
_Anything that did not make me happy. But if I do something for you_.
*
*
*
Syukuran rumah baru kecil kecilan ala Mala dan Aril pun dimulai setelah Tiara, Aditya dan Erik tiba karena memang hanya tinggal mereka bertiga lah yang ditunggu sebelum acara dimulai.
Tak banyak orang yang diundang hanya beberapa teman dan keluarga dekat saja, bukankah ini acara kecil kecilan. Tapi sepertinya hanya tamunya saja yang tak seberapa sedangkan dekorasi, makanan dan segala bentuk hal terkecil acara benar benar lengkap. Bahkan sudah seperti ingin menyambut ratusan orang.
Pembacaan doa untuk rumah baru ini sudah selesai dilakukan, beberapa rangkaian hal hal yang harus dilakukan saat pindah rumah juga sudah diselesaikan. Kini tamu yang hadir sudah bisa menikmati santapan yang dihidangkan oleh sang Tuan rumah.
Dan disinilah Aril, Erik, Joker dan Ridan berada. Gazebo ditaman samping rumah pasutri baru tersebut, tengah bermain kartu remi diperhatikan Mala dan Tiara yang duduk disebelah pasangannya masing masing . Meninggalkan para orang tua dan keluarga lainnya yang sibuk membicarakan bisnis dan hal lainnya didalam rumah.
"Jadi kapan nih gue dapat ponakan?" goda Joker mengkerlingkan mata dengan Ridan yang terkikik. Setelah menjalankan gilirannya.
Sedang yang jadi penjawab pertanyaan malah tersipu malu, bukan Aril tentunya melainkan Mala.
"Sabar bro masih dalam pembuatan tiga kali sehari, seminggu lagi udah jadi tunggu aja" jawab Aril dengan santainya yang langsung mendapat cubitan pedas dari sang Istri.
"Set, tiga kali sehari dah kaya minum obat aja" sindir Ridan.
"Bukan minum obat bro, tapi suntik vaksin" tambah Joker yang membuat semuanya tertawa lepas. Mala sampai menyembunyikan wajahnya dibalik punggung sang suami.
"Kamu sih?!!" protesnya sebal memukul punggung Aril.
Saat yang lain sedang tertawa lepas seorang Tiara malah terlihat cemas, sedari tadi memang ia merasa sangat tak nyaman. Seperti ada yang tengah terjadi dan yang pasti itu kabar buruk, namun itu apa dia tak dapat memastikannya.
Erik yang menyadari keterdiaman sang kekasih jadi heran. "Ada apa, apa yang kamu pikirkan?" tanyanya pelan lebih seperti berbisik ditelinga Tiara.
"Ehmmm, enggak tau perasaanku tiba tiba nggak enak" jawab Tiara jujur.
"Tak apa ada aku disini, tenanglah" Erik berucap sambil menarik tangan Tiara untuk digenggamnya.
Tiara hanya diam saja memang itulah yang dia perlukan dari seorang Erik, kasih sayang dan perhatiannya. Dan hal itu juga yang ia suka dari Erik, pria itu mengerti dia luar dan dalam tanpa harus ia mengatakannya. Atau dikala ucapannya kasar, Erik tau Tiara tak serius.
Pemandangan genggaman tangan itu tak sengaja terlihat oleh Aditya yang datang membawa minuman soda serta jus untuk kedua wanita disana. Karena merasa panas, setelah meletakkan nampan Aditya langsung mengambil segelas soda dan menenggaknya habis.
"Panas bro, panas" Ridan berbisik pada Joker yang tau ada suasana kecemburuan disekitarnya. Joker menanggapi dengan tertawa pelan.
Saat sudah seru serunya bermain apalagi Ridan yang terus saja kalah menyebabkan telinganya dipenuhi jepitan itu selalu ditertawakan dan di olok habis habisan, ponsel Tiara berdering. Wanita itu sigap menjawabnya melihat sang penelpon adalah Papanya.
"Ra, pulanglah nak Mamamu masuk rumah sakit!"
Tiara tercekat saat mendengar suara sang Papa yang bergetar disebrang sana, memberitahu kabar tak menyenangkan tersebut tanpa sedikit pun basa basi. Waktu itu juga Tiara sadar jika sang Mama dalam keadaan tak baik baik saja.
Sebenarnya Mama Tiara dalam beberapa tahun terakhir memang tengah mengidap kanker hati, tapi sampai stadium berapa Tiara tak tahu karena kedua orang tuanya tak ada yang mau memberi tahu. Alasan mereka karena tak ingin mengganggu pekerjaan Tiara dan menjadikan hal itu sebagai beban pikiran sang anak.
"Ehhm, Tiara akan pulang" jawab Tiara memutuskan panggilannya setelah beberapa detik terdiam.
Erik yang mendengar ucapan Tiara pun semakin keheranan apalagi dengan wajah pucat sang kekasih. "Ada apa?" tanyanya khawatir.
Ditanyai seperti itu Tiara menoleh menatap Erik tak terbaca lalu tanpa aba aba ia memeluk Erik menangis tersedu dipelukan pria itu. Sampai yang lain pun keheranan di buatnya, ini kedua kalinya mereka melihat wanita dingin seperti Tiara menangis histeris. Terutama untuk Joker dan Ridan.
