
_Bukan salah waktu, orang atau cinta. Tapi salahku yang masih terbelenggu dikesalahan masa lalu_.
*
*
*
Lima bulan setelah kepergian Erik, dan dua hari setelah pengunguman kelulusan siswa angkatan Tiara dan Mala.
"Tante minta tolong kamu hibur Tiara yah, sudah dua hari ini dia mengurung diri dikamar, tante khawatir" pinta Nurmi Mama Tiara pada Mala yang mengunjungi rumahnya.
"Iya tante" jawab Mala.
"Sama ini, tolong bujuk dia makan, dari malem dia belum makan soalnya" Nurmi memberikan nampan berisi makanan pada sahabat satu satunya putrinya itu.
Mala mengernyit. "Tiara belum makan Tan?". Nurmi mengangguk lemah. "Kalau gitu aku kekamarnya dulu Tan" pamitnya.
Tok, tok, tok.
"Ra, ini aku Mala, boleh masuk nggak?".
Tok, tok, tok.
"Ra.." panggil Mala sekali lagi karena sedari ia mengetuk pintu sang empunya kamar tak kunjung membukakannya.
Baru Mala ingin melangkah pergi berniat meminta kunci cadangan kamar Tiara pada Mamanya, tapi baru selangkah pintu kamar itu terbuka secelah.
Mala tersenyum senang, dan langsung masuk kedalam kamar yang...., gelap. Lampu tak menyala, jendela jendela tertutup horden membuat kamar itu jadi pengap. Hanya ada cahaya dari pintu kamar yang terbuka saat Mala masuk tadi, dan sekarang sudah ditutup Tiara.
Gadis itu pun kembali berjalan tanpa kesulitan sedikitpun, Mala menebak dia menuju ranjangnya. Mala yang tak begitu hapal penempatan barang dikamar sang sahabat walau ia sering bermalam disinipun bertanya.
"Ra, aku nyalain lampunya yah, gelap aku nggak liat apa apa".
"Hmmmm".
Mala pun meraba dinding disamping pintu, mencari saklar lampu yang pasti tak berpindah tempat.
Klek!.
Mala terdiam terkejut, saat lampu menyala dan menoleh matanya menangkap kamar ini bagai kapal pecah. Lembar kertas diary berhamburan dimana mana, barang barang pun nampak tak pada tempatnya. Sepertinya Tiara sudah mengamuk semalam.
Mala mencoba melangkah mendekati Tiara. "Abis gempa bumi semalem yah, Ra" tanyanya sedikit bercanda.
Tapi gadis yang duduk dipinggir ranjangnya itu hanya diam dengan wajah menunduk. Mala pun baru sadar jika Tiara masih memakai pakaian toganya dua hari yang lalu, berarti Tiara tak melakukan apapun setelah pulang kerumah dan malah membuat kekacauan ini.
Mala menaruh nampan yang dibawanya keatas nakas samping ranjang Tiara, lalu duduk disampingnya. Gadis itu menangkup wajah sang sahabat mengarahkan wajah bermata panda itu padanya.
"Kamu yang dulu ngeledek aku putus cinta sampe nangis nangisan, sekarang malah kamu lebih parah udah mirip mayat idup tau nggak".
"Baru tau kan sekarang gimana sakitnya patah hati" tambah gadis itu yang bukannya menghibur malah menambah derita si gadis putus cinta yang berlayar baru setengah samudra sudah karam tabrakan sama lumba lumba.
Mala memperbaiki helai rambut berantakan Tiara. "Kamu yang melepaskan tapi kenapa harus kamu juga yang menderita, semua orang jadi sedih ngeliat kamu begini Ra" ucap Mala tak lagi bercanda.
Mendengar kata melepaskan mata Tiara kembali mengeluarkan kristal beningnya. "Aku nggak kuat La tanpa dia, aku nggak bisa" isaknya yang ikut membuat Mala menangis.
"Bantu aku melupakannya, bantu aku" tambah gadis itu dengan nada melemah lalu tersungkur dalam pelukan Mala yang panik seketika. "Tante!!".
Setelah hari itu Tiara dinyatakan koma, atau lebih tepatnya tertidur dibawah alam sadarnya. Dia memilih tidur dari pada harus merasakan sakit dihatinya yang luar biasa, dan rindu yang amat sangat pada pemuda bernama Erik yang benar benar meninggalkannya entah kemana.
Mala, Aril, Joker dan Ridan pun bergantian menjenguk Tiara yang koma. Sebulan ia koma akhirnya Tiara terbangun, Mala langsung melesat kerumah sakit sampai meninggalkan mata kuliahnya.
"Tiara!!" pekik Mala memeluk tubuh lemah itu.
"Syukurlah" ucap ketiga pemuda yang menemani Mala.
"Gimana apa yang sakit Ra, terus kamu masih ingat aku kan yah" isak Mala mencerca Tiara dengan banyak pertanyaan lainnya.
Tiara menggeleng dengan sedikit senyumnya. "Nggak ada, masih lah kamu sahabat terbaikku" lagi lagi Mala memeluknya.
"Memangnya setelah kecelakaan aku koma berapa lama?" tanya gadis itu polos. Mala terdiam sedang Aril, Ridan dan Joker saling pandang. "Kecelakaan?".
"Kamu nggak ingat kenapa kamu koma?".
"Karena kecelakaan kan?".
"Bukan, tapi karena kamu dua hari nggak makan, kamu nggak bisa ngelupain Erik, Ra".
Tiara mengernyit. "Erik, siapa?". Semua orang tercengang dengan kepolosan wajah Tiara.
Diruangan pribadi Dr. Hendri.
