Forget You, Remember Love

Forget You, Remember Love
Ep.31



_Jika kau berada diantara dua pilihan, meninggalkan atau merelakan mana yang kau pilih?_


*


*


*


"Karena aku tau menunggumu adalah satu keputusan yang akan membuatku menyesal".


Erik terpaku dengan jawaban yang diberikan Tiara. Dalam pikirannya ia menerka untuk masa yang manakah jawaban yang dilontarkan Tiara, malam itu atau malam ini. Tapi untuk malam yang manapun pasti terselip luka dalam dihati Tiara, Erik tahu itu.


"Pfffftttt, hahahaha". Erik tercengang tangannya yang semula memegang kedua lengan Tiara melonggar dan akhirnya terlepas saat ia melihat wanita itu tiba tiba tertawa lepas.


"Kenapa kamu serius sekali??" tanya Tiara disela tawa gelinya.


"Kamu pikir aku bodoh mau menunggumu disana, dari pada menunggumu lebih baik aku bersenang senang" tambahnya yang membuat Erik berdecak tak percaya. Lagi lagi pengaruh minuman membuat Erik mengutuk cairan sialan itu.


Erik mengernyit saat masih dengan tawanya Tiara membuka pintu mobil yang terparkir cantik dipinggir jalan sepi itu. "Hey, Ra kamu mau kemana?".


Tiara tersenyum. "Apalagi, bersenang senang lah" jawabnya lalu berjalan sempoyongan kearah depan menjauhi mobil. Erik pun sigap mengikutinya.


Dimalam gelap dengan sesekali kilatan cahaya pertanda bahwa langit akan menurunkan tangisannya, Erik terus mengikuti langkah gontai Tiara yang terus tertawa entah untuk apa. Dengan asiknya ia terus berjalan kedepan sambil merentangkan tangan. Berputar putar bagai mendengar alunan sebuah musik.


Tak lama menunggu hujan pun mulai turun dengan awalnya hanya rintik rintik manja menjadi aliran deras air yang menghujam daratan. Erik mulai panik, mendekat kearah Tiara yang terdiam membelakanginya.


Erik bergegas membuka jaket yang dipakainya dan langsung memakaikan pada tubuh mungil Tiara. Tapi betapa terkejutnya ia saat mendapati Tiara menangis bahkan sudah terisak.


Erik tetap memakaikan jaketnya ketubuh mungil itu lalu menangkup wajah Tiara. "Ada apa kenapa kamu menangis, apa karena hujan?". Ibu jarinya mengusap lembut jejak air mata dipipi Tiara.


Tiara tak menjawab ia malah semakin terisak dengan tangan terkepal ditempelkannya didada, ia jatuh terduduk diaspal basah. Erik ikut berlutut didepannya.


"Tiara ada apa katakan, apa ada yang sakit hem?". Nada bicara Erik semakin lembut, amarahnya yang tadi entah hilang kemana. Tangannya ia tempelkan tepat diatas kepala Tiara, menghindarkan wanita itu dari derasnya hujan.


"Hatiku, hatiku sakit, aku rindu sangat merindukannya" jawab Tiara terisak sesenggukan memukul dadanya berulang ulang.


Erik tertegun, ia tahu untuk siapa rindu itu untuk siapa rasa sakit dihati Tiara yang tak lain adalah untuk dirinya. Ia hanya tak menyangka sedalam itu perasaan Tiara untuknya yang bahkan sama atau lebih dalamnya. Melihat Tiara seperti ini Erik tak tega tapi ada yang harus dipastikannya.


"Siapa, siapa yang kamu rindukan?".


Tiara menggeleng. "Aku tak tahu untuk siapa air mata dan rindu ini tertuju, tapi aku tak kuat lagi menahannya aku benar benar tersiksa dengan rasa ini".


"Aditya, apa untuknya?" tanya Erik datar. Lagi lagi Tiara menggeleng.


"Untukku?".


