Forget You, Remember Love

Forget You, Remember Love
Ep.25



_Sekalipun kita memiliki masa masa yang sulit, tidak akan ada apa apanya ketika kita memiliki lebih banyak kebahagiaan. Dan masalahnya kenapa dihidupku masa sulit berlangsung lebih lama dan kebahagiaan hanya sementara, apa salah dan dosaku sang maha pencipta?_


*


*


*


Bug!!!.


Erik meringis sambil memegang sudut bibirnya yang mengeluarkan rasa anyir. Dihadapannya Aditya menatapnya tajam dengan kilat emosi meliputi manik kelamnya.


Mereka bertiga kini berada di kamar dalam ruang kerja Aditya. Saat tau Tiara pingsan, Aditya memerintahkan agar wanita itu dibawa keruangannya dari pada kerumah sakit dan menyuruh supir membawa ambulannya pergi.


Dan setelah seorang Dokter yang dipanggilnya pergi usai memeriksa keadaan Tiara yang baik baik saja, Aditya melepaskan emosinya. Sudah dua kali Tiara drop saat Erik kembali hadir, membuat Aditya yang selama ini menjaganya sepenuh hati jadi marah.


"Apa yang kau lakukan padanya?!!!".


"Aku tak melakukan apapun" jawab Erik tenang. Tak berniat membalas pukulan Aditya karena merasa ia memang pantas menerimanya, walau nyatanya sedikit kesal juga.


"Lalu kenapa Tiara pingsan kalau kau tak berbuat apa apa?!!!".


"Tadi Anita tiba tiba mengambil kendali, saat dia kembali Tiara pingsan".


Aditya mengernyit. "Anita, dia kembali?".


Erik mengangguk, namun sedikit heran dengan ekspresi bingung pria bersetelan jas rapi didepannya itu. Bukannya perihal Tiara memiliki alter ego semuanya sudah tau termasuk Aditya, lalu apa yang membingungkannya.


"Ada apa?".


"Anita tak pernah muncul selama sembilan tahun terakhir, bahkan bicara pada Tiara pun jarang" terang Aditya. "Lalu sekarang dia tiba tiba muncul, apa itu karenamu?" tambahnya.


Erik menoleh menatap Tiara yang masih memejamkan mata, damai dalam tidurnya. Ia mengedikkan bahu. "Mungkin".


"Apa yang dikatakannya?".


"Hal yang tidak perlu kau tau" jawab Erik ketus, Aditya melengos kesal.


Kedua pria itupun menatap Tiara dalam diam. Berkelana dalam fikiran masing masing, yang tentu saja seputar wanita itu juga. Tentang apa yang disembunyikan wanita bertubuh mungil itu, apa yang dipendamnya dan hal hal misterius lainnya.


"Bagaimana wanita semungil dan serapuh dirinya bisa menyembunyikan semuanya?" tanya Erik tak mengerti.


"Itu dimata kita, tapi nyatanya dia itu wanita yang paling kuat" jawab Aditya.


*****


Tiara mengernyit saat dirinya bangun dari tidur yang amat panjang menurutnya, ia tak berada dikamarnya. Kamar ini terlalu luas dan tercium wangi maskulin dihidungnya. Tapi ini juga bukan kamar Aditya, lalu dimana dia.


Terakhir kali dia ingat dia berdua dengan Erik tadi, lalu kenapa dia disini?.


"Sudah bangun?". Erik dengan santainya keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Memamerkan roti sobek diperutnya, dada bidang dan lengan berototnya.


Dan lebih santai lagi sikap Tiara, bukannya berteriak atau menutup mata seperti wanita pada umumnya dia malah terlihat biasa saja. Malah terkesan kesal.


"Jadi ini kamarmu, kenapa kau membawaku kemari?!" tanyanya garang.


"Kamu menangis sampai tertidur dipelukanku jadi kubawa saja kamu kemari, aku tak tahu tempat yang lain apalagi rumahmu" jawab Erik sekenanya sambil berjalan kearah walk in closet nya.


