Forget You, Remember Love

Forget You, Remember Love
Ep.82



*Kehilangan bukan hanya tentang yang tak lagi ada, namun tentang yang ada, tapi tak terasa. Hadir namun tak lagi bersama*.


*


*


*


*


*


"Apa, dua hari lagi?!!!!" Erik bertanya tak percaya saat Mala dan Aril yang datang kerumahnya mengabarkan jika pernikahan Tiara dan Aditya dimajukan dua hari kedepan.


Pria itu langsung menjatuhkan tubuhnya kekursi saat mengetahui kabar tersebut.


"Iya, jadi lo mau gimana sekarang Rik?" tanya Aril.


Erik yang terdiam dengan ekpresi tak terbaca menjawab. "Mau bagaimana lagi, itu sudah pilihannya, aku bisa apa".


"Tapi...".


"Benar ucapannya, sebenarnya aku juga masih dilema antara dendam dan cinta, aku hanya berusaha menerima tapi tak bisa melupakannya, aku terlalu munafik untuknya" Erik menyela ucapan Mala.


"Ckck, lo nyerah gitu aja setelah semua yang kalian lewatin?!" tanya Aril tak habis pikir.


Mala juga ikut memojokkan Erik dengan kata kata sindiriannya, sebagai pria seharusnya Erik bisa lebih tegas.


"Terus menurut kalian gue harus gimana?!!!" tanya Erik kesal.


"Gue udah berusaha semampu yang gue bisa, tapi keadaan ini benar benar sulit buat gue terima, bilang gue harus apa??!!!".


"Mungkin dengan dengar cerita Sisil, kak Erik bisa mengambil keputusan yang benar".


Semua orang beralih menatap Sisil yang berwajah serius bahkan Ridan yang berdiri disampingnya pun heran sedang berkata apa sang calon istrinya itu.


*****


Dua hari berlalu.


Semua orang disibukkan dengan tugas masing masing pada acara pernikahan Aditya dan Tiara hari ini. Sedari pagi bahkan Nurmi dan sang besan sibuk mengatur ini dan itu. Juga dengan Hendri dan Andi Prakasa yang menyambut keluarga dekat mereka.


Sedang Tiara yang tengah didandani terdiam terbayang pembicaraannya dengan sang Papa malam itu.


"Kamu yakin?" tanya Hendri dan ketika sang putri menganggukkan kepala dua kali pria itu memijat pelipisnya pusing.


"Saat kamu sudah tau semua tentang Aditya kamu masih mau menerimanya?". Perihal kebenaran Aditya, Hendri memang sudah tau saat jawaban atas pertanyaannya beberapa hari lalu juga penjelasan dari Anita.


Sebenarnya dia dan sisi lain sang putri itu sudah bicara masalah Aditya dan semakin meyakinkan Hendri jika pria itu tak benar benar tulus mencintai putrinya. Itu hanya sugesti semata.


Namun tentang hal itu hanya Aditya, Anita, Tiara dan Hendri yang tahu tanpa ada satupun orang lagi termasuk sang istri dan keluarga Prakasa.


"Tapi hubungan kalian kedepannya akan bagaimana?" tanya Hendri lagi khawatir.


"Entahlah" jawab Tiara juga tak tahu akan bagaimana hubungan mereka kedepannya.


"Maafkan Papa karena sudah membuatmu harus memilih, semua salah Papa maafkan Papa" sesal Hendri.


"Nggak Pa, bukan salah Papa, semua ini adalah takdir dari Tuhan untuk Tiara yang Tiara harus jalani, jangan menyalahkan diri Papa sendiri.".


Tok, tok, tok.


"Ada titipan surat untuk pengantin wanita" ucap seseorang yang datang. Tiara pun menoleh merasa dirinya yang dicari.


Asisten MUA yang membukakan pintu pun mengambik surat itu memberikannya pada Tiara.


Tertulis disana untuk Tiara dari tulisannya wanita itu kenal sekali dan tahu bahwa surat yang ada ditangannya kini dari seseoramg bernama Erik Wijaya.


"Sudah selesai" ucap sang MUA saat pekerjaannya telah selesai.


Setelahnya mereka keluar meninggalkan pengantin wanita yang ingin sendiri dulu katanya.


Dan baru pada kalimat pertama Tiara menutup mulut dengan telapak tangannya yang bebas, terisak sedemikian pedih. Sampai pada kalimat terakhir yang mengucapkan semoga berbahagia Tiara semakin histeris saja. Ia memeluk surat itu seperti memeluk pria yang mengirimnya.


*****


Aditya tersenyum lebar melihat sang calon istri yang di dampingi Nurmi tiba di tempat akad pernikahan. Wanita itu teramat cantik di matanya, wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya. Dia tak menyangka bisa pada tahap ini juga.