Hal itu justru membuat Erik sedikit panik, dia mengelus elus kepala Tiara sayang sambil menjawab tatapan penuh tanya kawan kawannya dengan menggelengkan kepala.
"Sayang, ada apa kenapa kamu menangis?" tanya Erik lembut.
Tiara mendongak dengan wajah sembab, hidung merah dan air mata yang tak berhenti mengalir menatap Erik. "Mama, mama masuk rumah sakit hiks, hiks".
"Antar aku pulang Rik, aku mau lihat Mamaku, antar aku pulang" pinta Tiara terus menangis.
Erik tak kalah terkejutnya, matanya sampai melebar tak percaya. "Antar aku pulang, aku mau pulang sekarang, hiks, hiks, hiks" ucap Tiara menarik narik lengan kemeja sang kekasih.
"Baiklah, baiklah, ayo kita berangkat sekarang" ajak Erik sigap, Tiara mengangguk dan langsung berdiri.
"Aku ikut kalian" sambar Aditya.
"Tidak usah kau tunggu kabar saja, atau jika kau ingin sekali pergi besok saja" jawab Erik yang membuat Aditya kecewa tapi menurut juga.
Saat diluar rumah. "Ril, gua pinjam mobil lo" ucap Erik. Aril pun langsung melempar kunci mobil padanya yang ditangkapnya dengan sempurna.
"Tiara kalau ada apa apa hubungi aku ya." ucap Mala saat Tiara dan Erik sudah berada dalam mobil dan ingin pergi.
"Sampaikan salamku pada semua orang didalam, maaf pergi tak berpamitan" saut Erik.
"Its ok, pergilah hati hati dijalan" jawab Aril.
Erik mengangguk, lalu menyalakan mobil dan langsung menjalankannya meninggalkan mansion milik sang sahabat.
*****
Erik fokus mengendarai mobil dengan kecepatan cukup kencang sambil sesekali melirik pada gps diponsel yang dia letakkan didasboard mobil. Tiara sudah mengaturnya sesuai tujuan mereka.
Pria itu juga sesekali melirik Tiara yang tak hentinya menangis walau sudah tak histeris. Hanya sesekali sesenggukan dan menghapus air mata.
"Tenanglah, Mama pasti kuat dia takkan kenapa kenapa, percayalah" ucap Erik menenangkan. Tangannya membelai kepala Tiara sayang.
Tiara menganggukkan kepala sambil mencoba menenangkan dirinya dan menghilangkan pikiran pikiran buruk yang akan terjadi dengan sang Mama tercinta.
"Masih jauh kah?" tanya Tiara betul betul audah tak sabar segera ingin menemui Mamanya.
"Mmmm, tidurlah dulu jika sudah sampai akan kubangunkan".
Perjalanan cukup jauh dengan melewati beberapa kota dan desa yang memakan waktu kurang lebih hampir empat jam dari kota Jakarta, akhirnya membuat Tiara benar benar tertidur. Hatinya yang gelisah tak cukup mampu untuk membiarkannya terus terjaga, lelah karenan pekerjaan dan usapan lembut dari tangan Erik sukses membuatnya tertidur. Walau sesekali terbangun sambil memanggil Mamanya.
"Sayang" panggil Erik membangunkan Tiara dengan mengelus pipinya.
Tiara perlahan membuka mata, "Sudah sampai?" tanyanya dengan nada suara yang parau.
"Iya" jawab Erik sambil memperbaiki poni Tiara. Wanita itupun mencoba melebarkan matanya yang sudah bengkak karena terus menangis sampai tertidur.
Sampai di loby rumah sakit Tiara dan Erik berjalan lurus menaiki lift menuju lantai dua dimana sang Mama tengah dirawat.
"Pa" Tiara langsung berlari menghampiri sang Papa memeluk pria paruh baya itu dengan eratnya untuk menyuarakan betapa khawatir dirinya. Pria ber snely putih itupun langsung membalas pelukan putrinya diikuti helaan napas panjang.
"Mama gimana Pah, Mama baik baik aja kan?" Tiara bertanya setelah mengurai pelukannya.
"Untungnya Papa cepat membawa Mama kerumah sakit" jawab Hendri menatap pintu kamar rawat istrinya. Dari raut wajahnya yang sudah nampak sedikit kelegaan ada disana Tiara memastikan jika kali ini Tuhan kembali berbaik hati padanya untuk tak mengambil sang Mama tercinta.
"Syukurlah" ucapnya lega.
Hendri mengernyit saat melihat seorang pria yang dilihatnya tadi datang bersama sang putri mendekat dengan senyum samar, ia mencoba mengingat.
"Apa kabar Om Hendri" sapa Erik mengulurkan tangannya.
Hendri menyambut uluran tangan itu. "Kamu......., Erik?" tanyanya ragu.
Erik tersenyum. "Iya Om, saya" jawabnya.
Tiara pamit pergi untuk melihat keadaan sang Mama yang katanya masih belum sadar. Kedua pria itupun akhirnya saling bertukar kabar, Hendri juga sempat menanyakan kabar sang sahabat dari Erik yang lama tak pernah bertemu.