Forget You, Remember Love

Forget You, Remember Love
EP.59



_Sebagian orang bilang, sangat menyakitkan menunggu seseorang. Sebagian lagi bilang, menyakitkan ketika harus melupakan. Tapi yang paling sakit adalah ketika kau tak tahu, apakah harus menunggu atau melupakan_.


*


*


*


"Kamu hati hati kerjanya jangan lupa diminum obatnya" ucap Tiara.


"Iya Nyonya Erik, kamu juga jangan terlalu lelah" balas Erik.


"Hmmmm".


Kecupan dikening di daratkan Erik untuk Tiara dan wanita itu menerimanya dengan senang hati. Bagi Erik perlakuan manis sebelum berpisah karena pekerjaan itu menjadi satu kewajiba dan Tiara sudah tak keberatan.


"Jangan ngebut!" ucap Tiara sebelum mobil Erik pergi meninggalkannya.


Melihat pemandangan ini setiap hari membuat hati seorang Aditya Prakasa semakin hancur saja. Menghindar pun tak berguna lagi karena mereka selalu ada disekitarnya dan sialnya kenapa selalu adegan romantis keduanya yang dilihatnya. Bisakah setidaknya Tuhan memberi tahu jika Erik dan Tiara sedang berdua dengan kode hujan badai kah, banjir kah atau bencana lainnya. Atau sekalian saja batukan hatinya agar tak bisa terisi nama Tiara lagi disana. Sungguh Tuhan sangat pandai menyiksanya.


Setelah menghembuskan nafas panjangnya Aditya pun mendekat kearah Tiara yang berjalan masuk ke loby kantornya.


"Pagi" sapa Aditya.


Tiara menoleh sedikit terkejut namun kemudian tersenyum seindah cahaya mentari pagi, sampai matanya pun menyipit nyaris tak terlihat lagi. "Pagi Kak Adit" balasnya.


Jleb!.


"Senyumanmu ini kenapa menggemaskan sekali, kalau begini gimana aku bisa melupakanmu Ra" dialog Aditya dalam hati yang sudah bagai tertusuk seribu panah.


Aditya berdehem untuk menetralkan hatinya yang berdebar, sampai harus mengalihkan pandangannya dari Tiara. Karena tak ingin kedapatan sudah terpana.


"Kamu hari ini bekerja?" tanya Aditya salah tingkah.


Kini mereka berdiri didepan lift, mendengar pertanyaan Aditya itu membuat Tiara menatapnya heran. Tangannya langsung terangkat menyentuh dahi Aditya walau harus susah payah berjinjit karena perbedaan tinggi mereka.


"Nggak demam" ucapnya beralih menyentuh dahinya sendiri.


Dan lagi lagi hanya sentuhan kecil dari Tiara membuat Aditya mematung. "Ke...., Kenapa?" tanyanya gagap.


"Kak Adit tuh yang kenapa?!" sentak Tiara membuat Aditya menolehkan kepala. "Sudah tau aku disini kenapa masih nanya aku kerja apa nggak, kakak kurang fokus atau kenapa sih, biasanya kakak nggak gini" tambahnya lagi.


Mungkin jika bukan didepan Tiara sekarang Aditya sudah memukul kepala atau tembok berulang ulang kali sangking malunya. Dia yang biasanya tak pernah gagal fokus atau hilang kesadaran tapi hanya dengan senyuman Tiara saja bisa membuatnya melupakan dunia. Dan untuk mengakuinya, ah tidak bisa bisa Tiara menertawakannya.


"Mungkin karena belum sarapan" jawab Aditya asal.


Ting!!!.


Keduanya pun masuk kedalam lift yang baru saja terbuka bersama beberapa orang yang baru datang juga. Tiara dan Aditya dibuat terpojok kebelakang. Kalau tau begini lebih baik tadi Aditya mengajak Tiara naik lift khusus petinggi. Ini semua karena ia terpana senyuman wanita itu sih, Aditya merutuk sebal sendiri.


"Kenapa nggak sarapan, kakak sudah kembali ke Apartemen, nggak dirumah Mama lagi?" tanya Tiara pelan agar tak begitu terdengar oleh yang lain.


"Iya, dirumah masih ada si pengantin baru, bete kakak liat mereka nempel mulu kek perangko" jawab Aditya. Tiara terkikik geli karenanya, Aditya tersenyum melihatnya.


Akhir akhir ini Tiara sudah sering terlihat merona, tertawa lepas dan bahagia. Tapi sialnya kenapa harus disaat Erik muncul dalam hidupnya, kenapa tidak sedari dulu saat bersamanya. Mungkin memang hanya Erik awal dan akhir kebahagiaan Tiara.


