Forget You, Remember Love

Forget You, Remember Love
Ep.36



_Jangan menanyakan apa aku mencintamu, karena diriku sendiri pun masih mencari jawabannya_.


*


*


*


Tiara kini sedang duduk dikursi penumpang didalam mobil Erik. Wajahnya ditekuk dengan tangan menyilang didepan dada.


Ia masih kesal dengan kejadian tadi pagi. Bisa bisanya dia tertidur nyenyak didalam pelukan Erik dan terbangun juga masih dalam pelukannya. Apa yang dimimpikannya semalam sampai terlalu nyaman dalam pelukan pria itu.


Lebih sebal lagi saat ia membuka mata Erik sudah menatapnya dengan sorot liciknya. Langsung saja hati kecilnya memaki.


"Nggak, nggak mungkin" ucapnya.


Erik melirik pada Tiara yang mengatakan kata kata pengelakkan.


Tiara menatap Erik tajam. "Pasti kamu kan yang melakukannya?".


"Melakukan apa?" Erik balas bertanya.


"Aku nggak mungkin melewati batas apalagi sampai ada dalam pelukanmu, pasti kamu yang menarikku kan, iya kan ngaku nggak!" tuduh Tiara.


Erik tertawa kecil. "Ternyata masih tentang itu". jawabnya. "Sudahlah terima aja kenyatannya, lagi pula apa gunanya juga aku berbohong" tambahnya.


Tiara kembali bersidekap dada, ia berdecih. "Aku masih nggak percaya" elaknya.


"Keras kepala sekali, kalau kamu masih nggak percaya buka saja ponselku, kamu masih ingatkan kalau kamarku itu ada cctv nya".


Tiara terdiam meneguk ludahnya kasar. Jika sudah ada buktinya, percuma ia menyangkal. Salah tubuhnya juga sih yang bertindak diluar kemauannya. Abisnya nyaman gimana dong, Sial!!.


"Terus kita mau kemana ini?!" tanya Tiara masih kesal. Pagi pagi begini Erik sudah mengajaknya keluar.


Padahal rencananya dia akan bersantai karena hari ini hari off nya bekerja selama beberapa bulan lamanya. Karena yang kemarin kemarin bukan off untuk santai, karena dalam keadaan tak sehat. Jadi tak bisa menikmati indahnya libur bekerja.


"Studio rekaman" jawab Erik sekenanya.


"Ngapain kesana?".


Erik melirik lagi kearah Tiara. "Belanja, Ya rekamanlah" jawabnya.


Tiara berdecih. "Maksudku untuk apa aku juga dibawa kesana, aku nggak ada kepentingan apapun disana".


"Ada".


"Apa?".


"Karena kamu sudah kalah dalam taruhan kita semalam, jadi pekerjaanmu hari ini adalah menjadi Asisten kilatku, karena Jeje aku liburkan sementara waktu" jawab Erik santai.


Tiara membulatkan mata. "What!!!".


*****


Tiara menjatuhkan tubuhnya lelah disalah satu sofa dalam ruang VIP cafe itu. Tak lupa juga ia menarik nafas dalam lalu mengeluarkannya dengan sisa sisa nafasnya.


Ternyata mengikuti seorang Erik Wijaya alias Waren Royse nama terkenalnya, sudah bisa membuat tubuhnya remuk bagai tak bertulang. Kakinya pegal mengikuti Erik kemana mana, tangannya juga lelah memegangi barang barang pria itu.


Bagaimana tidak jika Erik benar benar membuatnya menggantikan pekerjaan Jeje sebagai Asistennya. Katanya cinta tapi kenapa pria itu tega menjadikannya babu. Mana tampangnya nggak ada rasa bersalahnya lagi.


Tiara melirik tajam kearah Erik yang menyodorkan minuman berwarna dilengkapi kubus kecil es batu didalamnya. Pria itu duduk tepat disampingnya.


"Minum, pasti capek kan".


Tiara memutar bola matanya jengah tapi tetap mengambil minuman yang ditawarkan Erik. Wanita itu langsung saja menyedot minuman manis dinginnya untuk menyegarkan tenggorokannya.


Erik tersenyum memandangi wajah lelah yang masih tetap nampak cantik dan menggemaskan untuknya itu. Tak suka melihat anak rambut nakal yang menutupi wajah manis sang wanita, Erik memperbaikinya.


Tiara tak mengelak ataupun menepis tangan Erik. Entah karena terlalu fokus dengan rasa hausnya atau karena terbiasa dengan perhatian pria itu.


Tiara meletakkan gelas kosong yang ditandaskannya isinya itu keatas meja. "Sebenarnya kita mau ngapain kesini lagi, kenapa nggak langsung pulang aja si?".


