Forget You, Remember Love

Forget You, Remember Love
Ep.78



*Apakah masih ada ruang?


Kalau ada, aku akan pulang.


Kalau tak ada, biarkan aku menghilang*.


*


*


*


*


*


Hendri masuk sendirian kekamar Erik setelah Sisil dan sang Ibu pergi dari sana. Itupun atas permintaan pria itu sendiri yang tak mau ditemani, dia ingin punya momen dengan putra sahabatnya itu.


Hendri mengedar pandang melihat isi kamar yang tak begitu banyak hanya ada ranjang dan meja nakas disampingnya. Juga satu lemari pakaian hanya itu saja, tidak seperti kamar biasanya. Dan ia tahu alasannya, Wijaya tadi sempat bercerita jika sang putra sudah menghancurkan segala isi kamarnya.


Papa Tiara itu berjalan masuk lebih dalam namun tak menemukan penghuni kamar tersebut, dia pun mengikuti ucapan Sisil. Kata gadis itu Erik sering berdiam diri dibalkon kamarnya.


Sama seperti hari itu saat dijenguk Roy, penampilan Erik dan posisinya tak berubah hanya pakaiannya saja yang berganti.


"Erik" sapa Hendri.


Dia sesaat berdiri tapi tak kunjung mendapat jawaban dari pria tiga puluh tahunan didepannya itu. Akhirnya Hendri memilih duduk disampingnya.


"Tiara tertidur lagi, ini sudah hari kedelapan".


Hendri tersenyum tipis menoleh saat disadarinya Erik melakukan hal yang sama hanya saja dengan ekpresi berbeda. Pria itu mengernyitkan kening seperti menanyakan apa aku tidak salah dengar.


Papa Tiara itu sudah tahu cara bagaimana menyadarkan Erik dari lamunannya tanpa harus memeriksa. Penyebabnya pun dia sudah tahu karena itu Wijaya meminta tolong padanya. Terbukti bukan hanya dengan mendengar nama Tiara, pria itu langsung bereaksi.


Sedang yang lainnya tak ada yang berani menyebutkan nama wanita itu, apalagi kabarnya pada Erik. Bahkan mereka pun tak ada yang tahu bagaimana kondisi Tiara, karena Hendri, Aditya dan orang tuanya merahasiakan hal itu.


Hendri mengangguk dua kali. "Setelah hari itu kau datang, dia kembali membentengi diri".


Erik tercengang dibuatnya, dia terdiam sesaat tapi tak lama ingin beranjak namun kakinya tak dapat digerakkan dia lemas. Untung ada Hendri yang sigap menangkap tubuhnya dan kembali menundukkannya.


"Bodoh, bodoh, bodoh!!!" erang Erik kesal memukul kakinya sendiri. Sepertinya perlahan kesadarannya mulai kembali.


"Aku menghukum diriku sendiri karena membuatnya terluka, menghukum diriku karena tak bisa menepati janji untuk selalu disisinya, tapi kenapa malah begini akhirnya, aku pikir dia bahagia".


Hendri tak menanggapi tapi mengeluarkan alat pengukur tensi darah dan memakaikannya kelengan atas Erik yang diam saja masih larut dalam perasaan kecewa.


"Dalam hubungan kalian terlalu banyak keegoisan, Tiara yang egois dengan terlalu menjaga perasaanmu tanpa sadar sudah menyakiti dirinya sendiri dan kau yang egois karena berpikir kau lah yang paling menderita".


Hendri mencatat disatu buku kecil tekanan darah Erik yang sedikit rendah.


"Kalian saling mencinta tapi terlalu tenggelam dalam cinta itu, terobsesi ingin bahagia dan saat badai menerpa kalian pecah tak sanggup menerima kenyataan, padahal kalian bisa menemukan jalan keluar tanpa harus saling menyakiti".


Pria itu lalu mengeluarkan satu suntikan dan ampul berisi cairan, menyuntikkannya ke urat ditangan Erik yang sudah lebih dulu ia dapatkan.


Erik mendongak menatap Hendri penuh penyesalan. "Lalu apa yang harus aku lakukan?".


Hendri tersenyum. "Sebelum aku menjawabnya bisa kau menjawab pertanyaanku lebih dulu?".


"Apa itu?".


"Seandainya ada dua wanita, wanita pertama memiliki uang 50ribu dan memberikanmu setengah uangnya itu, sedangkan wanita kedua memiliki uang dengan nilai yang sama tapi tak memberikanmu sedikitpun juga, wanita mana yang kamu pilih?". Hendri menanyakan pertanyaan yang sama pada Aditya tempo hari, entah apa maksudnya begitu.