Ting!!!.


Saat pintu lift terbuka lagi dengan memperlihatkan penunggunya, Aditya sigap menarik Tiara berpindah kedepannya. Karena tambahan beberapa orang itu menyebabkan lift penuh sesak walau belum kelebihan bebannya.


Menjaga Tiara dari para pria yang berdiri di dekat mereka membuat jiwa lelaki Aditya reflek bekerja. Karena Tiara sudah berdiri didepannya, Aditya langsung saja mengurung tubuh mungil itu dengan kedua tangannya. Nyaris seperti memeluk jika dilihat padahal kenyataannya tengah menjaga.


Aditya merutuki penuhnya lift ini, tapi tak memungkiri jika dia juga mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Tiba tiba saja wajah Aditya memanas dengan posisi begini saja sudah membuatnya merasa nyaman, dirinya seperti sedang memeluk seeokor kucing yang perlu perlindungannya. Ingin sekali di kecupnya puncak kepala Tiara tapi ia sadar wanita didepannya ini bukan miliknya.


"Seingatku kata Mala dia mau ikut Aril tinggal dirumah baru mereka" ucap Tiara yang terlihat santai dan biasa saja dalam rengkuhannya.


"Iya mungkin seminggu lagi, karena Mama belum rela ngelepas putri kesayangannya" jawab Aditya.


Tiara menganggukkan kepala seperti anak kecil, tapi tangannya mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Ia mendongak menatap wajah Aditya yang jauh lebih tinggi darinya itu, sampai kepalanya menyentuh dada Aditya.


"Ini buat kakak, aku bikin sandwich tapi nggak kemakan malah makan bubur jadi ini buat kakak aja, belum sarapan kan tadi katanya". Memegang sebuah kotak bekal Tiara berucap dengan nada dan ekspresi menggemaskan seperti seorang anak kecil yang memberikan permennya.


Alhasil membuat Aditya istighfar dalam hati. "Bisakah kau tak semenggemaskan ini Ra, hatiku jadi tak rela melepasmu".


Katakanlah Aditya pria plin plan, sebentar berkata rela, sebentar berkata tak rela, bisa dan akhirnya menyerah. Tapi bayangkan saja jika orang yang sudah kita relakan tapi masih amat kita cintai, selalu ada didekat kita dan selalu bersikap manis seperti biasanya. Bisakah hati kalian tak hancur lebur seperti Aditya sekarang.


Ting!!!!.


"Eh, udah sampai" ucap Tiara sadar pintu lift terbuka dan semua orang pun keluar dari benda persegi itu.


Seolah baru sadar Aditya hanya bisa menatap punggung Tiara yang mulai menghilang beralih pada kotak bekal ditangannya.


"Sadar, sadarlah Aditya".


*****


"Aku mau bertemu dengannya, biarkan aku masuk!!" teriak Gabriela di luar ruangan CEO agensinya.


Wanita itu melepaskan diri dari penjagaan sekertaris Roy. Ia mendobrak masuk kedalam ruangan pria tersebut sampai dua orang yang berada didalamnya sedikit terkejut.


Erik hanya menatap keributan itu dengan tatapan dinginnya, sedang Roy sigap berdiri dan bertanya ini ada apa.


"Maaf Pak, tapi Nona ini memaksa masuk" jawab sekertaris Roy.


Roy melihat jika Gabriela memang memaksa masuk dengan penampilan kacaunya. Biasanya wanita itu akan tampil glamor dan nampak sopan juga lembut tapi kali ini berbeda.


"Biarkan dia, kau boleh keluar" ucap Roy pada sekertarisnya yang langsung undur diri ketika diperintahkan.


Belum mendekat atau mengeluarkan suaranya Roy terkejut saat Gabriela tiba tiba berjalan cepat dan langsung menggebrak meja tepat didepan Erik. "Aku ingin bicara denganmu".


Erik menaikkan sebelah alisnya. "Ada apa disana Waren?" tanya seseorang dari layar laptop didepan Erik.


Erik beralih pada benda yang masih menyala itu. "Nothing, bisa kita lanjutkan nanti, aku harus mengurus sesuatu dulu" ucapnya.


Setelah disetujui lawan bicaranya dalam sambungan video call itu, Erik pun menutup laptopnya. Sebenarnya tadi ia tengah membicarakan lagu terakhir untuk albumnya dengan produser yang saat ini tengah berada diluar negeri untuk menghadiri satu acara. Bersama dengan Roy juga. Tapi tiba tiba Gabriela datang mengamuk, mengganggu waktunya.


