
*Hubungan itu seperti gelas kaca. Kadang lebih baik meninggalkan gelas itu pecah. Daripada menyakiti dirimu sendiri karena menyatukannya dengan orang lain*.
*
*
*
*
*
Sisil, sebenarnya sosok gadis mungil berparas cantik yang katanya bak barbie hidup dengan sifat kekanakannya, adalah benar adik Erik walaupun tak se-Ayah. Sebelum menikah dengan Wijaya Ayah Erik, Sintia ibu tirinya itu memang sudah pernah menikah dan memiliki seorang anak yaitu Sisil.
Namun selama ini gadis itu tak tinggal bersama mereka karena harus menjalani perawatan disalah satu rumah sakit yang ada diluar negri semenjak umur gadis itu berusia sembilan tahun. Dikarenakan sebuah peristiwa mengharuskannya diobati fisik dan mental.
Dan hari itu saat Wijaya menyuruh Erik pergi ke Jerman adalah bertujuan untuk menemani gadis itu. Sekaligus membuat mereka mengenal satu sama lain sebagai saudara. Alhasil jadilah sekarang gadis itu lengket sekali padanya.
*
*
*
*
*
Ridan, Aril, dan Joker mengangguk anggukan kepala mendengar cerita Erik. Tapi salah satu dari mereka menatap curiga padanya. "Masih nggak percaya, pergi ajalah kerumah besar Wijaya sana" ucap Erik kesal.
"Oke, oke gue percaya, baperan amat". Ridan tertawa, ternyata dia sudah salah paham selama ini.
"Terus gimana kabar Tiara, kalian sudah dekat?" tanya Joker, mengambil sekaleng soda diatas meja.
"Belum sedekat seperti sebelumnya, tapi hari ini gue berhasil membuatnya tersipu" jawab Erik senang.
Joker melengos. "Baru bikin anak orang tersipu aja bangga" ledeknya.
"Tapi kalau dari sifat Tiara, Erik sudah menunjukkan keberhasilannya, Lo tau sendiri wanita itu susah sekali ditaklukannya" tukas Aril.
"Lo sendiri apa kabar sama Mala?" tanya Erik. Aril seketika berubah murung.
"Masih aja betah pacaran, mana belum diapa apain, sentuhan bibir aja bisa hitungan jari" tambah Joker meledek. "Paling nggak sekali dua kali celup kan lumayan".
Dan tiga bantalan sofa sukses mendarat diwajah pria yang terkenal sebagai mafia cassanova itu. "Gue bukan lo, berengsek!!". Aril kesal.
Joker berdecih. "Kalian aja yang terlalu suci jadi laki laki".
*****
Dikantornya Tiara meregangkan otot tangan juga leher dan bahunya. Melepas kacamatanya sebentar dan memberikan setetes cairan disana. "Maaf, aku sudah bikin Mba kerja keras seperti ini" sesal Joe melihat kelelahan Tiara akibat ulahnya.
"Kalau kau sudah tau, jangan diulangi lagi". Joe mengangguk lemah. "Ini sudah siang, pergi makan sana, makan yang banyak biar kerjaan selanjutnya kau bisa fokus" tambah wanita itu.
"Mba Ara nggak pergi?".
"Nanti aja aku masih kenyang".
"Emmm baiklah, nanti aku bawakan Mba cemilan".
Setelah Jo pergi keluar, tangan Tiara pun kembali menari diatas keyboard. Namun tiba tiba ia teringat sesuatu, menoleh kekanan kiri mencari Gilang sang PD yang entah kemana pergi. Ia pun mengambil ponselnya.
"Halo, Bang Gi....".
*****
Sudah seharian ini Erik terlihat tak semangat seperti kemarin. Ya, kenapa lagi kalau bukan matanya tak melihat Tiara sejak pagi. Wanita yang biasanya selalu membuntutinya kemanapun beberapa hari terakhir ini sekarang tak menunjukkan batang hidungnya sama sekali.
Usai ia menemui produser rekaman untuk membuat singel baru yang mereka buat, Erik pun mendekati sutradara program perusahan Aditya itu. "Maaf, bang boleh saya bertanya?" tanyanya sopan.
Sang sutradara yang tengah mengecek gambar sebelumnya pun mendongak. Menaikan sebelah alisnya. "Tiara?" Beonya. Erik mengangguk cepat.
"Kemarin dia bilang ada pekerjaan penting dikantor, mungkin belum selesai jadi hari ini dia tidak datang" jawab Sutradara.
Erik mengernyit sesaat, kemudian tersenyum mengucapkan terima kasih pada pria bertubuh tambun itu. Namun dalam hati ia tak percaya, apa benar wanita itu ada pekerjaan mendesak atau tengah kabur darinya sejak peristiwa kecup kening kemarin. Benar, Tiara kan mendadak pergi setelah kejadian itu.
Erik ingin menghubungi Roy meminta nomor ponsel Tiara, ia baru sadar kenapa sejak kemarin tak ia minta nomor wanita itu pada sang manager. Jika sudah seperti ini kan dia gelisah sendiri, tak ada kabar dari sang pengisi hati.
Tapi baru membuka password diponselnya, seseorang menyapa. "Waren" Gilang menepuk pundaknya.
Erik sedikit terkejut. "Loh, Bang Gilang?".