Tiara bersidekap dada. "Kamu kan bisa nanya sama teman kerjaku atau Aditya, kenapa malah bawa aku kesini sih?".


Erik keluar sudah berpakaian santai, kaos oblong hitam dan celana selututnya. Ia lalu berdiri didepan cermin besar seukuran tubuh tingginya yang tersandar apik disudut kamar, menoleh sesaat pada Tiara yang menatapnya kesal. "Sorry, nggak kepikiran". Pria itu kemudian kembali berbalik bercermin sembari menyisir rambut dengan jari.


Tiara berdecih. "Jam berapa sekarang?".


"Dibelakangmu ada jam dinding segede gaban, masih nanya jam berapa?".


Tiara menoleh kebelakang, memang disana terpampang jelas jam dinding besar bergambarkan sang penyanyi itu sendiri. "Ckck, mana aku tau ada wajah jelekmu disitu".


Tiara terkejut saat melihat jam sudah menunjukkan pukul sebelas menjelang tengah malam. "What??!!!!!" pekiknya.


"Apa, apa kenapa??!" Erik sama terkejutnya.


Tiara cepat meloncat dari atas kasur king size Erik, berlari kecil melewati pria yang menatapnya dengan sebelah alis terangkat itu. Sebelum Tiara memegang gagang pintu kamar, Erik mencekal tangannya hingga wanita itu menoleh. "Mau kemana?" tanyanya.


"Kantor" jawab Tiara.


"Kantor?" beo Erik. Tiara mengangguk polos.


Erik tertawa renyah. "Dijam begini?" tanyanya lagi sambil menunjuk jam dibelakangnya. Tiara mengangguk lagi dengan mata mengerjap menggemaskan.


"Kamu itu kukira panik mau pulang malah mau kekantor, ini sudah hampir tengah malam waktunya tidur bukan bekerja" Erik mengacak gemas rambut Tiara sampai sedikit berantakan.


Wajah Erik yang awalnya tersenyum langsung berubah dingin. "Memang hanya kamu saja karyawan disana, apa hidupmu hanya untuk bekerja. Lihat tubuh kurus kecilmu ini karena akibat kamu terlalu sering bekerja, sekali sekali istirahat apa sesulit itu!" ucapnya datar tapi sedikit menakutkan bagi Tiara.


Tiara tertunduk. "I..., Iya tapikan aku bisa istirahat dirumahku sendiri".


"Istirahat disini apa bedanya, disini juga ada kasur, ada tv dan lainnya".


"Tapi ada kamu".


Erik kembali tersenyum. "Itu bonusnya".


Tiara mendongak tertawa, lalu menatap tajam Erik. "Menyebalkan!!!".


*****


Erik tengah menyelesaikan pengeditan lagu baru diruang kerjanya, saat suara ketukan dipintu menyita perhatiannya. Ia pun berjalan kearah pintu berwarna hitam itu dan langsung mematung melihat Tiara didepannya.


Jika dalam drama seorang wanita yang memakai baju prianya akan nampak sexy, pupuskanlah halu kalian dalam cerita ini. Karena nyatanya tubuh mungil Tiara nyaris tenggelam karena memakai baju kaos putih milik Erik, celana pendeknya saja sampai nyaris tak terlihat.


Tapi percayalah sepercaya kalian dimata seorang Erik Wijaya, wanita didepannya ini teramat menggemaskan.


Tiara yang baru saja selesai mandi walau tak keramas seperti tadi pagi itu merentangkan tangannya didepan Erik. Bibir bawahnya maju lima senti. "Aku udah kaya orang orangan sawah gini, bajumu besar semuaaaaaaaaaa" rengeknya seperti anak kecil merajuk, kakinya ia hentakkan kelantai bergantian.


Erik terkikik geli melihat Tiara mulai bisa bersikap manja ada rasa bahagia menggelitik hatinya. "Malah ketawa lagi" Tiara protes.