"Sepertinya Tiara benar benar melupakan Erik dengan caranya, saat sadar pun ia bertanya kenapa bisa koma, dan kami hanya menjawab karena sebuah kecelakaan. Karena jika kami menceritakan yang sesungguhnya Tiara mungkin akan kembali menutup matanya. Komanya ini adalah cara agar semua tentang Erik menghilang tak bersisa" terang Hendri Papa Tiara.
"Tapi dia masih ingat dengan kami" lanjut Joker tak mengerti.
"Tiara adalah anak yang istimewa, kalian pasti tau jika dia seorang syco tapi apa kalian tau dia juga punya kepribadian lain bernama Anita?".
"Aku tau" jawab Mala tapi tidak dengan ketiga pemuda dibelakangnya.
Kenyataan jika Tiara syco saja sudah membuat Aril dan kedua sahabatnya takjub apalagi jika harus dibarengi dengan Alter ego.
"Anita bisa membantunya menghilangkan salah satu ingatan Tiara, tapi dengan cara Tiara harus tertidur lama".
"Sebenarnya Tiara sudah pernah mengalami koma, tapi tak separah ini sampai ia melupakan secara detail seseorang, sepertinya hatinya teramat sakit" tambah Hendri.
"Tak sama seperti seorang Amnesia yang masih bisa diingatkan lewat kejadian berulang, tapi tidak dengan Tiara jika kalian menceritakan Erik atau dia melihat wajahnya sekalipun Tiara takkan mengingatnya, ini kasus langka di pasien alter ego".
"Tapi walaupun begitu Tiara udah nggak papa kan Om, dia udah balik seperti sebelumnya kan?". Mala sungguh mengkhawatirkan sahabatnya.
Hendri mendesah panjang. "Om belum tahu pasti, tapi sepertinya akan ada efek berkelanjutan".
"Om harap kalian bisa melaporkan jika ada keanehan pada Tiara" tambahnya.
"Ba..,baik om".
*
*
*
*
*
Erik terdiam lagi lagi kenyataan tentang wanitanya menusuk hatinya bertubi tubi. Ternyata Tiara amat merasakan efek dari perpisahan mereka, dari pada dirinya yang hanya terbelenggu dengan rasa rindu dan penasaran.
"Walau ini bukan sepenuhnya salahmu, tapi aku mohon Rik, jangan membuatnya terpuruk lagi, aku nggak sanggup kalau harus liat Tiara terbaring lagi, aku takut" pesan Mala.
"Itulah niatku kembali".
"Pelan pelan aja Rik, jangan terburu buru, gue yakin dia jodohmu". Erik mengangguk.
"Kamu udah nyusun rencana deketin dia lagi, atau perlu bantuanku?" tanya Mala setelah menyuap sesendok cheseecake kemulutnya.
"Gue pasti ngubungin kalian kalau butuh" jawab Erik.
Erik memperhatikan Mala yang makan dengan lahap sedang Aril mengecek ponselnya yang sedari tadi berdering, ada pesan masuk.
"Cewek lo model kan yak, tapi kenapa makannya kek kuli bangunan dah" sindir Erik.
"Biarin aja, dompet sultan gue juga nggak bakal miskin kalau buat kasi makan dia doang" jawab Pria penerus satu satunya kerajaan bisnis sang Ayah itu. Mala pun memeletti Erik.
"Cih, yang satu cuekkan yang satu songong, cocoklah kalian".
*****
Besok adalah hari pertama syuting program 'Sepuluh hari bersama WAREN ROYSE'. Semua orang yang berkaitan sudah bekerja sesuai peran masing masing. Dan disinilah Tiara sekarang di Penthouse pribadi milik Waren Alias Erik.
"Emmm, ia Bang, sutradara masih ngeliat liat lokasinya dimana pengambilan gambar yang bagus, iya, oke bang". Sedari tadi Tiara amat sibuk menelpon sana sini, mengarahkan sana sini.
Dan sedari tadi juga seseorang terus saja memperhatikannya dari sudut ruangan. Siapa lagi kalau bukan Erik, pria itu bukannya membantu malah menikmati sekali raut kelelahan diwajah manis Tiara.
Erik yang tadi bersandar dikusen pintu, tiba tiba berdiri tegak melihat Tiara mengipas wajahnya dengan jari jari lentiknya. Wanita itu kepanasan. Erik pun pergi kedalam kamarnya mengambil sesuatu disana.
"Hey, Kau" panggilnya pada salah satu kru yang bekerja. "Berikan ini pada wanita itu." titahnya memberikan sebuah kipas mini.
Erik terus memperhatikan saat Tiara menoleh dan menerima kipas yang diberikannya lewat seorang perantara tersebut. Tak lama pria itu terpana.
Helai rambut panjang Tiara, juga helai tipis poni wanita itu melambai melambai saat kipas mini menyala ia arahkan kewajahnya. Alhasil pemandangan menyejukkan mata terpancar jelas dimata Erik.
Pria itu mengerjap melihat kecantikan alami wanita didepannya. Tangannya sampai bergetar ingin sekali menyentuh rambut yang sering dibelainya dulu.
"War, Waren".
"Yes, I'm". Erik menjawab tanpa mengalihkan pandangannya pada Tiara yang sudah menjauhinya.
Sampai Roy menepuk pundaknya pun Erik masih tak bergeming. "If you like being close, don't leave it".
"I'm trying".
"Ckckck, I see" sindir Roy sambil berlalu pergi. Erik berdecih.
Aku tak perduli apakah kau jodohku atau bukan, tapi aku yakinkan hanya kaulah yang kuperjuangkan.