
_Aku lebih memilih aku yang tersakiti dari pada melihatmu menangis seperti ini_.
*
*
*
Berhari hari mencari dan saat bertemu malah mendapati sikap yang sama seperti sepuluh tahun lalu dari Tiara, membuatnya pergi dengan rasa pedih dihati. Erik kali ini tak bisa mengalah lagi.
Cukup sampai disini apapun yang terjadi dan dengan cara apapun Tiara harus tetap bersamanya dan harus jadi miliknya.
"Aku yakin kau mencintaiku dan takkan ku lepaskan kamu lagi!".
Setelah mengucapkan kalimat yang seharusnya romantis tapi jadi terkesan dingin hingga membuat Tiara bergidik ngeri, dengan gerakan cepat Erik mengangkat tubuh Tiara keatas pundaknya. Menggendongnya seperti tengah memanggul beras. Lalu Erik berjalan terus kedepan mengindahkan Tiara yang meronta minta dilepaskan dengan memukuli punggungnya.
"Erik lepaskan aku, bajingan lepaskan aku!!!!" rontanya.
Erik memasukkan Tiara kedalam mobilnya secara paksa lalu ia juga masuk dan mengendarai kendaraannya menuju Villa yang disewa Tiara. Dia sudah mendatangi Villa itu sebelum menghampiri Tiara di bukit ini, karena mendapat informasi dari orang orang yang dia tanyai. Kenapa dia bisa tau Tiara dipuncak karena apa gunanya punya sohib mafia jika tak dimanfaatkan. Anak buah Joker lebih dari cukup jika hanya mencari seorang wanita saja.
Sedangkan di mobil jangan ditanya Tiara sudah meluncurkan mode diamnya, percuma jika ia berteriak histeris juga karena pintu mobil sudah dikunci Erik dan pria itu tak mungkin melepaskannya.
Sesampainya di Villa, Erik membawa paksa Tiara masuk dalam kamar Villa itu dan langsung membantingnya keatas kasur. "Erik!!!!" pekik Tiara saat Erik sudah menindih tubuhnya.
"Kau masih tak mau mengatakannya?" tanya Erik dingin sorot matanya sudah bukan seperti dirinya lagi. Sorot mata yang membuat seorang syco seperti Tiara pun bisa bertekuk lutut.
"Aku sudah bilang alasanku karena aku tak mencintaimu" jawabnya lirih.
Erik berdecih. "Oke baiklah, kau yang minta".
Tiara melotot saat Erik mulai meluncurkan serangannya menciumi leher dan pipinya dengan kasar, tangannya di kunci Erik diatas kepala. "Erik, bajingan kau lepaskan aku!!!" ronta Tiara menendang nendangkan kakinya tapi Erik mengindahkannya seolah tendangan itu tak berarti apapun untuknya.
Pria itu terus melancarkan aksinya dan kali ini menciumi bibir Tiara dengan paksa, tangannya juga sudah mulai membuka kancing baju Tiara. Karena sudah dirasuki lucifer dan tak terima dengan sikap Tiara, Erik semakin bertindak kasar bahkan sudah merobek baju yang dipakai Tiara.
"Erik stop!!!!" teriak Tiara tak terima air matanya mengalir deras tak menyangka Erik bisa sekasar ini padanya.
"Persetan dengan tangisanmu, persetan dengan alasanmu, aku akan membuatmu menjadi milikku suka atau tidak suka!!" bentak Erik.
Tiara sudah tak bisa lagi melawan ataupun meronta se sycopat apapun dia tetap saja kalah dengan Erik yang dirasuki dewa neraka. Dia hanya bisa menangis dan menerima semua kecupan di seluruh tubuhnya dari Erik.
Dan saat Erik mulai ingin melepaskan penutup tubuh bagian bawahnya, Tiara berteriak. "Aku membunuh adikmu!!!!!".
Deg.
Erik terdiam terpaku dan nyaris limbung karena ucapan Tiara tersebut. "Aku pasti salah dengar" ucapnya.
"Kau tak salah dengar aku yang membunuh adikmu!!" tegas Tiara.
Erik melengos. "Kau bohong!!, Bagaimana bisa kau membunuh adikku, jangan cari alasan agar aku melepasmu Tiara!!" bentaknya.
Erik kembali ingin melancarkan aksinya tapi Tiara juga kembali berteriak. "Aku yang membunuh Erina saat itu, aku yang menusuknya dengan pisauku!!!"
Deg.
Erik tak bergerak diatas Tiara, tatapannya berubah kosong. Sedangkan Tiara terisak dibawahnya, tak menyangka bisa mengatakan yang sebenarnya.
"Aku adalah pembunuh adikmu, aku tak pantas bersamamu, itulah alasanku" tambah Tiara lirih disela isakannya.
Erik tercengang tak percaya mendengus lalu beranjak dari tubuh Tiara. Dia sudah berdiri disisi ranjang dengan wajah kalutnya. Tiara sendiri mencoba duduk sambil kembali memakai baju yang sudah sobek itu.
"Ckckck, nggak aku nggak percaya" Erik masih tak bisa menerima.
Tiara memegang tangan Erik mendongak menatapnya dengan rasa bersalah yang dalam. "Itu semua salahku" ucapnya.
