Forget You, Remember Love

Forget You, Remember Love
Ep.32



_ Tak perduli kau ingat atau tidak, kembali kesisiku adalah tujuanku memperjuangkanmu_


*


*


*


Gerakan tangan Tiara membuka seftbelt yang mengikat tubuhnya terhenti saat Erik kembali berucap. "Ingat kalau aku belum datang jangan pergi kemanapun dengan siapapun, tunggu aku mengerti!".


Tiara melengos. "Apa aku harus mendengarkanmu?".


"Tentu, itu sebuah peringatan bukan permintaan" jawab Erik dengan nada seriusnya.


Tiara berdecih, masih kesal dengan sikap Erik tadi pagi. Dan tak menjelaskan kejadian yang dilupakannya semalam, Erik hanya mengatakan kalau dia yang menjemput Tiara diklub malam itu.


"Up to you" ucap Tiara membuka pintu mobil tapi ditahan dengan Erik. Tiara pun menoleh dan terkejut jika wajah Erik sangat dekat dengannya.


"Jawab yang benar" ucap Erik dingin dengan tatapan mautnya.


Dan tanpa sadar Tiara menganggukkan kepala. "Iya aku mengerti"jawabnya.


"Good girl" ucap Erik tersenyum mengacak puncak kepala Tiara hingga wanita itu terpaku.


Apalagi saat Erik mengecup keningnya. "Pergilah bekerja, jangan kelelahan dan jangan lupa makan siang". Lagi lagi Tiara hanya bisa menganggukkan kepalanya.


Erik pun mendorong pintu mobil yang ditahannya agar Tiara bisa keluar. Tiara pun keluar dari mobil masih dengan pikirannya yang entah kemana. "Bye" lambai Erik lalu melajukan mobilnya meninggalkan Tiara yang terpaku.


Tiara mengerjap lalu menggelengkan kepalanya cepat. "Bego" umpatnya. Kenapa bisa dia terdiam diperlakukan Erik seperti tadi. Pria itu benar benar bisa membuatnya seperti bukan dirinya atau jangan jangan.


Tiara sesaat menutup matanya. "Hey Anita, kau mengambil alih tubuhku ya!!!".


"Cih, terpaksa pun aku malas apalagi sengaja" jawab Anita.


Tiara kembali membuka matanya. "Kalau bukan Anita, lalu kenapa tubuhku seolah tak mendengarkan isi kepalaku, atau apa aku punya sisi lain lagi?".


"Hahaha, bodoh" umpat Anita. Tiara berdecih, malas memikirkan pria itu lagi dan segala keanehan dalam dirinya. Ia memilih kembali sibuk dengan pekerjaannya yang hari ini akan ada jadwal baru bersama Artis lain.


Berjalan masuk kedalam kantor Tiara melihat Aditya didepan lift sendirian, ia pun berjalan cepat untuk menghampirinya.


"Pagi" sapanya sambil menepuk pundak Aditya. "Pagi" balasnya saat menoleh.


Tiara menekuk wajahnya. "Kok kak Adit nggak kaget sih?" tanyanya sebal.


Melihat wajah menggemaskan Tiara, rasa cemburu dihati Aditya menghilang seketika. Karena tadi sempat melihat Tiara yang kembali diantar Erik. Pria itu mengulas senyum secerah mentari pagi. "Oh jadi aku harus kaget yah, oke kita ulang" ucapnya.


Aditya membalikkan badannya lalu menarik tangan Tiara dan diletakkannya dipundaknya. Kemudian tubuhnya ia hentakkan pelan, kemudian menoleh kebelakang dengan ekpresi terkejutnya. "Tiara!, kakak sampai kaget" ucapnya menahan tawa.


Tiara berdecih kesal kemudian tertawa juga, memukul lengan Aditya. "Apaan coba".


Ting!.


Lift terbuka memperlihatkan ruangan kotak tak berpenghuni itu karena memang ditujukan hanya untuk petinggi, termasuk Aditya. Kalau Tiara jelas karena sedang bersama pria itu. Jika tidak dia pasti menaiki lift karyawan biasa.


Mereka memasuki lift khusus itu masih dengan tawa yang menghiasi pagi mereka. Tiba tiba Tiara teringat sesuatu.


"Emm kak, pulang jam berapa Mala semalam?".


"Mala?" beo Aditya, Tiara mengangguk.


Aditya mengernyit mencoba mengingat. "Kalau dari telfon Mama, katanya Mala pulang jam satu pagi".


Tiara tercengang, selama itu mereka diklub. Dan berarti Erik jujur, dia yang menjemputnya diklub. "Sendiri?".


Aditya menggeleng. "Dengan Aril, Mala mabuk parah kata Mama, Mama saja sampai kesal dibuatnya apalagi aku, kalau saja aku ada dirumah sudah kumarahi dia". jelasnya dengan nada kesal.


Mendengar penjelasan Aditya, Tiara hanya bisa terdiam. Berarti semalam tak ada yang sadar termasuk Rin mungkin, ah iya dia akan menanyakan keadaan wanita itu nanti lewat telfon.


"Kenapa, apa kalian bersama semalam?" tanya Aditya membuat Tiara tersadar dari lamunannya. Apa dia harus menjawab jujur, tapi mengingat kejadian beberapa tahun lalu Tiara tak siap.


"Nggak, nggak kok" jawab Tiara.


"Oke" jawab Aditya langsung percaya. Tiara menghela napas lega, jika tadi dia jujur mungkin Aditya akan mengomelinya panjang lebar kali tinggi. Seperti saat dia dan Mala pergi kemalam promnight dan pulang ketika sudah menjelang pagi.


Lift pun terbuka, Aditya dan Tiara keluar dari sana pergi menuju keruangan masing masing.


