
*Ada rindu, yang selalu jatuh diterik sepi yang lupa berteduh*.
*
*
*
*
*
Erik mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalan kota. Jalan yang dulu sering dilewatinya dengan canda tawa bersama gadisnya. Sambil mengenang masa lalu, Erik terus melajukan kendaraannya.
Sampai tiba disebuah SMA dimana hari harinya yang biasa dulu jadi berwarna karena kehadiran gadis syco bernama Tiara.
Erik turun dari mobilnya, melihat lihat bangunan yang seingatnya berwarna putih sekarang menjelma bagai daun raksasa. Sekolahnya mengubah warna cat yang asalnya putih menjadi hijau.
Ia pun masuk kedalam sekolah tersebut dengan sambutan dari seorang satpam yang sama sekali tak berubah hanya sedikit lebih tua.
"Ada perlu apa Pak?" tanya pria paruh baya itu menatapnya heran.
Erik memperhatikan satpam didepannya, kemudian mendekatinya dengan senyum hangat. "Pak Mamat, lupa sama saya?" tanya balik Erik. Ia juga sedikit terkejut kalau sejak dirinya sekolah dulu satpam disini belum juga berganti.
Ditanya seperti itu Pak Mamat pun menyipitkan mata berusaha mengenali pria tampan didepannya. "Den, Erik" ucapnya tak menyangka.
Karena seingatnya perawakan Erik itu berantakan dan sedikit, ah bukan sedikit tapi persis seperti berandalan. Dan lihatlah sekarang, pria berkacamata hitam itu amat tampan dengan celana jeans dan long coat yang dipakainya.
"Iya Pak, murid tauladan yang dulu sering manjat tembok terus bapak teriakin, dan yang masih bapak tutupin pagar padahal sudah disogok sebatang rokok apache" terang Erik mengundang tawa keduanya.
"Apa kabar Den, makin ganteng aja nih sekarang?".
"Baik pak, tapi masih terisi rindu dihati" jawab Erik yang hanya ditanggapi kekehan pak Mamat.
"Saya mau liat liat kedalem boleh Pak?".
"Boleh Den, kebetulan didalem nggak ada jadwal ngajar mengajar, lagi pada piknik semesteran".
"Terima kasih, kalau gitu saya masuk dulu Pak".
Erik pun memasuki sekolah lebih dalam lagi dan yang pertama ia jumpai adalah lapangan dimana dulu menjadi tempat upacara, sekaligus tempat mereka bermain basket ria selain aula olahraga.
Pria itu berjalan ketengah lapangan melihat ada bola basket yang tergeletak, iseng iseng ia pun memainkannya sejenak.
Lelah bermain basket Erik memilih berjalan berkeliling melihat lihat kelas kosong tersebut. Kenangan terus berputar dipikirannya, bukan hanya tentang kenangan manis bersama Tiara tapi bersama sahabat yang selama ia pergi tak pernah ia hubungi lagi.
Puas menikmati suasana baru sekolah itu, Erik pun pergi setelah pamit dengan Pak Mamat yang ia beri sedikit uang sebagai permintaan maaf karena sudah membuat pria paruh baya itu berlari mengejarnya yang ingin bolos dulu.
Tanpa disadari Erik malah melajukan mobilnya kerumah yang pernah ia tinggali. Rumah yang saat itu terkejut mendapati dirinya basah kuyup, dan menerimanya tinggal sampai i
"Apa dia masih disini?" gumam Erik bertanya pada diri sendiri.
Karena penasaran dan siapa tau keberuntungan memihaknya. Ia pun turun dan memencet bel ditembok samping pagar. Berharap yang membukakan adalah Tiara.
Tapi nyatanya seorang pria lah yang membukakan pintu pagar. Dari penampilannya sudah pasti bukan penjaga, atau pengurus kebun. Erik sempat tertegun, berfikir mungkin ini suami Tiara. Gadisnya telah menikah.
"Maaf cari siapa?" tanya Pria itu sopan.