Erik yang masih tak percaya tak bisa berfikir waras untuk saat ini. Dengan pengakuan dari Tiara ini apakah nyata, wanita yang ia cintai yang membunuh adik yang dia sayangi. Tapi dirinya yang tau benar sifat Tiara, itu mungkin saja.
"Kau, kau yang melakukannya?" tanya Erik dingin menatap Tiara dengan mata berkaca. Tiara sempat terdiam ditatap seperti itu dengan nada bicara Erik itu.
"Iya" jawabnya lirih.
Erik melebarkan mata emosi. "Kenapa kau melakukannya Ra, kenapa kau menjadikan adikku korban ketidakwarasanmu, kenapa!!!!" teriaknya marah tapi menangis.
Tiara kembali tertegun dengan sikap Erik, tapi memang sikap seperti ini lah yang seharusnya ia terima. Karena kesalahannya belasan tahun lalu.
"Kau pasti tak sengaja kan, kau takkan tega iya kan" ucap Erik plin plan. Sebentar marah sebentar lembut, dia tak bisa waras setelah mengalami semua ini. Cengkraman kuat tangannya dipundak Tiara membuat wanita itu meringis.
"Aku takkan meminta maaf karena sadar melakukannya".
"TIARA!!!!". Tanpa sadar Erik mencengkram pipi Tiara hingga wanita itu meneteskan air mata. Bukan karena sakit dipipinya tapi sakit karena perlakuan Erik setelah mengetahui semuanya.
Bersamaan dengan teriakan Erik itu pintu kamar yang tak terkunci terbuka menampilkan Aditya yang membelalakan mata syok dengan apa yang dilihatnya.
Sekalipun didepannya adalah pasangan tapi apakah cara kasar ini dibenarkan, melihat Tiara yang sudah compang camping dan pipinya dicengkram Erik membuat Aditya emosi. Terlebih lagi Tiara menangis.
"Dasar kurang ajar!!!!" Aditya yang sedari tadi mengetatkan rahangnya langsung menghampiri Erik dan memberikan beberapa pukulan pada pria itu.
"Kau apakan Tiara hah!!!!, Dasar bajingan!!!!".
Kali ini Erik tak membalas sedikitpun pukulan Aditya, dia membiarkan saja pria itu memukulinya. Dia tak melawan bukan karena tak bisa tapi berada dalam kenyataan ini membuatnya ingin tertidur berharap jika ini hanya mimpi.
Tiara yang melihat Erik dipukuli sigap melindungi pria itu dari Aditya. Dia berdiri didepan Erik yang tersungkur untuk menghalau serangan Aditya.
"Jangan kak Adit, berhenti" pekiknya.
Seketika itu juga Aditya menghentikan lancaran tinjuannya. "Minggir Ra, dia harus diberi pelajaran!!".
"Jangan kak, Erik nggak salah" isak Tiara.
Aditya mendesah sebal karena ingin sekali memukuli Erik tapi Tiara yang menangis membuatnya tak tega. Dia kesal karena Erik tak menepati janjinya yang katanya akan melindungi dan menjaga Tiara wanita yang dicintainya, tapi apa Tiara malah sering menangis saja.
Tiara berbalik tangannya reflek memegang wajah Erik yang lebam. "Kamu nggak papa kan?" tanyanya.
Plak.
Hati Tiara sakit saat Erik menepis tangannya, tanpa bicara pria itu meninggalkannya dan Aditya entah pergi kemana. Melihat itu Aditya memaki.
Tiara menangis tersedu setelah kepergian Erik. Aditya menghela napas panjang dibuatnya. Pria itu mengambil selimut untuk menutupi tubuh Tiara dan membawa gadis itu untuk duduk diatas ranjang.
Aditya memperbaiki rambut Tiara yang berantakan. "Sudah tidak apa apa ada aku disini tenanglah" ucapnya lembut. Tiara mengangguk isakannya memelan.
"Sebenarnya ada apa Ra, kenapa kamu tiba tiba menghilang?" tanya Aditya lebih penasaran dengan alasan Tiara menghilang dari pada penyebab Erik bersikap kasar pada wanita itu.
"Kau tau semua orang mencarimu beberapa hari ini, Mala saja sampai tak bisa makan karena belum bisa menemukanmu" tambahnya.
Terus ditanyai, Tiara mendongak menatap Aditya tak terbaca. "Kak Adit..." Tiara menghambur kepelukan Aditya yang sedikit terkejut dengan sikapnya. Ini pertama kalinya Tiara memeluknya.
Aditya membalas pelukan Tiara dia membelai kepala wanita itu. "Aku harus apa kak, Aku sangat mencintainya tapi aku tak bisa bersamanya".
Srak!!!!.
Suara sobekan luka dihati Aditya terdengar keras saat Tiara mengutarakan isi hatinya.
"Aku telah membuat kesalahan yang tak mungkin bisa dimaafkannya, aku tak pantas untuknya" adu Tiara lagi.
"Memangnya apa yang sudah kamu lakukan?".
Tiara perlahan mendongak menatap Aditya dengan mata sembabnya. "Saat itu.........".