
*Kamu adalah definisi sakit dan nyaman disaat yang bersamaan*.
*
*
*
*
*
Keesokan harinya.
Aditya terus memperhatikan Anita yang menikmati makanannya juga sesekali bercanda dengan orang tuanya. Dan Anita sadar akan hal itu.
"Kenapa?" tanyanya.
"Kau....." sesaat Aditya ragu ingin bicara tapi melihat Anita yang terus menatapnya mau tak mau dia melanjutkan ucapannya. "Kau...., Apa kau benar benar Anita?".
Dua kali Anita mengerjapkan mata polosnya kemudian tergelak lucu. "Kalau kau kenal Tiara, sisi lainku itu tidak mungkin membuat lelucon bukan, lagi pula dia tak pernah sekalipun menyamar jadi diriku, kau masih tak percaya?".
Aditya terdiam berpikir, diperhatikannya dari kemarin Tiara dan Anita memang berbeda. Dari sikapnya pun sudah tak sama, Anita lebih banyak bicara. Dia lebih santai saat mengungkapkan isi pikirannya, dan lagi..., Aditya melirik makanan dipiring Anita. Tiara tak suka memakan kol dan wortel, sedang Anita sangat lahap memakannya.
"Percaya" jawabnya pasrah.
Anita mengangguk dua kali lalu melanjutkan acara makannya, sedang kedua orang tuanya hanya memperhatikan saja.
"Tinggal berapa hari lagi pernikahan kalian akan dilaksanakan?" Anita bertanya pada Aditya saat mereka bersantai berdua disebuah taman dekat apartemen.
Katanya wanita itu ingin menikmati udara malam sekali saja dengan tubuh Tiara.
"Sepuluh hari lagi" jawab Aditya singkat.
Anita menganggukkan kepala. "Sepuluh ya?" beonya.
"Apa kau benar benar ingin melakukannya?" tambahnya.
Aditya sesaat mengernyit mendengar pertanyaan Anita lalu menolehkan kepala menatap Anita. "Melakukan apa maksudmu?" tanyanya.
Anita berdecih, ikut menoleh menatap Aditya. "Pernikahan kalian, apa kau yakin akan melakukannya bahkan kau sendiri tau hati Tiara untuk siapa?".
Aditya melengos. "Tapi Tiara sendiri yang memilihku".
"Alasan dia memilihmu tak mungkin kau tak tau".
Aditya terdiam kekesalannya diwajahnya berubah. Ya, dia bukannya tak tahu dengan resiko mengikuti kenekatan Tiara itu, dan mungkin dia yang akan menderita kelak. Tapi dia memilih egois dan akan mencoba membuat Tiara mencintainya.
"Kau pikir dia akan bisa mencintaimu setelah pernikahan itu?",
"Kau tak ingat Tiara bahkan sudah melupakan Erik selama sepuluh tahun dan kau selalu ada disampingnya tapi pada akhirnya, Tiara kembali pada Erik juga kan" tambah Anita.
"Ya aku tau, aku tau itu!!!!" sentak Aditya kesal tapi Anita tak terkejut sama sekali dia malah tertawa miris.
"Tapi ini adalah kesempatanku untuk mendapatkannya, aku sudah menunggu lama, apa aku tidak bisa egois sekali saja" ucapnya marah.
"Aku mencintai Tiara sangat mencintainya".
Anita tersenyum smirk menatap Aditya yang menunduk prustasi. "Lihat aku".
Aditya yang awalnya tak ingin menuruti ucapan Anita akhirnya terpaksa melakukannya saat wanita itu memaksa.
Anita menunjuk wajahnya sendiri. "Lihat wajah ini, apa kau benar benar mencintainya atau cintamu sudah jadi obsesi semata?".
Aditya tak menjawab dia bahkan menutup mata tak sanggup bicara. "Jawab aku!!!" Anita yang terlihat geram dengan keterdiaman Aditya sampai membentak pria itu.
"Ckck...., Saat pertama kali kau bertemu dengan Tiara mungkin kau memang mencintainya, tapi saat kau tau Erik juga menyukai Tiara kau jadi berubah". Aditya tiba tiba mendongak menatap Anita yang berwajah serius dengan wajah Tiara.
"Kau terbiasa hidup dikelilingi kenyamanan, orang tuamu yang kaya, pada gadis yang memujamu, selalu dikagumi dari dulu karena pintar dan terkenal, kau jadi ingin mencari sebuah tantangan bukan?" todong Anita.
