
_Sometimes two people have to separate, in order to realize how much they want to be back together_.
*
*
*
Tiara dan Erik duduk berdampingan disofa kamar rawat pria itu, menatap serius pada layar laptop yang memperlihatkan secara langsung proses ijab kabul seorang pengusaha muda ternama dengan seorang model mancanegara.
Hari ini adalah hari pernikahan Aril dan Mala yang dihadiri keluarga besar, kerabat dan beberapa rekan bisnis dua keluarga pada akad pagi ini. Sedang setelahnya resepsi digelar sampai tengah malam nanti dihadiri hampir dua ribu tamu undangan.
Dan yang ditonton keduanya sekarang adalah prosesi ijab kabul. Aril tampil gagah dengan setelan serba putih tak lupa peci yang menutupi kepalanya, sedang sang pengantin wanita masih disembunyikan dikamar lantai dua.
"Saya terima nikah dan kawinnya Mala Prakasa binti Andi Prakasa dengan mas kawin 2.310 dolar juga seperangkat alat solat dibayar TUNAI!!" ucap Aril dengan lantangnya dihadapan penghulu, para saksi, papa mertua dan papanya sendiri.
"Bagaimana para saksi sah?" tanya sang penghulu. Aril sudah sedikit lega karena bisa menyebutkan kalimat itu tanpa jeda dan nada gemetarnya. Padahal tangannya sudah berkeringat karena jantung yang berpacu dengan lomba balapan lari distadion depan.
Ia langsung melebarkan mata saat para saksi mengatakan, "Tidak Sah!!!". Siapa lagi pelakunya kalau bukan Aditya, Ridan dan Joker yang tiba tiba akrab kompak mengerjainya.
Sampai sampai Tiara dan Erik yang tak ada disana pun tertawa geli karenanya. Disaat sakral dan berbagia untuk Aril dan Mala itu keduanya tak dapat hadir sebab kondisi Erik yang terkadang masih merasakan pusing juga berkunang kunang.
Takutnya kalau datang, orang orang bukannya sibuk ngurus pengantin malah sibuk urusin dia yang tiba tiba drop, kan gak lucu. Dia juga absen dari rencana sebelumnya yang menjadwalkannya tampil sebagai penyanyi istimewa dalam acara itu.
Aril memicing tajam pada kedua sahabat kampretnya juga dengan kakak iparnya itu. Sudah dirinya mati matian menahan gugup dan menarik nafas panjang sebelum berucap panjang lebar, sekarang malah disuruh ulang. Sial emang.
"Maaf, kami punya alasan menganggap ijab kabul itu tidak sah" terang Ridan sok serius saat semua orang menatap pada saksi.
"Iya benar" timpal Aditya.
"Kenapa?" tanya Papa Aril heran.
"Mas kawin yang disebutkan barusan 2.310 dolar itu maksudnya apa ya?" tanya Joker polos dan nyaris membuat Aril membalikkan meja sangking kesalnya.
Dan crazy nya lagi, sang penghulu yang sedari tadi mendengarkan juga ikut penasaran.
Aril pun tersenyum kecut, sambil mencoba menjelaskan. "Tanggal hari jadian kami" jawabnya dengan geram.
Yang bertanya langsung manggut manggut mengerti, sedangkan Erik dikamarnya tertawa keras karena tingkah jahil kawan kawannya itu.
"Kalau begitu kita ulang lagi ijab kabulnya" ucap pak penghulu yang terpaksa diangguki Aril. Pria itupun kembali menarik napas panjang dan mengulang kalimat sakral itu.
Tiara menutup mulut dengan kedua tangannya takjub melihat sang mempelai wanita berjalan menuruni tangga dituntun sang Mama, wanita itu tampak cantik dengan kebaya putih bertaburkan swarovski disetiap jahitannya.
Jika dia ada disana mungkin dialah yang menuntun Mala. Tiara terharu sampai meneteskan air mata melihat momen Mala dan Aril saling bertukar cincin, sekarang sang sahabat sudah resmi diperistri kekasihnya. Bukan lagi seorang wanita yang hanya mengurusi karir dan diri sendiri, kini ada tanggung jawab yang harus dirawatnya sepenuh hati.
Erik melirik pada sang kekasih baru resmi kemarin itu, ia tersenyum melihat hati Tiara sekarang mudah tersentuh.
"Kalau kita menikah nanti aku akan buat yang lebih romantis dari pada itu" ucap Erik yang membuat Tiara seketika menoleh.
"Kita?, yang mau menikah denganmu siapa?".
Erik melengos sebal apakah tak bisa sekali saja Tiara tak jahil mengelak status mereka sekarang. "Gabriela" jawab Erik asal.
Dan pukulan beruntun dilengan ia dapatkan. "Menikah saja dengannya sana, tapi kujamin pelaminan kalian akan terbakar dalam hitungan detik".
Erik tertawa diancam seperti itu. Ia menarik tubuh mungil Tiara untuk didekapnya, dikecupnya berkali kali puncak kepala wanita itu. "Aku takkan pernah menikah jika bukan denganmu, hanya kamu yang boleh menjadi pengantin wanitaku" ucapnya.
