
Aku meninggalkanmu untuk memberikanmu waktu bukan untuk membiarkanmu menderita sendiri.
*
*
*
Erik menunduk menatap Tiara yang menggenggam tangannya, kepala wanita itu menggeleng. Ingin mengatakan jika dirinya tidak papa, dan jangan menyalahkan Ob yang tak tahu apa apa.
"Kenapa, sayang apa yang sakit katakan padaku".
Tiara kembali menutup mata merakan sakit yang mendera, tubuhnya memiring dengan tangan memeluk perutnya sendiri. Ia meringis, membuat Erik semakin panik.
"Perutmu sakit?, tunggu sebentar lagi Dokter datang hmmm" ucap Erik menenangkan membelai kepala Tiara. Hatinya tak tega melihat sang wanita kesakitan.
Sang Ob tadi pun tetap melakukan pekerjaannya meletakkan makanan diatas meja untuk pasien dengan sesekali melirikkan mata pada pria yang panik melihat kekasihnya kesakitan. So sweat, sempat sempatnya dia baper setelah dibentak barusan.
Tak lama Dokter pun datang setelah Ob tadi keluar.
Melihat Dokter datang dengan tergesa Erik melengos kesal. "Kenapa kalian lama sekali, kau tak lihat kekasihku kesakitan begini!!" bentak Erik emosi. Tiara tertegun.
"Pelayanan macam apa ini?!" tambahnya lagi.
"Maafkan kami Tuan" jawab seorang suster yang ikut masuk.
Sang Dokter mengabaikan kemarahan Erik, memeriksa keadaan Tiara. Setelah memberikan satu kali suntikan pada pasiennya, Tiara pun mulai berangsur tenang. Erik menghela napas leganya.
"Siang nanti kita ambil darah yah untuk pemeriksaan ulang" ucap sang Dokter pada Tiara yang mengangguk mengerti, saat mendongak menatap pria disamping Tiara ia mengernyit.
"Siapa pria ini, berbeda dari yang semalam, dan tadi dia bilang wanita ini kekasihnya, lalu pria yang semalam????" Dokter itu membatin. "Atau wanita ini berselingkuh?". Sudah suudzon aja ni Dokter. Dia pun menggelengkan kepala tak ingin mengira ngira, takut jatuhnya fitnah.
Sepeninggalan Dokter yang berpesan agar Tiara meminum obatnya, dan makan dengan perlahan pun pergi meninggalkan dua insan didalam ruangan tersebut.
"Aaaaaa" Erik memberikan sesendok makanan kemulut Tiara, namun wanita itu menggeleng pelan. "Terlalu banyak" ucapnya lemah.
Erik pun mengurangi isi sendoknya, menyodorkan sisanya lagi. Tiara pun membuka mulutnya sedikit, makanan disendok pun tak semua dilahapnya.
Erik menghela napas. "Makanlah lebih banyak, bagaimana kau bisa sembuh kalau makanmu sedikit, kau tidak ingat karena itu kau sakit" omelnya.
"Tenggorokanku sakit".
"Tahanlah sedikit".
Tiara mengangguk pasrah. Akhirnya setelah beberapa kali suapan disertai omelan Erik, makanan dimangkuk pun habis.
Erik pun berpindah duduk kesamping Tiara, menahan punggung wanita itu dengan sebelah tangannya, kemudian membantunya minum.
Setelah itu Erik menyodorkan beberapa butiran obat yang sudah dikeluarkannya dari pembungkus. Tiara pun meminumnya.
"Pintar" Erik berkata dengan senyuman mengacak pelan poni Tiara.
Erik merapikan bekas makan Tiara. "Kamu yang membawaku kemari?" tanyanya tak ingin penasaran sendiri.
Erik menggeleng. "Aditya yang membawamu?".
"Dimana dia?".
"Sudah pulang sejak semalam". Tiara menganggukkan kepala.
Tiara pun berpikir pasti Aditya yang memberitahukan Erik tapi kenapa?. Bukannya, ah aku ingat kata Ridan kami pernah satu SMA, berarti mereka berdua saling kenal.
Tiara ingin sekali bertanya tentang masa SMA yang baginya tak ada pria ini disana, tapi untuk itu ia jadi merasa terlalu dekat. Bodo amat lah, pikirnya.
Erik melirikkan mata sesaat, kemudian menaikan sebelah sudut bibirnya sambil melanjutkan kegiatannya. "Apa aku perlu alasan melakukannya?".
"Bukan begitu, tapi sikapmu itu.....".
"Kalau kau sakit, tak ada lagi yang bisa kusuruh suruh, tidak ada lagi yang bisa kukerjai, aku bosan" sela Erik tak berdosa.
Tiara membulatkan mata, kemudian berdecak sebal. "Sudah kuduga". Ia membuang wajahnya dengan tangan bersidekap dada.
"Ra...." panggil Erik lembut.
"Hmmm".
"Kamu marah?".
"Untuk apa".
"Ra....".
"Ap.....,ppa" Tiara terdiam menelan salivanya. Terkejut karena saat menoleh, wajah Erik sangat dekat dengannya. Netra abu abu itu menatapnya dalam.
Cup.
"Kau!!!!" pekik Tiara saat Erik mengecup pipinya.
Terang saja Tiara langsung memberikan pukulan terkuat dikala sakitnya, ke dada bidang Erik yang terkikik. Pria itu menangkap kedua tangan yang memberikan pukulan bertubi padanya.
Tiara menatap Erik tajam. "Aku akan melakukan apapun untukmu, karena kau tanggung jawabku, kau mengerti".
"Ckck, kenapa aku jadi tanggung jawabmu, memangnya kau siapaku?".
"Aku?, masa depanmu yang tertunda sepuluh tahun" jawab Erik. Tiara mengernyit. "Maksudmu?".
Drtt, drtt, drtt.
"Haish". Erik melepaskan tangan Tiara, lalu mengambil ponsel disaku celananya.
"Aku sibuk". Erik menjawab panggilan dari Roy. "I now, but...,".
"ARAAAAAAAAAAA" Mala masuk dengan teriakan histerisnya membuat Tiara dan Erik menoleh.
"Oke, Wait". Erik memutuskan sambungan telfonnya.
Mala berlari kecil menghampiri Tiara yang memutar bola matanya jengah. Model gila ini kenapa selalu lebay sih, pikirnya.
"Hiks, hiks, Ara kamu kenapa, kamu nggak sakit parah kan???" Mala memeluk erat tubuh Tiara.
Erik berdecih melihatnya sedang Aditya yang datang bersama adiknya hanya tertawa geli.
Mala melepaskan pelukannya menatap Tiara khawatir. Raut wanita itu seketika berubah sendu.
"Maaf La, tapi kata dokter hidupku tidak akan lama lagi" ucap Tiara bernada sedih.
Erik dan Aditya pun langsung menatapnya bersamaan. Sedang Mala kembali meraung.
"Aku akan cepat mati kalau punya sahabat tukang habisin makanan sepertimu, lihat saja aku sampai nggak makan berhari hari karena kamu ngabisin stok makananku".
Mala terdiam, menatap Tiara yang menahan tawa dengan jahilnya. "Kau!!!" Mala memukul lengan Tiara main main.
Tiara tertawa kecil diikuti tawa keras Erik dan Aditya sedang Mala merajuk karenanya.