yang ternyata menunjukkan Tiara sering berlalu lalang disana dalam waktu yang berbeda.
Dan tepat pada hari ditemukannya Erina, paginya Tiara terekam masuk kedalam gedung yang sama. Dan hal itu semakin membuat hati Erik kecewa namun tak terima juga.
"Tentu saja, tempat ini adalah tempat favoritku hanya aku yang ada disini".
"Berikan aku penjelasan, Ra" kali ini Erik bicara menghadap Tiara, tatapan kecewa tak terima bahkan rindu tertuju pada Tiara seandainya gadis itu tahu.
"Penjelasan apa lagi?" tanya Tiara tertawa miris.
Erik memegang lengan atas Tiara membalik tubuh gadis itu agar menghadapnya. "Bilang Ra, bukan kamu kan, kamu nggak mungkin melakukannya kan, iyakan??!!!".
Sudah didesak seperti itu, Tiara tak juga membuat wanita itu menjelaskan kenyataannya, dia malah melepaskan tangan Erik dari lengannya. Lalu dia menatap pria itu datar. "Maaf, Rik" ucapnya lemah.
Erik amat prustasi berbalik badak sambil menjambak rambutnya sendiri, mengerang sekeras kerasnya lalu kembali menatap Tiara dengan tatapan iblisnya. Ia mendekat mengangkat tangan namun Tiara tak bergerak sedikitpun dari tempatnya bahkan hanya untuk sekedar memejamkan mata bersiap mendapatkan bagiannya dari Erik.
Tapi...., "Arggghhhhhhhhh....." Erik menghempas tangannya kesal.
"Apapun yang akan kamu lakukan padaku aku terima, bahkan kepenjara sekalipun, balaskanlah dendammu untuk Erina" ucap Tiara yakin.
Semenjak dia mengetahui bahwa gadis yang dulu kehilangan nyawa dengan pisaunya adalah Erina adik Erik, Tiara sudah memikirkan segala akibatnya. Termasuk pria itu yang mungkin akan membalaskan dendam atas kepergian adik tercintanya. Karena itu juga untuk mencintai Erik ia merasa amat jahat. Bisa bisanya pembunuh adik memiliki hubungan dengan kakaknya, mustahil bukan.
"Kenapa Ra, kenapa harus Erina yang kamu jadikan korban, apa salah adikku denganmu?" Akhirnya
Erik percaya dan bertanya alasan Tiara melakukan tindakan tersebut, pikirnya Tiara menjadikan adiknya korban kelainan psycopat wanita itu. Erik menanyakan itupun dengan nada kecewa dan mata berkaca.
Tiara sempat tercengang sedih tapi segera menepis agar tak terlihat Erik. "Tidak ada alasan" jawabnya.