Tiara terdiam mendongak menatap netra abu penuh tanda tanya itu lama. "Apa itu benar kamu, kamukah orangnya, karena kehadiranmu dalam hidupku membuatku terus memikirkanmu".


Erik tersenyum senang mendengar jika selama ini Tiara memikirkannya. "Kalau itu benar aku, sungguh beruntung diriku, tapi cobalah ingat kembali siapa sebenarnya orang itu".


"Bukan kamu?" tanya Tiara bingung. Erik mengedikkan bahu.


Tiara menatap sendu wajah tampan berahang tegas itu, dengan tangan dinginnya perlahan Tiara menyentuh wajah Erik. Pria itupun terdiam merasakan tangan mungil yang bergetar itu meraba wajahnya, dingin tapi entah mengapa hatinya malah menghangat dan seperti terbang keatas awan.


"Entah mengapa aku merasa pria itu kamu, tapi anehnya aku tak mengingat sedikitpun tentangmu, sekalipun aku mencoba berulang kali".


Erik menyentuh tangan Tiara yang ada dipipinya. "Ikuti kata hatimu apapun pilihanmu aku pasti akan selalu ada diantaranya, walau mungkin akan terasa sedikit menyakitkan saat kamu ingat semuanya".


Tiara terdiam mencerna apa yang dikatakan Erik, sampai matanya tak mampu lagi untuk terbuka. Kepalanya mulai pusing disertai tubuh yang semakin lemah, ia pun terjatuh tak berdaya dipelukan Erik.


Pria itu sigap menggendong sang wanita ala bridal style, masuk kedalam mobil dan kembali kepenthousenya.


"Terimakasih" ucap Erik memberikan beberapa lembar uang pada seorang wanita yang bekerja membersihkan penthousenya saat pagi atau saat tak ada orang. Karena sudah menggantikan pakaian basah Tiara.


"Sama sama Tuan, jika perlu bantuan lagi panggil saya saja".


Erik duduk disisi kasur sambil bersandar pada kepala ranjang tepat disebelah Tiara yang tertidur, menatap wajah damai itu sedalam dalamnya. Entah tengah memikirkan apa, tapi isi kepala Erik kini penuh dengan banyak pertanyaan yang tak bisa ditanyakannya pada Tiara.


Akhirnya Erik memilih membungkukkan badannya, mengecup sedikit lebih lama kening berponi tipis itu. Lalu ikut menutup mata dengan posisi duduk sebelumnya, menjaga jika tiba tiba Tiara terbangun karena mimpi buruk. Erik terbawa masuk kebawah alam sadarnya.


*****


Tiara memegang kepalanya yang terasa amat berat sambil mendesis sakit, tenggorokkannya juga terasa pahit dan perih. Masih dengan mata yang mencoba mengerjap Tiara mulai mendudukkan dirinya.


"Arrggghhh, kepalaku" keluhnya dengan suara serak.


Tiara kembali mengerjap mengedar pandang mengetahui dimana dia berada sekarang. Matanya pun membulat sempurna saat disadarinya ia lagi lagi terbangun dikamar milik Erik. Melirik kebawah sedikit ia pun melihat sepasang kaki panjang yang terpampang jelas tepat disampingnya.


Tiara menoleh dan melotot melihat Erik tertidur dengan posisi duduk sambil bersidekap dada disampingnya. "Apa yang terjadi?" tanyanya dalam hati.


Tiara mencoba mengingat apa yang terjadi semalam, bukannya dia sedang bersama Mala karena Erik tak menjemputnya. Tapi kenapa sekarang dia ada dikamar pria ini lagi.


Sibuk mencoba mengingat yang terjadi semalam Tiara sampai tak sadar jika Erik sedari tadi sudah menatapnya. "Sudah ingat?" tanya pria itu yang membuat Tiara terkejut.


Ia mengerjap. "I..., Ingat apa?" tanya Tiara balik pura pura tak tahu.