Erik terhenyak. "Saya mencari Tiara, ada?".
Pria itu menaikkan sebelah alisnya, menelisik penampilan pria bertopi dan kacamata hitam didepannya. Sambil bersidekap dada dan wajah berubah sangar pria itu balik bertanya dengan nada tak suka. "Ada apa anda mencari istri saya?".
Deg.
Erik terpaku. Benar gadisnya telah menikah, tapi siapa pria ini. Bukannya dulu Tiara berpacaran dengan Aditya atau mereka berpisah.
"Istri?" beo Erik. "Jadi Tiara sudah menikah?".
"Ya, Tiara sudah menikah sepuluh tahun yang lalu" jawab pria itu ketus.
Sepuluh tahun, selama itu. Lalu Aditya?.
Keduanya terdiam dengan pikiran masing masing, sampai sang istri bernama Tiara ikut keluar karena sang suami tak kunjung kembali dari membukakan pagar untuk tamunya.
"Siapa Mas?".
Mendengar suara wanita Erik lantas mendongak antusias, ia sampai membuka kacamatanya untuk memperjelas penglihatannya.
"Tau nih, katanya cari kamu, kamu kenal atau jangan jangan dia mantanmu?" seorang suami yang sedang cemburu mengintrogasi.
Sang istri pun memperhatikan pria tampan didepannya, tapi sayangnya bukan mantannya kenal saja tidak. Kalau punya mantan begini mah, aku nggak bakalan nikah sama kamu. Pikir si istri du
"Maaf, siapa yah, saya tidak kenal dengan anda" ucap wanita bernama Tiara itu pada Erik yang terpaku.
"Kamu Tiara?".
"Ya, saya".
Erik langsung terkekeh, seingatnya walaupun sebentar dan malam hari. Ia ingat jelas bagaimana tampilan Keongnya. Bukan seperti wanita didepannya yang tubuhnya sedikit berisi juga rambutnya yang bergelombang.
"Maaf sepertinya saya salah alamat, atau salah orang. Yang saya cari Tiara Putri Hendriwan".
Erik cepat mengangguk, matanya berbinar. "Iya".
"Mereka sudah pindah, tapi saya dengar Tiara masih dikota ini" terang pria itu.
"Apa anda tau dimana dia tinggal?".
"Kalau itu saya kurang tau".
Kekecewaan sedikit menghampiri Erik. "Oh baiklah kalau begitu saya minta maaf telah menganggu, terimakasih atas informasinya saya permisi".
Pria tadi dan istrinya pun mengangguk, memperhatikan sampai Erik pergi dengan mobil sport berwarna hitam miliknya.
"Matanya matanya, nggak bisa liat yang cakep dikit biru langsung tuh biji mata".
"Paan sih, mas rejeki kan nggak boleh ditolak".
Perdebatan mesra suami istri itupun terjadi setelah kepergian Erik.
"Eh tapi, perasaan muka itu familiar deh tapi siapa yah?" ucap sang istri sambil berjalan masuk menggandeng tangan suaminya.
"Ckckck, kamu mah tiap cowok ganteng juga familiar, oppa oppa dilaptop mu aja sampe kamu jadiin pacar online".
"Ishhh, aku serius lo, lagian mukanya juga rada kebarat bukan keselatan, bukan oppa dong mister".
"Bodo amat".
"Ishhh mas ih, tungguin" sang istri berlari kecil mengejar suami yang berjalan meninggalkannya, malas membahas pria lain idaman online nya itu.
*****
Keesokan paginya.
Tiara tengah memakaikan sedikit lipstik berwarna nude di bibir mungilnya, lalu memperbaiki poni tipisnya. Saat terdengar bunyi ponsel diatas meja rias wanita itu menjawab panggilannya.
"Halo".
"Oh iya benar".
"Baik, setelah jam makan siang".
"Terima kasih, sampai jumpa".
