Forget You, Remember Love

Forget You, Remember Love
Ep.39



_Kamu selalu berpura pura kuat dan tidak terganggu, tapi pada akhirnya menanggung semua kesalahan sendirian_.


*


*


*


Sebenarnya sejak Rimba meminta pertanggung jawaban yang tidak jelas itu, Tiara sudah merasakan ada yang janggal. Dan sekarang terbukti, dilihatnya satu orang pria lagi tengah menunggu mereka dalam penthouse Rimba. Tak lupa minuman beralkohol nya juga.


Niat jahat keduanya sudah terhendus penciuman Tiara saat senyum tampan Rimba berubah jadi senyuman iblis. Pria itu juga mengunci pintu sedangkan yang satunya lagi mulai mendekatinya. Dia Manager Rimba.


"Habis sudah" pikir Tiara.


Tiara masih berdiri tegap ditempatnya dengan ekpresi biasa saja tak ada ketakutan atau kepanikan diwajahnya. Saat sang manager Rimba mendekati dan ingin memegang tangannya pun dia masih bersikap santai.


Saat pria itu mulai mengangkat tangan dengan senyuman mesumnya. "Kamu kan sudah disini bagaimana kalau....". Pria yang diketahui bernama Haikal itu tertegun sebelum menyelesaikan kalimat penenang ala pria mesumnya.


Tak hanya dia, Rimba pun tertegun dengan sikap Tiara. Sebelum tersentuh oleh Haikal, Tiara berjalan santai melewati pria itu. Kemudian duduk bersandar disofa dalam ruangan tersebut.


Tiara tersenyum kearah kedua pria yang tertegun itu. "Kenapa kalian tidak duduk, kalian berniat mengajakku berpestakan, tunggu apalagi ayo" ucapnya menantang.


Rimba dan Haikal saling pandang kemudian tertawa lantang. "Ternyata kau wanita yang nakal juga ya" ujar Rimba. Tiara mengangkat bahu dengan senyumannya.


Kedua pria itupun mendekat duduk mengapit dirinya. Pikir mereka bagus saja, tak perlu membujuk atau memaksa lagi. Tiara sudah merelakan dirinya dengan senang hati. Mereka memang sudah lama mengincar Tiara untuk dimainkan sepuas hati.


Dengan santai dan seperti sudah profesional, Tiara menuangkan air dibotol minuman kegelas masing masing kedua pria bajingan itu. Lalu mengajak keduanya bernyanyi ria seperti sedang dalam sebuah bar.


Saat sedang asyik bernyanyi juga minum minum, kedua pria itu saja tidak dengan Tiara. Wanita itu tersenyum smirk diam diam.


Rimba yang tadinya tengah berdiri kini kembali duduk merapat pada Tiara. "Ayo kita kepesta selanjutnya" ucapnya meraba pundak Tiara.


Haikal pun ikut duduk jadinya. "Kali ini kau yang akan kami puaskan" ucapnya.


Tiara sesaat tersenyum pada keduanya namun sedetik kemudian ekpresi wajahnya berubah garang, matanya menatap tajam. Secepat kilat ia memelintir tangan Rimba yang ada dipundaknya lalu mendorong pria itu. Tiara juga langsung berdiri dan menendang kasar Haikal hingga pria itu terjengkang.


"Apa apaan kau jalang!!!" bentak Rimba tak terima.


"Dasar jalang, beraninya kau!!!" tambah Haikal emosi.


Mereka mencoba bangun hendak mengeroyok Tiara, tapi dengan mudahnya wanita itu mengelak. Tiara kembali menendang tubuh keduanya kasar. Kembali mereka bangkit dengan sempoyongan hendak menyerang Tiara, memukul dan menonjok. Tapi Tiara lincah mengelak, tak hanya mengelak tapi dia membalas keduanya.


Hingga Rimba juga Haikal kini terkapar dilantai. Dengan tatapan tajam juga senyum miring Tiara berlutut diantara keduanya yang kesakitan juga dalam keadaan setengah sadar.


"Dengar, aku paling benci disebut jalang!" ucap Tiara datar.


Haikal terkikik lalu meludah sampai mengenai kaki Tiara, wanita itu terpejam menahan hasrat membara dalam dirinya. "Kau memang jalang bukan kenapa harus benci" jawab Haikal.


Tiara membuka mata dengan cepat tangan mungilnya meremas kuat rahang wajah pria itu. Sebelah tangannya lagi mengeluarkan pisau kesayangannya dari kantung celananya. Mata Haikal terbelalak melihat pisau mungil itu, dia mencoba berontak tapi Tiara menahan tubuhnya dengan menekan lututnya kedada pria itu.


"Aku benar benar membenci mulut kotormu itu, kalau aku memotongnya mungkin bagus juga ya". Wajah ala sycopat Tiara mulai menguar tapi Haikal malah kembali terkikik. Karena pikirannya mengatakan jika wanita mungil seperti Tiara hanya jago bela diri saja juga menggeretak tapi untuk melukai wanita itu tak mungkin berani.


Melihat itu Rimba mengerjap panik. Menggelengkan kepala ia berpikir dirinya sedang bermimpi atau ini nyata, wanita mungil itu menyayat mulut sang Manager. Pengaruh mabuk kah, dia masih tak percaya.