Perlahan Nurmi mendudukkan Tiara yang cantik dengan kebaya modern itu tepat disamping Aditya yang bersiap menjalankam akad pernikahan mereka.


Namun saat Aditya menatap bakal istrinya itu ia mengernyit. Tak ada senyuman diwajah manis itu bahkan matanya terlihat bengkak.


"Ayo, mempelai pria kita lanjutkan prosesi akadnya" ujar sang penghulu didepan mereka.


Aditya beralih pada penghulu mengangkat tangan bersiap menjabat tangannya. Sang penghulu pun mulai mengucapkan kalimatnya dan saat bagiannya, Aditya malah menolehkan kepala pada Tiara. Wanita itu pun melakukan hal yang sama bingung karena melihat Aditya diam saja.


Tiara mengkode Aditya dengan mata bertanya ada apa kenapa diam saja. Tapi Aditya kembali diam.


Pak penghulu sampai menggoyangkan tangan Aditya, mencoba mengulang prosesnya yang terang saja membuat saksi dan keluarga bingung dibuatnya. Termasuk Mala dan Aril yang terpaksa datang di acara akad itu.


"Say...., Saya terima" Aditya tak melanjutkan ucapannya malah menggelengkan kepala lalu beranjak dari duduknya.


"Ada apa denganmu Aditya??!!!!". Andi yang sudah kesal dengan kelakuannya putranya bertanya marah.


"Adit nggak bisa Pa, Adit nggak bisa melanjutkan pernikahan ini" jawab Aditya pasti. Dia beralih pada Tiara yang ikut berdiri karenanya.


"Maafkan aku Ra, maaf karena sudah egois, yang dikatakan Anita benar aku mengorbankan dirimu hanya untuk obsesiku" terangnya sesal.


Dan yang tak percaya dengan keadaan ini adalah Andi prakasa dan istrinya begitu juga Mama Tiara. Tapi Hendri biasa saja dia sudah menduga, beda lagi Mala dia malah terlihat bahagia.


Sedangkan Tiara hanya diam mematung tak tau harus apa. Karena nyatanya pembatalan pernikahan yang harusnya menyakitkan malah tak ada kesan dihatinya, surat dari Erik malah lebih menyakiti hatinya.


Sampai Mala menyentuh pundaknya wanita itu baru menolehkan kepala. Istri Aril itu menarik tangan Tiara memberikan satu kunci ketangan sahabatnya itu.


"Kejar dia sebelum kejadian sepuluh tahun lalu terulang lagi" ucap Mala lalu melirik jam ditangannya. "Masih ada waktu, sampai pesawatnya berangkat".


Tiara reflek menatap kedua orang tuanya yang berdiri dibelakang Aditya, sang Papa menganggukkan kepala sang Mama pun sama demi kebahagian anaknya apapun ia terima.


Wanita itu lalu melirik pada Aditya. "Pergilah Ra, ungkapkan kenyataannya, kalian berhak bahagia".


Tiara menangis terharu memeluk pria yang batal jadi suaminya itu. Saudara laki laki sepertinya lebih cocok untuk hubungan mereka.


"Maafkan aku Kak" ucap Tiara ikut merasa bersalah sudah bersikap egois, menjadikannya pelarian untuk kedua kalinya. Dan juga membuat keluarga malu dengan batalnya pernikahan ini.


"Bukan salahmu" jawab Aditya. "Pergilah, waktumu tak banyak".


Tiara pun pergi meninggalkan semua orang diruangan akad itu, ada yang merasa kecewa, heran, bingung, dan bangga. Terutama Mala, dia langsung memeluk sang Kakak erat.


"Ini baru kakakku" sanjungnya.


"Terima kasih" Aril menonjok pelan lengan atas kakak iparnya.


Aditya hanya tersenyum dari sang adik dia beralih ke Papa dan Mamanya mencoba menjelaskan apa yang terjadi, agar mereka tak syok lagi dibantu Hendri.


*****


Diparkiran Tiara dibuat bingung sendiri mencari mobil yang kuncinya diberikan Mala, tapi tak kunjung melihatnya. Mana waktunya makin sedikit pula.


"Haish, mana mobilnya sih" erangnya prustasi.


Mata Tiara melirik kunci ditangannya reflek bibirnya tersungging miring. "Itu kunci motor pe'a" sentak Anita gemas.


"****" umpat Tiara baru sadar.


Dan satu satunya motor disana yang dilihatnya membuat Tiara yakin kendaraan itulah yang dicarinya saat ini.


"Dengan baju pengantin kau mau mengendarai motor ini?" tanya Anita melihat motor sport pria didepannya.


"Aku tak perduli".


Tiara merobek setengah rok pengantinnya karena sadar takkan bisa menaikinya dengan panjang roknya itu. Setelahnya dia menyalakan motor dan menancap gas membelah jalan kota menuju bandara terbesar di Jakarta.