Tiara memukul dada Erik main main, dengan wajah yang sudah merah padam. Entah kenapa setelah pengakuan itu ia ungkapkan, Tiara tak dapat menahan rasa merona, malu, cemburu dan manjanya bila bersama Erik.
"Hey, hey, hey....., Wah mata gue ini panas sekali dimana mana melihat kemesraaan bikin jiwa jomblo gue meronta ronta aja" ucap Joker sang pelaku siaran langsung atas permintaan Erik.
"Jiwa mupeng lo kali yang meronta" jawab Erik, melerai pelukan tapi tangannya terus menggenggam tangan Tiara.
"Hahaha, gue mau tobat bro, ntar kalah sama lo pada udah pada punya kecengan semua" ucap Joker dengan tawanya.
"Ckck, casanova kaya lo tobat, apa besok dunia kiamat" sindir Erik yang mendapat umpatan dari Joker dibalik sambungan videonya. Padahal pria pemilik 21 bar malam itu serius mengucapkannya.
"Boleh juga" jawab Erik tertawa.
"Jangan gitu siapa tau Joker beneran tobat, setiap orang pasti punya batasnya sendiri kan" ucap Tiara menengahi sampai sampai Erik tercengang menatapnya, Ridan tak kalah terkejutnya.
"Kau memang malaikat ku Ra, aku padamu" ucap Joker senang sudah dibela. Menunjukkan finger heart kearah kamera.
Erik menatapnya tajam. "Jan, mimpi siang bolong lo" umpatnya. Joker dan Ridan pun tertawa. "Kasih ponselnya sama Aril gue mau ngomong" ucap Erik.
Joker dan Ridan pun mendekati sang pengantin yang baru selesai menyalami beberapa tamu. Dari kamera ponsel Joker dapat dilihat Tiara jika keduanya nampak bahagia, terus memasang senyuman merekah diwajah masing masing.
Begitu ponsel dihadapkan Joker pada Aril dan Mala, langsung saja wanita itu memekik seketika. "Ara......," melambaikan kedua tangannya.
"Maaf aku nggak bisa datang" ucap Tiara sesal.
Mala cepat mengangguk. "Iya nggak papa".
"Selamet bro udah punya tanggung jawab sekarang, gue ada kirim bingkisan dipake yah nanti malam" ucap Erik dengan sorot jahilnya pada Aril.
"Apaan?" tanya Aril.
"Obat kuat" jawab Joker yang langsung membuat tawa mereka pecah.
"Sialan lo ngeraguin joni gue!" Aril tak terima.
"Ngeraguin sih nggak tapi....,".
"Buktiin entar malem siapa yang tumbang duluan" tantang Mala menyela perkataan Joker yang sukses membuat ketiga pria didepannya tercengang, tak terkecuali Erik.
"Keluar deh aslinya" gumam Tiara tertawa geli. Dia tahu kalau Mala hanya berani di kata kata tapi tak berani ketika praktek didepan mata. Wanita itu nakal diluar tapi polos didalam.
*****
Dua belas hari Erik dirawat.
Tiara masih setia duduk disamping ranjang Erik sambil bergenggaman tangan dengan pria itu. Sesekali dirinya meringis melihat perban kepala Erik yang tengah dibuka oleh Dokter. Genggaman tangannya bahkan sampai mengerat, entah karena takut atau kasian.
Padahal Erik sendiri tak merasakan apapun, dia tersenyum geli saat melihat ekpresi Tiara waktu ia melirikkan mata kearah wanita itu.
Selesai Dokter membuka perban yang melingkar dikepala Erik, ia bertanya sambil memegang bagian belakang kepala pria itu yang sudah dioperasi. "Apa ini sakit?".
Erik terdiam sesaat merasakan, Tiara memandang dengan harap harap cemas. "Apa Dokter menekannya?" tanyanya balik.
Dokter pun dengan perlahan menekan bekas operasi itu. "Kalau lebih keras lagi sepertinya akan sakit, Dok" jawab Erik cengengesan.
"Yaiyalah bego, lo kira itu luka kecil, kepala lo itu habis di operasi bukan di iris pake silet!!!" geram Ridan dengan sang sahabat.
"Gue rasa sih otak Erik jadi geser dikit abis dioperasi" tambah Joker.
"Iya, begonya kelebihan" tambah Aril.
Dan lemparan bantal sukses melayang kearah ketiganya yang tengah duduk disofa. "Sialan!!!" umpat Erik.
"Tidak apa apa ini hal biasa setelah perban dibuka, karena tak ada lagi pelindungnya, mmmmm luka bekas operasinya sudah mulai kering, mungkin beberapa hari lagi akan benar benar kering, tapi apa kepala anda masih sering pusing?" tanya Dokter dibagian akhir penjelasannya.
"Beberapa hari ini sudah nggak Dok" jawab Erik sekenanya.
Dokter pria itupun tersenyum. "Baguslah, kalau begitu ini saya tutup kembali dengan plester, tapi harus sering sering diganti ya" ucapnya mulai memasangkan plester ke kepala Erik.
"Lalu kapan saya bisa pulang Dok?" tanya Erik.
"Besok sudah boleh pulang, tapi seminggu dua kali harus kontrol kerumah sakit ya".
"Oke, Dok".