Erik cepat berdehem, lalu memegang pundak Tiara membalikkan kekanan dan kiri tubuh wanita itu. "Emang mirip sih, cloningan kurasa".


Dan langsung saja Tiara memukul lengan berotot pria itu bertubi tubi. "Hahahaha iya iya, maaf" ampun Erik masih bisa tertawa karena pukulan Tiara tak ada rasa baginya, dia tau wanita itu hanya memukulnya main main saja.


Karena jika Tiara sudah mengeluarkan kekuatannya bisa patah lengannya. Kecil kecil begitu cabe rawit asal kalian tau apalagi jika sudah bermain dengan pisau jagonya dia.


"Aku lapar buatkan aku makanan!" titah sang orang orangan sawah alias Tiara yang bersidekap dada.


"Nggak salah, dimana mana itu wanita yang membuat makanan bukan prianya" elak Erik.


"Itukan dimana mana, sekarang kita disini aku mau kamu yang bikin makanannya".


"Iya deh iya putri Keong" Erik mengacak puncak kepala Tiara.


"Hey aku manusia yah bukan hewan".


"Mau makan nggak nih!!".


Tiara memutar bola matanya jengah. "Iya deh, semaumu lah".


Erik mengurung kepala Tiara dilengannya, membawa wanita yang tak melawan itu menuju dapur. Setelah melepaskan Tiara, Erik memeriksa bahan makanan yang ada dikulkasnya. Memang dipenthousenya ini Art hanya datang sesekali untuk bersih bersih saja, soal makan Erik bisa memasak sendiri atau pesan online. Jeje juga dibebas tugaskannya bila ia sudah dirumah.


"Mau makan apa?" tanya Erik.


Tiara yang sudah duduk manis dikursi meja makan nampak berpikir. "Terserah" ujung ujungnya jawaban andalan keluar juga.


"Nasi goreng mau?" tawar Erik.


"Terlalu berminyak" jawab Tiara.


"Sandwich" tawar Erik lagi.


"Aku mau makan bukan mau ngemil".


"Oke, mie instan aja" putus Erik.


"Loh?" Tiara tak terima. Tawarannya tadi enak enak kenapa yang dimasak malah mie instan, diakan ngelak sekedar basa basi doang.


"Aku pilih jawabanmu yang pertama terserahkan, itu aja biar nggak berminyak sama bukan cemilan" ucap Erik sekenanya dan Tiara kalah telak. "Asem" umpatnya dalam hati.


Erik dan Tiara kini duduk santai didepan TV menikmati tontonan malam setelah melahap habis schnitzel buatan Erik. Tidak sepertinya hanya Tiara yang sangat lahap memakan makanan berbahan dasar ayam itu. Sedang Erik hanya memperhatikan sambil tersenyum.


Tiara duduk bersila diatas sofa serius menonton film fast furious didepannya. Erik hanya sesekali menoleh kearah tv karena perhatiannya terbagi pada laptop dipangkuannya. Ia duduk dilantai bersandar pada pinggir sofa yang diduduki Tiara. Jika dilihat mereka sudah seperti pengantin baru saja.


Lama terdiam karena kesibukan masing masing, Erik mulai mengeluarkan suaranya. Merasa suasana terlalu sepi. "Ra, sudah jam setengah dua pergilah tidur dikamar" ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari laptop.


Laporan Roy mengenai siapa saja artis yang akan masuk dinaungan agensi mereka, membuat Erik harus memilah. Ia tak ingin memilih artis yang tak bisa menyesuaikam diri dengan fisi dan misi agensi mereka.


"Ra," panggil Erik sekali lagi karena Tiara tak menyahuti.


Pria itupun menoleh kemudian tersenyum melihat Tiara sudah tertidur masih dengan posisi duduk, hanya kepalanya saja yang bersandar pada tangan sofa.


"Kau tak pernah berubah, Keongku".