Tiara bertanya kenapa sang majikan itu membawanya ke cafe bukannya pulang saja. Mengingat waktu sudah menunjukkan hampir pukul dua belas malam. Setidaknya dia kan bisa membersihkan diri dan rebahan, sungguh dia rindu bantal dan kasur saat ini.


Baginya pekerjaannya selama ini lebih mudah dari pada harus mengikuti Erik seharian. Walau hampir sama tapi setidaknya dia tak jadi pembantu juga.


"Kenapa kamu lelah?" tanya Erik pura pura tak peka.


Tiara mendengus. "Lo pikir?".


Erik terkikik. "Aku ada janji dengan Aril disini, karena paginya kami terlalu sibuk, dan ini hal mendesak katanya, jadi tunggu sebentar sampai dia datang" terangnya.


Tiara menghela napas panjang sambil menyandarkan punggungnya lemas. Erik tersenyum mengerti. "Sabar, kalau kamu capek tidur aja nggak papa" ucapnya sambil membelai kepala Tiara.


"Tidur dimana?" Tiara menjawab dengan nada jutek.


Erik menepuk pundaknya. "Gratis". Tiara berdecih.


Tak lama menunggu, Aril, Ridan dan Joker pun tiba di cafe itu dan langsung menghampiri keduanya diruang VIP tersebut.


Saat ketiganya masuk Erik dengan cepat meletakkan telunjuk dibibirnya. "Sssstttt" desisnya memberikan kode.


Aril dan kedua temannya saling pandang sesaat, lalu berjalan pelan untuk duduk disofa bundar dalam ruangan itu. "Tidur?" tanya Joker pelan bahkan seperti berbisik. Dengan dagunya ia menunjuk Tiara yang ternyata sudah tertidur dengan posisi kepala ada dipangkuan sahabatnya.


Erik mengangguk sambil terus mengusap lembut kepala wanita yang seluruh tubuhnya ia tutupi dengan long coat panjangnya. Dengan tubuh kecil Tiara, long coat milik Erik nampak seperti selimut untuknya.


"Bagaimana kalian bisa bersama?" tanya Ridan heran karena memang mereka belum tahu jika Tiara tinggal dirumah Erik, dan mereka sudah sedekat itu. Setahunya juga Tiara bukan tipe wanita penyuka malam, dan bersandar dengan seorang pria. Bahkan dengan Aditya pun Tiara tak pernah semanja itu.


"Udah gue duga, seorang Tiara hanya bisa menurut pada seorang Erik saja, sekesal apapun dia" sela Aril.


Keempat pria itupun tertawa lucu, walau masih seperti berbisik karena Erik tak ingin sang wanita yang kelelahan itu terbangun.


"So, kenapa lo ngajak kita ketemu disini?" tanya Erik pada Aril.


Aril merubah posisi duduknya tegap. "Gini".


*****


Keesokan malamnya.


Disela pemotretannya Mala melirik kearah pintu masuk studio, ingin tahu apa sang sahabat sudah datang atau belum. Entah ada angin apa Tiara ingin kesuatu tempat dengannya dan rela datang menjemputnya. Padahal wanita itu tak biasa mengajaknya bepergian lebih dulu. Karena jadwal Tiara pun lebih sibuk darinya yang seorang model.


Mala sendiri pun sedikit bingung kenapa Tiara meminta alamat lokasi pemotretannya yang masih berlangsung sampai malam tiba.


"Apa hari ini Tiara libur kerja, atau dia ada masalah ya, kenapa ingin sekali bertemu denganku?" pikirnya.


Mala keluar dari rasa penasarannya saat melihat Tiara sudah muncul dari balik pintu. Ia pun langsung melambaikan tangan.


"Tunggu ya, sebentar lagi aku selesai" ucapnya pada Tiara yang sudah mendekat. Wanita mengangguk.


Setelah beberapa kali lagi cahaya flise dari kamera fotografer mengambil pose pose Mala. Pekerjaannya pun selesai, kebetulan kali ini dia mengambil foto dengan gaun malam untuk sebuah brand.


"Sudah?" tanya Tiara.


Mala mengangguk. "Aku ganti pakaian dulu".


"Nggak usah, begitu malah lebih bagus" sela Tiara sebelum Mala melangkahkan kakinya.


Mala berbalik dengan raut bingung. "Bukan wordrop kan?" tanya Tiara, ia pun menggelengkan kepala.


"Yaudah ayo ikut aku" ajak Tiara dan Mala oun menurut saja.


Setelah menyuruh sang Asisten untuk pulang lebih dulu, Mala dan Tiara pun langsung masuk kesebuah mobil yang entah milik siapa. Ini juga baru pertama kalinya Tiara mengendarai mobil dimatanya, bahkan ia sempat berpikir jika sang sahabat itu tidak bisa mengemudi.


