Forget You, Remember Love

Forget You, Remember Love
Ep.13



Cinta itu buta, cinta itu bodoh. Seperti diriku yang masih mencintaimu padahal kutahu hatimu sudah terisi oleh orang lain.


*


*


*


Beberapa jam sebelum Aditya menemukan Tiara.


Mata memerah, bibir pucat dan dengan keadaan perut yang kosong Tiara masih memainkan kesepuluh jari tangannya diatas keyboar laptopnya. Waktu tayang yang tinggal menunggu beberapa jam lagi membuatnya harus bekerja ekstra.


Kemarin pun dikantor dia seharian hanya duduk dikursinya tanpa makan siang, hanya memakan sedikit cemilan yang dibawakan Joe dan beberapa gelas kopi sebagai penahan kantuk.


Akhirnya karena hanya tidur dua jam dan merasa sedikit demam, tadi pagi Tiara ijin bekerja dari rumah.


Tapi hingga detik ini pun demi menyelesaikan pekerjaannya Tiara sampai tak makan, sudah terhitung dua hari sejak kemarin. Seperti itulah dia jika sudah fokus dengan pekerjaan, segalanya ia kesampingkan.


Bruk!!!.


Setelah menekan tombol enter pada keyboardnya Tiara menghempaskan punggung ke sandaran kursi yang didudukinya. "Akhirnya selesai juga" ucapnya lega.


Ia melirik kedinding, sudah pukul delapan lewat tiga puluh menit. Tiara memejamkan mata sesaat, meregangkan otot leher juga seluruh anggota badan yang terasa kaku.


Tiara pun berdiri merasa lapar sudah menguasai diri. Namun saat hendak melangkah melewati ranjang berukuran sedangnya, wanita itu merasakan pusing menyerang kepalanya. Tubuhnya mulai tak seimbang.


"Shhhh" desisnya memegang kepala.


Dan, brukkk!!!!. Tiara pun pingsan seketika.


*****


Aditya memperhatikan Dokter yang tengah memeriksa keadaan Tiara, juga suster yang mengatur aliran infusnya.


"Gimana keadaannya, Dok?" tanyanya penuh kekhawatiran.


Dokter pria itu melepaskan stetoskop dari telinganya, mengaitkannya dileher. "Dia kekurangan cairan, sepertinya juga dia tidak makan beberapa hari ini itu yang membuatnya pingsan, dan dugaan saya dia terserang tipes kami akan memeriksanya lebih lanjut" jawabnya panjang lebar.


"Tidak makan?" gumam Aditya melirik wajah pucat Tiara. Wanita ini, bagaimana caranya dia menjaga tubuhnya sendiri.


"Dok, ini" seorang suster memberikan sebuah berkas dan Dokter pun membacanya.


"Mmmm, istri anda memang terkena tipes, biarkan dia dirawat beberapa hari disini sampai keadaannya mulai membaik, dan tolong perhatikan pola makannya Tuan, kalau begitu saya permisi dulu" ucap Dokter itu kemudian berlalu pergi bersama dua suster tadi.


"Istri???". Aditya melongo, dia malah gagal fokus pada perkataan sang Dokter yang mengatakan jika Tiara adalah istrinya.


"Seandainya itu terjadi, aku adalah pria paling bahagia dimuka bumi ini" gumam Aditya menatap sendu Tiara, lalu terkikik geli sendiri. "Tidak mungkin" lanjutnya.


Pria yang masih memakai setelan jas lengkap itupun duduk dikursi ranjang Tiara, membelai kepala wanita itu sayang. "Tiara, apa yang terjadi sampai kau bisa seperti ini?" tanyanya.


Aditya terkejut, saat seseorang membuka pintu ruangan Tiara dengan kasar. Nafas orang itu nampak tersengal sepertinya dia berlari kemari. Wajahnya juga nampak panik sekali.


Dia Erik. Aditya memang sudah mengabari pria itu sesaat setelah sampai dirumah sakit.