Tiara yang acuh tak mendengarkan teriakan kesakitan Haikal dan rontaannya, masih terus memotong bibir atas pria itu sampai habis tak bersisa. Tekanan lututnya saja tak bisa lagi dilawan Haikal sangking kesakitannya pria itu atau memang kekuatan Tiara tak sesuai tubuhnya yang mungil. Kekuatan wanita itu jadi berlipat ganda jika dia berada dalam mode syco nya.


Tiara memegang potongan bibir atas Haikal itu lalu tersenyum puas, dilihatnya Haikal tak bisa lagi bersuara dengan kristal keluar dari matanya. "Cucucucucu, sakit yah" sindirnya. "Ini makan bibir kotormu itu" Tiara menjejalkan potongan bibir itu kedalam mulut Haikal sampai pria itu termuntah muntah. Darah sudah memenuhi wajahnya.


Puas melihat Haikal kesakitan dan kelihatan menderita Tiara melirik kearah Rimba yang reflek memundurkan tubuhnya. Wanita itu beranjak dari Haikal menujunya. "Maaf, maafkan aku Tiara aku salah, kau boleh pergi aku akan melepaskanmu" ucap Rimba sambil menyatukan tangannya.


"Cih maaf, melepaskan kau bilang, tapi aku tak bisa melepaskanmu gimana dong" jawab Tiara dingin.


Tiara menarik tangan Rimba lalu menyayatkan pisaunya ke lengan pria itu, tak terlalu dalam tapi berkali kali. "Beraninya tangan menjijikan ini menyentuh tubuhku" geram Tiara kesal.


"Arrrggggggghhhhhhhhhh" teriak Rimba.


Puas dengan sebelah tangan Rimba Tiara beralih kesebelahnya. "Tidak, jangan kumohon Tiara maafkan kami" rengek Rimba.


"Kau sudah membangunkan singa betina, sekarang tanggung konsekuensinya" Tiara meneruskan hobinya pada lengan Rimba. Menyayat menusuk dan oh, ini menyenangkan.


Rimba dan Haikal pun tak bisa lagi melawan karena kesakitan juga pengaruh alkohol yang masih menyita kekuatan tubuh mereka. Dan karena juga keduanya bukan pria petarung tapi mesum, beraninya hanya merusak wanita saja.


Dengan pisaunya Tiara merobek kemeja yang dipakai Rimba. Untuk membersihkan benda kesayangannya itu dari darah darah yang menempel. Tiara melirik kedua pria yang sudah bersimbah darah itu. "Kalian beruntung karena aku tak seperti dulu, jika tidak mungkin detik ini juga jantung kalian sudah keluar dari tempatnya".


Haikal dan Rimba ketakutan masih dengan menahan rasa sakit yang luar biasa, mendengar pengakuan wanita mungil mengerikan didepannya.


"Baiklah aku sudah selesai, pesta ini kurang menyenangkan, tak ada perlawanan sama sekali membosankan," ucap Tiara berwajah sesal. Dia memasukkan pisau kecilnya ke dalam tasnya, menatap kedua pria itu. "Aku pergi bye," Tiara melambaikan tangannya sebelum pergi.


Sampai didepan pintu. "Ups ada yang kelupaan," ia berbalik membuat Rimba dan Haikal menatap takut. "Jangan beritahukan pada siapapun tentang pesta kita ini, kalau tidak jantung kalian akan kukeluarkan, mengerti!!". Keduanya cepat mengangguk.


"Bye, selamat menikmati" Tiara melenggang pergi.


Kedua pria itu berteriak kencang merasakan kemarahan, ketakutan juga kesakitan. Kali ini mereka salah memilih korban.


*****


Erik segera turun dari mobilnya mengabaikan pesan dari sang Manager juga Asistennya yang masih berada dalam mobil. Sesampainya mobil van itu diparkiran bawah tanah gedung, Erik sudah tak sabar ingin keluar untuk bertemu dengan Tiara. Beberapa hari terpisah membuatnya amat merindukan wanita mungil itu, terlebih lagi ia tak leluasa untuk menghubunginya karena jadwal yang padat.


"Dasar bocah" Roy menggelengkan kepala melihat tingkah sang sepupu yang sudah hilang dibalik pintu masuk gedung bawah tanah itu.


Dilift Erik mengusap usap tangannya tak sabar lagi. Ia ingin mengejutkan Tiara jika dia sudah kembali, ia ingin memeluk wanita itu untuk melepaskan rasa rindu yang terbelenggu.


Sesampainya didepan pintunya Erik masih menyempatkan melirik jam tangannya. "Mungkin dia sudah tidur" gumamnya melihat jarum jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam.


Pelan pelan Erik membuka pintu setelah menekan kode sandi, berjalan amat hati hati agar Tiara tak mendengar langkahnya atau terbangun karenanya. Ia pun membuka pintu kamar dimana Tiara sering tidur, tapi Erik terdiam. Mengedarkan pandang dengan kening berkerut.


"Dimana dia?" gumamnya bertanya entah pada siapa mendapati tak ada Tiara dimanapun juga dalam kamar itu. Dikasur pun tak ada. Sudah jam tidur begini dimana wanita itu.


Erik memasuki kamar itu sayup sayup didengarnya suara air dari kamar mandi, didengarnya juga isakan kecil disana. Ia pun mendekati pintu kamar mandi, membuatnya semakin yakin jika Tiara tengah menangis didalamnya.


Tiba saatnya membuka pintu melihat keadaan Tiara, Erik terbelalak dan segera berlari mendekat.