Seperti tanpa berpikir lebih dulu, Erik menjawab. "Wanita kedua".


"Alasannya".


"Wanita pertama tidak bisa menjaga miliknya sendiri, dengan gampang dia memberikan setengah uangnya untukku tapi setengahnya lagi bisa saja diberikannya pada pria lain alih alih menyimpannya, hatinya terlalu terbuka". jawab Erik.


"Sedangkan wanita kedua rela terus menjaga miliknya walau banyak pria datang dia akan selalu menyimpannya, sampai orang yang dia cintai datang baru dia akan memberikannya pada orang itu, wanita kedua berprinsip dan setia" tambah Erik lagi dengan lancar sekali.


Namun atas jawaban itu Hendri yang awalnya tercengang berubah terdiam tanpa ekpresi.


"Lalu bagaimana dengan pertanyaanku Dr. Hendri" tanya Erik lagi.


"Kau.....".


Bersamaan dengan itu di apartemennya Nurmi yang tengah menyeka wajah dan lengan sang putri terdiam, mengucek mata agak lama lalu memperhatikan jari jari Tiara.


Wanita itu tertawa tak menyangka. "Tiara, Nak kamu sudah sadar?" tanyanya pada sang putri yang masih menutup mata.


"Tiara" panggilnya sekali lagi. Karena tak kunjung ada jawaban Nurmi patah semangat, mungkin dia terlalu ingin sang putri tersadar sampai berhalusinasi tangan yang selalu ia genggam saat tidur itu bergerak.


Nurmi mendesah pasrah kembali menyelesaikan sekaannya pada tangan Tiara, lalu berdiri membawa air bekas sekaan itu pergi. Tapi,


"Ma.....ma".


Nurmi terhenyak dengan cepat berbalik dan saat melihat sang putri membuka mata juga menatapnya wanita itu bahagia bukan main sampai menjatuhkan baskom ditangannya, langsung beranjak memeluk tubuh putrinya.


"Kamu sadar putriku, Tiaraku sadar" ucapnya senang.


*****


Nurmi tak berhenti tersenyum saat menyuapi sang putri yang katanya lapar sekali. Terang saja wanita itu memasak cepat makanan kesukaan putrinya dan langsung menyuapinya.


"Tiara!!" seru seseorang yang sepertinya berlari menuju kekamar wanita itu.


Tiara dan sang Mama menoleh pada arah pintu, kedua wanita itu sama sama tersenyum. "Papa".


Hendri mendesah lega melihat putrinya sudah benar benar sadar, tak ayal pria itu menghampiri dan mengecup kening sang putri. "Terima kasih sudah kembali".


Hendri juga memeluk sang istri dan duduk disampingnya memperhatikan Tiara yang asik dengan suapan Mamanya. "Apa lagi yang Tiara putri Mama mau hmmm?" tanya Nurmi saat Tiara sudah menghabiskan makanannya.


Tiara menggelengkan kepala. "Aku cuman mau Papa dan Mama ada disini bersamaku" jawabnya.


Nurmi dan Hendri tersenyum. "Tapi......, Pa, Ma".


"Aku bukan Tiara, aku Anita".


Senyum kedua orang tua itupun memudar, mereka saling pandang keheranan. "Tiara masih tertidur, maafkan aku" ucap wanita itu sesal menunduk dalam.


Tiara mendongak dengn mata berkaca saat Nurmi menyentuh tangannya dan juga membelai pipinya. "Tidak perlu minta maaf, kau juga putri Mama, Anita putri Mama" ucapnya lembut.


Pertemuan penuh haru itupun terjadi selama beberapa menit. Hendri dan Nurmi yang memang sudah tahu sang putri mempunya sisi lain menerima Anita dengan senang hati, walaupun ini yang pertama kali.


Anita juga mengatakan alasannya untuk menyadarkan tubuh Tiara adalah agar wanita itu tak kehilangan ingatannya lagi. Dia juga yakin Tiara akan segera sadar dan mereka akan bertukar.


Tapi ketiganya lupa pada Aditya. Pria yang kini sudah ada didepan pintu itu terperangah tak percaya melihat sang tunangan sudah membuka mata dan bicara pada orang tuanya.


"Tiara" ucapnya gemetar. Anita dan orang tuanya saling pandang.