*****


"Oke bang" jawab Tiara mantap. Menyusun beberapa berkas yang sudah disiapkannya kedalam map.


Didalam ruang rapat sudah menunggu sang Artis juga manager dan asistennya. Tiara dengan wajah datarnya masuk mengikuti Gilang didepannya.


"Terima kasih karena sudah mau bekerja sama dengan kami, Rimba Andreas" ucap Gilang menjabat tangan seorang pria tinggi yang ditahu Tiara adalah Artis selanjutnya yang bekerja sama dengan program mereka.


"Kamilah yang berterima kasih bisa menjadi bagian dari program terbaik ini" jawab Rimba.


Pembicaraan mengenai kontrak dan sebagainya pun berlangsung lancar seperti biasanya, tak ada permintaan aneh aneh dari pihak Artis. Mereka langsung mengatur jadwal Rimba yang bagus untuk ditayangkan dalam program tv team Gilang.


Saat pembicaraan berlangsung Tiara tak banyak bicara hanya sesekali menjelaskan jika diperlukan. Yang tanpa disadarinya gerak geriknya juga nada bicaranya sudah menjadi incaran seseorang dalam ruangan berisikan lima orang tersebut.


"Oke, jadi syuting hari pertama bisa kita lakukan tiga hari lagi" putus Gilang.


"Oke" jawab Rimba juga managernya.


Setelah menentukan hari mereka pun saling berjabat tangan untuk mengakhiri rapat siang ini. "Mohon kerjasamanya" ucap kedua belah pihak.


Dan saat manager Rimba menjabat tangan Tiara, wanita itu merasa ada yang aneh dengan sorot mata pria tersebut. Tapi Tiara tak ambil perduli.


Setelah Rimba pergi, Gilang mulai membagi tugas pada setiap anggotanya dan lagi lagi Tiara mendapat tugas paling berat. Karena memang dia satu satunya orang yang bisa mengerjakan tugas itu.


"Kesehatanmu sudah membaik kan Ra, apa kamu sudah bisa melakukan tugasmu seperti biasa?" tanya Gilang memastikan. Bukan apa jika Tiara sampai drop lagi, Gilang akan berhadapan dengan Aditya dan bisa bisa Tiara ditarik dari teamnya.


"Tenang saja" jawab Tiara singkat.


"Oke, sekarang kita kembali sibuk, lakukan pekerjaan kalian dengan benar dan jika ada kesalahan perbaiki secepat mungkin"ucap Gilang.


"Siap bang".


*****


Sedangkan disebuah gedung agensi artis, Erik duduk dikursi yang selama ini tak pernah didudukinya. Walaupun jabatannya sebenarnya sebagai presdir diperusahaan naungan artis tersebut.


Erik lebih memilih sibuk menjalani keartisannya dari pada harus duduk diam dikantornya yang cukup besar tersebut. Karena nyatanya ia mendirikan perusahaan agensi itu adalah memenuhi syarat dari sang Ayah.


Wijaya mengizinkan Erik kembali jika sang anak bisa mendirikan satu perusahaan, karena pemikirannya profesi sebagai artis itu tidak menjamin masa tua. Selain itu ia juga tahu sang anak punya bakat dalam bisnis, walau Erik menghindar dari bidang tersebut. Erik juga harus membujuk Sisil agar gadis nakal itu mau tinggal bersama kedua orang tuanya.


Dan alhasil perusahaan agensi artis bernama WR Grup itu pun sudah mulai diperhitungkan.


Berkat siapa lagi kalau bukan Roy yang menjabat sebagai Ceo diperusahaan itu. Kalau kalian pikir para Artis itu masuk keperusahaan karena Erik kalian salah besar, karena nyatanya tak ada yang tahu jika Agensi tersebut adalah milik seorang Waren Royse.


Penyanyi terkenal itu ada dalam agensi pun juga mungkin mereka baru tahu. Karena tak seperti agensi lainnya yang memamerkan gambar Artisnya disetiap penjuru ruangan gedung, wajah Erik malah tak ada satupun dikantornya.


Erik mendengus kesal saat Roy masuk kedalam ruangannya. "Kamu menyuruhku kemari hanya untuk duduk begini?!".


Roy tertawa kecil. "Bukannya enak duduk duduk santai begitu dari pada harus mengamen kesana kemari".


Erik melengos. "Aku lebih memilih fisikku yang lelah dari pada otakku" jawab Erik karena memang berbisnis bukanlah hobinya walau ia pun berbakat dalam bidang itu.


Roy melengos. "Jadi nggak ada yang penting juga kan disini, aku akan pergi menjemput Tiara" ucap Erik hendak berdiri dari kursinya.


Roy dengan cepat bergerak menghampiri Erik dan menekan pundak pria itu agar kembali duduk. "Tunggu sebentar ada tamu yang ingin bertemu denganmu".


Erik mengernyit menatap Roy bertanya. "Siapa?".


"Artis baru yang masuk keagensi kita".


"Kenapa harus bertemu denganku, denganmu saja sudah bisa kan".


"Ayolah Rik, sebentar saja, dia itu Artis yang cukup terkenal dinegara ini" bujuk Roy.


Erik memutar bola matanya jengah. "Kamu tau sendiri aku paling malas jika harus mengurus masalah seperti ini, lagi pula apa aku kurang terkenal untukmu?".


"Kamu beda lagi ceritanya, dan dia ingin sekali bertemu denganmu, karena itu aku bisa membujuknya masuk agensi kita " jelas Roy bangga.


Erik berdecih kesal. "Kau memang paling bisa menjualku". Roy hanya tersenyum menang.


Tok, tok, tok.


"Dia datang" ucap Roy. Erik bukannya siap menyambut malah mengeluarkan ponsel dan memainkannya.