Tiara menghela napas lega, setidaknya pihak artis yang ditunjuk Aditya untuk bekerja sama dengan teamnya menelpon bukan untuk membatalkan janji, tapi merubah jam pertemuan mereka.
Sebelum menjawab panggilannya tadi Tiara bahkan sudah berfikir negatif saja, kalau kalau pihak Waren langsung menolak sebelum mereka bertemu.
Ting, tong, ting, tong.
Tiara melangkah keluar kamar melirik kearah pintu Apartemennya, sepagi ini siapa yang bertamu pikirnya.
Sudah sejak Tiara berkuliah wanita itu memang tinggal disebuah Apartemen yang dibelikan sang Papa untuknya. Tak mewah seperti Apartemen sultan, tapi cukup nyaman untuk ditinggalinya. Sedangkan sang Papa dan juga Mamanya memilih untuk tinggal disebuah pedesaan karena jasa Hendri dibutuhkan disana.
"Tiaraaaaaa, aku kangen" seru Mala saat pintu terbuka, adik kesayangan Aditya itu langsung saja menubruknya dengan penuh kerinduan.
Wanita yang sekarang berprofesi sebagai model itu, baru saja pulang dari Prancis untuk memenuhi permintaan seorang desainer yang ingin menjadikannya model pakaiannya.
Tiara memutar bola matanya. "Ckckck, aku nggak tuh" ucapnya memancing bibir monyong lima senti Mala tercipta.
Tiara tertawa sambil mencomot bibir merah nan sexy itu. "Cocok nih, jadi model bebek panggang".
"Ish, Ara" rengek Mala memanggil nama kesayangan yang diberikannya untuk Tiara.
"Iya, iya" jawab Tiara menarik tubuh Mala yang masih lebih tinggi darinya itu untuk dipeluknya. Agar sang sahabat menyudahi rengekannya.
Tiara melirik koper yang ada dibelakang Mala. "Jangan bilang kamu langsung kesini abis dari bandara" terkanya sambil melepas pelukan.
Mala melirik kekopernya lalu kembali pada Tiara, ditunjukannya cengiran kuda yang membuat Tiara menghela napas.
"Oon, kamu mau orang rumah sibuk nyariin kamu apalagi Kak Adit, sudah heboh pasti dia" tukas Tiara menoyor kepala Mala.
Bukan tak beralasan atau lebay Tiara bersikap kesal begitu. Tapi karena lima tahun lalu Mala pernah diculik dengan alasan dirinya amat cantik menurut si penculik yang menginginkan wanita itu menjadi istri keduanya. Membuat semua orang panik, termasuk Aril sang kekasih yang langsung mengerahkan seluruh anak buahnya mencari Mala.
"Terus, Aril udah kamu kabarin?" tanya Tiara. Mala menggeleng dengan senyumnya.
Tiara berdesis dengan sedikit menggigit bibir bawah sangking gemasnya. "Ya udah sana sarapan, aku bikin sandwich tadi".
Wanita itu terkejut saat Mala kembali memeluknya. "Kamu emang temen paling best, tau aja kalau aku lagi laper" ucapnya dan langsung melesat kearah meja makan.
"Cih".
"Emmm, cewekmu disini, iya lagi makan keknya kelaperan, bawa pulang gih aku mau kerja" ucap Tiara menelpon seseorang untuk menjemput model yang katanya cantik tapi makannya kaya kuli itu pergi dari apartemennya.
"Ara aku pulang yah" ucap Mala dari dalam mobil Aril, sang kekasih yang dipacarinya sudah seperti kredit rumah.
"Iya pulang sana, dari pada dirumahku ngabisin makanan, ngaku model tapi hobi makan, balik sono" usir Tiara dengan nada bercanda, dan Mala hanya terkekeh saja.
"Dadah, mmmcuuahhhhh" Mala melambai pada Tiara yang menjawab dengan lambaian tangannya juga tapi bibir tipisnya berkata. "Ih, najis tralala". Keduanya tertawa.
👩💻 Lanjut nggak?.