Forget You, Remember Love

Forget You, Remember Love
Ep.6



* Aku pikir akan ada tawa di pertemuan kita, tapi malah menimbulkan luka*.


*


*


*


*


*


Dan sekarang artis ternama Waren Royse sudah berada tepat didepan gedung ADC Corp. Pria itu turun dari mobilnya bersama Asisten dan tak lupa Roy sebagai managernya.


Sedari langkah pertamanya berpijak didalam gedung bertingkat itu, Waren yang nampak gagah dengan setelan jas berwarna Navy tanpa dasi mulai mendominasi tatapan para manusia penghuni ADC Corp. Tak terkecuali artis artis yang juga berlalu lalang diloby tersebut.


Cakep banget, gila.


Kapan lagi kita liat yang beginian.


Tahun depan gue mau dia jadi artis diacara gue.


Berdirinya Waren di loby gedung itu membuat sedikit kegaduhan, untung saja belum ada wartawan juga para fans yang datang. Karena memang kabar kerjasama belum tersebar dimedia manapun. Pihak ADC akan mengungumkan jika Waren sudah tanda tangan kontrak.


Namun begitu saja, beberapa orang sudah mendekatinya ada yang sekedar meminta tanda tangan, berfoto atau terang terangan memberikan hadiah.


Tak lama seorang pria muda pun mulai mendekati Waren. "Selamat Datang di ADC Corp, anda sudah kami tunggu, silahkan ikuti saya".


Waren, Roy dan Jeje sang Asisten pun mengikuti pria muda itu.


"Lebay banget" bisik Roy lucu pada Waren. "I'm Superstar" jawab Waren acuh yang membuat sang manager berdecih.


Pria muda itu membawa Waren kelantai empat gedung ini, dan langsung memasuki ruang Direktur Utama yang didalamnya sudah ada Gilang selaku produser.


Waren terkejut saat memasuki ruangan itu, melihat pria yang tadi sedang duduk dikursi kebesarannya dan sekarang berjalan kearahnya.


Aditya mengulurkan tangan, kemudian tersenyum tampan. "Sudah lama ya, Waren Royse atau boleh kupanggil Erik Wijaya".


*****


Terlepas dari masalah pribadi, setelah perkenalan dari Direktur Utama Aditya dan Penyanyi Waren atau ternyata adalah Erik yang mengganti namanya, pembicaraan berlangsung lancar. Semua yang ditawarkan pihak Aditya diterima oleh Waren, dan tanda tangan kontrak pun sudah dilakukan. Kini dalam ruangan itu hanya ada Erik dan Aditya, ia menyuruh semua orang keluar karena ingin membicarakan privasi. Roy, Gilang dan Jeje pun menuruti.


Lama terdiam, kedua pria berbeda arah ketampanan yang satu kebarat dan yang satu ketimur itu mulai membuka percakapan. Dan Aditya lah yang pertama. "Apa kabarmu lama menghilang?".


"Tersiksa" jawab Erik acuh.


Aditya terkekeh. "Menderita saja kau bisa seterkenal ini, apalagi kau bahagia".


Erik berdecih. Sedari melihat Aditya dia sama sekali tak ingin menatap pria itu, apalagi menjawab pertanyaannya. Sang manager lah yang menggantikannya. Karena Erik masih mengingat luka lama dan sebenarnya malas menjalin kerjasama dengan pria itu kalau bukan ingin mendekati Tiara. Ya, itulah tujuan utamanya bekerjasama.


Flasback On.


Mengetahui bahwa sang Manager keparat itu bertemu dengan Tiara untuk membahas kerjasama saja, Erik sudah kesal. Apalagi Roy mengatakan jika dia tertarik dengan Tiara semakin membuat Erik meradang.


Malam itu dari Club dia langsung mendatangi Roy diapartemennya. Ia langsung marah marah tak jelas membuat Roy kebingungan. Setelah menjelaskan barulah Roy membalas.


"Kau yang tak ingin bertemu dengannya, dan kau juga yang menolak sebelum membaca satu huruf pun isi berkasnya, jadi salahku dimana" tukas Roy. "Kau harusnya berterima kasih padaku karena sudah menemukan gadismu itu, sial tapi kenapa harus Tiara".


Dan kalimat terakhirnya sukses membuat Erik kembali memanas hatinya. "Jangan menyukainya mulai dari sekarang, dan jangan menatapnya sebagai wanita".


"Cih, jadi aku harus melihatnya seperti apa, barbie?".


"Terima kerjasamanya".


"Ckckck, siapa kemarin yang bilang tak ingin bekerja, lelah letih lesu lunglai".


Flashback Off.


Tapi tunggu dulu Tiara bekerja disini, berarti Aditya. Apa mereka masih...?.


Erik menoleh menatap Adit tajam. "Kau sengaja memintaku bekerja sama, karena ingin pamer hubunganmu dengannya?" tuduhnya bernada dingin.


"Kau bangga sudah merebutnya dariku?!" tambah Erik dengan emosi memuncak.


Aditya tak gentar, ia mulai duduk tegak sambil menyatukan ujung ujung jari tangannya. "Sepertinya memang benar begitu, tapi hubunganku dengannya bukan seperti yang ada dalam pikiranmu".


Erik melengos. "Kau mau mempermainkanku".