"Keong, kau kenapa???". Erik langsung menangkup wajah Tiara yang masih setia menutup mata.


"Hei, hei, lepasin lo nyakitin dia bego!" protes Aditya kesal.


Erik tersadar ia pun melepaskan tangannya dari wajah Tiara, tapi malah beralih menggenggam tangan wanita itu. Aditya memutar bola mata jengah.


"Ada apa dengannya, kenapa wajahnya pucat sekali, dan tubuhnya.....,".


"Dia terkena tipes, dia juga kemungkinan tak makan beberapa hari ini, dia benar benar lemah" jawab Aditya lemah.


"Bagaimana bisa, apa tak ada yang mengingatkannya untuk makan?".


"Tiara sekarang tinggal sendiri di Apartemennya, menurutmu siapa yang bisa mengingatkannya?". Aditya menjawab dengan kesal.


"Ya lo lah bego!!!" bentak Erik.


Aditya terkejut dengan bentakan Erik. "Lo udah jaga dia selama sepuluh tahun, ngingatin makan doang sesusah itu apa?!" tambahnya.


"Kau sudah kembali, jadi dia sudah tanggung jawabmu" balas Aditya.


"Bagaimana aku bisa melakukannya, saat melihatku saja dia sudah memalingkan wajah, apalagi menjawab telfonku seribu kalipun aku memanggilnya dia takkan menjawabnya".


Aditya tak lagi membalas ucapan Erik. Begitupun Erik tak lagi menyalahkan Aditya. Mereka sadar mereka sudah lalai dalam menjaga seorang wanita yang mereka cinta. Keduanya menatap Tiara dalam.


"Gue balik duluan, gue serahin Tiara sama lo" ucap Aditya memecah keheningan, kemudian berlalu setelah membelai pipi Tiara sebentar dan mendapat anggukan dari Erik.


Walaupun Erik cukup berterima kasih pada Aditya yang sudah menjaga Tiara selama ini untuknya. Dan menjadikannya sebagai penjaga kedua untuk wanitanya setelah dirinya sendiri. Tetap saja jika ada kontak fisik, atau mata sekalipun hati Erik tetap memanas dibuatnya.


Erik membawa tangan Tiara yang digenggamnya dengan sebelah tangan kepipinya, dirasakannya tangan itu mengeluarkan hawa panas mungkin karena dia sedang sakit.


Sedangkan sebelah tangannya lagi memperbaiki poni tipis yang membuat wajah itu semakin manis. Jika tertidur seperti ini wajah Tiara benar benar enak dipandang, pikir Erik.


"Apa kau sakit karenaku, apa kelakuanku membuatmu benar benar kesal?" tanya Erik pelan berfikir jika Tiara sakit karenanya.


"Aku tak akan membiarkanmu seperti ini lagi, aku akan menjagamu, menjadi alarmmu, menjadi bodyguardmu, dan menjadi pengisi hatimu lagi". Erik menatap wajah itu intens sampai tak disadarinya bibir pucat itu menarik dirinya.


Cup.


Erik mengecup bibir itu sesaat. "Cepat sembuh keongku".


Pria itupun menjaga sang wanita semalaman tanpa beranjak dan terus menggenggam tangannya. Hingga menjelang subuh ia ikut tertidur.


*****


Tiara membuka mata perlahan, kepalanya yang masih terasa pusing membuat mata lentik itu mengerjap beberapa kali. Ia mencoba untuk bangkit mendudukkan diri tapi rasa berat dipergelangan tangan kiri membuatnya melirik kesana.


Matanya seketika membelalak melihat seorang pria tertidur dengan wajah mengarah padanya.


"Sedang apa dia disini?" dialog Tiara dalam hati. Karena untuk mengeluarkan suara, tenggorokkannya terasa kering dan sedikit perih.


Tiara pun sadar ia tak berada dikamarnya, tapi rumah sakit?. Ia mengernyit, kenapa bisa apa aku pingsan pikirnya. Dan dia..,?.