Erik memicing, mendekatkan wajahnya kewajah Tiara yang gugup setengah mati. Ia lupa apa yang terjadi semalam, yang diingatnya terkahir kali adalah ia minum sambil mengobrol dengan Mala dan Rin.


"Dimana kamu semalam, bersama siapa, sedang apa dan bagaimana bisa sampai disini, kamu bisa mengingat itu semua?".


Tiara meneguk salivanya berat karena tenggorokkan yang memang terasa serat. "Aku bersama Mala dan Rin, diklub sedang mengobrol" jawabnya.


"Setelah itu?".


Tiara memutar bola matanya, tak sanggup mendapati tatapan penuh selidik dari Erik. "Setelah itu aku pulang kemari diantar Mala, ya begitu" jawabnya asal.


"Kau yakin?" tanya Erik yang membuat Tiara memainkan bola matanya, lalu mengangguk ragu.


Erik membentuk mulutnya seperti huruf o, lalu menempelkan siku lengannya dikepala ranjang yang tak tinggi. Menjadi tumpuan kepalanya ia kembali bertanya. "Terus siapa yang menggantikan bajumu?".


Tiara sempat menatap sesaat pada wajah jahil Erik, lalu menatap ketubuhnya sendiri. Benar pakaiannya sudah berganti piyama dan disini tak ada orang lain selain Erik. Dan Mala ia juga tak yakin jika tunangan Aril itu yang membawanya kemari bahkan menggantikkan pakaiannya.


Reflek Tiara menyilangkan tangan didepan dadanya sambil menatap tajam kearah Erik yang tersenyum miring. "Apa yang kau lakukan padaku semalam?!!".


"Bersenang senang, mungkin" jawab Erik santai.


"Kau!!!" geram Tiara.


Melirik kesana kemari sibuk mencari pisau kecil kesayangannya, yang malah ada ditangan Erik yang mengudara. Langsung saja Tiara mengambil bantal dan memukulkkannya membabi buta kearah Erik yang malah tertawa.


"Kau dasar ba**ngan, bosan hidup ya, apa yang kau lakukan padaku, kemarikan pisauku biar ku potong potong tubuhmu!!!".


Tiara masih menatap tajam Erik saat pria itu dengan cepat menangkap kedua pergelangan tangannya hingga bantal yang dipegangnya terjatuh.


Erik lalu mendorong tubuh Tiara jatuh kekasur dengan posisi dirinya yang diatas tubuh wanita yang sedang berontak tersebut. "Mau apalagi kamu, lepasin".


Erik menatap Tiara tak terbaca cengkaraman tangannya juga begitu kuat dipergelangan Tiara. Wajahnya ia dekatkan kewajah Tiara yang mulai mengikis jarak diantara mereka.


Tiara yang sedari tadi meronta sampai terdiam tenggelam dengan netra abu gelap itu. Ia reflek menutup mata saat Erik semakin dekat dengannya, bahkan hidung mancung mereka sudah bersentuhan. "Memangnya apa yang bisa aku lalukan padamu, aku juga masih ingin hidup agar kamu bisa mengingat siapa aku, dan pakaianmu Art yang menggantinya". ucap Erik lalu bangkit dari tubuh Tiara.


Wanita itu membuka mata tak percaya melengos lalu bangun dan langsung memukul keras lengan berotot Erik. Mengalihkan rasa malu dan wajahnya yang sudah memerah seperti tomat masak.


"Aku membencimu!!" bentak Tiara turun dari kasurnya.


"Ya, aku juga menyukaimu" jawab Erik sekenanya yang membuat Tiara memutar bola matanya jengah.


Wanita itu lantas pergi meninggalkan Erik kekamar mandi untuk membersihkan diri. Menghindari peperangan dipagi hari yang mungkin jika dilanjutkan tak akam habis sampai esok harinya lagi. Dan malah membuatnya absen bekerja hari ini.