"Justru aku ingin membantumu".


Erik mengernyit dengan tatapan menelisik pada wajah serius Aditya. "Kau akan melihatnya nanti, sekarang ayo ku ajak kau bertemu dengannya".


Dua pria tampan itupun berjalan mengelilingi kantor ADC Corp. Dan hal itu membuat Erik semakin kesal pada Aditya, karena bukannya membawa langsung dirinya pada Tiara seperti ucapannya tadi, pria itu malah mengajaknya berkeliling menjadi pusat perhatian.


"Kau sengaja?" bisik Erik disamping Aditya.


"Aku harus memamerkan artis terkenal sepertimu kan, mubazir jika aku tak memanfaatkan ketampananmu itu untuk mata mata suci pegawaiku" balas Aditya mengerti arah pembicaraan artisnya, karena sedari tadi Erik menampakkan senyum palsunya.


Setelah hampir dua puluh menit mereka berkeliling. "Dan inilah team dari acara tempatmu menjadi artisnya, silahkan kalian saling mengenal".


Seluruh anggota team Gilang pun mendekati dua pria tampan itu, sekedar saling berjabat tangan dan mengenalkan nama masing masing. Juga saling memberi dukungan atas kerjasama mereka menjalankan acara nanti.


Tapi walaupun Erik meladeni keramahan anggota team program produksi itu, matanya terus mencari keberadaan Tiara. Matanya langsung berbinar saat melihat Tiara keluar dari salah satu pintu dalam ruangan itu, bersama dengan Gilang dan juga Roy.


Rasa rindu yang selama ini membelenggu perlahan terlepas dari hati Erik, melihat sang wanita berada didekatnya walau belum dapat didekapnya. Ingin sekali rasanya ia memeluk erat tubuh yang masih nampak mungil untuknya itu, menghirup aroma tubuhnya dan kembali mengecup bibir tipis itu. Yang dulu sempat ia cicipi dengan ibu jari sebagai penghalangnya.


Erik langsung permisi meninggalkan keributan dari orang orang itu, tanpa memperdulikan Aditya disampingnya. Mendekati Tiara cepat membuat Aditya tertawa meledek. "Dasar Bucin".


"Oh ini dia, Waren jadwal syuting sudah kami atur, tidak ada skrip karena mereka akan meliput keseharianmu saja tanpa rekayasa" ucap Roy melihat Erik mendekat.


Erik menganggukkan kepalanya setengah mendengarkan ucapan managernya, karena matanya hanya tertuju pada wanita yang tengah membuka berkas berkas ditangannya.


"Ini Tiara PA team kami, anda mungkin sudah mengenalnya." ucap Gilang memperkenalkan anggota team berpengaruhnya pada Erik.


Tiara pun mendongak, merasa diperkenalkam dia harus menjaga sopan santun dan sedikit berbasa basi walaupun rasanya ia malas sekali. "Halo, senang bisa bertemu anda secara langsung" ucap wanita itu mengulurkan tangan tanda perkenalan secara resmi.


Deg.


Erik terpaku, kenapa sikap Tiara biasa saja tak terkejut sama sekali melihatnya. Bukankah mereka sudah lama tak berjumpa, tapi kenapa Tiara sama sekali tak menunjukkan kerinduan atau rasa apapun itu dimatanya. Wanita itu melihatnya seperti baru pertama kali berjumpa.


Perlahan Erik pun mengangkat tangannya, menerima uluran tangan mungil milik Tiara yang masih sama seperti sebelumnya bagi Erik. Tangan inilah yang dulu selalu mengusap kepalanya dikala sedih, yang selalu mencubit pinggangnya disaat mengendarai motor dengan kebut kebuttan. Dan tangan yang selalu menyentuh pipinya dikala ia emosi.


Tanpa berkata, hanya sorot mata Erik yang masuk kedalam netra hitam milik Tiara. Menelisik apa yang ada didalamnya, sesaat mata keduanya saling beradu kata. Sampai Tiara sendiri keheranan ada apa dengan keterdiaman, dan pandangan pria ini.


Wanita itu berdehem. "Ah, iya hai senang bisa bekerjasama denganmu, saya Waren Royse atau kamu bisa memanggil nama asliku Erik" ucap Erik memancing perubahan sikap atau raut dari wajah Tiara walau hanya sedikit saja.


Namun Tiara hanya menyunggingkan sedikit senyumnya, sambil melepas jabat tangan mereka membuat Erik sedikit tak rela lagi lagi harus melepaskan tangan itu. "Emmm" gumam Tiara.


"Kalau begitu saya permisi dulu." Pamit Tiara pada semua pria yang berada didekatnya termasuk Aditya.


Gilang yang tak menyadari ada aura berbeda dari pertemuan pria dan wanita itupun bersikap seperti biasa, kembali mengajak Roy membicarakan masalah acara mereka. Sedang Erik menatap langkah tegas kepergian Tiara.


Aditya menepuk pundaknya. "Ada apa dengannya?" tanya Erik lemah.


"Dia tak mengingatmu, dia melupakanmu" jawab Aditya juga sama lemahnya. Erik menoleh melebarkan mata menatapnya tak percaya.


"Bagaimana mungkin?".


👩‍💻 lanjut nggak?.