Tiara menebak jika mungkin Erik yang sudah membawanya kemari, dan sepertinya sudah menjaganya sejak malam tadi. Tapi untuk melakukan semua itu sudah pasti Erik masuk kedalam kamarnya kan, sopan sekali dia. Tiara geram.


Jujur ia ingin sekali membentak pria ini jika ditambah dengan kelakukannya beberapa hari lalu, tapi saat menatap wajah damai yang entah kenapa dimatanya amat tampan itu Tiara jadi tak tega.


Dan tanpa sadar tangannya perlahan terangkat sedikit menyentuh rambut Erik. "Bukannya kamu benci, ngapain pegang pegang".


Tiara dengan cepat menarik tangannya lagi, mengalihkan pandangannya kemanapun selain wajah Erik.


"Sudah aku bilang jangan terlalu benci, karena benci beda tipis dengan cinta" ledek Anita.


Ya, sisi lain darinya itu masih ada sampai sekarang walau mereka sudah jarang berkomunikasi. Anita lebih nyaman berada dalam alam bawah sadar Tiara, meski empunya tubuh itu memanggil manggilnya. Ia hanya muncul sesekali saja.


Tiara berdecih. "Aku?, suka dia?, apa kiamat sudah dekat?" elaknya.


Anita berdecak. "Heh, tak sadar diri".


Merasa haus Tiara pun mengambil segelas minuman diatas nakas, setelah menarik perlahan tangannya yang digenggam Erik. Namun saat baru seteguk air itu mengalir kedalam kerongkongannya, mual menyerang.


Tiara cepat bangkit dari ranjangnya, mengambil infusnya dan berlari kecil ke arah toilet.


Erik mengernyit dalam tidurnya, mendengar suara seseorang muntah muntah membuatnya keheranan. "Siapa sih pagi pagi, begini" gumamnya masih belum membuka mata.


Sesaat kemudian matanya langsung terbuka lebar bersamaan dengan tubuhnya yang langsung berdiri tegak. "Tiara!!" pekiknya.


Melihat wanita itu tak ada lagi diranjangnya, Erik segera menghampiri wanita itu ditoilet dia pasti disana. Dan benar saja Tiara sudah mengeluarkan semua isi perut yang hanya cairan bening di westafel.


Erik sigap mendekat mengambil alih infus yang dipegang Tiara, dan sebelah tangannya lagi memijat tengkuk wanita itu. Berdiri disampingnya tanpa rasa jijik sedikitpun.


"Per....gi" tolak Tiara tak ingin dibantu maupun dilihat. Dan kembali mengeluarkan sedikit cairan dari dalam mulutnya.


"Kau seperti ini mana bisa aku pergi, sudah jangan keluarkan lagi, perutmu benar benar kosong saat ini, bisa bisa tenggorokanmu terluka" ucap Erik lembut.


Setelah mual Tiara meredam, Erik pun sigap membilas mulut wanita itu dengan air dari keran. Tiara tertegun.


"Sudah?". Tiara menganggukkan kepala lemah.


Erik memberikan infus itu pada Tiara, lalu membawa sebelah tangan wanita itu kepundaknya. Pria itu langsung menggendong tubuh lemah Tiara ala bridel style keluar dari toilet.


Erik kembali merebahkan tubuh Tiara keatas ranjang, wajahnya bertambah pucat dengan bibir membiru. Suhu tubuhnya pun bertambah panas. Erik panik jadinya.


"Kenapa tak membangunkanku tadi, kenapa kau jalan sendiri" tukas Erik kesal karena khawatir.


Tiara tak menjawab dia merasa tubuhnya amat lemah, matanya saja yang tertutup dan terbuka dengan pelan.


"Haish". Erik frustasi melihat sang wanita lemah sekali.


Ia memencet tombol merah diatas ranjang pasien. Namun yang datang bukannya Dokter malah Ob yang membawa makanan.


"Aku memanggil Dokter kenapa kau yang datang?!" bentak Erik marah marah membuat sang Ob seketika gemetar melihat sorot nyalang darinya.