"Apalagi saat sifat Tiara tak seperti wanita lainnya kau jadi tertantang ingin menaklukannya, terlebih saat kau tau Erik mencintai Tiara kau jadi seperti ingin berlomba dengannya".
"Kau terus berada disamping Tiara bukan karena ingin menemaninya tapi ingin mengambil kesempatan yang tak bisa kau miliki, karena kau tau Tiara tak sedikitpun punya ruang dihatinya untukmu".
Wajah Aditya semakin memucat saja saat Anita terus berbicara tentang dirinya. Tidak, tidak mungkin dia begitu. Dia mencintai Tiara, cinta bukan obsesi.
"Karena sebenarnya Tiara bagimu adalah satu target yang ingin kau miliki, bukan orang yang kau cintai".
"Cukup!!!!".
Anita melipat tangan didepan dada tak takut bahkan dengan bentakan Aditya yang lumayan keras hingga beberapa orang yang lewat menoleh pada mereka.
"Hentikan omong kosongmu itu" geram Aditya menatap Anita.
"Ahhhhhh, ternyata aku benar" Anita malah bicara menantang.
"Kau!!!" Aditya semakin geram dan pergi dengan emosi yang memuncak tinggi.
Anita tergelak kembali duduk menghadap sebuah air mancur itu, lalu menghela napas lega.
Gampang sekali bagi seorang Anita untuk mengetahui kepribadian seseorang karena sejatinya dirinya adalah sosok alam bawah sadar yang berkembang, jadi ada sosok apa dibalik orang lain dia bisa menerkanya. Tapi mengetahui hal itupun Anita tak memberitahu Tiara, karena baginya dulu pria itu sedikit berguna untuk menghibur Tiara. Dia akan bertindak jika keadaan mulai tak terkontrol dan sekarang lah saatnya.
"Setidaknya aku sudah membereskan satu hal, segera lah bangun Tiara agar kau bisa membereskan hal lainnya sendiri".
*****
Saat ini dimansion Wijaya, Sisil berlari keliling rumah besar itu sembari memanggil sang Ayah.
"Ayah...., Ayah...., Ayah dimana?".
Wijaya yang tengah berada diruang kerjanya pun mengernyit dan langsung berdiri dari kursinya berjalan kearah pintu yang sedikit terbuka karena mendengar teriakan putri sambungnya.
"Sisil, Ayah disini" serunya.
"Ada apa sayang, kenapa kau berteriak?" tanyanya keheranan melihat Sisil berlari kearahnya dan berhenti tepat didepannya dengan nafas terengah.
"Ka...., Kak Erik, Kak Erik Yah" sebut gadis itu tak jelas tangannya menunjuk kebelakang.
Wijaya melirik kebelakang lantas berpikir negatif karena kepanikan putrinya. "Kenapa kakakmu ada apa dengannya?" tanyanya.
Belum Sisil menjawab sang Ibu datang. "Ada apa ini?" tanyanya.
Wijaya sesaat melirik padanya lalu kembali pada Sisil. "Kenapa Sil?" tanya Ibu kandung pada putrinya.
"Haishhh, ikut Sisil deh" ucap gadis itu menarik kedua orang tuanya tak sanggup lagi berbicara.
"Liat kakak, liat kakak" ucap Sisil walau berbisik pada Ayah dan Ibunya menyuruh melihat sang kakak didalam kamarnya.
Wijaya dan Santi yang keheranan pun mau tak mau mengikuti arahan Sisil karena mereka hanya sampai didepan pintu kamar Erik dan mengintip pula.
Sesaat keduanya tercengang lalu saling menatap dan tersenyum bahagia tak percaya. Ketiganya pun mengintip kembali kedalamnya. Mata Wijaya sampai berkaca sangking senangnya.
Di depan cermin Erik terlihat sangat tampan. Wajahnya sudah bersih dari bulu bulu halus, rambutnya klimis, dan dia sudah rapi dengan t-shirt yang dilapisi jaket kulit, celana jeans juga sepatu sportnya.
Karena terlalu bahagia melihat Erik yang sudah kembali ke sosoknya yang biasanya, ketiga orang yang ada didepan pintu sampai tak sadar kalau pria itu berjalan kearah mereka.
"Kalian sedang apa disini?".