Forget You, Remember Love

Forget You, Remember Love
Ep.17



"Sudah?". Tiara yang baru selesai memakai baju hangatnya menganggukkan kepala.


"Ayo".


Aditya memperhatikan Tiara. "Tunggu" ucapnya melepas syal yang dipakainya lalu memakaikannya pada Tiara hingga menutup sebagian wajah manis itu.


"Ayo". Aditya merangkul bahu Tiara berjalan bersama, berjaga jaga jika wanita itu kembali merasakan pusing dikepala. Sebelah tangannya memegang tas berisi perlengkapan wanita itu.


Tiara terkejut saat melihat banyak wartawan berkumpul didepan gedung rumah sakit, dan banyak wanita memegang poster dan nama Waren. Sedang Aditya langsung membawanya keparkiran mobil dengan langkah sedikit cepat dan pelukan yang mengerat.


"Kenapa mereka?" tanya Tiara didalam mobil menatap kerumunan itu.


Dia memang tak tahu jika keadaan mulai tak baik bagi Erik, karena saat pria itu dijemput paksa sang manager pun Tiara masih tertidur lelap. Wajar saja karena Erik pergi saat tengah malam.


Sebab itulah saat dibolehkan pulang dan infusnya dilepas, Tiara bertanya dalam hati kemana Erik pergi. Hanya Aditya yang ada, padahal semalam keduanya masih beradu mulut tentang siapa yang paling tampan. Menyebalkan.


"Ah biasa, derita para Artis" jawab Aditya lalu menjalankan mobilnya.


Tiara mengernyit, kemudian mengecek ponselnya yang sejak kemarin tak dipegangnya. Tiara membuka aplikasi mbah gogglenya mengetikkan nama Waren Royse disana, dan muncullah beberapa artikel tentangnya.


"Jadi karena ini dia tak melihatku?" tanya Tiara dalam hati ada sedikit rasa kecewa disana yang langsung ditepisnya. "Apa apaan otakku ini" kesalnya.


Tiara menoleh kekanan kiri memperhatikan jalanan yang mereka lalui setelah beberapa menit berlalu. Ia mengernyit. "Ini bukan jalan ke apartemenku, ini jalan kerumah Kak Adit" ucapnya heran.


"Iya, untuk beberapa hari ini kamu tinggal dirumah dulu" jawab Aditya santai tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.


Tiara menggeleng. "Tapi kenapa, aku lebih nyaman di apartemenku sendiri kak".


"Terus kamu lupa makan dan sakit lagi, nggak!!" tukas Aditya tegas. Tiara mendengus. "Tinggal dirumah untuk sementara, Mama sudah kangen juga katanya dan ini usulnya" tambah Aditya.


"Mama?".


Aditya menganggukkan kepala. Tiara menghela napas beratnya. "Kalau Mama yang minta aku bisa apa?" gumamnya pasrah. Sedang Aditya menyembunyikan senyumnya.


"Ara...." Mala menyambut sambil berlari kecil menghampiri Tiara dan Aditya yang memutar bola mata di ambang pintu.


"Sudah datang ya" Rianti Mama Aditya menyusul dibelakangnya. Wanita paruh baya yang masih nampak cantik dan awet muda itu langsung memeluk Tiara erat, dibalas Tiara dengan senang hati.


"Maaf, Mama nggak bisa jenguk kamu kemarin, Mama ada keperluan diluar kota" sesal Rianti menangkup wajah manis putri putriannya itu.


"Nggak papa kok Ma".


Rianti tersenyum cantik. "Ya sudah, kita masuk dulu makan siang kalian pasti lapar, Ayo" ajaknya merangkul bahu Tiara, dan Mala mengikuti disampingnya. Tapi seseorang masih berdiri ditempatnya dengan wajah cemberut.


Tiara menyadarinya ia pun menolehkan kepala. "Kak Adit ayo".


"Oh ada Adit ya," ucap Rianti berwajah terkejut dan tanpa dosa.


Tiara menahan tawa, Mala berdecih tak suka sedang sang Mama langsung menghampiri putranya yang sudah sebulan tak bertemu dengannya itu. Tapi bukannya memeluk Rianti malah meloncat dan memiting kepala Aditya.


"Siapa suruh kau betah sekali di Apartemenmu itu, kau sadar sudah nggak pulang selama sebulan hah!!" Rianti menguyel kepala sang putra pertamanya.


"Hahaha, iya Ma maaf" Aditya memeluk pinggang Mamanya.


Rianti melepas pitingannya setelah puas memberikan putra durhakanya itu sedikit pelajaran. Tapi Aditya tak melepas pelukannya, ia mengecup pipi sang Mama, menyandarkan kepalanya dipundak jalan menuju surganya itu.


"Ingat umur Woy, udah tua gitu masih aja manja manja sama Mama" sikat Mala jijik melihatnya.


"Terserah aku dong" balas Aditya menjulurkan lidahnya.


Mala melengos. "Ayo Ra, jangan peduliin anak Mami itu". Ia langsung menarik Tiara kearah dapur.


Ya memang sudah sedekat itulah Tiara dan keluarga Aditya sejak beberapa tahun yang lalu. Dan juga keluarga keduanya sering bertemu hanya untuk sekedar makan malam mengingat Hendri Papa Tiara pernah amat berjasa sudah menyelamatkan nyawa Andi Prakasa Papa Aditya dari insiden kecelakaan.


Pertama kali melihat Tiara, Rianti langsung jatuh hati. Dan langsung mengklaimnya sebagai putri angkat, tapi kalau bisa jadi menantu dalam hatinya saat itu.


Tapi sampai sekarang beluk ada tanggapan dari Aditya maupun Tiara, Rianti pun tak memaksa ia akan menunggu sampai keduanya siap saling mengikat diri.


*****


Berterima kasih pada keputusan yang diambil Roy, berita miring tentang Erik pun dalam beberapa jam saja sudah tak diperdulikan lagi oleh orang orang.


Mereka sekarang fokus pada konser mini penyanyi tersebut. Dan disinilah sekarang Erik berada, sebuah aula besar berkapasitas dua kali lapangan sepak bola.


Karena persiapan konsernya sempat tertunda dan demi teralihkannya pikiran yang terus menuju pada Tiara, Erik menyibukkan dirinya. Terjun langsung dalam berbagai persiapan konsernya mulai dari set panggung, band pemandu, dan lain sebagainya.


Kegiatan itupun tak luput dari kekeran kamera sutradara 'sepuluh hari bersama Waren Royse'. Untung saja acara itu akan ditayangkan setelah syuting sepuluh hari dan pengeditan selesai, bukan kejar tayang. Jadi bisa di tunda sesuai kepentingan pihak yang bekerja sama.


"Hahhhhhhh" lepas sudah dahaga Erik setelah meminum sebotol air mineral, yang katanya ada manis manisnya. Tapi tetap tawar juga berasa ketipu, padahal pengennya kan ada rasa jeruknya gitu.


"Kau pulang saja, sedikit lagi juga beres semua, kau harus jaga kesehatanmu War" bujuk Roy. "Ingat konsermu itu lusa".


"Sebentar lagi, aku cuman liat liat aja kali ini" elak Erik dengan helaan nafas yang masih diaturnya.


Roy menghela napas berat. "Terserahmu lah, tapi kalau kau drop karena ini awas saja kau, sakit pun akan tetap kupaksa kau tampil bahkan sampai pingsan sekalipun!".


Erik tertawa geli. "Memang kau berani?" tantangnya.


"Kau menantangku!" Roy tak terima.


"Hahaha, iya iya, sejam lagi aku pulang".