Gilang tertawa. "Wah, baru beberapa hari nggak ngeliat langsung kamu makin ganteng aja ya".
Erik ikut tertawa. "Masih ganteng Abang".
"Oh iya, maaf Tiara nggak bisa mengikuti kegiatanmu untuk sementara waktu, ada pekerjaan mendesak dikantor" tambah Gilang setelah tawanya mereda.
Erik terdiam, jadi benar yang dikatakan sutradaranya tadi. Tapi...,
"Sementara waktu?" Beonya.
Gilang mengangguk. "Dan mungkin sampai syuting program kita selesai". Erik terdiam.
"Lalu bagaimana dengan rencanaku, hancur sudah" pikir Erik pasrah.
Pekerjaannya sebagai penyanyi yang sebentar lagi mengadakan sebuah konser mini, membuat jadwalnya padat sekali. Karena itu hanya dengan kesempatan syuting program ini dia bisa berdekatan dengan Tiara, tapi kalau wanita itu tak ada bagaimana rencananya akan berjalan.
*****
"Pagi Pak Aditya" sapa semua karyawan yang dilewati Direktur muda berwajah menawan tersebut.
"Pagi" balas pria itu dengan senyum seperti biasa.
Setelah tiga hari pergi kesalah satu acara diluar kota yang wajib dihadirinya, hari ini dia kembali kekantor milik sang Ayah yang merupakan presdir ADC Corp.
Kepribadian pria itu juga tak banyak berubah semenjak jaman SMA, masih ramah dan tak pelit menebar senyumnya. Hanya saja menjadi lebih tegas juga bertanggung jawab sesuai dengan jabatan yang dimilikinya saat ini.
Sebelum berjalan menuju ruangannya, Aditya memilih berbelok kesalah satu ruangan besar tempat Team produksi bekerja. Dan sebuah sapaan selamat pagi kembali didapatkannya dari karyawan disana.
"Bagaimana apa semuanya lancar?".
"Lancar Pak" jawab mereka cepat.
Aditya mengangguk melirik kearah meja Tiara yang kosong, wanita itu pasti sedang bekerja lapangan bersama Erik. Yah, memang semua itu adalah rencananya juga kembali mendekatkan keduanya.
"Kalau begitu kalian kembalilah bekerja". Aditya pun beranjak keruangannya.
Tiga hari tak ada dikantor membuat pekerjaan Aditya menjadi sedikit menumpuk, buktinya sampai semalam ini ia juga belum sekalipun beranjak dari kursi kebesarannya.
Drrrrttt, drrrrttttt.
Aditya melirik ponselnya, melihat nama yang tertera disana ia menaikkan sebelah alisnya. "Paan?".
"Kau bilang ingin mengembalikan Tiara padaku, kau serius tidak sebenarnya atau kau hanya mempermainkanku".
Aditya memijat pelipisnya mendengar omelan Erik dari sambungan telfonnya. "Ini bocah kenapa lagi, tengah malem nelpon marah marah doang, gue sibuk nggak ada waktu ngurusin lo".
Erik berdecak sebal. "Gue nggak bakal marah kalo lo nggak nyekap Tiara dikantor lo!!".
Aditya mengernyit. "Emangnya gue penculik" elaknya. "Bukannya dia kerja lapangan sama lo kan" tambahnya.
"Apanya, dia sudah dua hari nggak dateng kelokasi".
"Dua hari, tapi dikantor dia juga nggak ada".
Wajah kedua pria berbeda tempat itupun mendadak berubah serius.
"Apa maksudmu?".
Aditya memutus panggilannya secara sepihak, dengan wajah panik ia mengubungi Gilang.
"Lang, dimana Tiara?".
"Tiara hari ini ijin bekerja dirumah Pak, katanya agak nggak enak badan" jawab Gilang.
"Kenapa baru bilang sekarang!!!" Aditya panik.
*****
"Ra....., Tiara...." Aditya menggedor pintu apartemen Tiara setelah memencet bel tapi pintu tak kunjung terbuka. Wajar saja ini tengah malam buta, wanita itu mungkin sudah tertidur. Tapi Aditya masih tetap khawatir.
"Tiara......" teriak Aditya lagi.
Aditya pun mulai membuka penutup alat kunci Apartemen Tiara, mengetikan paswordnya disana.
Klik, klik pintu terbuka.
"Ra...., Tiara" Aditya memanggil nama wanita itu tapi tak kunjung mendapat sahutan. Disetiap ruangan pun sudah Aditya datangi tapi tak ada sosokny disana, hingga dikamar wanita itu.
Aditya memberanikan diri membuka pintu yang tak terkunci itu. "Ra," panggilnya pelan takut jika wanita itu memang sudah tertidur.
Tapi betapa terkejutnya Aditya saat melihat Tiara sudah tergeletak tak sadarkan diri disamping ranjangnya. Pria itupun memekik panik, mendekati tubuh lemah berwajah pucat juga suhu tubuhnya yang tinggi.
"Ra..., bangun kamu kenapa Ra bangun" Aditya menepuk pipi Tiara.
Aditya langsung menggendong tubuh mungil itu membawanya keluar Apartemen menuju rumah sakit terdekat.
Maaf, maafkan aku yang sudah mengabaikanmu. Maafkan aku yang sudah lalai menjadi malaikatmu hingga kau sakit sendirian seperti ini, Maafkan aku Tiara.