"Katakan" ucap Erik menatap Gabriela dingin. Semakin dingin dari tatapannya sebelum insiden kebakaran beberapa hari yang lalu. Dan kebetulan ini pertama kalinya Erik melihat Gabriela setelah insiden itu.


Awalnya Gabriela menatap Erik garang, tapi lama kelamaan ditatap mata monoloid itu membuat Gabriela menangis. Tubuhnya jatuh lemas dikursi.


"Bukan aku, bukan aku yang membuat Tiara masuk kedalam api bukan aku" ucap Gabriela ditengah isakannya.


Roy menghela napas berat. Sebenarnya beberapa hari ini media menyangkut pautkan kejadian yang dialami Tiara itu dengan Gabriela. Apalagi banyak saksi mata juga ucapan yang mengatakan jika sebelum kebakaran tersebut Gabriela lah yang menyuruh Tiara masuk kedalam gudang.


Alhasil dengan media menulis judul yang belum tentu benar, netizen pun berspekulasi sendiri. Membuat Gabriela dihujat satu indonesia, bahkan ada yang tega menerornya. Hukum sosmed meraja rela.


"Aku, aku hanya ingin membuat Tiara terus melayaniku sampai dia menyerah, aku hanya berniat mengerjainya tidak untuk mencelakakannya" tambah Gabriela.


Ya, sebab itulah Gabriela merasa hujatan netizen yang selama ini ia baca dan dengar benar. Walaupun sedikit meleset. Gabriela merasa bersalah walau tak sepenuhnya salah.


"Kau percaya padaku kan, percaya kan Waren?" tanya Gabriela. Ia menarik tangan Erik untuk digenggamnya.


Erik menarik tangannya dari genggaman Gabriela yang terlihat kecewa. "Kenapa kau menjelaskannya padaku, kenapa tak jelaskan dimedia saja" ucapnya datar.


Gabriela menghapus kasar jejak air mata diwajahnya. "Aku tak perduli dengan tanggapan semua orang, yang aku pedulikan hanya tanggapanmu".


"Why?".


"Cause i love u, aku tak ingin image ku hancur didepanmu" jawab Gabriela.


Mendapatkan pengakuan cinta dari wanita cantik sekelas model luar negri, bukannya membuat hati seorang Erik luluh dia malah tergelak.


"Memangnya apa image mu didepanku?".


"Cantik, baik, sopan......."


"Menyebalkan, menjijikan, terlalu biasa, membosankan, munafik dan tak menarik itu image mu dimataku" sela Erik dengan wajah dinginnya yang terang saja membuat hati seorang Gabriela bagai tertusuk jarum jarum kecil. Menyakitkan dan bertubi tubi.


"Bahkan jika tak ada masalah ini pun, imagemu dimataku tak ada baiknya, jadi tak usah menjelaskan atau bersikap manis didepanku, lagi pula aku sudah memiliki wanitaku" tambah Erik kembali membuka laptopnya.


"Sekarang silahkan pergi, kau membuang waktuku yang berharga" ucap Erik lagi.


Gabriela menggelengkan kepalanya. "Ta...., tapi Rik, aku lebih baik dari pada wanita bar bar itu, dia terlalu mengerikan untuk memilikimu!" ucapnya tak terima.


Bruak!!!!!.


Dan kata katanya itu akhirnya membuat Erik yang sedari tadi sudah terganggu semakin meradang. Pria itu reflek berdiri sambil menggebrak meja kuat sampai Roy yang duduk menonton disofa pun terkejut. Sedang Gabriela sudah gemetar tubuhnya.


"Berani kau menghina wanitaku dengan mulut kotormu itu, akan kupastikan semua yang kau miliki hilang dalam sekejap!" ancam Erik. Matanya menyalang tajam terarah pada Gabriela.


Diancam sedemikian rupa membuat Gabriela ketakutan. "Maaf, maafkan aku Rik, aku khilaf karena terlalu mencintaimu maafkan aku" pintanya.


Tapi Erik yang sudah terlanjur emosi tak mendengarkannya. "Roy bawa dia keluar dari ruangan ini, dan keluarkan dia dari agensi, putus semua kontraknya dengan pihak yang bekerja sama dengan kita, biarkan dia membayar dendanya sendiri" titah Erik tak terelakkan lagi.


Roy mengangguk mendekat pada Gabriela dan langsung menariknya keluar dari ruangan tersebut.


"Tidak, lepaskan aku, aku tak terima diperlakukan begini, lihat saja aku akan membalasmu Waren lihat saja!!!!" ancam Gabriela.


"Aku tunggu balasanmu" ucap Erik tersenyum smirk.