Karena jujur saja bersahabat selama belasan tahun Mala belum pernah melihat Tiara mengendarai alat transportasi seperti mobil atau motor. Wanita itu hanya suka menggunakan fasilitas umum.


Mala mengedar pandang takjub dengan dekorasi dalam mobil sport itu. "Aku kira kamu nggak bisa bawa mobil Ra".


"Aku bukannya nggak bisa, males aja" jawab Tiara sekenanya.


"Terus ini mobil siapa, mobilmu?" tanya Mala penasaran.


Tiara menggeleng. "Mobil Erik".


Mala melirik tajam kearah Tiara. "Erik, kok bisa, ada apa sampai kamu pinjam mobil Erik untuk kita pergi".


"Terus sebenarnya kita mau kemana sih ini" tambahnya bingung.


Tiara mendesis mendapati banyak pertanyaan keluar dari mulut Mala. "Yang jelas aku nggak curi ni mobil, udah santai aja si, nggak usah banyak tanya, bentar lagi juga sampe kok".


Mala mendesah kecewa karena tak mendapat jawaban pasti dari Tiara. Wanita itu melajukan mobilnya kepertengahan kota, melewati beberapa baris gedung gedung tinggi. Dan tibalah disebuah hotel ternama, Tiara memasukkan mobil kehalamannya.


"Ngapain kita kesini Ra, tumbenan biasanya juga ke Apartemenmu kan kita" tanya Mala lagi.


Tiara mendengus, melirik Mala tajam. "Okey, okey" Mala berpura pura mengunci mulut dengan gerakan tangannya.


Tanpa ada suara lagi ia pun mengikuti Tiara yang berjalan menuju balrom hotel. Saat mereka berdiri didepan pintu besarnya, benda itupun terbuka walau hanya sebagian saja. Tapi Mala mengernyit bingung saat melihat dalamnya.


"Kok gelap sih?" tanyanya ngeri pada Tiara.


"Nggak usah takut, ayo masuk" ajak Tiara menarik tangannya masuk kedalam balroom gelap hotel itu.


Mala semakin terkejut saat terdengar suara pintu tertutup, juga pegangan Tiara ditangannya ikut terlepas. Gelap, sunyi dan menakutkan itulah yang dirasaknnya merasuk kedalam tububnya.


"Ra...., Ara dimana kamu, jangan becandain aku dong, aku takut Ra, Ara....." panggil Mala dengan suara mulai bergetar.


Mala tak habis akal dia mencoba mencari ponselnya, tapi ia lupa jika benda itu dititipkannya pada Tiara tadi. Karena dia tak membawa tas. Mala pun mulai panik.


Ia mencoba berjalan maju karena memang ruangan itu tak gelap gulita, ada cahaya cahaya kecil walau tak bisa menerangi seluruh ruangan. Tetap saja gelap lebih mendominasi sampai Mala merasa buta karenanya.


Dengan gemetar juga ketakutan Mala melangkah sambil terus memanggil Tiara. Tersangka yang membawanya ketempat gelap ini.


"Ra...., kamu dimana sih, jangan ngerjain akh dong".


"Ra..., Ku pukul kau kalau sampai meninggalkanku sendiri disini, Ra, Ara!!!" pekik Mala.


Wanita itu terdiam saat seseorang memegang pergelangan tangannya. Dan itu bukan Tiara, ia tahu jelas karena tangan itu cukup besar dirasanya.


"Siapa kamu!!" bentak Mala walau tak membalikkan tubuhnya.


Tapi tak ada suara tangan itu malah menarik tubuh Mala yang membuatnya terhuyung, menabrak tubuh tegap orang tersebut. Jelas dia seorang pria pikir Mala dalam kepanikannya.


"Siapa kamu, lepas, lepasin aku!!!" pekik Mala memukul pria didepannya dengan sebelah tangan bebasnya.


Bukannya melepaskan pria itu malah mengeratkan pelukannya dengan memeluk pinggan Mala. "Aku bilang lepas, siapa sih kamu, jangan macam macam denganku ya!!". Seorang wanita yang tengah panik memberanikan diri.


Mala terus memberontak tapi pria itu tak juga melepaskannya. "Tolong lepaskan aku, aku sudah punya tunangan dan besok kami akan menikah, lepaskan aku kumohon" rengek Mala kalah.


Entah mengapa saat ini ia memikirkan Aril. Mala sampai terisak karenanya.


"Benar besok ya, aku akan membawa penghulu kerumahmu" Suara berat itu membuat Mala seketika mendongak bersamaan dengan lampu yang menyala.


"Arilllllllllll!!!!!!!!!!!!!".